NovelToon NovelToon
Dua Wajah Cinta

Dua Wajah Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Demi memenuhi permintaan terakhir Dewi—sahabatnya yang berjuang melawan kanker—Gladys rela menikahi Raka, suami Dewi. Namun, pernikahan tanpa cinta itu membawanya pada kesepian mendalam, sebab hati Raka tetap tertambat sepenuhnya pada almarhumah istrinya.
Mencari pelarian dari rumah tangga yang hampa, Gladys membuka sebuah kafe. Di sana, ia bertemu dengan Praduta, seorang pria berparas tampan yang mengagumi kopi buatannya. Di balik kesan pertama yang sekilas penuh godaan, Gladys melihat ketulusan dalam diri Praduta. Kedekatan yang hangat itu perlahan berubah menjadi benih-benih cinta—sebuah perasaan yang tak seharusnya hadir di tengah ikatan pernikahannya.
Namun, Gladys tidak menyadari bahwa Praduta menyimpan rahasia kelam: kehadiran pria itu bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari dendam masa lalu terhadap keluarga Raka. Kini, Gladys terjebak di persimpangan jalan yang menyiksa—harus memilih antara kesetiaan pada janji pernikahan atau cinta terlarang yang memberi kebahagiaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Praduta menyadari kepulan emosi panas yang mulai mendesak dadanya.

Jika ia berlama-lama di sana, menatap langsung sosok pria yang paling ia benci duduk berdampingan dengan Gladys, akal sehatnya bisa runtuh seketika.

Ia tidak boleh merusak rencana besar yang sudah ia susun rapi hanya karena ledakan amarah sesaat.

Dengan rahang mengeras dan tatapan mata yang menggelap, Praduta memaksa bibirnya menarik garis senyum tipis yang kaku.

"Ah, begitu. Terima kasih informasinya," ucap Praduta singkat kepada Kirana, berusaha menjaga suaranya tetap datar dan terkontrol.

Tanpa membuang waktu atau melirik sedikit pun ke arah meja bar tempat Raka dan Gladys berada, Praduta berbalik.

Ia melangkah keluar dari DeGla Cafe dengan langkah cepat dan lebar, membiarkan denting lonceng pintu berbunyi nyaring di belakangnya.

Tidak jauh dari area kafe tersebut, Praduta memacu kendaraannya menuju sebuah sasana tinju (boxing gym) privat yang cukup sepi dan terisolasi—tempat sempurna untuk melampiaskan badai emosi yang berkecamuk di dalam kepalanya.

Begitu tiba di dalam ruangan latihan yang remang dan sunyi, Praduta langsung melepas jas serta kemejanya.

Ia menggantinya dengan kaus latihan hitam tanpa lengan (tank top) yang mengekspos otot-otot lengannya yang tegang.

Dengan gerakan terlatih namun sarat emosi, Praduta mengambil handwraps berwarna merah. Ia membungkus kedua buku jari dan pergelangan tangannya secara saksama dan erat, mengikat setiap lilitan dengan kencang seolah sedang mempersiapkan diri menghadapi pertempuran nyata.

Setelah itu, ia mengenakan sepasang sarung tinju kulit berwarna hitam legam dan memasang pelindung gigi (mouthguard) di dalam mulutnya.

Langkah kakinya yang berat membawanya naik ke atas ring latihan, berdiri tepat di hadapan sebuah samsak tinju (heavy bag) gantung berukuran besar.

Bugh! Bugh!

Praduta tidak membuang waktu. Ia langsung melayangkan pukulan bertubi-tubi—kombinasi jab, cross, hook, dan upper cut—dengan kekuatan penuh dan kecepatan tinggi.

Setiap hantaman tangan telanjangnya yang terbungkus sarung tinju menghasilkan suara hantaman keras yang memecah keheningan ruangan.

Bugh! Crash!

Keringat bercucuran deras membasahi pelipis, leher, dan otot tubuhnya yang berkilat di bawah pencahayaan temaram.

Namun, rasa lelah dan hantaman fisik pada buku jarinya sama sekali tidak sebanding dengan gejolak amarah serta kebencian membara di dalam dadanya.

Bayangan wajah Raka yang duduk tenang di sisi Gladys terus berkelebat di benaknya, memicu adrenalin yang semakin menjadi-jadi di tiap pukulan brutal yang ia layangkan.

Hingga pada hantaman terakhir—sebuah hook keras bertenaga penuh yang ia lepaskan dengan sisa tenaganya—samsak besar itu terayun hebat dan membentur rantai penyangganya dengan suara nyaring.

Praduta berhenti sejenak. Ia membungkuk, menopang kedua lututnya sementara napasnya memburu berat, dada bidangnya naik turun dengan cepat.

Ia mendongak, menatap tajam ke arah samsak yang masih berayun di depannya, membayangkan benda itu adalah wajah Raka Devandra.

Dengan napas tersengal dan rahang yang mengeras kaku, Praduta berbisik dingin penuh dendam,

"Jadi, itu yang namanya Raka, kakak tiriku." ucap Praduta

Sementara itu Dldi dalam kafe yang kini kembali tenang setelah kepergian Praduta yang mendadak, Raka menghabiskan sisa americano di cangkirnya hingga tandas.

Ia meletakkan cangkir itu kembali ke atas meja, lalu bangkit berdiri sambil mengenakan jas hitamnya yang sempat ia lepas.

Raka melangkah mendekati meja bar tempat Gladys sedang merapikan beberapa peralatan kopi.

Tanpa memedulikan tatapan heran dari Kirana yang berdiri tidak jauh dari sana, Raka menghentikan langkahnya tepat di hadapan sang istri.

"Gladys, aku ke kantor dulu," ucap Raka lembut.

Tanpa menunggu persetujuan, Raka mencondongkan tubuhnya ke depan dan mendaratkan sebuah ciuman hangat di kening Gladys.

Deg!

Gladys terdiam kaku bagai tersambar petir. Seluruh tubuhnya mendadak membeku.

Sentuhan lembut itu terasa begitu asing sekaligus membingungkan bagi wanita yang baru beberapa hari dinikahi oleh pria tersebut.

Matanya mengerjap perlahan, merasakan debar jantungnya berpacu tak beraturan di balik dadanya yang sesak.

Sebelum Gladys sempat memproses keterkejutannya atau menarik diri, Raka sudah menegakkan kembali tubuhnya.

Pria itu menatap Gladys dengan sorot mata penuh harap dan kelembutan yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.

"Nanti malam aku jemput, dan jangan menolak, ya," bisik Raka dengan nada tegas namun penuh permohonan.

Gladys menelan ludahnya susah payah. Di bawah tatapan lekat suaminya dan rasa canggung yang luar biasa, ia hanya bisa mengangguk pelan dengan kaku.

"I-iya, Mas.." jawabnya terbata.

Puas mendapati respons istrinya, Raka beralih menghampiri meja kasir di mana Kirana berdiri dengan mata membelalak tak percaya.

Raka merogoh saku jasnya, mengeluarkan beberapa lembar uang kertas pecahan besar untuk membayar kopi sekaligus memberikan tips yang nominalnya jauh melampaui harga pesanan.

Raka menepuk meja kasir pelan, lalu menatap Kirana dengan senyuman tipis yang berwibawa.

"Tolong jaga istriku ya, Kirana."

Kirana yang terkejut setengah mati langsung mengangguk dengan cepat, tubuhnya sedikit membungkuk kikuk karena gugup menghadapi aura pria berdarah dingin itu.

"I-iya, Pak Raka." jawab Kirana terbata-bata.

Setelah memastikan semuanya, Raka melangkah pasti keluar dari DeGla Cafe.

Denting lonceng kecil di atas pintu mengantar kepergiannya.

Tak lama kemudian, deru mesin mobil sedan mewah miliknya terdengar menyala, meluncur meninggalkan area parkir dan membelah jalanan kota menuju gedung perusahaannya.

Di dalam kafe, Gladys masih berdiri mematung di balik meja bar, jemarinya perlahan menyentuh keningnya sendiri tempat bibir Raka mendarat tadi, sementara pikirannya berkecamuk antara rasa bersalah, kebingungan, dan bayangan Praduta yang masih menghantui benaknya.

Ia pun kembali melayani pelanggan yang terus berdatangan.

Jam dinding di area DeGla Cafe menunjukkan tepat pukul satu siang.

Suasana kafe mulai agak lengang setelah melewati puncak jam makan siang yang lumayan ramai.

Gladys berkali-kali melirik ke arah pintu kaca kafe setiap kali denting lonceng berbunyi, namun sosok Praduta yang ia tunggu-tunggu tak kunjung muncul.

Tidak ada tanda-tanda pria itu akan kembali datang hari ini.

Ada pergolakan batin yang aneh di dalam dada Gladys.

Di satu sisi, ia merasa lega karena tidak perlu berada di posisi canggung dan berbahaya jika Praduta dan Raka kembali bertemu. Namun di sisi lain, ada rasa cemas dan kehampaan yang tak bisa ia pungkiri—terutama setelah mengingat betapa dinginnya raut wajah Praduta saat mendadak pergi pagi tadi setelah mengetahui identitas Raka.

Kirana yang baru saja selesai membersihkan meja pelanggan menghampiri Gladys yang berdiri melamun di balik meja bar, mengelap gelas cangkir yang sama berulang kali.

"Bu Gladys," sapa Kirana pelan, membuyarkan lamunan Gladys.

"Ibu tidak apa-apa? Dari tadi kelihatannya gelisah sekali. Apa Ibu menunggu Mas yang tadi pagi datang?"

Gladys tersentak kaget, dengan cepat menghentikan tangannya yang mengelap cangkir dan berusaha menetralkan raut wajahnya.

"E-enggak kok, Kirana. Aku, cuma sedikit capek aja," alibi Gladys terburu-buru, meletakkan cangkir itu ke atas rak.

Ia memalingkan wajahnya ke arah kaca luar, menatap jalanan terik di luar kafe.

Apakah Praduta marah padaku? Atau dia kecewa karena melihat Mas Raka di sini? tanya Gladys dalam hati, sama sekali tidak menyadari badai dendam dan rencana kelam yang tengah Praduta persiapkan untuk menghancurkan pernikahan mereka.

Galdys pun bangkit dan mengambil kue coklat yang ada di rak.

Tiba-tiba ponsel di dalam saku celana Gladys tiba-tiba bergetar di tengah kesibukannya mengurus inventaris kafe sore itu.

Dengan gerakan ragu, ia merogoh ponselnya dan melihat sebuah pesan singkat dari nomor yang sudah ia hafal di luar kepala.

[Datanglah ke alamat ini. Aku mau menunjukkan sesuatu.]

Pesan singkat itu menyertakan sebuah lokasi sasana tinju (boxing gym) tempat Praduta berada.

Rasa penasaran bercampur cemas mendesak dada Gladys.

Tanpa berpikir panjang, ia menitipkan kafe pada Kirana dengan alasan ada urusan mendadak, lalu memesan taksi daring menuju lokasi yang dikirimkan Praduta.

Setibanya di sana, Gladys melangkah masuk ke dalam area sasana tinju yang cukup luas dan dipenuhi suara sorak-sorak penonton.

Tempat itu ternyata sedang mengadakan sesi sparring atau pertandingan latihan internal yang cukup ramai dikerumuni orang.

Gladys menerobos kerumunan penonton, mencari celah hingga ia bisa berdiri di tepi ring.

Matanya langsung membelalak kaget saat melihat sosok Praduta di dalam ring tengah bertarung habis-habisan melawan seorang petarung berbadan besar dan kekar.

Praduta menyadari kedatangan Gladys. Sekelebat seringai tipis terukir di bibirnya, namun sepersekian detik kelengahan itu dimanfaatkan oleh lawannya.

Bugh!

Sebuah hantaman telak mendarat di pelipis Praduta, disusul pukulan keras ke arah perutnya. Praduta terhuyung mundur hingga darah segar mengalir dari sudut bibirnya, membuat penonton di sekitar bergemuruh.

Melihat pria itu dihajar sampai babak belur dan berdarah-darah di hadapannya, jantung Gladys seolah berhenti berdetak.

Kedua tangannya mencengkeram erat tepi pagar pembatas ring, buku-buku jarinya memutih karena rasa khawatir dan ngeri yang luar biasa.

Kenapa Praduta membiarkan dirinya disiksa seperti ini? batin Gladys panik.

Namun, alih-alih menyerah, binar mata Praduta justru semakin menggelap penuh amarah.

Menggunakan rasa sakit dan luka di tubuhnya sebagai bahan bakar pelampiasan emosi, Praduta bangkit dengan cepat.

Dengan sisa tenaga dan teknik bertarung yang buas, ia menerjang lawannya balik, menghindari satu pukulan sebelum melayangkan hook keras telak ke arah rahang lawannya hingga pria besar itu tersungkur jatuh ke atas kanvas.

1
nining cahyaningrum
akur jelas cerita bagud
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!