NovelToon NovelToon
Dibuang Karena Mandul, Dinikahi Konglomerat

Dibuang Karena Mandul, Dinikahi Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mandul / Balas Dendam
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: CHIBEL

Demi melindungi harga diri suaminya yang mandul, Larissa rela menanggung caci maki sebagai wanita mandul. Namun, pengorbanannya dibalas dengan surat cerai dan pengusiran kejam setelah sang suami memalsukan hasil medisnya demi bersanding dengan wanita lain.

Tiga tahun berlalu, dunia terguncang ketika Larissa bangkit sebagai istri dari CEO terkaya dan melahirkan dua anak yang sehat. Saat kebohongan masa lalu mulai terbongkar, giliran Larissa yang memegang kendali untuk membuat mantan suaminya merangkak dalam penyesalan seumur hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHIBEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 - Jerat yang mulai mengencang

Pukul sepuluh pagi, Vera sedang duduk di sofa sambil berpura-pura mengusap pelipisnya, memasang wajah selemah mungkin agar terlihat seperti orang yang masih butuh istirahat. Bram sudah berangkat ke kantor sejak pagi buta demi menyelamatkan beberapa vendor konstruksi yang mulai goyah akibat rumor gala dinner dua malam lalu.

Suara ketukan selop berhak tinggi yang beritme tegas di atas lantai seketika membuat bulu kuduk Vera meremang.

Ibu Maya melangkah masuk ke dalam ruangan. Beliau tidak lagi mengenakan pakaian rumah biasa, melainkan sudah rapi dengan setelan kebaya modern berwarna gelap, lengkap dengan tas jinjing kulit buaya andalannya. Wajah paruh bayanya tampak begitu dingin, tanpa ada gurat simpati sedikit pun untuk menantu barunya.

"Ganti pakaianmu sekarang," ujar Ibu Maya, suaranya mengalun datar.

Vera mengerutkan alisnya, mencoba mempertahankan aktingnya. "Tapi Ibu... kepala Vera masih sangat pusing sejak kemarin. Rasanya untuk berdiri saja Vera masih goyah. Apakah tidak sebaiknya—"

"Ibu tidak menerima alasan apa pun lagi," potong Ibu Maya tanpa ampun, sepasang mata tajamnya menatap lurus ke dalam bola mata Vera yang mulai bergerak gelisah.

"Ibu tahu kamu sengaja menghindar kemarin. Jadi pagi ini, tanpa sepengetahuanmu dan Bram, Ibu sudah menelepon Profesor Subroto secara pribadi. Beliau mengatur ulang jadwal darurat untukmu, mobil sudah siap di depan. Ikut Ibu sekarang, atau Ibu sendiri yang akan meminta para penjaga menyeretmu masuk ke dalam mobil."

Vera merasakan seluruh persendiannya mendadak lemas. Ancaman Ibu Maya kali ini begitu mendadak dan menutup rapat semua celah untuk memanipulasi situasi. Dengan tangan yang gemetar halus, Vera terpaksa mengangguk.

Dia melangkah ke kamar dengan dada yang bergemuruh hebat, menyadari bahwa jerat di lehernya kini telah ditarik paksa oleh ibu mertuanya sendiri.

Perjalanan menuju rumah sakit terasa begitu menyiksa bagi Vera. Di dalam mobil mewah yang sunyi, Ibu Maya hanya menatap lurus ke jendela luar, mengabaikan keberadaan Vera di sampingnya.

Vera buru-buru mengeluarkan ponselnya. Memanfaatkan momen saat Ibu Maya sedang tidak memperhatikan, jemari Vera bergerak cepat membuka aplikasi pesan singkat.

Satu-satunya pelampung penyelamat yang dia miliki saat ini adalah dr. Hendra, mantan kekasihnya yang sebelumnya menjabat sebagai kepala laboratorium, orang yang dia suap untuk menukar hasil tes fertilitas Bram dan melemparkan fitnah mandul kepada Larissa.

Vera mengetik pesan dengan panik: Hendra, tolong aku! Hari ini aku dipaksa mertuaku periksa di RS Kencana. Apa kamu punya kenalan dokter lab di sana yang bisa kita suap untuk memalsukan hasil tesnya lagi? Balas cepat!

Satu menit. Dua menit. Tidak ada balasan.

Vera menggigit bibir bawahnya hingga memucat. Karena tidak sabar, dia nekat menekan tombol panggilan suara, menempelkan ponselnya ke telinga dengan bahu yang bergetar ketakutan.

"Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi atau berada di luar jangkauan..."

Suara operator otomatis itu terdengar bagai lonceng kematian di telinga Vera. Karena panik, dia mencoba menghubungi salah satu staf administrasi lama di laboratorium tempat Hendra dulu bekerja. Setelah tiga kali mencoba, akhirnya panggilan itu diangkat.

"Halo, dengan bagian administrasi Lab Pratama. Ada yang bisa kami bantu?"

"Halo... saya Vera," ujar Vera setengah berbisik, memutar tubuhnya membelakangi Ibu Maya agar suaranya tidak terdengar. "Saya mencari dr. Hendra yang menjabat sebagai kepala lab di sana. Bisakah saya disambungkan ke nomor pribadinya yang baru?"

Di seberang telepon, terdengar helaan napas pendek dari staf tersebut, disusul oleh nada suara yang berubah menjadi sangat kaku.

"Mohon maaf, Nyonya Vera. Dokter Hendra sudah tidak bekerja di institusi kami lagi sejak satu bulan yang lalu. Beliau telah dipecat secara tidak hormat karena terlibat kasus malpraktik pemalsuan dokumen medis pasien lain, dan surat izin praktiknya telah dicabut oleh ikatan dokter. Keberadaannya saat ini tidak diketahui karena kabarnya beliau sedang menghadapi tuntutan hukum eksternal."

Ponsel di tangan Vera nyaris saja merosot jatuh ke atas pangkuannya. Seluruh pasokan darah seolah disedot habis dari wajahnya dalam sekejap. Matanya membelalak lebar dengan rasa syok yang luar biasa masif.

Hendra sudah dipecat. Surat izin praktiknya dicabut, dan dia menghilang tanpa jejak.

Kenyataan pahit itu menghantam pertahanan mental Vera hingga hancur lebur. Ini berarti dia benar-benar sendirian sekarang.

Tidak ada lagi dokter lab korup yang bisa dia gunakan untuk memalsukan kondisi asli Bram. Jika siang ini Profesor Subroto mengambil sampel darah dan melakukan analisis kesuburan secara transparan, kebenaran tentang Bram yang mandul total akan langsung terbongkar.

Karena jelas-jelas dirinya subur, maka dokter Subroto akan meminta tes untuk Bram juga. Di sanalah letak masalahnya.

Pukul sebelas kurang sepuluh menit, mobil berhenti di pelataran depan gedung rumah sakit. Ibu Maya langsung menggandeng lengan Vera dengan cengkeraman yang begitu kuat, memastikan menantunya tidak melarikan diri ke mana pun.

Di atas kursi tunggu, Vera duduk dengan tubuh yang bermandikan keringat dingin, meskipun pendingin ruangan berembus sangat kencang.

“Panggilan untuk Nyonya Vera Baskoro, silakan menuju ruang periksa nomor tiga bersama Profesor Subroto.”

Suara panggilan dari pengeras suara menggema, memotong kesunyian lobi.

Ibu Maya langsung berdiri, menepuk bahu Vera dengan tegas. "Ayo, namamu sudah dipanggil. Jangan buat Profesor menunggu lama."

Vera berdiri dari kursinya, langkah kakinya terasa begitu berat. Otak manipulatifnya yang sudah terdesak di ujung tanduk mulai berputar panik. Tidak ada pilihan lain. Dia harus menggunakan cara terakhir, cara instan untuk mengulur waktu hari ini.

Saat melangkah menyusuri koridor, tepat tiga meter di depan pintu ruang periksa, Vera sengaja memperlambat langkah kakinya. Dia menarik napas dalam-dalam, memejamkan matanya rapat-rapat, lalu dengan sengaja melemaskan seluruh otot tubuhnya dan membiarkan tubuhnya ambruk jatuh ke atas lantai koridor yang keras.

Gubrak!

Tubuh Vera terjerembab ke depan. Kepalanya membentur lantai dengan suara yang cukup keras, membuat tas jinjingnya terlempar sejauh satu meter.

"Astaga! Vera!"

Ibu Maya terpekik kaget, langkah kakinya langsung terhenti. Dua orang perawat yang bersiaga di dekat meja administrasi langsung berlari panik mendekati tubuh Vera yang kini terbaring diam di atas lantai dengan mata tertutup rapat, berpura-pura pingsan total demi membatalkan seluruh rangkaian pemeriksaan.

Sore harinya, suasana di dalam kamar tidur terasa begitu redup. Vera berbaring di atas ranjang dengan kompres hangat menempel di dahinya, masih mempertahankan aktingnya sebagai seorang istri yang jatuh sakit akibat kelelahan dan tekanan mental.

Bram yang baru saja pulang dari kantor setelah menyelesaikan urusan pembatalan investor, melangkah masuk ke dalam rumah dengan wajah yang ditekuk.

Begitu mendengar kabar bahwa Vera pingsan lagi di rumah sakit, dia langsung bergegas pulang untuk menjenguk istrinya.

Bram duduk di tepi ranjang, mengusap punggung tangan Vera dengan gurat cemas. "Bagaimana kondisimu, Vera? Kenapa bisa sampai pingsan di rumah sakit?"

Vera membuka matanya perlahan, memasang tatapan sayu yang begitu lemah. "Mas Bram... aku tidak apa-apa. Hanya saja... tekanan dari Ibu tadi siang membuatku sangat syok. Ibu terus menuduhku yang tidak-tidak di depan para perawat..." rintih Vera memancing simpati suaminya.

Bram mengembuskan napas panjang, otaknya yang sedang stres membuat pembawaannya menjadi lebih sensitif. Dia menenangkan Vera beberapa saat sebelum akhirnya berdiri untuk keluar dari kamar, berniat mencari ibunya untuk meminta penjelasan.

Begitu Bram melangkah keluar dari daun pintu kamar dan menutupnya rapat, sosok Ibu Maya ternyata sudah berdiri tegak di koridor yang remang-remang. Beliau melipat kedua tangannya di depan dada, menatap putranya dengan sepasang mata yang dipenuhi oleh kabut kecurigaan yang sangat pekat.

Ibu Maya mengisyaratkan dengan gerakan kepala agar Bram menjauh dari pintu kamar. Dia menarik lengan kemeja Bram, membimbing putranya ke sudut koridor dekat jendela lantai dua sebelum berbisik dengan nada suara yang sangat rendah, dingin, dan sarat akan ketajaman analitis.

"Bram, dengarkan Ibu," bisik Ibu Maya, sepasang matanya menyipit tajam menembus langsung ke dalam fokus pandangan Bram.

"Istrimu itu... Vera, dia sangat aneh. Ibu sudah hidup lama, Ibu tahu mana orang yang benar-benar sakit dan mana orang yang sedang bersandiwara."

Bram mengerutkan alisnya samar. "Maksud Ibu apa? Vera tadi siang sampai jatuh di lantai rumah sakit, Bu."

"Itulah yang Ibu maksud!" tegas Ibu Maya, intonasi suaranya merendah.

"Setiap kali Ibu menuntut dan diajak pergi periksa, selalu saja ada alasannya. Minggu lalu dia bilang pusing, kemarin dia pura-pura pingsan di kamar mandi, dan hari ini... tepat di depan pintu ruang periksa Profesor Subroto, dia mendadak jatuh pingsan lagi secara dramatis. Sikap menghindarnya yang terlalu kelihatan ini bukan lagi karena masalah fisik, Bram."

Ibu Maya menepuk dada Bram dengan jarinya. "Apa kamu yakin wanita pilihanmu itu tidak sedang menyembunyikan sesuatu yang sangat besar dari kita? Bagaimana kalau sebenarnya... rahimnya memang bermasalah dan dia sudah membohongi keluarga kita sejak sebelum menikah?"

Bersambung

1
sunaryati jarum
Semua manipulatif Bram dan Vera dikuliti publik, rasain
sunaryati jarum
Tanggung jawablah Vera kau kan sudah menikmati Bram dan hartanya, sekarang kau tinggal membayar sebagai penghuni hotel prodeo
YAM
smpe sini terlalu greget ma mc nya bego gampang di tindass😡😡
Sindy Puspita: Hehehehe, hidup kadang emang harus bego dulu kak🤭🙏
total 1 replies
sunaryati jarum
Bu Maya langsung koit
sunaryati jarum
Emak tunggu hasilnya, Larissa
sunaryati jarum
Ingat kamu hamil jangan terlalu emosi
Batara Kresno
makin seru bagus ceritanya lanjut thor
sunaryati jarum
Hanya dengan mengumumkan kehamilan Larissa kebohongan Bram dan Vera terbongkar dengan sendirinya.Jika sejak awal jujur sama Bu Maya, mungkin dia tidak mengecap Larissa mandul,dan cari solusi bersama.Kalau sudah begini kalian sendiri yang hancur, bahkan Bram tidak tahu dirinya menghina Vera juga,lucu .Sudah tahu dirinya yang bermasalah kok melempar kekurangan pada orang lain🤣🤣🤣
sunaryati jarum
Nah bagaimana Bu Maya masih mempertahankan jika Larissa mandul?
sunaryati jarum
Selamat Larissa akhirnya bersama Sultan Sang Penguasa Raja Bisnis kamu hamil, semoga sehat bayi dan kamu
Sindy Puspita
Terima kasih atas dukungannya kak🙏 Ditunggu updatenya besok malam ya
Batara Kresno
masih kurang thor dirunggu upnya ttp semangat trimakasih udah up 3 bab🙏🙏🙏
Batara Kresno
mampus lho bu maya
Batara Kresno
ko cuma 1 tumben pengin liat keluarga bram mampus
sunaryati jarum
Lanjut
sunaryati jarum
Nah,kan tanpa Larissa membalas sakit hatinya, mereka sudah mendapatkan balasan atas kejahatan mereka
sunaryati jarum
Terbongkar kebohongan kamu,ingin hati menutupi kekurangan Bram,namun merugikan diri sendiri
sunaryati jarum
Tidak usah membalas mereka sudah kenaa karma karena ulahnya dan provokasi Vera.Hiduplah dengan bahagia sudah
Emak suka cerita ini , tidak bertele- tele, alurnya runtut
sunaryati jarum
Jatuh mental sekarang , orang yang kalian hina bersanding dengan pria terkaya dan berkuasa
sunaryati jarum
Waah mantap Bos Bayu to the point , langsung gass pool.Langsun nikahin,Bos
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!