NovelToon NovelToon
Mate Takdir Sang Werewolf

Mate Takdir Sang Werewolf

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Misteri
Popularitas:956
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

[SEASON 2]

Sekuel kedua dari cerita 'Pegasus From Diamond Planet'

"Aroma jiwamu sudah menyatu dengan kegelapanku. Aku akan menjemputmu saat rembulan memerah."
Sebuah mawar hitam misterius di atas meja akademi menghancurkan penyamaran gender White. Gadis berambut putih perak itu mengira ia hanyalah manusia biasa, sampai takdir menyeretnya ke dalam pusaran cinta posesif Ethan, calon Alpha serigala cahaya (Werewolf), dan kerajaan obsesif Aslan Dexter, sang raja iblis (Demon).
Di balik wajah sucinya, ada rahasia mengerikan: White terlahir dari sebuah kristal misterius yang jatuh dari langit, membawa esensi jiwa parasit masa lalu yang di cari oleh seluruh klan imortal.
Saat kutukan darah mulai bangkit dan aliansi antarras terancam pecah, White di hadapkan pada dua pilihan: menyerah pada kegelapan masa lalu, atau bertahan di bawah perlindungan pelukan sang Alpha?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33. Aroma yang Tertinggal di Lapangan Akademi

"Selamat pagi, anak-anak!"

Suara bariton yang lugas namun ramah dari seorang wanita paruh baya yang baru saja melangkah masuk ke dalam aula kelas itu sontak mengalihkan atensi seluruh murid. Ruangan yang awalnya riuh rendah oleh obrolan pagi dan derit bangku kayu yang bergeser, seketika berubah hening mencekam. Aura wibawa Bu Ani memang selalu berhasil menertibkan suasana dalam sekejap.

"Selamat pagi juga, Bu Ani!" jawab mereka serentak, menciptakan koor suara yang menggema di ruang kelas berlantai batu pualam putih tersebut.

Mata puluhan murid itu kini mulai bergerak gelisah, menatap penuh rasa penasaran ke arah sosok yang berdiri agak tersembunyi di balik tubuh tegap sang guru. Bu Ani tersenyum tipis, lalu memberikan ruang lebih lebar.

"Hari ini kita kedatangan murid baru. Kebetulan, dia adalah murid pindahan dari wilayah kota besar, Luminara. Ibu harap kalian bisa berteman dengan baik dan membantunya menyesuaikan diri di akademi kita ini," ujar Bu Ani sembari menggeser posisi berdirinya, memberi isyarat halus dengan telapak tangan terbuka agar sang murid baru maju ke depan.

Gadis itu melangkah kecil, jemarinya tampak meremas ujung gaun seragam kainnya dengan gugup.

"Halo, teman-teman. Aku White Emerson," ucapnya lembut.

White berusaha menampilkan senyum canggung, namun binar di matanya yang jernih dan kulitnya yang seputih salju justru menciptakan daya tarik luar biasa.

Tanpa ia sadari, perkenalan singkat itu membuat seisi kelas terpaku. Kecantikannya yang tampak tidak nyata—sesuai namanya, White—membuat para murid laki-laki terpana, bahkan beberapa di antaranya sudah saling sikut, berbisik mencari cara untuk mengajak berkenalan lebih jauh.

"White, silakan pilih tempat duduk yang masih kosong," perintah Bu Ani ramah.

White mengedarkan pandangannya ke penjuru kelas. Ruangan itu cukup luas dengan jendela-jendela kayu besar yang menampilkan pemandangan taman akademi. Dari 30 bangku kayu yang tersedia, hanya 23 yang terisi.

Matanya menyisir hingga ke barisan paling belakang, di mana sinar matahari pagi jatuh menyinari seorang murid perempuan berambut biru cerah yang sedang melambai-lambaikan tangan dengan semangat ke arahnya. Tanpa ragu, White melangkah menuju bangku tersebut.

"Hai, aku Emma," bisik gadis berambut biru itu penuh antusias saat White sampai di sampingnya. Ia langsung mengulurkan tangan dengan gerakan lincah.

"White," jawab White singkat, menyambut uluran tangan itu. Namun, baru saja jemari mereka bertautan...

Plak!!

"Jangan lama-lama! Aku juga mau berkenalan dengan dia, Emma!"

Seorang remaja laki-laki yang duduk tepat di depan mereka tiba-tiba menepuk tautan tangan itu dengan cukup keras, hingga pegangan mereka terlepas.

Emma tersentak, ia langsung memberikan pelototan tajam pada laki-laki bernama Theodore itu.

"Dasar menyebalkan! Tidak punya sopan santun!" gerutu Emma dengan wajah memerah kesal.

Sementara itu, White hanya diam terpaku, menatap interaksi kedua teman barunya dengan tatapan datar yang sulit diartikan.

Theodore sempat mencebikkan bibirnya cemberut mendengar omelan Emma, namun ekspresinya berubah secepat kilat saat menoleh ke arah White. Ia tersenyum sangat lebar hingga matanya menyipit.

"Aku Theodore. Panggil saja Theo! Semoga kita bisa berteman—"

"Anak-anak! Perhatian!"

Suara Bu Ani kembali menginterupsi.

"Karena guru ketangkasan fisik yang baru sudah datang, kalian semua diminta segera mengganti pakaian dengan jubah latihan dan langsung menuju ke lapangan rumput untuk memulai pelajaran!"

Mendengar perintah itu, Theodore langsung memutar tubuhnya kembali ke depan dengan wajah kecewa karena obrolannya terputus. Seisi kelas mulai gaduh; mereka tidak menyangka pengajar pengganti untuk guru lama yang mengalami kecelakaan kereta kuda lima hari lalu sudah tiba secepat ini.

****

Udara pagi yang segar menyambut para murid saat mereka berbaris rapi di tengah lapangan rumput yang sangat luas. Di depan mereka, berdiri seorang pria tegap yang memancarkan aura dominan namun tenang. Pria itu memperkenalkan diri sebagai Ethan, sang pengajar ketangkasan fisik yang baru.

Namun, di barisan paling depan, dua gadis tampak membeku dengan ekspresi yang sangat kontras dari murid lainnya.

White membelalakkan matanya. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang saat menyadari siapa pria berambut biru di depannya itu.

'Kenapa aku harus bertemu lagi dengan dia?!' batin White kesal.

Ia teringat kejadian beberapa waktu lalu di dekat rumah kayu Lucas. Beruntung, saat ini White tidak memakai jubah penyamarannya, sehingga ia berharap pria itu tidak langsung mengenalinya.

Di sampingnya, Emma jauh lebih menderita. Gadis itu menatap Ethan seolah baru saja melihat hantu.

'Apa aku sedang bermimpi buruk? Bagaimana bisa kakakku jadi pengajar di sini? Ya Tuhan... hari-hariku di akademi akan semakin sulit,' keluh Emma dalam hati sambil menghela napas panjang dan memijat pelipisnya yang mendadak pening.

Di sisi lain, Ethan yang sedang memberikan pengarahan mendadak menghentikan kalimatnya sejenak. Penciumannya yang tajam sebagai bangsa serigala menangkap sesuatu. Matanya tertuju pada murid perempuan berambut putih di barisan depan.

'Aroma ini... perpaduan sitrus dan mawar. Sama persis dengan pemuda misterius tadi pagi,' batin Ethan bergejolak.

Ia menatap White dengan intens, mencoba mencari jawaban di balik mata gadis itu.

'Apa dia Mate-ku yang sesungguhnya? Jika iya, aku sangat bersyukur dia adalah seorang perempuan.'

Keheningan itu dipecah oleh salah satu murid perempuan yang bertanya dengan nada genit, "Maaf, Tuan Ethan! Kapan kita akan memulai latihannya?"

Ethan tersenyum lebar, sebuah senyuman yang bagi sebagian orang tampak menawan, namun bagi yang mengenalinya, itu adalah senyum penuh tantangan.

"Baiklah, anak-anak. Kita mulai dengan pemanasan otot. Setelah itu, kalian semua berlari mengitari lapangan rumput ini sebanyak 30 kali. Saya ingin mengetes batas kemampuan fisik kalian," ucap Ethan santai.

Zuuuttt!

Suasana mendadak ricuh.

"Apa?! Tiga puluh putaran?!"

"Tuan ingin membunuh kami ya?"

"Ini penyiksaan! Lapangan ini kan luas sekali!"

Protes demi protes terlontar dari para murid manusia yang sudah membayangkan betapa lemasnya kaki mereka nanti. Namun, di tengah keriuhan itu, beberapa murid dari ras Immortal seperti Werewolf, Vampir, dan Elf hanya berdiri tegak dengan ekspresi datar. Bagi mereka, 30 putaran hanyalah pemanasan ringan.

Ethan terdiam sejenak, membiarkan riuh protes para murid mengisi udara lapangan yang mulai hangat. Ia mengusap dagunya perlahan sembari menatap satu per satu wajah murid di hadapannya. Sebuah seringai tipis namun penuh misteri perlahan terukir di bibirnya yang tegas, membuat beberapa murid yang melihatnya justru merasa merinding.

"Harap semuanya tenang!"

Suara Ethan menggelegar berwibawa, membungkam protes yang ada.

"Saya tahu 30 putaran itu melelahkan. Karena itu, saya akan memberikan imbalan yang sepadan."

Ethan menjeda kalimatnya, sengaja membangun ketegangan. Ia menyilangkan tangan di dada, sementara jarinya menunjuk ke arah istal kuda akademi yang terlihat dari kejauhan.

"Saya akan memberi hadiah berupa seekor kuda pacu ras murni terbaik dari wilayah utara untuk siapa saja yang pertama kali menyelesaikan seluruh putaran. Kuda itu ada di sana, di istal, lengkap dengan pelana emasnya yang bisa langsung kalian bawa pulang hari ini juga. Bagi yang tidak menang, jangan berkecil hati. Setiap orang yang berhasil menyelesaikan seluruh putaran akan mendapatkan imbalan 10 keping koin emas murni dari saya, langsung dibagikan dari kantong saya setelah latihan ini usai. Bagaimana, apa kalian semua setuju—"

Wusshhh!!

Belum sempat Ethan menyelesaikan kalimatnya, angin kencang berembus menyapu lapangan akibat pergerakan massa yang tiba-tiba.

"SETUJU!"

Teriakan itu membahana hampir bersamaan. Debu-debu lapangan beterbangan saat para murid—baik manusia maupun makhluk immortal—langsung melesat pergi tanpa mau mendengarkan satu patah kata lagi. Iming-iming kuda ras murni kekaisaran dan lembaran koin emas telah membutakan rasa lelah mereka.

Ethan hanya bisa berdiri diam di tengah lapangan yang kini hanya menyisakan jejak langkah kaki. Ia menggelengkan kepalanya sembari terkekeh geli, menatap kerumunan murid yang saling sikut di kejauhan.

"Ternyata harta dan koin emas bisa membuat segalanya jauh lebih mudah," gumamnya pelan.

Kebetulan, hari ini Ethan memang membawa salah satu tunggangan terbaiknya—seekor kuda hitam gagah dengan bulu yang mengkilap di bawah sinar matahari. Baginya, merelakan satu ekor kuda bukanlah masalah besar.

Di Pack House (Rumah Klan) miliknya, ia memiliki deretan ternak kuda perang yang jauh lebih berharga, begitu juga di kastil barunya yang berada di distrik elit Kota Kekaisaran Vespera.

‘Dasar tukang pamer harta!’

Suara tajam Emma menggema di dalam pikiran Ethan melalui sambungan batin (mindlink). Gadis berambut biru itu mendelik sinis ke arah kakaknya sembari terus berlari dengan langkah yang sangat ogah-ogahan. Bahunya turun, dan ekspresinya menunjukkan rasa malu yang luar biasa atas kelakuan kakaknya yang terlalu berlebihan di hari pertama mengajar.

Emma sama sekali tidak tertarik pada hadiah itu. Baginya, melihat sang kakak bersikap seperti bangsawan miliarder yang sedang membagi-bagikan permen adalah hal yang memuakkan. Ia berlari hanya karena ingin menghargai teman-teman sekelasnya dan menghindari perhatian yang tidak perlu.

Ethan yang merasakan emosi adiknya lewat mindlink langsung membalas dengan pelototan tajam. Ia berdiri tegak, menatap punggung Emma dengan tatapan yang seolah berkata: 'Berhenti mengeluh dan lari yang benar!'

Namun, di tengah keriuhan itu, mata Ethan kembali terfokus pada satu titik. Di barisan tengah pelari, ia melihat White Emerson. Gadis itu berlari dengan sangat anggun, rambut putihnya yang panjang tergerai dan berkibar tertiup angin seperti benang sutra.

Meski wajahnya terlihat tenang, Ethan bisa melihat kekuatan yang stabil dari cara gadis itu mengatur napasnya.

Ethan menyipitkan mata, kembali mencoba menghirup udara dalam-dalam. Aroma sitrus dan mawar itu kembali melintasi indranya, tercampur dengan keringat dan debu lapangan, namun tetap terasa begitu murni bagi hidung serigalanya. Ia terus mengawasi gerak-gerik White, menunggu saat di mana rahasia gadis penyihir es itu akan terungkap sepenuhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!