Nadia tak suka dengan perjodohan yang orang tuanya berikan padanya dengan Jayden Mahendra.
Jayden san Nadia kini resmi menjadi suami istri, tapi pernikahan mereka masih harus di sembunyikan sampai mereka lulus sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Smarrr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
"Jangan kenceng- kenceng ngomongnya anjir," pekik Nadia membungkam mulut Mela.
"Ya habisnya lo bikin gue kaget aja," protes Mela dan Nadia melihat ke arah sekeliling mereka., beraharap tidak ada yang mengenal dan mendengar percakapan mereka berdua.
"Terus ngapain tadi lo nyuruh gue jagain Kevin?
gue pikir lo masih suka sama Kevin?"
"Kemarin sih gue maih suka ya, tapi gue juga nggak ngerti sama perasaan gue sendiri untuk saat ini, gue kira gue juga nggak suka sama Jay, karena waktu itu gue dengan tegasnya menolak perjodohan antara gue sama Jay, tapi anehnya tadi pas gue ke kantor Jay, gue ngeliat dia lagi sama cewek lain, mana cantik banget lagi ceweknya," kata Nadia yang akhirnya lesu mengingat Jay bersanding dengan wanita lain yang lebih cantik.
"Terus lo cemburu gitu?" Tanya Mela penasaran.
"Gue nggak tahu itu cemburu atau bukan, karena gue sendiri juga belum yakin sama perasaan gue njir, tapi gue nggak suka jay deket - deket sama cewek klain, mana tadi manggil 'BABY' lagi, rasanya penge gue cakar itu muka cowok sama ceweknya," oceh Nadia panjang lebar.
"Kayaknya lo udah tertarik deh sama Jay, tau sendiri kan gimana kecintaanya lo sama Kevin dulu,dan jadi bego gara-gara cinta."
"Gue nggak bego ya anjir!" Nadia tak terima jika dirinya di katakan bego.
"Terus kalau bukan bego apa dong? Pinter? iya pinter, tapi pinternya ilang ke bawa cinta, jadi tinggal begonya, udah tahu Kevin itu cuma manfaatin lo, secara lo kan anak orang kaya, ya walaupun gue juga manafaatin lo karena lo selalu baik sama gue, apa lagi lo selalu traktir gue begini, tapi seenggaknya gue nggak bermuka dua ya! gue tulus sahabatan sama lo."
Mela menyeruput ice ameriano dan disert yang di pesan oleh Nadia
"Terus gue harus gimana sekarang? gue bingung anjir, gue pengen aduin ini ke papa gue, tapi anehnya gue malah nggak tega."
"Lo bukan nggak tega, tapi lo udah mulai suka sama Jay, dan kalau lo lapor ke papa lo yang ada nanti hubungan kalian berdua akan ribet karena udah campur tangan orang tua. dan lo akan sedih karena Jay yang juga akan menjauh dari hidup lo, itu yang sebenarnya lo pikirin," tegas Mela yang tak mau membuang kesempatan untuk selalau makan enak jika dekat denga Nadia.
"Iya kah?" Nadia jadi kepikiran bagaimana wanita yang belum juga ia ketahui namanya itu begitu mesra menggelendot di lengan suamnya.
"Ya itu sih penilaian dari gue, nggak tahu juga kan kalau lo masih aja gengsi dan egois nggak mau ngakuin," cibir Mela menyindir.
"Lo kok malah nyindir gue sih, bantuin anjir, kasih solusi katanya sahabat! gimana sih?"
"Mau gue kasih saran? tapi lo ikutin nggak? gue males ngomong kalau saran gue nggak lo pake, sayang amat ah nafas gue terbuang percuma."
"Ya kalau bisa gue lakuin sih mau aja, tapi nggak bisa ya gimana,"
"Kan!? nggak jadi ngomong gue lah, males banget,"
Nadia yang sudah benar-benar frustasi karena tak tahu harus berbuat apa lagi, hanya bisa pasrah dan kekeuh meminta bantuan pada sahabtanya itu.
"Ya ya, gue turutun deh," kata Nadia yang akhirnya mengalah
"Sini deketan dong," Mela mulai membisikan sesuatu ide di telingan Nadia.
"APA? LO GILA YA? MASA GUE HARUS BEGITU SIH? NGARANG AH!" seru Nadia setengah berteriak saat baru saja mendengar ide dari Mela.
"Ya itu sih ide dari gue, kalau lo nggak mau ngikutin ya udah, bukan urusan gue juga kan?"
"Nggak ada ide lain apa?" Mela lenggeengkan kepalanya dengan cepat.
"Nggak ada!" tegas Mela. "Kata gue mah Nad, lo ikutin deh saran dari gue, masalah Kevin lo serahin deh sama gue besok dan seterusnya, pokoknya biar gue yang handle si cowok nyebelin itu," imbuh Mela memberi dukugan
Nadia tampak berpikir sejenak, dan menimang saran atau ide yang Mela katakan padanya.
"Masih pake mikir lagi," tukas Mela.
"Gue nggak yakin gue bisa sih, tapi gue coba deh," lirih Nadia yang takut akan melakukan saran dari Mela.
"Nah gitu dong, itu baru temen gue, ehhh.. salah deh, sahabat gue maksudnya."
Dan ternyata Jay mengikuti Nadia kemanapun cewek itu pergi, hanya saja Jay tak dapat bisa mendengar apa yang dua orang itu bicarakan karena ia hanya melihat dari dalam mobil;.
Setelah selesai mengobrol dan tak terasa langit pun mulai gelap, Nadia juga Mela memilih untuk berpisah di sana dan pulang ke rumah masing-masing.
.
.
.
.
.
Saat Nadia sampai di rumah, ia melihat ada mobil Jayden terparkir di halaman rumah, ia bergegas berlari masuk ke dalam rumah, berharap jika Jay tidak akan pergi meninggalkanya lagi.
Dan Saat senyum Nadia akan terukir di bibirnya, cewek itu mengulum kembali bibirnya saat ia melihat ada wanita yang te,ui do perusahaan Jay tadi, ya walaupun di sana ada dua pria lagi dan satunya Nadia sudah mengenali wajahnya karena Nadia juga bertemu dengan pria itu di perusahaan Jay, tapi satu pria Nadia tak mengenali.
Langkah Nadia jadi lesu, saran dari Mela yang ingin ia lakukan bahkan semangatnya hilang seketika.
"Jangan biarin Jay jadi milik orang lain," ucapan terakhir Mela membuat Nadia sadar jika status hubungan dia dan Jay jauh di atas wanita itu yang mungkin saat ini hanya menjadi pelampiasan Jay saja.
"Loh sayang, kamu udah pulang? kok nggak bilang sama aku sih? kamu bawa temen kerja kamu pulang ke rumah? emangnya masih ada kerjaan ya? kamu nggak kangen apa sama aku?" tiba-tiba saja sikap Nadia berubah drastis lagi, dan yang membuat Jay tercengang adalah lagi - lagi Nadia dengan entengnya duduk di pangkuanya tanpa sungkan lagi.
Bahkan jari Nadia mulai berani menjelajah menyusuri garis wajah Jay di depan teman-temanya.
"Baby, kamu bilang kamu nggak ada hubungan apa-apa sama dia? kok dia bisa ada di rumah kamu sih?"dan kini Jesica mulai kompor.
"Apa kamu tahu kalau aku cemburu ada yang mangil kamu baby? bahkan terakhir kamu bilang sama aku kalau cuma aku yang ada di hati kamu, tapi baru sebentar dengan mudahnya kamu berpaling? lalu gimana nasib anak kita nanti?" perkataan Nadia seketika membuat Jay dan tiga orang lainya tekejut.
"Anak?" tanya Jay kanget juga bingung dengan bersamaan.
Nadia mengangguk pelan sebagai jawaban, walau dirinya tahu bahwa itu hanyalah bohong karena tak mau jika wanita cantik itu semakin dekat dengan Jay.
Bahkan Jesica saat ini malah merasa bersalah karena sudah mengikuti sandiwara yang Jay lakukan.
"Kita pulang dulu aja nggak sih?" kata Arga memecah keheningan yang tiba-tiba.
"Aku nggak ikut - ilkutan lagi deh," seru Jesica yang langsung kabur dan di susul Arnold juga Arga.
Setalah semua orang pergi, Nadia dengan mudahnya bangun dari pangkuan Jay dan berjalan menaiki anak tangga menuju kamar.
Jay yang sadar pun langsung menyusul langkah Nadia yang menuju kamar.
"jelasin ke gue gimana lo bisa hamil, kita bahkan bleum ngelakuin apa-apa Nad!" Jay menarik lengan Nadia.
Nadia sedikit gugup, ia takut jika Jay akan marah saat mengetahui dirinya tenryata berbohong.
"Jawab Nad! jangan diem aja!" tegas Jay mencengkeram lengan Nadia.
"Sakit Jay." rengek Nadia karena cengkeraman tangan Jay lumayan kencang.
"Sorry, gue nggak maksud" sahut Jay lirih." Bisa lo jelasin kenapa lo tiba-tiba hamil?" tanya Jay lagi.
"Gue mau mandi dulu, gerah," kata Nadia mengalihkan pertanyaan jayden.
Namun dengan cepat jay menahan kembali lengan Nadia. "Jangan bilang kalau lo bohong?" selidik jay yang membuat Nadia membulakan matanya.
"Jadi lo beneran cemburu dan membuat kebohongan ini biar gue nggak bisa deket - deket lagi sama cewek lain?" Nadia semakin tercengang saat Jay mengtehui rencananya.
Jay menarik pinggang Nadia hingga keduanya kini semakin mendekat satu sama lain, bahkan deru nafas Jay kini dapat Nadia rasakan saat menyapu wajahnya.
"Jadi sekarang lo udah siap buat hamil sayang? gue akan bakal buat ucapan lo jadi kenyataan," bisik Jay yang membuat Nadia bergidik ngeri.
Susah payah Nadia menelan ludahnya sendiri, nafsnya Seolah tercekat saat suara serak Jay terdengar di telinganya.
"Gue cuma bercanda tadi kok," Nadia mencoba melepas dari kukungan Jay.
"Bercanda? gimana kalau gue serius? dan siap bikin kamu hamil malam ini juga?" kata Jay yang semakin membuat Nadia terbelalak.
"Lo kan pasti cape kan, habis kerja seharian, jadi mending sekarang lo mandi dan istirahat biar besok bisa kerja lagi, dan gue juga bisa ke sekolah buar beklajar karena bentar lagi kelulusan."
Jay menggeleng, "Lo bahkan tahu Nadia. Kalau gue selalu nahan semuanya demi lo, tapi hari ini. Lo sendiri yang datang ke gue, bahkan lo berani dengan jemari lo yang na kal itu menelusuri garis wajah gue, lo bahkan tahu kalau gue paling nggak bisa tahan kalau itu lo, Nadia!" desis jay membuat Nadia semakin tercekat.
"Inget! jangan biarin Jay jadi milik orang lain!" ucapan Mela kembali melintah di pikiran Nadia.
"lya! gue emang udah berani, kenapa? nggak boleh? jadi cewek lain boleh gelendotan di lengan lo gitu aja? sedangkan gue yang malah istri sah lo nggak boleh gitu?'" tegas Nadia yang kini mulai berani melawan Jay. Dan mengimgat bagaimna wanita tadi bergelendot dengan manja di lengan Jay
"Jadi lo beneran cemburu?" tanya Jay lagi menyakinkan apa yang ia pikrikan.
"lya! gue cemburu! gue cemburu lo deket sama cewek yang lebih cantik dari gue, gue nggak suka kalau lo deket- deket sama cewek lain selain gue, harusnya lo sadar karena dari awal lo yang mau dengan paksa perjodohan ini kan? tapi lo malah...