NovelToon NovelToon
Asrama Hati

Asrama Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: indah Mayaddah f

Sinopsis

Zain Arvendra Atmaja, seorang remaja yang seakan tak pernah lelah terlibat masalah di sekolahnya. Setelah berbagai kejadian yang menumpuk, ayahnya akhirnya mengambil keputusan Zain harus pindah ke sebuah SMA berbasis asrama yang dikenal mampu membimbing anak-anak yang sedang kehilangan arah.

Awalnya Zain menolak keras. Namun seiring berjalannya waktu, ia perlahan mulai menerima kenyataan itu. Di asrama inilah ia bertemu dengan Vanya, seorang gadis ceroboh yang dengan polosnya kerap menyeret Zain ke dalam berbagai situasi baru yang tak terduga.

Cerita terasa semakin rumit ketika Keira Cattleya Wiratama, kekasihnya yang selama ini jauh dari sana, tiba-tiba memutuskan untuk pindah ke asrama yang sama pula.

Tiga orang, satu atap, dan hati-hati yang mulai saling bersilang. Bagaimana kelanjutan cerita mereka ? Baca selengkapnya !

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah Mayaddah f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30 KEBERANIAN YANG TUMBUH DI HATI

Hari-hari berlalu dengan lebih tenang sejak malam itu di teras asrama, Zain merasa ada yang berubah dalam dirinya bukan berarti ia tiba-tiba menjadi orang yang berbeda, tapi ia mulai melihat dirinya sendiri dengan pandangan yang lebih baik. Ia bukan lagi sekadar anak yang bermasalah atau anak yang ditinggalkan ibunya tapi adalah Zain, seseorang yang sedang berusaha menjadi lebih baik setiap harinya. Setiap pagi saat ia bercermin, ia tidak lagi melihat seseorang yang penuh amarah, melainkan seseorang yang perlahan belajar memaafkan masa lalunya sendiri.

Suatu pagi, pengumuman terdengar di pengeras suara asrama. Akan diadakan kegiatan bakti sosial ke panti asuhan di pinggiran kota, dan seluruh penghuni asrama diharapkan ikut serta. Zain awalnya ragu, Ia belum pernah berada di lingkungan seperti itu. Bagaimana jika ia tidak tahu harus berkata apa ? Bagaimana jika ia malah membuat suasana menjadi canggung ? Bagaimana jika sifat aslinya tiba-tiba muncul dan ia melukai perasaan anak-anak di sana ? Namun saat ia melihat Keira tersenyum semangat, dan teman-temannya tampak antusias, keraguannya perlahan menghilang.

"Kita ikut ya, Zain ?" Ajak Keira lembut, menatapnya dengan pandangan yang meyakinkan.

"Aku rasa ini akan jadi pengalaman yang indah, kita berbagi bersama, bukan memberi belas kasihan tapi kita belajar satu sama lain." Lanjut Keira

Zain mengangguk pelan, menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya.

"Baiklah, aku ikut. Terima kasih sudah percaya padaku" Jawab Zain

Beberapa hari sebelum keberangkatan, mereka bekerja sama menyiapkan barang-barang untuk dibawa. Ada yang mengumpulkan buku-buku bekas yang masih layak pakai, ada yang mengemas makanan, dan ada juga yang menyiapkan pertunjukan sederhana agar anak-anak di sana terhibur. Zain ikut membantu mengangkung kardus-kardus, namun hatinya sedikit berdebar. Ini pertama kalinya ia terlibat dalam kegiatan sosial seperti ini. Biasanya ia justru yang selalu membuat masalah, bukan menyelesaikannya. Rasanya aneh namun menyenangkan sekaligus.

Hari yang dinanti pun tiba, mereka berangkat dengan bus asrama yang penuh tawa dan obrolan riuh. Lagu-lagu terdengar dinyanyikan bersama, membuat suasana terasa begitu hangat. Namun semakin dekat ke tujuannya, jantung Zain berdetak semakin kencang. Tangannya dingin sedikit, dan ia menatap ke luar jendela dengan pikiran yang berkelana ke mana-mana. Bayu yang duduk di sebelahnya menyadari perubahannya.

"Gugup ya ?" Tanyanya pelan, tidak ingin menarik perhatian yang lain.

"Sedikit, takut aku nanti tidak bisa mengendalikan diri kalau ada yang tidak sesuai harapanku. Takut aku malah menyakiti mereka tanpa sengaja" Jawab Zain jujur, suaranya hanya terdengar oleh Bayu saja.

Bayu menepuk bahunya pelan dan hangat.

"Kamu tidak harus sempurna, Zain. Cukup hadir di sana dengan hati yang tulus, itu sudah lebih dari cukup. Mereka tidak butuh pahlawan, mereka cuma butuh teman yang tulus." Ujar Bayu tersenyum

*****

Sesampainya di sana, mereka disambut oleh suasana yang sederhana namun hangat. Bangunannya tidak besar, cat temboknya agak memudar, namun bersih dan tertata rapi. Halamannya dipenuhi beberapa pohon mangga yang rindang, memberikan keteduhan yang menenangkan. Anak-anak di panti asuhan menyambut mereka dengan mata berbinar, senyum yang begitu tulus di wajah-wajah kecil mereka. Beberapa dari mereka malu-malu bersembunyi di balik punggung kakak-kakak mereka, namun rasa penasaran jelas terlihat di mata mereka. Zain merasa ada yang bergetar di dadanya, ia teringat masa kecilnya, teringat saat ibunya masih ada di sisinya dan mereka bermain di taman seperti ini. Rindu itu datang lagi, tapi kali ini tidak terasa menyakitkan seperti dulu. Ia justru merasa ingin berbagi kebahagiaan dengan mereka.

Zain membantu membagikan makanan, susu, buku gambar, dan mainan yang sudah mereka siapkan sejak hari sebelumnya. Awalnya ia canggung, hanya diam dan melakukan tugasnya saja, ia tersenyum namun tidak banyak bicara. Namun seorang anak kecil perempuan berusia sekitar enam tahun mendekatinya dengan ragu-ragu, anak itu memakai gaun sederhana yang sudah dicuci bersih, rambutnya dikepang dua dengan pita yang warnanya sudah agak pudar. Ia menatap Zain sebentar, lalu perlahan menyodorkan sepotong biskuit ke arah Zain.

"Kakak ambil, kita bagi dua" Ucapnya polos, matanya berbinar tulus.

Zain menatap biskuit itu, lalu ke wajah mungil yang menatapnya dengan mata jernih. Matanya terasa hangat dan perih sekaligus, ia menerima biskuit itu dengan senyum yang perlahan tumbuh di bibirnya.

"Terima kasih ya, adik manis. Kakak senang sekali, namamu siapa?" Tanya Zain lembut.

"Aku Cila" Jawabnya sambil tersenyum lebar memperlihatkan gigi depannya yang sedikit ompong.

Sejak saat itu, dinding yang selama ini ia bangun di sekitar hatinya perlahan-lahan runtuh. Ia bercerita, tertawa, bahkan ikut bermain bersama mereka, melipat kertas, menggambar, dan berlari kecil di halaman panti. Teman-temannya yang melihat dari kejauhan tersenyum banggadan ini adalah sisi lain dari Zain yang jarang mereka lihat, lembut, sabar, dan penuh perhatian. Zain bahkan membantu anak-anak menyusun balok-balok kayu dan mendengarkan cerita-cerita sederhana mereka dengan sabar, sesuatu yang dulu mustahil baginya untuk lakukan.

Saat istirahat sejenak, Zain berjalan menuju ruang kecil untuk mengambil air minum. Di lorong pendek menuju dapur, ia mendengar dua orang petugas panti berbicara di sudut ruangan, tanpa menyadari Zain ada di dekat sana.

"Anak yang tadi dekat dengan Kak Zain itu, Cilla. Ibunya meninggal saat melahirkannya, ayahnya tidak mau mengakui sejak awal. Kasihan sekali dia, tumbuh tanpa pernah tahu seperti apa pelukan seorang ibu" Bisik salah satu petugas itu dengan nada sedih.

Zain terhenyak, langkah kakinya tertahan di tempat. Hatinya terasa teriris tajam, anak kecil yang tadi membagi biskuitnya dengan senyum begitu ceria itu, ternyata menanggung beban yang sama beratnya. Bahkan lebih berat, daripada yang ia tanggung sendiri. Ia merasa malu pada dirinya sendiri, selama ini ia sering merasa dirinya yang paling menderita, padahal di luar sana ada orang lain yang juga berjuang, namun tetap bisa tersenyum begitu tulus tanpa pernah sekalipun mengeluh. Ia berdiri diam sejenak, menenangkan perasaannya, menyadari bahwa rasa berlebihan mengasihani diri sendiri justru membuatnya lupa bersyukur.

Saat mereka bersiap pulang, Cilla berlari menghampirinya lagi dengan napas terengah-engah.

"Kakak, ini buat Kakak" Katanya sambil menyerahkan selembar kertas gambar yang digambarnya sendiri, ada dua orang yang berpegangan tangan, matahari bersinar cerah di atasnya, di bawahnya tertulis dengan tulisan yang masih belajar ‘Kakak Zain dan aku teman selamanya’.

Zain menahan air matanya agar tidak jatuh, ia berjongkok agar tingginya sejajar dengan anak itu, menyandarkan tangannya lembut di bahu kecil itu.

"Terima kasih, sayang. Kakak akan simpan gambar ini baik-baik, di tempat yang paling Kakak sayang. Selamat ya, semangat terus belajarnya. Kakak janji akan datang lagi kalau boleh" Ucap Zain dengan suara yang bergetar namun lembut.

Sari tersenyum bahagia, lalu memeluk pinggang Zain dengan cepat sebelum berlari kembali ke arah teman-temannya. Pelukan sederhana itu terasa begitu tulus dan hangat, membuat dada Zain terasa penuh dan hangat.

Di perjalanan pulang, suasana di dalam bus terasa lebih tenang, namun penuh makna. Tidak banyak yang berbicara, seolah masing-masing sedang merenungkan apa yang baru saja mereka rasakan. Zain menatap ke luar jendela, melihat pemandangan yang berlalu-lalang, Keira yang duduk di sebelahnya menyadari perubahan ekspresi di wajah Zain.

"Pasti ada yang berubah di hatimu hari ini, Zain" Ucap Keira pelan, bukan pertanyaan, melainkan pernyataan yang lembut dan penuh pengertian.

Zain menoleh, menatapnya, lalu tersenyum tulus.

"Ya, Leya. Hari ini aku belajar sesuatu yang sangat berharga, selama ini aku sibuk bertanya-tanya mengapa Ibu pergi, mengapa hidupku tidak sempurna. Tapi hari ini aku sadar, kebahagiaanku tidak boleh menunggu kehadiran seseorang. Aku bisa bahagia dengan apa yang aku miliki sekarang, dan aku bisa menjadi alasan kebahagiaan orang lain juga. Cilla mengajarkanku bahwa senyum tulus adalah kekuatan yang jauh lebih hebat daripada amarah" Jawab Zain pelan namun tegas.

Malam itu di asrama, Zain tidak langsung tidur. Ia duduk di tepi jendela kamarnya, menatap langit malam yang bertabur bintang. Gambar buatan Cilla sudah ia tempel di dinding di atas meja belajarnya, sebagai sebuah pengingat sederhana namun bermakna bahwa kebaikan kecil yang kita berikan bisa menjadi cahaya yang besar bagi orang lain. Ia teringat senyum Cilla, teringat bagaimana anak kecil itu membagi apa yang ia miliki meski ia sendiri tidak punya banyak.

Ia mengambil pena dan buku hariannya lagi …

Hari ini aku sadar, kepergian mama bukan akhir dari segalanya. Aku masih punya papa, teman-teman yang menyayangiku, dan kesempatan untuk berbuat baik setiap harinya. Mungkin aku tidak bisa mengubah masa laluku, tapi aku bisa memilih masa depanku. Aku bisa memilih menjadi orang yang baik, sabar, dan bermanfaat bagi orang lain. Dan itu cukup bagiku dan terima kasih Cilla, sudah mengingatkanku cara tersenyum kembali.

Zain menutup bukunya, tersenyum puas pada dirinya sendiri di pantulan kaca jendela. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa perlu membuktikan dirinya kepada siapa pun. Ia cukup dengan menjadi dirinya, angin malam berhembus pelan masuk melalui celah jendela yang terbuka, membawa rasa damai yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

1
Miu.Nuha
betul. keputusan apapun yg kamu ambil akan mempengaruhi hidupmu nanti.
😏 jdi jalanin seadanya aja, gk usah milih
hehe pis ya mas Zain...
Luneya
dua figura hadir dalam masa yang sama..yang mana satu Zain akan memilih..tapi Aku sama Vanya..🌹
Hamzah [Hiatus]
waduh.. akankah balikan sama mantan. gak mungkinlah gak mungkin😁
Hamzah [Hiatus]
loh kenapa ditutup🤔
Myz Pena
keira.. kamu harus sadar dan tahundiri sepertinya zain nggak nyaman dekat dengan mu sekaligus segala perhatian mu padanya.. jadi stop
Myz Pena
jadi bagaiaman zain ,, apa kaira sikapnya itu membuatmu sangat tidak nyaman kah ?
aefpe fp
ah kalau gini ceritanya jadi bestie sahabat aja ndak si...kayaknya lebih seru daripada pacaran pacaran🤣
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Ya Allah akhirnya Zain bisa dapetin kawan yang pas sejauh ini... Ya Semoga semakin berubah juga Zain... 💪💪💪
Maya 摩耶
kenapa tidak keduanya saja? 👀 ahik ahik ahik kwkwkw
Siti Aisyah
Gimana nih membuat hati zain jadi bimbang antara memilih vanya atau keira😆
Maya 摩耶
naah she is just wanna impress you 🤭
Pencari Cerita
pikirin matang matang zain sebelum memilih ya
ginevra
pantas saja Zain merasa nyaman di dekat vanya. karna vanya tidak pernah memaksa dan menekan Zain.
aefpe fp
bakal banyak drama kehidupan yang akan menantimu bersiaplah dan itu tidak akan sesederhana yang kau kira💪
Hamzah [Hiatus]
kamu menemukan seseorang yang berharga di masa depan nanti Zain, jangan lupakan itu 🗿
Myz Pena
ia memang banyak suka dan dukanya.. intinya kamu akan belajar banyak hal lagi.. jadi kuatlah
Luneya
Mereka benar-benar sama geng. Mereka saling membantu. bagus sekali jika ada teman satu komplotan.☺️
Myz Pena
berarti zain sekarang kamu dah nyaman ya di asrma berkat vanya hari hari mu lebih ceria dan bwrwarna 😂👍
Maya 摩耶
emang matanya kenapa? ada saringgannya kah? 🤭
Maya 摩耶
mo balikan kah kamu? 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!