NovelToon NovelToon
Sistem Apapun Yang Kuminta, Akan Menjadi Milikku

Sistem Apapun Yang Kuminta, Akan Menjadi Milikku

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Balas Dendam / Anak Genius
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Notdrick

Sepuluh persen. Itu bagian Elang Nugroho dari warisan keluarganya. Sembilan puluh persen sisanya jatuh ke tangan sang kakak, sementara tunangannya berdiri di sisi orang yang mengkhianatinya.

Elang tidak memohon. Ia pergi, dan memutus ikatan dengan keluarga yang tidak pernah menganggapnya setara.

Namun sarung tangan hitam yang ia kenakan sejak SMA ternyata menyimpan rahasia. Satu sentuhan, satu permintaan, dan apa pun yang ia inginkan bisa menjadi miliknya: kemampuan, benda, bahkan orang. Di balik sistem itu, ada ruang yang menyimpan hal-hal yang tidak pernah ada di dunia manusia.

Dunia mengira ia kehilangan segalanya.

Mereka belum tahu, ia baru saja mulai memintanya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Gerbang mansion itu membuka sendiri begitu mobil Darman menyorotkan lampu. Besi hitam bergeser tanpa suara, dan jalan batu putih terbentang ke dalam, diapit pohon palem yang dipangkas serupa.

Elang turun dari sedan dan berdiri di halaman. Di depannya, bangunan tiga lantai dengan tiang-tiang kolom dan jendela setinggi dua manusia menjulang di bawah langit sore. Air di kolam depan memantulkan semburat jingga.

Darman menyerahkan sebuah map cokelat dan satu set kunci dengan kedua tangan.

"Dokumennya atas nama Tuan, sudah ditandatangani Pak Wijaya." Ia menunduk dalam-dalam. "Lima pembantu dan dua penjaga sudah menunggu di dalam, Tuan. Kalau ada yang kurang, Tuan tinggal menghubungi saya."

"Pergilah."

Darman menunduk sekali lagi dan masuk ke mobil. Lampu belakangnya mengecil di ujung jalan.

Elang berjalan masuk tanpa melirik para pelayan yang berbaris di ambang pintu dan membungkuk. Lantai marmernya lebih lebar dari kamar kontrakannya. Tangga lengkung naik ke kiri, dan lampu gantung kristal di atasnya berayun pelan oleh angin dari pintu.

Ia berhenti di tengah aula, menatap langit-langit yang tinggi.

'Kemarin pagi aku masih tidur di kasur tipis.' Ia mendengus. 'Dan aku belum meminta apa pun yang besar.'

Ia naik ke lantai dua dan memilih kamar paling ujung. Dari balkonnya, kota terlihat seperti papan sirkuit yang menyala satu per satu.

Ponselnya bergetar di saku.

Layar menampilkan sebuah tautan berita yang sudah dibagikan ribuan kali.

Pemuda Misterius Hentikan Truk Tanpa Sopir dengan Satu Pukulan di Mall Wijaya.

Elang menekan video itu. Rekaman kamera pengawas dari lobi, diputar berulang. Truk melaju, kaca pecah, dan seorang pemuda berkemeja putih melepas tiang marmer dan menjatuhkan kuda-kuda. Bunyi benturannya di rekaman terdengar seperti petir yang dibungkus kain.

Wajahnya terlihat jelas di bingkai terakhir.

Ia menggulir ke komentar. Ribuan orang menebak siapa dia, menyebutnya pahlawan, monster, aktor, rekayasa. Seseorang menulis, "Kalau ini asli, aku mau jadi muridnya."

Elang tertawa pendek. Ia mematikan layar dan menyandarkan punggung ke pagar balkon.

"Mau jadi muridku?" gumamnya pada langit. "Mustahil."

Sebuah pesan baru masuk, dari nomor tak dikenal.

Ini Lastri. Aku sudah sampai rumah. Ayah bilang kau sudah di mansion. Besok datang ya.

Elang membaca pesan itu sekali, menaikkan satu alis, lalu mengetik dua kata.

Aku datang.

...------...

Layar tablet di ruang kerja Ray menampilkan wajah yang sama, diputar untuk kesembilan kalinya.

Ray duduk bersandar di kursi, tongkatnya bertumpu di pangkuan, dan tidak ada yang tahu sudah berapa lama ia diam. Gelas kopinya sudah dingin, dan uapnya sudah lama hilang.

"Ulangi," katanya.

Seorang pegawai berjas yang berdiri di dekat pintu menyentuh layar, dan video itu mundur ke awal.

Elang. Kemeja putihnya sama dengan yang ia pakai di pesta. Ia menepuk lengan bajunya sesudah menghentikan truk, tanpa tergesa, seperti orang membersihkan remah roti.

Ray menekan bagian atas tongkatnya sampai buku jarinya memutih.

"Wahyu bilang dia kapok." Suaranya rendah. "Dia bilang Elang menangis di gang."

"Maaf, Pak." Pegawai itu menelan ludah. "Wahyu tidak bisa dihubungi sejak pagi."

Pintu ruang kerja terbuka, dan Intan masuk tanpa mengetuk. Gaun krem yang ia pakai di pesta sudah berganti blus putih sederhana, tetapi bekas merah di pipinya belum sepenuhnya hilang. Ia berhenti di depan meja dan melihat layar.

Keheningan merambat selama dua detik.

"Itu dia," kata Intan. Suaranya datar. "Itu Elang."

"Aku tahu."

"Dia menghentikan truk." Intan menatap tablet itu seakan menatap orang asing. "Dengan satu tangan. Ray, itu benar benar Elang..."

"Aku tahu, Intan."

Ray mematikan layar dengan gerakan kasar. Tablet itu berderak di meja kaca.

Pintu terbuka lagi. Dimas masuk dengan jas yang belum dilepas, rahangnya kaku. Ia tidak menyapa siapa pun.

"Apa ini?" Ia melempar ponselnya ke meja. Layarnya menampilkan tajuk berita yang sama. "Semua orang di kantor membicarakan anak itu. Wijaya Group menjadikannya tamu kehormatan, dan sekretaris mereka baru saja menelepon aku."

Ray menegakkan punggung. "Menelepon apa, Yah?"

"Mereka menunda pertemuan proyek." Dimas menatap Ray lurus. "Tanpa batas waktu. Pak Wijaya sedang meninjau ulang segala sesuatu."

Tidak ada yang bersuara. Di luar jendela, lampu taman mulai menyala, satu per satu.

Ray menunduk, dan untuk pertama kalinya hari itu, tongkat di tangannya terasa seperti satu-satunya benda yang menahan tubuhnya tetap tegak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!