Tommy Nugroho adalah siswa kelas 2 SMA yang harus tinggal kelas dan selalu menjadi bahan tertawaan karena nilai-nilainya yang hancur berantakan.
Kehidupannya yang menyedihkan dan penuh ejekan berubah drastis pada suatu malam ketika sebuah layar biru misterius muncul di kamarnya dan memberinya Sistem IQ Tak Terbatas.
Alih-alih memamerkan kejeniusan barunya yang kini mampu memecahkan masalah tersulit dalam hitungan detik, Tommy memilih untuk tetap berpura-pura menjadi murid bodoh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Suinggg!
Sebuah suara berdenging pelan tiba-tiba terdengar di telinganya.
Tommy mengangkat kepalanya dengan bingung.
Cahaya biru terang tiba-tiba memancar dari ruang kosong tepat di depan wajahnya.
"Apa ini?" Tommy memundurkan kursinya dengan kaget.
Cahaya itu perlahan membentuk sebuah layar persegi panjang transparan yang melayang di udara.
Layar itu terlihat seperti layar antarmuka dari sebuah video game.
Tommy menggosok matanya berulang kali, mengira ia sedang berhalusinasi karena terlalu stres.
Tetapi layar biru itu tetap ada di sana, tidak menghilang.
Beberapa baris teks perlahan muncul di atas layar biru tersebut.
[PROSES PEMINDAIAN SELESAI.]
[SISTEM IQ TAK TERBATAS TELAH AKTIF.]
Tommy membaca tulisan itu dengan mulut sedikit terbuka.
"Sistem IQ Tak Terbatas?" gumamnya dengan nada tidak percaya. "Apa aku sudah gila sekarang?"
Teks di layar biru itu kembali berubah.
[MENAMPILKAN STATUS PENGGUNA SAAT INI.]
[Nama: Tommy Nugroho]
[Umur: 17 Tahun]
[IQ Saat Ini: 78 Kategori: Sangat Rendah/Bodoh]
Tommy tersenyum kecut melihat tulisan tersebut.
"Bahkan halusinasi ini pun ikut-ikutan mengejekku bodoh," ucap Tommy sambil tertawa hambar.
Ting!
Suara notifikasi yang jernih tiba-tiba terdengar dari layar tersebut.
Teks baru muncul dengan warna merah yang berkedip-kedip.
[MISI PERTAMA TERSEDIA.]
[Misi: Pecahkan 10 soal matematika dasar di buku paketmu dalam waktu 30 menit.]
[Hadiah: Peningkatan IQ sebesar +10 poin.]
[Hukuman jika gagal: Penurunan IQ sebesar -10 poin.]
Tommy menatap layar itu dengan dahi berkerut.
"Ini aneh sekali," batinnya sambil memperhatikan buku matematika di atas mejanya.
Meskipun ia yakin ini hanyalah halusinasi akibat kurang tidur, rasa penasarannya mengalahkan akal sehatnya.
"Toh tidak ada salahnya mencoba," gumam Tommy pelan.
Ia mengambil pensilnya kembali dan melihat sepuluh soal matematika di halaman yang sedari tadi membuatnya menangis.
Waktu di pojok layar biru itu mulai menghitung mundur dari tiga puluh menit.
Tommy mulai mengerjakan soal pertama.
Anehnya, saat matanya melihat soal tersebut, sesuatu di dalam kepalanya seakan terhubung.
"Tunggu, bukankah ini rumus yang ada di halaman dua belas?" batin Tommy terkejut.
Ingatannya yang biasanya kabur tiba-tiba menjadi sangat jelas.
Ia menuliskan rumus itu di kertas coretannya dan mulai menghitung.
Srak! Srak! Srak!
Suara pensil beradu dengan kertas memecah keheningan kamar.
Hanya dalam waktu tiga menit, Tommy berhasil menyelesaikan soal pertama.
Ia segera beralih ke soal kedua.
Soal kedua terasa sedikit lebih sulit, tetapi Tommy entah bagaimana bisa memecahnya menjadi bagian-bagian yang lebih kecil.
Pikirannya terasa lebih ringan, meski masih ada kesulitan.
Dua puluh menit kemudian, Tommy meletakkan pensilnya dengan napas terengah-engah.
Ia menatap sepuluh jawaban di atas kertasnya dengan perasaan tidak percaya.
"Aku... aku menyelesaikannya?" bisik Tommy dengan tangan gemetar.
Ting!
Layar biru di depannya kembali mengeluarkan suara notifikasi.
[MISI SELESAI.]
[Evaluasi: 10 jawaban benar. Waktu tersisa: 9 menit 12 detik.]
[Mengirimkan hadiah...]
[IQ pengguna meningkat +10 poin.]
[IQ Saat Ini: 88 Kategori: Rata-rata Bawah]
Sesaat setelah teks itu muncul, Tommy merasakan sensasi dingin yang sangat aneh mengalir dari ubun-ubunnya menyebar ke seluruh kepalanya.
Rasa pusing dan penat yang sejak tadi menyiksanya tiba-tiba lenyap tanpa sisa.
Matanya terasa lebih jernih, dan pikirannya terasa sangat ringan, seolah ada beban berat yang baru saja diangkat dari otaknya.
Tommy menatap buku matematikanya lagi.
Soal-soal yang tadinya terlihat seperti bahasa alien, kini tiba-tiba terlihat masuk akal baginya.
Ia membalik halaman ke soal-soal tingkat lanjut.
Hanya dengan membaca sekilas, otaknya langsung merespons dan menyusun cara penyelesaiannya dengan cepat.
"Ini tidak mungkin," gumam Tommy dengan mata terbelalak lebar.
Ia berlari ke arah rak bukunya dan mengambil buku pelajaran fisika yang tidak pernah ia sentuh.
Tommy membuka halaman acak tentang hukum termodinamika.
Ia membacanya sekali.
Hanya sekali.
Lalu ia menutup buku itu.
"Hukum pertama termodinamika menyatakan bahwa energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, hanya dapat diubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya," ucap Tommy dengan lancar tanpa terbata-bata sedikit pun.
Ia mengingat semuanya.
Setiap kata, setiap titik, dan setiap koma dari halaman yang baru saja dibacanya terekam sempurna di dalam kepalanya.
Tubuh Tommy bergetar hebat.
Ia menatap kedua tangannya dengan perasaan campur aduk antara takut dan bahagia.
"Ini bukan halusinasi," bisiknya dengan suara serak menahan tangis. "Sistem ini nyata."
Layar biru itu masih melayang diam di depannya.
Tommy menatap layar itu dengan tatapan yang benar-benar berbeda dari sebelumnya.
Mata yang biasanya terlihat sayu dan penuh ketakutan itu, kini memancarkan percikan kecerdasan yang tajam.
"Sistem IQ Tak Terbatas," gumam Tommy perlahan.
Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Kehidupannya sebagai Tommy si bodoh yang selalu ditindas baru saja berakhir malam ini.
Tetapi ia menyadari satu hal yang sangat penting.
Jika ia tiba-tiba menjadi jenius besok pagi, semua orang pasti akan curiga dan itu akan mendatangkan masalah besar yang belum siap ia hadapi.
"Tidak," batin Tommy sambil tersenyum tipis. "Besok, aku tetaplah Tommy si bodoh."
Biar mereka semua tertawa sekarang.
Karena dari balik bayang-bayang kebodohannya, Tommy akan mulai memutarbalikkan dunia mereka.
lanjut thor, tak sukreb deh outhor yg begini.
ini ajang olympiade, kenapa sempat terjadi perdebatan antara 2 peserta yg satu regu mewakili satu sekolah, tentang cara menjawab pertanyaan. ditambah setiap ahir jawapan ada kata "pak" dr tomi.
ini lebih cocok kalo di ajang diskusi di kelas.
logis dikit kelesss..😇😇