Renzo, mantan prajurit elite nomer satu indonesia dengan julukan beruang baja, dipenjara di Nusakambangan setelah membantai geng yang membunuh tunangannya. Ia berniat hidup tenang, sampai kabar adiknya dianiaya anak pejabat tertinggi dan keluarganya di sembunyikan membangkitkan amarahnya. Diliputi amarah, Renzo mengumpulkan para tahanan paling berbahaya—algojo kartel, yakuza, psikopat, ahli kungfu, hingga perancang bom—membentuk geng kriminal paling berbahaya dalam sejarah untuk kabur dari penjara, membalas dendam, dan menumbangkan penjahat manipulatif yang bahkan dilindungi pasukan militer!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kabutmalam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TANTANGAN TERBUKA!
Renzo melangkah mendekat perlahan, langkahnya tenang membelah sisa ketegangan di udara. Ia mengulurkan tangan kanannya, tatapannya tulus dan mantap tertuju pada Kayden.
"Selamat... kalian bertiga telah membuktikan bahwa kalian layak," ucapnya lembut namun tegas, terdengar jelas di telinga setiap orang yang hadir.
Kayden menghela napas panjang, dadanya naik turun menahan perih yang menjalar dari bahu hingga ke lengan. Tangan kirinya terkilir parah, mati rasa seakan bukan bagian dari tubuhnya, sehingga ia terpaksa meraih tangan Renzo dengan tangan kanannya, cengkeramannya lemah namun penuh makna.
"Kau baik-baik saja?" tanya Renzo pelan, menariknya perlahan berdiri, menopang tubuh Kayden yang sempat goyah.
Kayden menyeringai tipis, darah segar menetes dari sudut bibirnya. "Hehe... Saudara Renzo... kau belum lupa julukanku sebagai Zombie, kan?"
Riko yang sedang memapah Gavien berjalan mendekat, langkahnya ringan meski tubuhnya juga menanggung luka. Ia menepuk pelan dada Kayden, tatapannya penuh kebanggaan. "Kerja bagus."
Sementara itu, Ivan berdiri diam di samping Renzo. Ia tak ikut tersenyum, tak mengucapkan selamat. Matanya menyipit tajam, menatap kerumunan di kejauhan layaknya predator yang sedang menilai kekuatan mangsa sebelum menerkam. Keheningan menyelimuti ruangan, semua orang menahan napas bertanya-tanya apa yang melintas di pikiran pria yang dijuluki Si Naga Hitam ini.
Tiba-tiba, aura membunuh yang begitu ganas meledak dari tubuhnya tanpa peringatan. Tekanan dahsyat membanjiri seluruh ruangan, membuat udara terasa berat dan sesak, seakan dada setiap orang dihimpit tangan raksasa yang tak kasat mata.
Keringat dingin langsung menetes deras di wajah para narapidana. Mereka yang hendak melangkah mendekat serentak mundur terbirit-birit, wajah mereka pucat pasi. Beberapa bahkan tak sanggup menahan tubuh, tersungkur ke lantai berguling-guling menjauh secepat mungkin. Tak ada yang tahu siapa yang telah menyinggung sosok ini, dan tak ada satu pun yang ingin mati sia-sia di tangannya.
Tatapan tajam itu akhirnya berhenti, terkunci pada satu sosok yang berdiri tegak di kejauhan.
Tanpa suara, tanpa aba-aba, Ivan mengaum keras layaknya naga yang lepas dari belenggu gunung. Tubuhnya melesat ke atas meja, melintasi ruangan dengan kecepatan mengerikan — bagaikan badak yang menerjang tanpa bisa dihentikan, tak peduli apa yang ada di jalurnya. Kerumunan yang berada di lintasannya segera menyingkir ketakutan, memberi jalan lebar seketika.
Sosok yang dituju adalah Axel — pria raksasa setinggi dua meter, bahunya lebat, tubuhnya kekar penuh bekas luka pertarungan yang tak terhitung jumlahnya. Merasakan serangan yang datang dengan tekanan luar biasa itu, mata Axel menyipit tajam. Ia tak menghindar. Sebaliknya, kakinya mengokohkan kuda-kuda di lantai, tubuhnya kokoh bagai menara batu yang tak akan goyah oleh angin atau badai, memancarkan dominasi yang tak terbantahkan.
BRAAKK!!
Ivan tiba di hadapannya seketika, benturan angin yang tercipta membuat pakaian mereka berkibar hebat. Tubuhnya melayang berputar di udara bagai pusaran angin, lalu menukik tajam ke bawah, lengan kanannya tertekuk, siku menegang keras seolah ditempa dari baja murni. Salah satu dari 72 gerakan Kungfu Shaolin yang dipelajarinya sejak muda diluncurkan — Siku Penguasa!
Axel menggeram rendah merasakan tekanan yang turun bagaikan longsoran batu dari puncak gunung. Tanpa basa-basi ia mengepalkan kedua tangannya erat-erat, otot-otot di lengannya menonjol besar, lalu mengayunkan kepalan sebesar kepala manusia menyambut serangan mematikan itu.
BUGH!
Benturan keras menggema hingga ke sudut terjauh ruangan, membuat gelas-gelas di rak bergetar. Tubuh raksasa Axel sedikit merosot ke bawah, lututnya menekuk sejenak, lalu terdorong mundur dua langkah berat, telapak kakinya menggesek lantai berbunyi nyaring.
Ivan tak memberi celah sedetik pun. Tubuhnya berputar cepat di udara, lalu melepaskan tendangan menyapu yang begitu bertenaga, mengarah lurus ke tulang rusuk Axel dengan kekuatan yang bisa mematahkan tulang paha sapi.
Meski tubuhnya raksasa, reaksi Axel luar biasa cepat. Saat terdorong mundur, ia langsung menghentakkan kakinya menahan keseimbangan, lalu menekuk kaki kanannya sekaligus mengangkat lengan tebalnya untuk menangkis serangan ganas itu.
BRAAAKK...!!!
Bunyi benturan tumpul kembali terdengar mengerikan, seakan dua batang kayu besar bertabrakan. Ivan memanfaatkan pantulan itu untuk melenting ke belakang, mendarat ringan di atas meja tak jauh dari sana, seakan tanah di bawahnya tak berarti. Ia menatap Axel tajam, napasnya tenang, lalu menyeringai lebar menampilkan gigi-giginya yang tajam.
Axel terhuyung-huyung mundur dua langkah, bahunya naik turun menahan rasa sakit yang menjalar di lengannya. Ia menatap Ivan lekat-lekat, mencoba menilai seberapa jauh kekuatan sosok di depannya, lalu meraung keras hingga suaranya bergema memantul di dinding-dinding.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan?!" Tanya Axel.
Anak buahnya segera bergerak serentak, puluhan sosok berdiri berbaris di sisi pemimpin mereka, menatap Ivan penuh kewaspadaan. Kelompok Axel memang dikenal paling setia di antara semua kelompok — meski ketakutan terlihat jelas di mata mereka, sebagian besar menekan rasa takut itu demi berdiri tegak di samping pemimpin yang selama ini melindungi mereka.
Ivan masih setengah jongkok di atas meja, bagaikan harimau yang bersiap menyerang. Seringainya semakin kejam, dan menakutkan.
"Aku hanya ingin memastikan... apakah kau cukup kuat untuk kubunuh seorang diri?"
Wajah Axel mengeras, urat di lehernya menonjol tebal. Tatapannya tajam menembus ke arah Ivan.
"Aku akui kekuatanmu luar biasa... namun jika kau berpikir bisa mengalahkanku hanya dengan kemampuan yang kau tunjukkan ini, kau keliru besar!"
Ivan terkekeh, tawa rendah yang membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya berdiri. Gigi-giginya tampak tajam berkilat diterangi lampu yang mulai berkedip. Aura predator meluap kembali, matanya yang kemerahan menyapu wajah satu per satu anak buah Axel. Semua orang mundur selangkah tanpa sadar — takut... sangat takut... seakan maut sedang berdiri di hadapan mereka.
"Aku tidak akan membunuhmu di sini, Axel. Suatu saat nanti aku akan datang mencarimu untuk berduel satu lawan satu sampai salah satu tak bisa bangkit lagi. Namun bukan itu tujuanku hari ini..." ucap Ivan.
Perlahan tangannya terangkat, jari telunjuk menunjuk lurus ke arah wajah Axel. Axel menarik napas dalam-dalam, mengokohkan tubuhnya, siap menerima tantangan itu.
Namun jari telunjuk Ivan berputar setengah lingkaran perlahan, lalu berhenti — menunjuk ke arah orang-orang di belakang Axel dengan senyum angkuh yang tak bisa disembunyikan.
"Aku datang ke sini sebagai perwakilan resmi Gedung Naga Neraka... untuk menantang Gedung Singa Perkasa. Tantangan ini berbentuk pertarungan terbuka, seratus orang melawan seratus orang!"
Keheningan kembali menyelimuti ruangan, kali ini lebih berat dari sebelumnya. Seratus orang melawan seratus orang... pertarungan yang belum pernah terjadi di penjara ini selama puluhan tahun. Para narapidana saling berpandangan, ada yang gemetar ketakutan, ada yang matanya berbinar antusias.