Dea, alias Althea Twina Darmawan, tumbuh sebagai anak angkat yang kehilangan kasih sayang setelah ibu angkatnya melahirkan anak kandung. Terbiasa disalahkan, ia memilih mengabdikan hidupnya sebagai dokter.
Namun, hidupnya berubah ketika Linjaryani, calon istri Elden Zarreti, seorang tuan tanah kaya raya yang dingin dan berkuasa, meninggal secara misterius. Dea dijadikan kambing hitam, sementara Elden, dibutakan dendam, menghukumnya tanpa mencari kebenaran.
Pernikahan paksa dan perlakuan kejam Elden meninggalkan luka mendalam dalam diri Dea. Ketika bukti baru mengungkap pengkhianatan di balik kematian Linjaryani, Elden menyadari kesalahannya.
Mampukah ia menebus kehancuran yang diciptakannya, atau kebencian Dea telah menutup pintu maaf selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6. Berusaha Bangkit
Bunyi sendok yang beradu dengan mangkuk membuat Dea tersentak.
Tangannya refleks mencengkeram ujung selimut. Napasnya tertahan. Selama beberapa detik, matanya terpaku pada pintu kamar yang tertutup, seolah-olah seseorang akan masuk dan menyeretnya kembali ke tempat yang berusaha ia lupakan.
Namun, pintu itu tetap diam.
Yang terdengar hanya suara televisi dari ruang tengah dan langkah kaki seseorang di lorong rumah sakit.
Dea menunduk. Jemarinya masih gemetar.
“Cuma suara sendok,” bisiknya menenangkan diri sendiri.
Ia mengembuskan napas perlahan, tetapi dadanya masih terasa sesak.
Di atas meja kecil di samping ranjang, segelas air putih belum tersentuh sejak tadi pagi. Dua butir obat terletak di sebelahnya, sesuai petunjuk dokter yang merawatnya setelah ia ditemukan Adityo di rooftop hotel.
Dea memandangi gelas itu cukup lama sebelum akhirnya meraihnya.
Tangannya bergetar sampai airnya tumpah sedikit ke seprai. Ia hampir melempar gelas itu. Namun, ia berhasil menahan diri.
Dea meletakkannya kembali, lalu menekan kedua telapak tangan ke wajah.
“Kenapa aku masih takut?”
Namun, ruangan itu hanya hening. Dan, Dea menyadari ... hal paling menyakitkan bukanlah ketika pria itu pergi. Melainkan di saat suara, aroma, bahkan sentuhan kecil bisa membuatnya merasa kembali terperangkap pada kejadian malam itu.
“Dokter bilang kamu sudah boleh pulang besok kalau kondisimu stabil.”
Adityo berdiri di ambang pintu dengan dua kantong kertas di tangan. Ia tidak langsung masuk. Setelah beberapa kali melihat Dea terkejut oleh gerakan mendadak, ia mulai membiasakan diri mengetuk pintu dan menunggu izin.
“Aku membawakan bubur untukmu. Tidak pakai bawang goreng seperti permintaanmu yang biasa.”
Dea melirik kantong itu. “Kenapa?”
Adityo mengangkat alis. “Kenapa apa?”
“Kenapa kamu mau repot-repot begini?”
Pertanyaan itu membuat tangan Adityo yang hendak meletakkan kantong berhenti di udara.
Ia tidak menjawab dengan kalimat panjang. Ia hanya meletakkan makanan di meja, kemudian menarik kursi dengan hati-hati.
“Karena kamu belum makan dengan baik sejak menginap di sini.”
“Aku tidak meminta bantuanmu.”
Adityo menatap panjang ke arah Dea. “Ya, aku tahu.
“Terus, kenapa?”
Adityo menatapnya. Tidak tatapan kasihan yang berlebihan di matanya, apalagi tatapan yang membuat Dea merasa dirinya sudah berubah menjadi sesuatu yang rusak.
“Karena aku memang ingin membantu.”
Dea tertawa pendek. Hambar. “Cari lah perempuan lain. Jangan mengharapkan aku lagi.”
“Meskipun hubungan kita telah berakhir ...” Adityo menyandarkan punggungnya. “Jangan melarangku mendekat kembali. Mungkin hari ini kita masih bisa menjadi teman."
Bibir Dea terkatup rapat. Kalimat itu sederhana, tetapi justru membuat tenggorokannya terasa perih.
Ia teringat rumah yang pernah disebutnya keluarga. Terbayang wajah perempuan yang selama bertahun-tahun ia panggil Ibu—perempuan yang membiarkannya menghadapi semuanya seorang diri, seolah-olah penderitaan Dea hanyalah harga yang pantas ia bayar.
“Teman? Apa aku membutuhkan teman? Sedangkan, keluargaku saja tak memedulikan aku," ucapnya lirih.
Adityo mengernyit. “Apa yang terjadi?”
Dea meringkuk melipat kedua kaki memeluk dirinya sendiri. “Pergi lah. Aku belum siap menerima siapa pun. Biarkan aku mengobati diriku sendiri.”
“Dea, aku tahu kamu itu kuat. Tapi kamu harus tahu, ada saatnya semua yang meledak di dalam hatimu, harus kamu keluarkan.”
Adityo tidak tersenyum hambar. Ia juga tidak mencoba menghibur dengan menyentuh bahunya.
"Namun, jika hari ini kamu merasa itu hal yang terbaik untukmu, aku akan berusaha memahaminya."
Beberapa detik kemudian, Dea membenamkan wajahnya. Air matanya jatuh dalam hening. Adityo hanya bisa melihat pundak Dea yang bergetar.
“Maaf. Pergi lah. Terima kasih,” bisiknya tanpa menegakkan kepala.
Beberapa waktu pria itu hening, hingga hanya kesunyian yang menemani mereka di ruang itu.
Tangan Adityo telah terangkat ingin mengusap kepala Dea yang tertunduk di dalam dekapannya sendiri. Namun, tangan itu hanya mengambang tanpa menyentuh Dea. Perlahan, Adityo mengangguk dan tangannya kembali turun.
"Baik lah. Aku pergi. Kamu calon dokter. Aku yakin kamu bisa mengatasi masalah yang kamu sembunyikan itu."
Namun, Dea tak lagi bersuara. Ia masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia mendengar langkah kaki yang bergerak menjauh.
Krek
Suara pintu yang dibuka.
Brak
Pintu ditutup dari luar.
Dea mengangkat wajahnya. Lalu dengan cepat mengusap pipinya yang telah banjir dengan air mata.
Ingatannya kembali berputar pada masa kejadian nahas yang menenggelamkannya pada rasa sakit yang kini tak pernah pergi.
"Waktu kematian pulul 14.40 WIB."
Dea menghembuskan napas. Ia menggeleng cepat. "Ayo lah Dea! Kamu harus bangkit! Kamu harus menemukan bukti yang bisa kamu lempar ke wajah laki-laki itu!" ucap Dea. Tiba-tiba saja napasnya memburu.
Dea menatap kembali air putih yang tadi tak bisa ia minum. Perlahan, tangannya kembali terulur. Namun, tangannya masih bergetar.
"Ayolah! Kamu harus kuat!" Tangan itu mencoba meraih gelas tadi.
Getaran tangannya masih cukup kuat hingga membuat air tadi masih keluar dari wadah itu. Namun, tekadnya sungguh sangat bulat.
Gelas itu terus bergerak mendekat dan ia berhasil menaruhnya di bibir ... lalu meneguknya dengan perlahan.
.
.
Dua minggu kemudian, Dea akan kembali ke kampus.
Ia mengenakan kemeja putih, celana bahan hitam, dan jas almamater yang sudah lama tergantung di belakang pintu lemari. Rambutnya diikat sederhana. Wajahnya tampak masih pucat, tetapi ia tetap merapikan kerah sebelum keluar dari kamar.
Di depan cermin, ia berhenti mengamati diri sendiri. Matanya masih terlihat lelah. Setidaknya, kali ini ia sudah mulai mencoba belajar tersenyum kembali.
"Seburuk apa pun masalahmu, jangan pernah menunjukkan betapa beratnya harimu kepada pasien," gumamnya.
Sudut bibirnya sedikit terangkat, tetapi masih jatuh lagi.
"Huuffftt ..."
Dea mengambil tas dan pergi tanpa mencoba untuk kedua kalinya.
"Nanti harus latihan lagi."
.
.
Pagi itu, halaman kampus ramai oleh mahasiswa yang bergegas menuju gedung masing-masing. Beberapa orang tertawa di dekat tangga. Dua mahasiswa berjalan sambil memperdebatkan jadwal ujian. Seseorang berlari mengejar temannya yang hampir masuk ke lift.
Dunia ternyata tidak berhenti hanya karena hidup Dea telah runtuh.
Ia berdiri beberapa saat di depan gedung fakultas, memandangi papan pengumuman yang sudah lama tidak dibacanya.
“Dea?”
Ia menoleh.
Seorang teman seangkatannya menghampiri sambil membawa beberapa lembar kertas.
“Kamu sudah masuk lagi? Aku kira kamu masih sakit.”
Dea mengangguk. “Aku sudah lebih baik.”
“Kemarin dosen pembimbing menanyakan kamu. Ada beberapa berkas yang harus kamu lengkapi sebelum bisa mengikuti kegiatan koas berikutnya.”
“Baik. Terima kasih sudah memberi tahu.”
Temannya masih berdiri di sana, tampak ingin mengatakan sesuatu.
“Kamu benar-benar tidak apa-apa?”
Entah lah, Dea sendiri tak tahu apakah dia baik-baik saja.
“Aku hanya perlu menyelesaikan beberapa urusan,” jawabnya akhirnya.
*bersambung*
Ingat Dea sedang mengandung anakmu
Aneh klo tidak dipantau & dilindungi bodyguard bayangan keluarga, ceroboh !!
Dan Josep berusaha melindungi Stella.
Yang pasti...kali ini Dea tidak akan tinggal diam.
Jangan2 ada main dia dengan Stella