NovelToon NovelToon
System Tycoon: Mulai Dari Mendapatkan 1 Juta Perhari

System Tycoon: Mulai Dari Mendapatkan 1 Juta Perhari

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Gen-1

Seorang pemuda yang memiliki rasa haus akan mimpi menjadi orang kaya, berangkat merantau penuh harapan tinggi.

Tapi, sesampainya dikota, tamparan keras menghantamnya.

Ternyata hidup dikota tidak semudah yang dia bayangkan.

Sampai pada akhirnya sistem datang seperti malaikat yang jatuh dari langit, memberi jalan baru baginya untuk melawan kerasnya hidup didunia orang dewasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gen-1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28. Yuda Yang Bermuka Tebal

Beberapa saat berlalu dalam keheningan.

Risa masih bersandar di pundak Yuda sambil memegang lengannya.

Sesekali ia melirik wajah pria di sampingnya, lalu kembali menatap permukaan danau.

Semakin lama berada di samping Yuda, senyum di wajahnya justru semakin sulit disembunyikan.

Tiba-tiba Risa teringat sesuatu.

Ia mengangkat kepalanya sedikit dan menatap Yuda. "Yuda..."

"Hm?"

"Kamu masih ingat nggak, dulu kamu pernah bilang sesuatu?"

Yuda menoleh. "Apa emang?"

Risa tersenyum tipis. "Soal pacar palsu."

Yuda terdiam sebentar, kemudian mengangguk. "Ingat."

"Dulu kamu yang bilang kalau aku merasa nyaman jadi pacar palsumu, kamu bisa menjadikanku pacar sungguhan."

Risa menatapnya sambil menahan senyum. "Tapi sekarang malah kamu yang duluan nyatain perasaan."

Yuda hanya mengangkat alis, lalu tersenyum santai. "Memangnya kenapa?"

Risa menatap wajahnya beberapa detik.

Melihat Yuda sama sekali tidak terlihat malu, ekspresinya perlahan berubah menjadi kesal sekaligus geli.

Ia kembali menyandarkan kepalanya di pundak Yuda. "Hmph... nggak asik."

Yuda terkekeh kecil. "Kenapa?"

Risa mencubit ringan lengan Yuda. "Kenapa kamu nggak malu sih?"

Yuda tidak bergeming.

Ia menoleh sedikit, menatap Risa yang masih bersandar di pundaknya.

"Kenapa harus malu?"

Risa mengangkat wajahnya.

Yuda tersenyum kecil. "Aku cuma melakukan apa yang memang ingin kulakukan kepada orang yang kusukai."

Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan dengan santai, "Lagian, sekarang kamu sudah jadi pacarku. Kalau aku masih malu-malu, bukankah itu malah aneh?"

Risa terdiam beberapa saat.

Ia menatap wajah Yuda, seolah sedang mencoba memahami bagaimana pemuda yang selama ini dikenalnya bisa berbicara setebal itu.

Risa kembali menyandarkan kepalanya di pundak Yuda, lalu mendengus marah.

"Hmph... Kenapa dari dulu aku nggak pernah nyadar kalau kamu punya sisi nggak tahu malu kayak gini?"

Yuda terkekeh. "Kan sudah kubilang sih, Yuda yang dulu sudah ga ada."

Risa mencibir mendengar itu. "Sekarang menjadi Yuda yang suka menindas wanita lemah seperti ku."

Yuda menggelengkan kepalanya merasa sedikit tidak berdaya, tapi sudut mulutnya terangkat sedikit.

Risa juga ikutan tersenyum.

Sepertinya, setelah hubungan mereka berubah, ia masih harus membiasakan diri dengan sisi Yuda yang satu ini.

Setelah itu, percakapan mereka kembali mengalir.

Tidak ada lagi pembahasan serius.

Mereka hanya berbincang tentang hal-hal ringan, sesekali saling menggoda dan tertawa kecil.

Risa sudah merasa begitu nyaman berada di samping Yuda.

Sesekali ia masih mengangkat wajah untuk melihat Yuda, lalu kembali bersandar di pundaknya.

Yuda pun beberapa kali membalas dengan candaan kecil yang membuat Risa mencubit lengannya.

Tanpa terasa, waktu terus berjalan.

Hingga akhirnya Yuda melirik jam di pergelangan tangannya.

23:35.

"Sudah selarut ini..."

"Nggak terasa. Waktu cepat banget kalau sama kamu."

Risa tersenyum kecil mendengar ucapan itu.

Ia merasa geli sekaligus senang.

Setidaknya, itu berarti Yuda benar-benar menikmati waktu mereka bersama.

Namun, setelah melihat jam, Risa baru teringat sesuatu.

"Aku biasanya nggak pernah pulang selarut ini."

Yuda menoleh. "Serius?"

Risa mengangguk. "Iya. Kalau keluar malam paling cuma makan sama teman. Itu pun biasanya sekitar jam sembilan atau sepuluh sudah sampai rumah."

"Teratur juga."

Risa langsung meliriknya. "Ini gara-gara kamu aku jadi pulang selarut ini."

"Gara-gara aku?"

"Iya. Kamu ngajak ngobrol terus."

Yuda tertawa kecil. "Ya, mau bagaimana lagi? Tadi kan kita lagi bersenang-senang."

Risa mendengus, tetapi tidak membantah, sudut mulutnya terangkat tanpa sadar mengingat peresmian jadi pacar tadi.

Yuda kemudian teringat sesuatu.

Risa tinggal sendirian.

Ia menoleh ke arah Risa, lalu memasang ekspresi sedikit serius. "Kamu tinggal sendirian, kan?"

Risa mengangguk. "Iya. Kenapa?"

Yuda berpura-pura berpikir sejenak. "Kalau begitu, bagaimana kalau aku tinggal di rumahmu saja?"

Risa langsung menatapnya.

Yuda melanjutkan dengan nada seolah-olah benar-benar khawatir. "Sebagai pacarmu, aku takut kamu kenapa-kenapa kalau sendirian di rumah."

Risa terdiam selama beberapa detik.

Kemudian ia mencibir. "Kamu kira aku baru tinggal sendirian sehari?"

Yuda berkedip polos.

"Aku sudah bertahun-tahun tinggal sendiri dan nggak pernah ada masalah." Ia menyipitkan mata menatap Yuda.

"Komplek tempatku juga aman. Jadi jangan pakai alasan khawatir segala."

Yuda hanya tersenyum licik. "Aku kan cuma memastikan."

"Memastikan apanya?" Risa langsung mencubit lengannya. "Menurutku kamu malah sedang cari alasan supaya bisa tinggal bareng."

Yuda tertawa canggung, menggaruk kepalanya pura-pura malu. "Ketahuan, ya?"

"Jelas." Risa mendengus, lalu kembali menyandarkan kepalanya di pundak Yuda.

"Baru jadi pacar sudah berani ngajak tinggal bareng. Memangnya kamu kira aku nggak tahu apa yang ada di pikiranmu? Hmph."

Yuda hanya tertawa kecil mendengar sindiran Risa. "Yah, ketahuan."

Risa hanya mendengus.

Beberapa detik kemudian, Yuda kembali melihat jam di pergelangan tangannya.

"Kita sebaiknya pulang, udah malam."

Risa ikut melihat jam.

"Iya juga."

Yuda kemudian berdiri dari tempat duduknya dan mengulurkan tangannya kepada Risa.

Risa menatap tangan Yuda sebentar sebelum menyambutnya.

Yuda membantu Risa berdiri, kemudian mereka mulai berjalan berdampingan meninggalkan tepi danau.

Tangan Risa menggenggam tangan Yuda, jari jemarinya saling bertautan.

Ia mulai merasa nyaman melakukan hal sederhana seperti ini bersama pacarnya.

Saat hampir sampai diparkiran, Yuda tiba-tiba teringat sesuatu.

"Ngomong-ngomong, besok kamu sibuk nggak?"

Risa mengangkat kepalanya sedikit. "Besok?"

"Iya."

"Nggak ada sih. Kenapa?"

Yuda menoleh kepadanya. "Kalau begitu, bantu aku pindah rumah, ya."

Risa tidak terlihat terkejut mendengar Yuda memiliki rumah.

Setelah semua yang ia ketahui tentang Yuda belakangan ini, hal itu sudah tidak terlalu mengejutkan.

Hanya saja, ada satu hal yang membuatnya sedikit heran.

Kalau Yuda sudah punya rumah, kenapa selama ini masih tinggal di kos?

Risa sempat ingin menanyakannya, tetapi akhirnya mengurungkan niat.

Ia merasa belum perlu membahas hal itu sekarang.

"Besok pindahan?" tanyanya.

Yuda mengangguk. "Iya. Barang-barangku di tempat lama masih belum semuanya kubawa."

Risa menatapnya sebentar, lalu tersenyum tipis. "Jadi sekarang pacar baru langsung disuruh bantu pindahan?"

Yuda terkekeh. "Aku cuma minta bantuan."

"Bedanya apa?"

"Kalau kamu keberatan, nggak usah." Yuda memasang wajah seolah-olah kecewa, sedih.

Risa merasa geli sekaligus jengkel melihat kepura-puraannya. "Siapa bilang aku keberatan?"

Yuda langsung tersenyum cerah. "Nah, berarti besok kamu bantu aku."

Risa mendengus , tetapi senyum di wajahnya kembali muncul. "Iya, iya. Tapi barang berat jangan kasih ke aku."

"Tenang. Yang berat biar aku." Yuda menepuk dadanya dengan serius.

"Bagus."

"Kalau gitu, besok jemput aku."

"Oke."

...----------------...

Malam semakin larut ketika Yuda mengantar Risa kembali ke rumahnya.

Sepanjang perjalanan, Risa terlihat jauh lebih santai dibanding saat mereka datang.

Ia memeluk Yuda dari belakang dengan nyaman, kedua tangannya melingkar di pinggangnya.

Bahkan dagunya sesekali bersandar di bahu Yuda sambil menatap jalan di depan.

Tidak ada lagi rasa canggung seperti sebelumnya.

Sesekali Risa tersenyum kecil tanpa sadar.

Matanya memancarkan rasa bahagia yang sulit disembunyikan.

Sekarang pria yang sedang ia peluk bukan lagi sekadar seorang teman lama atau kurir yang sering datang mengambil paket.

Dia adalah pacarnya.

Pikiran itu membuat hati Risa terasa hangat.

Yuda juga merasakan pelukan tersebut, tetapi tidak mengatakan apa-apa.

Ia hanya tersenyum sambil terus mengendarai kendaraan menuju rumah Risa.

Sudah hampir tengah malam ketika Yuda mengantar Risa sampai ke kompleks perumahannya.

Gerbang utama sudah dalam keadaan tertutup.

Satpam yang berjaga langsung mengenali Yuda ketika dia membuka kaca helmnya.

Ia memang beberapa kali melihat pemuda itu datang untuk mengambil atau mengantarkan paket Risa, biasanya dengan Honda Beat.

Namun, malam ini pandangannya sempat tertuju pada motor yang dikendarai Yuda. Berbeda dari biasanya.

"Eh, Mas Yuda?"

Pandangannya beralih ke wanita di boncengannya, matanya sedikit melebar.

Sebab ia mengenali wanita itu, tapi ia segera sadar dan tidak memikirkannya, ia hanyalah satpam.

Yuda hanya mengangguk santai. "Malam, Pak."

Satpam itu masih sempat melirik motor tersebut dan wanita di boncengannya sekali lagi sebelum mengangguk kecil. "Malam."

Ia kemudian segera membukakan gerbang.

Yuda pun membawa motornya masuk ke dalam kompleks bersama Risa.

Ia menghentikan kendaraannya di depan rumah Risa.

Risa perlahan melepaskan pelukannya.

"Sudah sampai."

"Iya." Risa turun dan hendak melangkah kerumah, tetapi Yuda memanggilnya.

"Ris."

Risa menoleh. "Hm?"

Yuda menatapnya sebentar. "Belum ada ciuman perpisahan."

Dia menunjuk bibirnya sendiri dengan senyuman nakal.

Risa langsung menatapnya dengan ekspresi geli dan aneh. "... Aku semakin yakin kalau kamu punya fetis ciuman."

Yuda menjawab tanpa mengubah ekspresinya. "Kalau sama kamu, mungkin."

Risa mendengus kecil. "Hmph. Dasar."

Namun ia tetap mendekat sebentar dan memberikan kecupan singkat di bibir Yuda.

Setelah itu ia segera menjauh sambil tersenyum kecil. "Sudah. Puas?"

Yuda mengangguk santai. "Untuk sekarang."

Risa langsung menatapnya tajam. "Kamu memang nggak ada puasnya."

Yuda hanya tersenyum. "Besok jangan lupa."

"Iya Yuda cerewet." Risa terkikik, kemudian berjalan menuju rumahnya.

Sebelum masuk, ia sempat berbalik dan melambaikan tangan.

Yuda membalasnya sebelum akhirnya pergi.

Bab Berakhir.

1
Gege Mas
uwaaasyeekk
Gege Mas
luncurkan 10k katanya thor...gassa...
Gege Mas
yaaah masih kelas bsd...pikir otor beli rumahnya mc di pik 2 yang ada private jetty buat naruh kapal pesiar mini..baruu howrang kayah rayah..🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!