Alya Renata adalah aktris terkenal yang hidupnya selalu berada di bawah sorotan kamera.
Arka Pratama hanyalah seorang mahasiswa yang terlihat biasa—tenang, sederhana, dan tidak tertarik dengan dunia selebritas.
Pertemuan tak sengaja di tengah hujan membuat dua dunia yang berbeda mulai saling mendekat.
Alya tidak pernah menyangka bahwa pria yang membuatnya merasa nyaman itu menyimpan identitas besar di balik kehidupannya yang sederhana.
Arka bukan sekadar mahasiswa.
Ia adalah pewaris keluarga Pratama, salah satu keluarga konglomerat terbesar di negeri ini.
Ketika cinta mereka mulai diketahui publik, mereka harus menghadapi usia, keluarga, media, karier, dan perbedaan dunia yang semakin sulit diabaikan.
Karena mencintai seseorang ternyata mudah.
Yang sulit adalah memilih untuk tetap berjalan bersamanya ketika seluruh dunia meminta mereka berpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sphinxeditz77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dibawah Satu Payung yang Sama
Sore itu, langit di atas kampus Bina Bangsa mulai berubah warna dengan cepat.
Awan gelap yang bergulung-gulung perlahan menelan sisa-sisa cahaya matahari sore. Udara mendadak terasa lebih dingin dan lembap.
Beberapa mahasiswa yang masih nongkrong di pelataran fakultas mulai menyadari perubahan cuaca dan mempercepat langkah mereka. Sebagian sibuk memasukkan laptop ke dalam ransel, sebagian lainnya menatap layar ponsel, mengecek peringatan cuaca dengan wajah panik.
Arka Pratama baru saja melangkah keluar dari lobi perpustakaan pusat.
Di tangannya, terdapat beberapa lembar draf metodologi penelitian yang baru saja dicetak untuk diserahkan ke dosen pembimbing besok. Ia berjalan santai menyusuri jalan setapak menuju gedung parkir ketika terdengar suara gemuruh guntur yang menggetarkan langit.
Arka mendongak. Hidungnya menangkap aroma tanah basah.
"Jangan hujan dulu kek," gumamnya.
Seolah langit sengaja ingin memancing emosinya, satu tetes air jatuh tepat di atas kertas draf skripsi yang ia bawa. Tinta dari hasil printer yang kurang berkualitas itu langsung melebar.
Arka menatap noda hitam yang merusak drafnya. "...Seriusan?"
Tetes kedua. Ketiga.
Lalu dalam hitungan detik—hujan turun dengan sangat deras seolah ditumpahkan dari langit.
Arka langsung mendekap kertasnya ke dada dan berlari kencang mencari perlindungan.
Beberapa mahasiswa lain melakukan hal yang sama, berlarian ke berbagai arah mencari tempat berteduh.
"Woy, lari!" "Untung gue bawa payung!" "Geser dikit, bro, gue basah nih!"
Suasana kampus mendadak riuh rendah.
Arka berhasil mencapai selasar gedung fakultas yang memiliki kanopi memanjang. Ia berdiri di sana, mengebaskan air dari jaketnya sambil melihat hujan yang turun bagai tirai putih.
Ia meletakkan tumpukan kertasnya dengan aman, lalu membuka ritsleting ransel. Mencari sesuatu yang seharusnya ada di sana.
Laptop. Buku jurnal. Kabel charger. Dompet.
Tidak ada payung.
Arka mengusap wajahnya yang sedikit basah dan membuang napas kasar. "Hebat banget gue. Kemarin pas terang benderang payungnya ke mana-mana gue bawa."
Ia menyandarkan punggungnya ke tiang selasar. Sekitar sepuluh menit menunggu, hujan belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Curah hujannya justru semakin lebat.
Arka akhirnya memutuskan untuk pasrah dan menunggu.
Namun ketika ia menoleh ke ujung selasar untuk mencari bangku kosong, matanya menangkap siluet seseorang.
Seorang wanita berdiri sendirian menatap hujan.
Ia mengenakan kardigan rajut panjang berwarna navy dan masker medis. Beberapa helai rambutnya yang sedikit berantakan karena angin menempel di lehernya. Tangannya terlipat di depan dada, menahan dingin.
Itu Alya.
Arka mendengus pelan dan menggelengkan kepala. "Kebetulan lagi."
Alya yang sedang melamun menatap hujan tiba-tiba menoleh karena mendengar langkah sepatu Arka yang mendekat. Matanya sedikit melebar terkejut.
"Arka?"
Arka mengangkat tangan kanannya sekilas. "Hai."
Alya melangkah beberapa tindak mendekatinya, suaranya sedikit beradu dengan gemuruh hujan. "Kamu belum pulang?"
"Belum."
"Kejebak hujan?"
Arka menunjuk ke arah langit dengan ibu jarinya. "Keliatannya gitu."
Alya tertawa kecil di balik maskernya. "Pertanyaan bodoh."
"Memang."
Mereka kembali berdiri berdampingan menghadap ke jalanan yang mulai tergenang. Untuk beberapa menit, tidak ada yang bicara. Hanya suara ritmis air hujan yang menghantam beton yang mengisi keheningan di antara mereka. Anehnya, suasana ini terasa sangat menenangkan.
Alya kemudian menunjuk ke arah ujung area kampus dengan pandangannya. "Mobil jemputan saya nunggu di area parkir depan sana."
Arka mengikuti arah pandangnya. Jaraknya lumayan jauh. "Enggak bawa payung?"
Alya menggeleng menyesal. "Tadi buru-buru cabut dari set karena lokasi syuting mau dibongkar gara-gara badai. Kru lagi ribet ngamanin alat, jadi saya melipir duluan."
Arka kembali melongok ke dalam tas ranselnya yang tadi belum selesai ia obrak-abrik. Tangannya merogoh sampai ke dasar tas yang paling gelap. Jarinya menyentuh benda silinder yang familier.
Ia menarik benda itu keluar.
Sebuah payung lipat berwarna biru tua.
Arka mengangkatnya hingga sejajar dengan wajah Alya. "Ini."
Alya menatap payung itu dengan bingung. "Lho? Kamu punya payung rupanya?"
"Baru nemu di kantong ajaib." Arka menyodorkannya ke arah Alya. "Pakai aja."
Alya tersenyum simpul. "Terus kamu sendiri gimana?"
Arka mengangkat bahu cuek. "Gampang, saya bisa nekat lari ke parkiran motor."
Alya langsung menggeleng tegas. "Enggak. Jangan."
Arka mengernyit. "Kenapa?"
"Kalau kamu nekat hujan-hujanan, terus kamu sakit, nanti tugas skripsi kamu gimana? Nggak selesai-selesai dong?"
Arka tertegun. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa seorang Alya Renata, di tengah situasinya yang kehujanan, justru memikirkan progres skripsi Arka.
Alya menyadari ekspresi terkejut pria itu. "Kenapa liatin saya kayak gitu?"
"Enggak." Arka kembali menyodorkan gagang payungnya, kali ini lebih memaksa. "Udah, ambil aja buat ke mobil."
Namun Alya melipat tangannya ke belakang, menolak menerima. "Terus kamu rencananya nunggu di sini sampai kapan?"
"Saya tunggu sampai reda."
"Kalau sampai magrib hujannya enggak reda?"
"Ya saya tunggu. Saya mahasiswa, waktu saya banyak."
Alya tersenyum miring. "Kamu ini beneran keras kepala ya ternyata."
"Kamu juga sama aja."
"Siapa bilang?" Alya membela diri.
"Kamu barusan. Nyuruh saya pakai payung sendiri padahal kamu yang mau ke mobil."
Alya tertawa pelan. "Oke, fine. Sini payungnya."
Alya akhirnya menerima benda itu. Ia bersiap membukanya, namun sebelum melangkah menerobos hujan, ia berbalik menghadap Arka.
"Arka."
"Hm?"
"Terima kasih... lagi."
Arka mengangguk singkat. "Sama-sama. Hati-hati di jalan."
Alya melangkah mundur perlahan hingga mencapai batas teras. Ia menoleh sekali lagi.
"Kamu yakin mau nunggu di sini?"
"Yakin seratus persen."
Alya menatap tirai hujan yang pekat selama beberapa detik. Ia kemudian membuka payung tersebut dengan sekali tekan. Cetek.
"Kalau begitu... sampai ketemu lagi, Arka."
"Semoga."
Alya mulai berjalan menjauh di bawah payung biru itu.
Namun, baru berjalan sejauh lima meter, langkahnya melambat. Ia berhenti sepenuhnya di tengah hujan.
Entah kenapa, ada perasaan mengganjal di dadanya saat meninggalkan pemuda itu sendirian di selasar yang dingin. Terutama karena ini adalah payung milik pria itu sendiri.
Alya memutar tubuhnya. Kemudian berjalan cepat kembali ke arah gedung.
Arka yang masih bersandar di tiang dan mulai memainkan ponselnya tampak terkejut melihat Alya kembali. "Ada yang ketinggalan?"
Alya berdiri di depannya, menaikkan payungnya sedikit agar pandangan mereka bertemu.
"Gimana kalau kita jalan bareng aja sampai area parkir?" usul Alya tiba-tiba.
Arka menatap payung berdiameter sedang itu, lalu menatap Alya. "Enggak masalah emang jalan berdua begitu?"
"Payungnya cukup kok."
Arka terdiam sebentar, menimbang-nimbang. Ia melihat awan di langit yang sepertinya tidak akan bersahabat dalam waktu dekat. Akhirnya ia meraih tas ranselnya dan mendekap draf skripsinya.
"Ya sudah. Boleh."
Arka mengambil alih gagang payung itu dari tangan Alya karena posturnya lebih tinggi. Ia memastikan payung itu cukup melindungi mereka berdua saat melangkah menembus hujan.
Mereka berjalan berdampingan dalam kecepatan sedang. Jarak bahu mereka tetap wajar—tidak terlalu jauh, tapi juga tidak bersentuhan. Tidak ada percakapan berbunga-bunga khas adegan film romantis yang sering Alya perankan.
Hanya dua manusia biasa yang sedang berusaha menghindari hujan.
Namun, atmosfer di antara mereka terasa jauh lebih hangat dan mendalam dibandingkan pertemuan-pertemuan sebelumnya.
Arka yang lebih dewasa cara mikirnya "panik juga gak bikin kita bisa terbang" dan kalem nutupin Alya pas ketahuan Dina, bikin Alya yang hidupnya capek jadi artis tuh ngerasa aman, bukan diatur. Bukan yang posesif "kamu gak boleh syuting", tapi yang support "Aku respect sama kamu, Al" habis lihat Alya take 9x.
Itu bedanya age gap yang mateng vs yang maksa. Protective tapi tetap ngasih ruang buat Alya berkarir. Suka banget dinamikanya!
Semangat kak, ditunggu update-nya!
Arka: "Belum tentu, skripsi belum kelar"
AKU SEBAGAI PEMBACA: Arka, skripsimu bisa nunggu, Alya gak bisa! 😭
Next bab tolong Arka jangan ilang dulu, sponsor Alya lagi di ujung tanduk nih!
Alya yang udah 10 tahun dianggap trofi, baru kali ini ada yang ngeliat capeknya sebagai manusia. Dan Alya yang bilang 3x "Jangan pulang dulu" itu gemes banget. Tapi endingnya Riko manajer produksi + nomor portal gosip ngechat "Selamat sore Mas Arka Pratama?" MERINDING. Skysea Group mau kebongkar!
Di sini baru Arka ngerti kenapa Alya bisa jadi aktris bayaran termahal - bukan karena cantik doang, tapi pas kamera nyala, Alya beneran lenyap dan jadi karakternya. Dan Arka yang dateng bawa 2 es kopi langganan mereka 😭 simple tapi sweet banget!
Alya seumur hidup: Langsung hangat dadanya
Kalimat paling tulus di novel ini. No gombal, cuma jujur. Love!