Karin terbangun dalam novel medioker sebagai istri idiot CEO dingin, Arlan. Mengetahui nasib tragis tokoh aslinya, Karin memutuskan berpura-pura tetap idiot agar tidak diceraikan dan dibuang.
Namun, tingkah konyolnya justru membuat Arlan yang biasanya kaku mulai merasa bingung sekaligus tertarik.
Di tengah intrik keluarga besar dan ancaman pelakor, Karin harus menyeimbangkan aktingnya yang absurd dengan rasa cinta yang mulai tumbuh nyata.
Apakah rahasia transmigrasinya akan terungkap, ataukah ia akan selamanya menjadi istri kesayangan sang CEO dalam topeng kebodohan yang lucu dan menggemaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Eleanor menutup mulutnya, matanya membelalak ngeri. Mr. Sterling menahan napas.
Tapi Karin tidak peduli pada rasa sakit di pantatnya. Ia menatap bola golf yang masih diam di atas tee itu dengan tatapan penuh simpati.
"Ya ampun," bisik Karin pelan, lalu ia merangkak mendekat ke bola itu. Ia tidak memungutnya dengan tangan. Ia malah mengelus-elus bola itu dengan sarung tangannya. "Kamu nggak apa-apa? Kamu kaget ya? Tadi stiknya lewat tapi kamu nggak dipukul. Kamu pasti kaget banget."
Eleanor tidak bisa menahan diri lagi. "Apa yang kau lakukan?! Itu bola golf, bukan hewan peliharaan! Pukul bolanya!"
Karin mendongak, menatap Eleanor dengan mata berkaca-kaca yang sangat tulus. "Bu Eleanor, bolanya capek. Tadi dia diam di atas tiang kecil itu sendirian. Terus aku ayunkan stik yang berat banget di dekatnya. Dia pasti kaget dan kakinya lemas. Kasihan dia. Kalau dipukul sekarang, dia bakal menangis."
Tanpa menunggu larangan siapa pun, Karin memungut bola golf itu dengan tangan kosong. Ia berjalan keluar dari tee box, menuju ke arah fairway, dan terus berjalan sampai ia mencapai lubang yang letaknya sekitar seratus meter di depan.
"Karin! Apa yang kau lakukan?!" teriak Eleanor, wajahnya merah padam karena marah. "Itu curang! Kau tidak boleh membawa bola ke lubang dengan tangan!"
Arlan yang sejak tadi diam, tiba-tiba tertawa.
Tawa itu tidak keras, tapi cukup untuk membuat Mr. Sterling menoleh. Arlan melangkah santai mengikuti istrinya, mengabaikan Eleanor yang sedang murka.
"Mr. Sterling," ucap Arlan, suaranya terdengar sangat santai. "Istriku percaya bahwa bola itu kelelahan. Dan di rumahku, kami tidak memaksa sesuatu yang lelah untuk berlari. Kami mengantar mereka pulang."
Mr. Sterling menatap Arlan, lalu menatap Karin yang sedang berjongkok di depan lubang, dengan hati-hati memasukkan bola golf itu ke dalam lubang sambil berbisik, "Nah, sekarang kamu bisa tidur di dalam rumah yang empuk."
Tawa Mr. Sterling meledak. Pria itu memukul-mukul paha Arlan. "Brilliant! Arlan, aku suka istrimu! Dia tidak gila, dia hanya punya filosofi hidup yang jauh lebih masuk akal daripada aturan golf yang kaku ini! *Mercy above rules!* Ha!"
Eleanor terbelalak, tidak percaya bahwa suaminya yang perfeksionis baru saja memuji wanita yang membawa bola golf dengan tangan. "Tapi, Richard... itu melanggar aturan..."
"Aturan dibuat untuk manusia, Eleanor. Dan istrimu itu," Mr. Sterling menunjuk Karin yang kini berdiri dan melambaikan tangan dengan girang, "adalah manusia yang paling tidak aku temui hari ini. Kontraknya, Arlan. Kita tanda tangani besok."
Arlan tersenyum tipis, matanya menatap Karin dengan kehangatan yang membuat lutut Karin lemas. "Terima kasih, Richard."
***
Sepuluh menit kemudian, Karin dan Arlan duduk di dalam golf cart, menyusuri fairway sementara Mr. Sterling dan Eleanor berjalan lebih dulu.
Karin masih bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Aku berhasil. Aku menyelamatkan kontrak. Aku jenius.
Tapi kemudian, Arlan menggeser duduknya, mendekat ke arah Karin. Pria itu mengangkat tangannya, dan sebelum Karin bisa menghindar, ibu jari Arlan mengusap pipi Karin yang terkena sedikit noda rumput.
Sentuhan itu sangat lembut, kontras dengan jari-jari panjang dan kokoh yang biasanya mengetik di keyboard atau menandatangani dokumen.
"Kau gemetar," ucap Arlan pelan, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Karin. Tidak ada tatapan dingin, tidak ada ejekan. Hanya ada Arlan. Arlan yang terlihat sangat tampan di bawah sinar matahari sore.
"Aku... aku habis jatuh, Kak. Pantatku sakit," jawab Karin gugup, mencoba tertawa.
Arlan tidak tertipu. Ia tidak menurunkan tangannya. Ibunya masih menyentuh pipi Karin, lalu perlahan merapikan helai rambut yang jatuh ke dahi istrinya.
"Kau tidak perlu berpura-pura menjadi istri yang sempurna di depanku, Karin," bisik Arlan, suaranya serak dan rendah. "Kau sudah cukup... menjadi dirimu sendiri."
Napas Karin tercekat. Dia tahu. Dia tahu aku berpura-pura. Dia tahu aku bukan istri idiot yang asli.
"Tapi..." suara Karin terdengar kecil, topengnya sedikit retak. "Kalau aku jadi diriku sendiri... Kak Arlan nggak akan marah?"
Arlan menatap bibir Karin sejenak, lalu kembali ke matanya. Sudut bibirnya naik, membentuk senyum yang sangat langka dan sangat indah. "Aku sudah terlalu lama marah pada hal-hal yang salah, Karin. Sekarang... aku hanya ingin tahu lebih banyak tentang dirimu."
Gawat. Gawat. Gawat. Batin Karin berteriak panik. Ini bukan plot novel. Di novel, CEO dingin baru sadar cinta di bab lima puluh setelah menceraikan istri aslinya dan menyesal! Ini baru bab sepuluh! Kenapa aku malah yang kena mental?!
Mobil golf cart terus melaju, membawa mereka menjauh dari lapangan, tapi membawa hati Karin masuk ke dalam jurang yang jauh lebih dalam ke jurang jatuh cinta pada karakter fiksi yang kini terasa sangat nyata.
lanjut kn thor💪