Seluruh keluarga menganggap Ashlyn adalah anak pembawa sial. Sejak kecil ia dihina dan dipukuli hanya karena tak memiliki kecerdasan seperti anak kecil pada umumnya. Demi menyingkirkan Ashlyn untuk selamanya, sang ibu tiri membuang Ashlyn di perbatasan dan berbohong bahwa suami Ashlyn adalah Jenderal Ethan Harold, seorang jenderal perang yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh.
Mereka yakin Ashlyn akan dibunuh saat berani mengaku sebagai istri sang jenderal.
"Suami mu adalah Jenderal Ethan Harold."
"Suami Ashlyn?" tanya Ashlyn dengan polosnya.
"Iya, kalau kamu tersesat, cari saja dia. Katakan bahwa kamu adalah istrinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IISJ Bab 2 - Pertama Kali Bertemu
Suara pengaman pistol yang dilepas terdengar hampir bersamaan.
Klik!
Klik!
Klik!
Beberapa prajurit yang berada di barisan depan langsung mengangkat senjata api mereka dan mengarahkannya tepat ke kepala Ashlyn.
"Jangan bergerak!"
"Menjauh dari kendaraan Jenderal!"
"Angkat kedua tanganmu!"
Suasana yang semula hanya dipenuhi rasa penasaran berubah mencekam dalam sekejap.
Para warga desa yang menyaksikan kejadian itu langsung mundur beberapa langkah. Beberapa ibu bahkan menutup mata anak-anak mereka.
"Astaga! mereka mengeluarkan pistol dan pedang."
"Gadis itu akan mati."
"Berani sekali mengaku sebagai istri Jenderal Ethan."
"Kasihan, ternyata dia benar-benar idiot."
Namun semua ancaman itu tidak berarti apapun bagi Ashlyn. Ia sama sekali tidak melihat moncong-moncong pistol dan pedang yang mengarah kepadanya. Yang Ashlyn lihat hanyalah sosok pria tampan di balik kaca mobil. Meski tak pernah bertemu secara langsung namun Ashlyn sering sekali melihat foto Ethan dimana-mana.
Seorang Jenderal yang paling dikagumi oleh semua orang, terutama di wilayah perbatasan. Karena itulah ketika pertama kali melihat Ashlyn langsung bisa mengenali sang suami.
Dengan wajah penuh harapan, Ashlyn pun melambaikan tangan kecilnya. "Suamiku!"
Para prajurit semakin menegang.
"Diam!"
Ashlyn menggeleng pelan. "Ashlyn tidak mau diam."
Seorang kapten pasukan melangkah maju. Jarinya sudah berada di pelatuk pistol. "Nona, mundur sekarang juga atau kami tembak!"
Bukannya takut, Ashlyn justru tersenyum semakin lebar. "Tapi Ashlyn mau ikut pulang bersama suami."
Kalimat polos itu membuat seluruh jalanan menjadi sunyi.
"Ashlyn tidak punya rumah lagi," lanjutnya lirih. "Mama dan Papa menyuruh Ashlyn mencari suami. Jadi, Ashlyn mau ikut pulang."
Beberapa prajurit saling berpandangan.
Apa gadis ini benar-benar tidak mengerti situasinya?
Sementara itu di dalam mobil, Ethan Harold masih memperhatikan setiap gerak-gerik gadis tersebut.
Tatapannya dingin dan pikirannya dipenuhi tanda tanya. Tapi sejak beberapa menit lalu, Ethan tidak sekali pun melihat kepura-puraan di mata gadis tersebut.
Tak ada rasa takut.
Tak ada ambisi.
Tak ada kepentingan.
Yang ada hanyalah kepolosan seorang gadis yang benar-benar percaya bahwa dirinya sedang berbicara dengan suaminya.
Ethan perlahan mengangkat tangan. "Turunkan senjata."
Semua prajurit membeku.
"Jenderal?"
"Aku bilang turunkan," ucap Ethan yang suaranya terdengar begitu datar.
Tanpa berani membantah, seluruh pistol dan senjata segera diturunkan.
Para warga semakin dibuat tercengang.
"Apa aku salah dengar?"
"Jenderal tidak marah?"
"Tidak mungkin."
Pintu mobil hitam itu akhirnya terbuka dan Ethan turun dengan langkahnya yang tenang. Tubuhnya yang tinggi dan tegap memancarkan wibawa yang membuat semua orang otomatis menundukkan kepala.
Ethan berhenti tepat di depan Ashlyn. Sementara Ashlyn mendongak sambil tersenyum manis. Sumpah demi apapun, ternyata jenderal Ethan terlihat lebih tampan jika dilihat secara langsung dan sedekat ini.
Untuk beberapa detik Ashlyn sampai terpaku melihat ketampanan itu.
"Suamiku," ucap Ashlyn pelan, masih mencoba sadar dari ketampanan Ethan yang membuatnya membeku.
Dan Ethan menatap wajah gadis itu beberapa saat. "Kamu memanggilku?"
Ashlyn mengangguk cepat. "Iya."
"Kamu mengenalku?"
"Iya."
"Dari mana?"
"Mama yang bilang."
"Apa yang dia katakan?"
Ashlyn menjawab tanpa ragu sedikit pun. "Katanya Jenderal Ethan Harold adalah suamiku."
Hening.
Tak seorang pun berani bersuara.
Ethan memperhatikan wajah Ashlyn lebih lama. Tidak ada sedikit pun tanda bahwa gadis itu sedang berbohong. Tatapannya sebening mata seorang anak kecil.
Tiba-tiba Ethan bertanya dengan suara datar. "Di mana keluargamu?"
Ashlyn menoleh ke belakang. "Mereka pulang."
"Pulang?"
"Iya. Mama bilang Ashlyn harus mencari suami. Ashlyn tidak boleh ikut mereka lagi."
Entah mengapa kalimat sederhana itu membuat hati Ethan yang selama ini membeku seakan terusik. Tanpa perlu dijelaskan dengan gamblang, mereka semua bisa tahu bahwa wanita di hadapan saat ini adalah seseorang yang memiliki keistimewaan. Tubuhnya memang sudah besar, tapi pemikirannya tak lebih dari anak berusia lima tahun.
Kata-kata 'Tak boleh ikut mereka lagi' artinya gadis ini telah dibuang, tapi bahkan gadis ini pun seperti tak mengetahui maknanya.
Ethan sudah melihat ribuan korban perang. Menyaksikan kematian dan kehilangannya anak buah. Saat ini harusnya ia mati rasa, namun tatapan kosong seorang gadis yang baru saja dibuang keluarganya membuat hati Ethan benar-benar terusik.
Setelah beberapa saat terdiam, Ethan akhirnya membuka suara. "Masuk."
Ashlyn berkedip.b"Masuk?"
"Kamu ingin ikut denganku, bukan?"
Wajah Ashlyn langsung berbinar. "Iya!"
Tanpa pikir panjang, Ashlyn menghampiri Ethan dengan langkah kecil yang riang.
Melihat itubpara prajurit langsung panik. "Jenderal! Anda serius? Identitas gadis ini bahkan belum diketahui. Kami belum memeriksa apakah dia berbahaya atau tidak!"
Asisten kepercayaan Ethan ikut maju. "Tuan, membawa orang asing ke kediaman Anda sangat berisiko."
Ethan bahkan tidak menoleh. "Ini perintah."
Satu kalimat itu langsung membungkam semua orang. Tak ada yang berani membantah keputusan seorang Jenderal Ethan Harold.
Ashlyn dengan polosnya masuk ke dalam mobil mewah milik Ethan. Begitu duduk di kursi empuk, matanya langsung membulat kagum.
"Waah!" Tangan Ashlyn menyentuh jok kulit dengan hati-hati. "Lembut sekali."
Ashlyn melihat ke kanan dan ke kiri seperti anak kecil yang baru pertama kali masuk ke dunia baru. "Suamiku kaya sekali!"
Ucapan itu membuat beberapa pengawal yang duduk di depan hampir tersedak. Mereka saling melirik melalui kaca spion.
Belum pernah ada orang yang berani memanggil Ethan seperti itu berulang kali. Dan yang lebih mengejutkan, Jenderal mereka bahkan membiarkannya.
Ethan duduk di samping Ashlyn. Aroma bunga liar yang samar tercium dari tubuh gadis itu. Ethan menatap Ashlyn yang sejak tadi sibuk mengagumi interior mobil.
Di hadapan gadis ini semua ketegasan dan kewibawaannya seperti tidak ada artinya. Ethan
mengembuskan napas pelan.
"Siapa namamu?" tanya Ethan kemudian.
Ashlyn langsung menoleh. "Ashlyn."
Ethan menatapnya lekat. "Bagaimana bisa aku menjadi suamimu?"
Ashlyn tersenyum karena pertanyaan itu sangat mudah untuk dijawab. "Karena Mama bilang Jenderal Ethan Harold adalah suamiku."
"Itu saja?"
Ashlyn mengangguk polos. "Iya."
Ethan mengusap pelipisnya. Berarti semua ini bermula dari ucapan seseorang. Entah karena sengaja atau karena alasan lain.
Sebelum Ethan sempat bertanya lagi, Ashlyn tiba-tiba memajukan wajahnya hingga jarak mereka hanya beberapa senti. Tatapan bening Ashlyn dipenuhi rasa penasaran.
"Jenderal," panggil Ashlyn lembut.
"Apa?"
"Bukannya ini pertama kali kita bertemu?"
"Benar."
Ashlyn mengerucutkan bibirnya, lalu berkata dengan nada kecewa yang begitu polos.
"Kalau begitu, apa Jenderal tidak ingin memelukku?"
Ashlyn menemukan tempat terfavoritnya pada Ethan yaitu pangkuannya yang membuat badan ethan panas dingin karena ada sesuatu dibawah yang mengeras karena Ashlyn goyang goyang terus 🤭🤭🤭😄😄😄😄
🤣🤣🤣
yg ada ethan pening atas bawah itu🤣🤣🤣
pasti pusing banget itu ethan ...😁