Nadia tak menyangka takdir akan membawanya menjadi ibu tiri dari pria tiga anak. Ibunya memaksanya untuk menikahi laki-laki yang sudah punya anak. Menggantikan adiknya yang menolak lamaran tersebut, lantaran dia sudah memiliki pacar tentara dan sudah sarjana.
Nadia merasa seolah takdir mempermainkannya, apa salahnya jika dirinya memilih jalan hidup sendiri. menolak perjodohan ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Malam kian larut. Nadia terbangun dari tidurnya di atas sofa. Ia merapikan jilbab instan yang sedikit miring di kepalanya, lalu bangkit karena perutnya merasa lapar.
Saat jemarinya baru saja menyentuh gagang pintu, suara berat khas bangun tidur memecah keheningan kamar.
"Mau ke mana?" tanya Arvin tanpa mengubah posisinya di tempat tidur.
Nadia menoleh pelan. "Lapar, Mas. Mau ke dapur cari makan."
Arvin membalikkan posisi badannya membelakangi Nadia, lalu menarik selimutnya kembali. "Jangan ribut. Anak-anak sudah tidur."
"Iya, Mas," balas Nadia singkat, lalu membuka pintu dan melangkah keluar kamar dengan pelan.
Nadia melangkah menuruni tangga menuju dapur. Ia membuka lemari es dan meja saji, namun tidak ada makanan tersisa. Di rumah mewah Arvin, makanan sisa biasanya langsung dibuang atau dihabiskan oleh para pekerja.
"Aduh, lapar banget lagi..." gumam Nadia pelan seraya memegangi perutnya.
Ia lalu membuka salah satu lemari penyimpanan dan menemukan beberapa bungkus mi instan. Nadia mengambil dua bungkus, menyalakan kompor, dan mulai memasaknya.
Saat aroma gurih mi mulai menyerbak dan Nadia sibuk memindahkan mi dari panci ke dalam mangkuk, tiba-tiba sebuah suara mengejutkannya.
"Eh..." ucap Damian yang berdiri di ambang pintu dapur.
Nadia tersentak kaget dan hampir menjatuhkan sendoknya. "Ngapain, Bang? Bunda berisik, ya?"
"Nggak, kok," jawab Damian seraya mengusap tengkuknya. "Aku lapar, mau masak mi. Mi instannya masih ada?"
Nadia tersenyum hangat lalu menunjuk dua mangkuk yang baru saja ia isi. "Nggak usah masak lagi. Kebetulan Bunda baru selesai masak dua mangkuk nih. Ayo, makan bareng."
Damian mengangguk pelan, lalu berjalan mendekat dan duduk di meja makan dapur.
"Terima kasih, Bunda," ucap Damian pelan sebelum mulai menyantap mi instan hangat itu bersama Nadia di tengah keheningan malam.
Arvin melangkah menuruni tangga menuju dapur. Air minum di kamarnya habis, sekalian ia ingin memeriksa Nadia yang tak kunjung kembali ke kamar.
Sampai di area dapur, langkah Arvin terhenti. Matanya sedikit membelalak, terkejut melihat sosok anak sulungnya duduk di meja makan.
"Sedang apa kamu di sini, Damian?" tanya Arvin tegas.
Pertanyaan mendadak itu membuat Damian dan Nadia tersedak bersamaan.
"Uhuk! Uhuk!" Damian buru-buru meraih gelas minum, sementara Nadia menepuk dadanya pelan.
"Makan mi, Pa. Lapar," jawab Damian setelah batuknya reda.
Arvin mengerutkan kening, menatap tidak suka pada mangkuk di atas meja. "Jangan makan mi tengah malam begini, Damian. Tidak sehat untuk tubuhmu."
Arvin lalu mengalihkan pandangan tajamnya pada Nadia. "Kamu juga, Nadia. Harusnya sebagai orang tua kamu memberi contoh yang baik, bukan malah mengajari anak makan mi instan malam-malam begini."
Nadia menatap Arvin tenang tanpa rasa takut sedikit pun. "Anaknya lapar, Mas. Daripada Damian kelaparan tidak bisa tidur terus besok lemas di sekolah, ya mending makan mi."
"Tapi tidak harus mi instan," potong Arvin dingin.
"Di lemari es cuma ada ini yang cepat dimasak," balas Nadia santai seraya mengambil gelas kosong untuk mengambilkan air minum suaminya. "Mas mau minum, kan? Air di kamar habis?"
Arvin terdiam sejenak, sedikit tertahan karena tebakan Nadia yang tepat sasaran. "Iya. Ambilkan air hangat."
"Nah, minum dulu air hangatnya biar pikiran Mas Arvin dingin dan tidak menyalahkan orang terus," tutur Nadia santai sambil menyerahkan gelas air hangat pada Arvin.
......................
Siang itu, toko kue milik Nadia tampak lebih ramai dari biasanya. Selain pelanggan yang berdatangan secara langsung, dering pesanan online dari para pengemudi ojek daring tak berhenti berbunyi. Nadia, Rara, dan Wulan sampai harus berbagi tugas dengan sigap melayani pesanan.
Di tengah kesibukan itu, pintu kaca toko terdorong terbuka. Kenzo masuk dengan tas sekolah yang masih menggendong di punggungnya.
"Bunda!" panggil Kenzo.
Nadia yang sedang mengemas kotak kue mendongak, seketika mengukir senyum hangat. "Eh, Kenzo! Sudah pulang sekolah, sayang?"
Kenzo berlari kecil menghampiri Nadia, lalu memeluk pinggang ibu tirinya itu erat. "Sudah, Bunda! Kenzo mau di sini saja sama Bunda sampai toko tutup. Mau nemenin Bunda!"
Nadia mengusap lembut kepala Kenzo seraya melirik suasana toko yang penuh sesak dan bising oleh antrean pengemudi online.
"Kenzo, lihat deh, toko Bunda lagi ramai banget siang ini," ujar Nadia.
"Sebentar lagi juga Pak Adam pasti sampai buat jemput Kenzo."
Raut wajah riang Kenzo seketika redup. Bibirnya melengkung ke bawah. "Kenzo nggak mau pulang duluan, Bunda... Kenzo mau di sini saja sama Bunda."
Melihat kepolosan dan rasa sayang anak itu, Nadia berlutut menyamakan tingginya. Ia merapikan poni Kenzo dengan jemarinya.
"Sini dengar Bunda," bujuk Nadia.
"Kenzo pulang sama Pak Adam dulu, ya? Di sini ramai dan panas, nanti Kenzo nggak nyaman dan capek. Bunda janji kok, pulang dari toko nanti tidak akan lama. Begitu selesai merapikan pesanan, Bunda langsung pulang ke rumah buat main sama Kenzo."
Kenzo mengangguk pelan, walau bibirnya masih sedikit cemberut. "Beneran ya, Bunda langsung pulang?"
"Beneran, sayang," balas Nadia tersenyum manis. Ia berdiri lalu mengambil sebuah kotak kue dari rak display. Nadia memasukkan beberapa kue manis kesukaan Kenzo ke dalamnya.
"Nih, Bunda bawakan kue buat Kenzo makan di rumah sambil nunggu Bunda pulang," ucap Nadia seraya menyerahkan kotak kue itu pada Kenzo.
Mata bulat Kenzo seketika berbinar kembali. "Wah, makasih, Bunda!"
Tak lama kemudian, pintu toko terbuka dan Pak Adam melangkah masuk. "Selamat siang, Bu Nadia. Saya mau jemput Den Kenzo."
"Siang, Pak Adam. Ini Kenzo sudah siap," jawab Nadia.
Sore harinya, Nadia sampai di rumah menggunakan ojek online. Saat ia baru saja mendorong gerbang pagar, sebuah sepeda motor melaju hendak keluar. Pengendaranya adalah Jovan.
Nadia menghentikan langkahnya. "Jovan? Mau ke mana sore-sore begini?"
Jovan hanya melirik singkat dari balik helmnya lalu berdecak kesal. "Berisik!" cetusnya tajam seraya mengas motornya dan berlalu pergi begitu saja.
Nadia menggelengkan kepala, heran melihat sikap dingin anak tengah suaminya itu. Ia membalikkan badan dan melangkah masuk ke dalam rumah. Namun, suasana rumah terasa sepi. Nadia mengedarkan pandangan, merasa ada yang aneh karena biasanya Kenzo selalu menyambutnya riang di depan pintu.
Melihat seorang pelayan yang sedang merapikan ruang tengah, Nadia menghampiri. "Bi, Kenzo di mana? Kok sepi?"
Pelayan itu menoleh. "Mungkin di kamarnya, Nona. Dari pulang sekolah tadi belum turun-turun."
Perasaan Nadia seketika tidak enak. Ada firasat buruk yang mengganjal di dadanya. Tanpa buang waktu, Nadia bergegas menaiki tangga dan berlari kecil menuju kamar Kenzo di lantai atas.
Cklek.
Nadia membuka pintu kamar Kenzo. Langkahnya mendadak terhenti saat matanya menangkap pemandangan di atas lantai. Kotak kue yang dibawakannya tadi siang sudah hancur terbuka, dan kue-kue di dalamnya berhamburan berantakan di lantai.
Pandangan Nadia beralih ke sudut ruangan. Di sana, Kenzo sedang meringkuk terbaring sambil memeluk lututnya, dengan napas tersengal dan mata yang sembab penuh bekas air mata.
Nadia membelalakkan mata saat mendekati tubuh kecil Kenzo. Tidak hanya menangis, di lengan kanan dan pipi anak itu tampak luka lebam kebiruan yang sangat jelas.
"Kenzo!" pekik Nadia panik luar biasa.
Ia langsung berlutut di sudut kamar, merengkuh tubuh kecil Kenzo yang gemetar ke dalam pelukannya. Jantung Nadia berdegup kencang, diselimuti rasa takut.
"Sayang, kamu kenapa? Siapa yang bikin Kenzo kayak gini?!" suara Nadia bergetar menahan tangis.
Nadia mengusap lembut pipi Kenzo yang lebam, berhati-hati agar tidak menyakiti anak itu. Air mata Nadia menetes melihat Kenzo hanya bisa sesenggukan, menyembunyikan wajahnya di dada Nadia seraya meremas baju ibu tirinya kuat-kuat.
"Bunda... sakit..." bisik Kenzo lirih dengan suara serak.
"Iya, Nak, Bunda di sini. Jangan takut ya, Bunda ada di sini," tangis Nadia pecah. Dengan tangan gemetar, Nadia menggendong Kenzo dan membawanya ke atas tempat tidur, lalu berteriak memanggil pekerja rumah dengan suara panik.
"Bi! Bi Ambilkan kotak P3K dan air hangat ke atas, cepat!"