Di ulang tahun pernikahan nya yang ke sepuluh, Sarah di minta oleh ibu mertua nya menyusul Gibran yang tinggal di tanah perantauan.
Tapi alangkah terkejut nya Sarah, dia menemukan suami nya sudah menjadi suami dari wanita lain. Bahkan mereka sudah memiliki anak berusia 7 tahun. Hal yang lebih mengejutkan, setiap tahun mertua nya datang ke sana mengunjungi mereka serta memberikan banyak hadiah.
Merasa di khianati, Sarah memutuskan kembali ke kota dan memilih untuk berpisah. Tapi setiba nya di rumah, sebuah fakta baru terungkap. Selama ini suami nya membohongi ibu nya sendiri dan menjual nama Sarah demi wanita itu.
Gibran, suami nya Sarah di dukung oleh ayah nya dan juga wanita yang menjadi selingkuhan dari Ayah nya. Ibu mertua nya mendukung Sarah dan membalas perbuatan anak dan suami nya, 2 orang yang berusaha merampas semua harta nya. Tepat di hari Gibran melakukan resepsi mewah, Ibu nya dan Sarah datang memberikan kejutan yang tak terduga untuk Gibran dan juga ayah nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
08
Bu Meri tidak akan membiarkan Sarah pergi dari rumah ini, dia sendiri yang akan menghukum putra nya.
"Sarah, jangan tinggalkan ibu nak! Jika kau pergi dari sini, maka ibu juga akan ikut pergi!" Bu Meri berkata pada Sarah.
"Tidak bu, aku tidak akan meninggalkan ibu sendiri. Maafkan aku bu, karena sebelum nya aku telah berburuk sangka pada mu!" Ucap Sarah.
"Jangan minta maaf nak, wajar kau berburuk sangka pada ibu. Putra kandung ibu sendiri yang sudah mengkhianati mu, tapi bagi ku kau bukan sekedar menantu. Kau sudah ku anggap seperti putri kandung ku sendiri!" Ujar Bu Meri.
"Terima kasih banyak bu!" Sarah terharu dengan ucapan Ibu mertua nya.
Sekali lagi, mertua dan menantu itu saling berpelukan. Bu Meri berjanji pada diri nya sendiri, dia akan selalu mendukung apapun keputusan Sarah.
"Sarah, kita akan mulai mencari tahu. Siapa mertua yang di maksud oleh Santi, ibu curiga bapak melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan oleh Gibran!" Bu Meri berkata pada Sarah sambil mengurai pelukan nya.
"Iya bu, kita tidak bisa menunda lagi. Secepat nya kita akan mencari tahu!" Jawab Sarah.
"Sarah, bapak sering pergi dan tidak pulang hingga berhari - hari. Ibu curiga dia memiliki wanita lain di luar sana, dan dia tinggal bersama wanita itu!" Kembali bu Meri berkata.
"Ibu benar sekali, selama ini kita tidak pernah curiga sama bapak. Kita langsung tanya bapak saat dia pulang nanti, kita akan tahu setelah kota lihat reaksi bapak!" Sarah memberikan usul.
Bu Meri mengangguk kan kepala nya, dia setuju dengan saran dari Sarah. Ketika kedua nya sedang bercakap - cakap, mereka mendengar suara pak Burhan yang pulang ke rumah.
"Bu, bapak sudah pulang. Ayo kita samperin dia!" Usul Sarah.
"Iya, ayo!" Jawab bu Meri.
Sarah dan bu Meri langsung keluar, mereka menemui pak Burhan yang sedang duduk di sofa ruang tamu.
"Bapak dari mana saja? Kenapa sudah 3 hari tidak pulang?" Tanya bu Meri tiba - tiba.
"Ibu, mengagetkan saja!" Pak Burhan yang terkejut mendengar pertanyaan istri nya langsung membenarkan posisi duduk nya.
"Jawan pertanyaan ibu, pak. Dari mana saja bapak tidak pulang 3 hari ini?" Bu Meri mengulangi pertanyaan nya.
"Bapak main kartu di bawah bu, sudah lah bu jangan berlebihan!" Pak Burhan tidak suka dengan pertanyaan istri nya.
"Main kartu hingga 3 hari 3 malam, main kartu aoa main wanita?" Tanya bu Meri sambil melipat tangan di dada.
"Ibu ini bicara apa, ngawur saja!" Pak Burhan segera berdiri dan pergi begitu saja.
Pak Burhan sengaja pergi dari hadapan menantu dan juga istri nya, dia tidak mau mereka semakin curiga pada nya.
Pak Burhan langsung masuk ke dalam kamar, dan dia menutup pintu dengan rapat. Hal itu jelas mengundang kecurigaan bu Meri, sikap gugup suami nya menunjuk kan bahwa ada sesuatu yang dia sembunyikan dari diri nya.
"Seperti nya dugaan kita benar, ada yang di sembunyikan nya dari kita!" Bu Meri berkata pada Sarah.
"Iya bu!" Jawab Sarah sambil mengangguk kan kepala nya.
"Ayo ikut ibu!" Ajak bu Meri sambil menarik tangan Sarah.
Kedua nya berjalan mendekati pintu kamar bu Meri, pintu nya memang tertutup tapi tidak di kunci. Dari balik pintu yang sedikit terbuka, kedua nya bisa melihat pak Burhan yang kelihatan gelisah.
Dreeett, dreeettt, dreeettt.
Tiba - tiba ponsel yang ada di saku celana pak Burhan berdering, bergegas dia mengambil nya dan menjawab panggilan itu.
"Hallo sayang, maaf ya untuk sementara ini kita jangan bertemu dulu. Istri ku mulai curiga!" Pak Burhan bicara pada seseorang di seberang sana.
"......."
"Iya sayang, saat ini dia mulai curiga. Dia milai menanyakan tentang diri ku yang sering tidak pulang ke rumah!" Ucap pak Burhan lagi
"......."
Bu Meri yang berada di depan pintu mengepalkan tangan nya, dugaan nya selama ini ternyata benar. Sifat buruk yang di milik oleh Gibran rupa nya menurun dari pak Burhan.
"Iya sayang, kamu tenang saja. Aku akan kirim kan uang untuk mu secepat nya, tapi maaf ya saat ini kita belum bisa bertemu lagi!" Kembali pak Burhan berkata.
"......."
"Tenang saja sayang, aku akan ambil perhiasan nya lalu aku akan menjual nya. Dia tidak pernah curiga pada ku kalau pun dia sadar bahwa perhiasan nya hilang, palingan yang di tuduh juga Sarah!" Ujar Pak Burhan lagi.
"......."
"Sayang, udah dulu ya. Nanti mas akan transfer uang nya!" Lalu pak Burhan menutup sambungan telepon nya.
Bu Meri semakin geram, kini dia menyadari siapa anak dan juga suami nya. Selama ini bu Meri tidak pernah mengecek perhiasan nya, karena dia sendiri tidak menduga bahwa bahwa suami dan anak nya akan sejahat ini.
Sarah menarik tangan bu Meri menjauh dari sana, dia tidak ingin ketahuan kalau mereka menguping pembicaraan pak Burhan.
"Bu, Ibu minum dulu supaya tenang!" Sarah memberikan segelas air putih pada bu Meri.
Bu Meri menerima gelas itu, dia lalu meminum isi nya hingga separuh. Dada nya terasa bergemuruh, diri nya tidak menduga bahwa selama ini dia telah di tipu habis - habisan oleh 2 orang laki - laki yang sangat dia cintai tersebut.
"Kurang ajar, selama ini ternyata dia merampas semua harta ku demi wanita lain. Ini tidak bisa di biarkan, mereka harus mendapatkan balasan nya!" Bu Meri berkata dengan dada yang bergemuruh menahan emosi.
"Ibu sabar bu, kita tidak boleh gegabah. Selama ini mereka hanya memanfaatkan kita berdua, kita harus bisa membalas nya!" Sarah berkata pada bu Meri.
"Sarah, maafkan ibu nak. Ibu sendiri tidak menduga bahwa ibu telah melahirkan manusi jahat seperti Gibran!" Bu Meri berkata sambil berurai air mata.
Bu Meri sendiri tidak pernah mengira bahwa putra dan juga suami nya, telah bersekongkol menguras harta nya demi wanita lain. Setiap bulan Gibran meminta uang pada nya dalam jumlah besar, dia beralasan uang itu untuk biaya perawatan rumah nya dan Sarah.
Tapi pada kenyataan nya, uang itu malah di gunakan untuk membangun rumah mewah untuk wanita lain. Bahkan Gibran sengaja merampas hak - hak Sarah dan di berikan pada wanita lain.
"Sarah, kita akan membalas semua nya. Jangan biarkan 2 laki - laki jahat itu dan juga gundik nya menang, buktikan bahwa kita bukan lah wanita bodoh dan lemah!" Bu Meri berkata pada Sarah.
"Iya bu, kita akan mengambil kembali apa yang telah mereka rampas!" Sarah mendukung ibu mertua nya.
Tekad Sarah dan bu Meri sudah bulat, kedua nya akan membalas perbuatan Gibran dan juga ayah nya serta gundik - gundik mereka. Selama ini pak Burhan bergantung pada bu Meri, karena di sini bu Meri lah yang kaya raya, bukan pak Burhan.
gugat cerai saja Pak Burhan. Depan tanpa sepeserpun di kasih harta. Hidup numpang kok ya banyak tingkah