Setelah dikhianati dan meledakkan diri bersama musuhnya, Chongyue, kapten tim elit pemburu vampir, justru terlahir kembali di dunia kultivasi dalam tubuh Nona Kelima Kediaman Jenderal Kerajaan Dong—seorang gadis yang dianggap bodoh dan tidak berguna.
Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik tubuh lemahnya itu tersembunyi sebuah segel misterius.
Ketika segelnya terbuka, Chongyue berubah menjadi seorang jenius dengan kekuatan luar biasa. Dalam perjalanannya menjadi kuat, dia bertemu Bei Mingye, Pangeran Keenam yang dijuluki Raja Hantu—pria dingin yang ditakuti seluruh Benua Timur, tetapi justru rela menjadi pelindung Chongyue.
Bersama-sama, mereka menghadapi keluarga, sekte kuno, musuh dari alam atas, serta rahasia besar tentang asal-usul Chongyue.
Di tengah takdir yang terus mempermainkan mereka, mampukah dua hati yang telah dipertemukan itu bertahan hingga akhir?
Yuk ikuti kisah lengkapnya dalam sebuah kisah berjudul: TAKDIR KITA YANG BELUM SELESAI
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita_001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 - Siklus Reinkarnasi: Tidak Terlahir, Maupun Musnah
Benua Timur. Kerajaan Dong. Bulan Oktober.
Salju turun tanpa henti di ibu kota Kerajaan Dong, menutupi seluruh kota dengan lapisan putih yang dingin dan sunyi.
Atap-atap bangunan tertutup lapisan salju tebal. Jalanan membeku, sementara angin malam berhembus melewati lorong-lorong sempit di antara bangunan, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang.
Di sebuah halaman terpencil di dalam Kediaman Jenderal, sebuah kamar tua berdiri nyaris tanpa penerangan, terpisah dari bangunan utama dan jarang didatangi siapa pun.
Di atas ranjang kayu yang dingin, seorang gadis terbaring tanpa bergerak, tubuhnya tampak begitu rapuh seolah-olah akan remuk hanya dengan satu sentuhan.
Kedua lengannya dipenuhi luka memar dan bekas cambuk yang meninggalkan garis-garis merah keunguan di atas kulitnya.
Sebagian lukanya telah mengering, membentuk kerak gelap yang menempel pada kulitnya. Sebagian lainnya masih terbuka, merah, serta meradang, menunjukkan tanda-tanda infeksi yang semakin parah.
Tubuhnya kurus hingga tulang-tulangnya terlihat jelas. Wajahnya pucat, hampir tidak memiliki warna.
Tidak ada tanda-tanda kehidupan yang terlihat dari tubuh tersebut.
Namun tiba-tiba— Jemarinya bergerak.
Gerakan itu sangat pelan, hampir tidak terlihat, seolah-olah tubuhnya sedang berusaha mengingat kembali cara untuk hidup.
Kemudian, kelopak matanya bergetar dan setelah beberapa saat akhirnya terbuka.
Pupilnya yang semula berwarna hitam perlahan berubah, seolah-olah warna gelap itu sedang ditarik keluar dari dalam irisnya.
Biru.
Biru kristal yang jernih dan tajam, memantulkan cahaya samar dari celah jendela.
Chongyue menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong, berusaha memahami keadaan di sekelilingnya.
Di mana ini?
Apa yang terjadi?
Ingatan terakhirnya perlahan kembali, muncul dalam potongan-potongan yang tidak beraturan.
Misi memburu Vampir di SK Bar. Dijebak. Bom T-XS. Katalin Loya.
Dia seharusnya sudah mati.
Bahkan jika tubuhnya tidak hancur sepenuhnya, ledakan sebesar itu seharusnya cukup untuk mengakhiri hidup manusia dan menghapus kesadarannya tanpa meninggalkan sisa.
Lalu… Kenapa kesadarannya masih ada?
“Apakah ini... alam baka?”
Suaranya serak dan lemah, seperti suara seseorang yang telah lama tidak berbicara.
Namun, sebelum sempat berpikir lebih jauh...
Sakit!
Kepalanya terasa seperti akan pecah, seolah-olah ribuan jarum menembus tengkoraknya secara bersamaan.
Gelombang ingatan asing membanjiri pikirannya tanpa peringatan.
Bukan ingatannya. Melainkan kenangan seseorang yang sama sekali tidak dikenalnya, tetapi terasa begitu nyata hingga membuatnya sulit membedakan antara kenangan dan kenyataan.
Kerajaan Dong.
Salah satu kerajaan terkuat di Benua Timur, sebuah negeri besar yang memiliki wilayah luas dan kekuatan militer yang disegani.
Sebuah negeri yang terus bergolak akibat peperangan antar kekuatan, perebutan wilayah, serta konflik antara keluarga bangsawan dan sekte-sekte yang memiliki pengaruh besar.
Di dunia ini, kekuatan menentukan segalanya.
Para Master Bela Diri merupakan profesi yang paling umum, meskipun tidak semua orang mampu mencapai tingkat yang tinggi.
Mereka yang memiliki bakat spiritual tertentu dapat mengendalikan elemen alam dan menjadi Master Elemen, sebuah profesi yang membuat seseorang memiliki kedudukan jauh lebih tinggi daripada manusia biasa.
Api. Air. Angin. Tanah. Petir. Serta berbagai elemen lainnya yang memiliki sifat serta kemampuan berbeda-beda.
Namun, Master Elemen bukanlah satu-satunya profesi yang dihormati. Ada profesi yang jauh lebih langka dan memiliki kedudukan istimewa di seluruh benua, yaitu– Alkemis.
Untuk menjadi seorang Alkemis, seseorang harus memiliki kendali atas elemen Kayu dan Api sekaligus, sebuah persyaratan yang membuat jumlah mereka sangat sedikit.
Mereka mampu memurnikan tanaman spiritual, membuat pil, hingga meracik berbagai obat yang bahkan dapat menyelamatkan nyawa seseorang dari ambang kematian.
Karena kelangkaan dan kemampuan mereka, seorang Alkemis sangat dihormati di seluruh benua, bahkan keluarga-keluarga besar tidak ragu membayar harga tinggi demi mendapatkan bantuan mereka.
Namun, di atas mereka masih ada satu profesi yang jauh lebih legendaris, yaitu- Master Formasi.
Profesi yang konon telah menghilang dari dunia selama ribuan tahun, meninggalkan banyak legenda dan catatan yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya.
Tidak ada yang tahu apakah para Master Formasi benar-benar telah punah atau hanya memilih menghilang dari sejarah, menyembunyikan diri dari dunia dan menolak mewariskan pengetahuan mereka kepada generasi berikutnya.
Di benua tempat hukum rimba berlaku, kekuatan adalah segalanya.
Yang kuat menentukan aturan dan memutuskan siapa yang berhak hidup dengan bebas. Sedangkan yang lemah hanya bisa tunduk, menerima penghinaan, atau menunggu sampai seseorang yang lebih kuat datang untuk menghancurkan mereka.
Sedangkan pemilik tubuh yang ditempati Chongyue saat ini adalah salah satu korban dari hukum rimba tersebut.
Namanya Xuan Chongyue. Nona Muda Kelima dari Kediaman Jenderal, sebuah keluarga besar yang memiliki pengaruh kuat di ibu kota.
Terlahir dengan kecerdasan yang dianggap rendah dan tidak memiliki bakat kultivasi, dia dicap sebagai gadis cacat yang tidak berguna sejak kecil.
Saudara-saudaranya menindasnya tanpa henti. Para pelayan meremehkannya dan sering kali memperlakukannya lebih buruk daripada seorang pelayan biasa.
Bahkan sebagian besar anggota keluarganya sendiri menganggap keberadaannya sebagai aib yang seharusnya disembunyikan dari pandangan publik.
Julukan si cacat tak berguna telah menyebar ke seluruh ibu kota, membuatnya selalu dicaci-maki setiap keluar rumah.
Chongyue perlahan membuka matanya lebih lebar. Dia mencerna seluruh ingatan itu, membiarkan potongan-potongan kehidupan pemilik tubuh asli menyatu di dalam pikirannya.
Kemudian sudut bibirnya terangkat sedikit. “Sepertinya aku terlahir kembali di dunia yang cukup liar.”
Tatapannya kemudian jatuh pada kedua lengannya yang penuh luka.
Sebagian lukanya disebabkan oleh kakak sulungnya, Xuan Qingqing, yang tidak pernah menyembunyikan kebenciannya terhadap Xuan Chongyue.
Sementara sebagian lainnya disebabkan oleh adik keenamnya, Xuan Xi, yang ikut menyiksanya tanpa rasa iba.
Siang tadi, kedua wanita itu telah memukuli Xuan Chongyue tanpa ampun, hanya karena gadis itu dianggap mengganggu dan tidak berguna.
Setelah puas menyiksanya, mereka meninggalkannya begitu saja di halamannya, tanpa memanggil tabib ataupun memberinya obat.
Tubuhnya yang sudah lemah tidak mampu bertahan menghadapi luka-luka dan kehilangan darah yang cukup banyak.
Siksaan itu akhirnya merenggut nyawanya, tepat sebelum kesadaran Chongyue mengambil alih.
Chongyue mengamati luka di lengannya dengan tatapan tenang.
Beberapa luka telah mengalami infeksi, warna merah di sekelilingnya menunjukkan bahwa kondisinya semakin memburuk.
Jika tidak segera ditangani, tubuh ini tidak akan bertahan lama.
Dia mencoba bangun dari ranjang. Namun, baru saja kedua kakinya menyentuh lantai yang dingin kepalanya langsung berkunang-kunang.
Pandangan di hadapannya berputar, sementara tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan.
Tubuh ini terlalu lemah, jauh lebih lemah daripada yang dibayangkannya.
Chongyue menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya yang tidak terbiasa dengan tubuh barunya ini.
Setelah menunggu beberapa saat hingga rasa pusingnya mereda, dia berjalan keluar kamar dengan langkah perlahan dan hati-hati.
Dia mengambil sebuah baskom dan mengisinya dengan air bersih, lalu kembali ke kamarnya lagi. Dia meletakkan baskom di atas meja kayu yang sudah tua dan penuh goresan, kemudian mengambil kain bersih yang berada di samping baskom.
Namun karena tubuhnya masih terlalu lemah, kain itu terlepas dari genggamannya dan jatuh ke lantai.
Chongyue membungkuk untuk mengambilnya.
Saat itulah sebuah benda di lehernya menyembul keluar dari balik kerah pakaiannya yang longgar.
Sebuah kalung.
Chongyue meraih kalung itu dan melepaskannya dari lehernya.
Kalung ini terlihat sederhana, tanpa hiasan berlebihan ataupun permata yang mencolok.
Namun entah mengapa, begitu menyentuhnya, sebuah gambaran asing tiba-tiba melintas di benaknya.
Seorang wanita cantik sedang menggendong seorang bayi dengan penuh kasih sayang. Di dahi bayi itu terdapat tanda kecil berbentuk teratai merah, tampak begitu jelas meskipun gambaran itu hanya berlangsung sesaat.
Kemudian, seorang anak laki-laki muncul dari sisi wanita itu. Tangannya memasangkan kalung yang sama ke leher bayi tersebut, seolah-olah benda itu memiliki arti penting bagi mereka.
Gambaran itu lenyap secepat kemunculannya, meninggalkan Chongyue dalam keadaan bingung.
Dia mengerutkan kening. “Apa tadi?”
Dia menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir bayangan yang masih tersisa di pikirannya.
Chongyue yakin gambaran itu hanyalah halusinasi yang mungkin disebabkan oleh pikirannya yang terlalu lelah.
Wanita dalam gambaran itu terlalu cantik, kecantikannya hampir tidak terlihat seperti manusia biasa.
Sepanjang hidup Xuan Chongyue, dia bahkan belum pernah melihat seseorang secantik itu sebelumnya, jadi tidak mungkin dia mengenalnya.
Chongyue memasang kalung itu ke lehernya lagi, berhenti memikirkan gambaran yang tidak jelas itu.