"Daddy, bagaimana bisa menjodohkan Lily dengan pria Arogan itu?" pertanyaan Lily meronta-ronta di hadapan Daddy-nya menunjuk Lucas yang duduk disofa dengan wajah datarnya.
"Lucas itu pria yang baik, Daddy sudah menjodohkan kalian sejak kecil" pernyataan Daddy menatap Lucas yang sejak kecilnya sudah dia anggap seperti anak sendiri.
"Sejak kecil apanya, Lily baru lahir dia sudah tua" komplen Lily, selain terkenal arogan Lucas juga beda 8 tahun darinya.
"Lily menolak perjodohan dengan pria Arogan itu" pernyataan Lily.
"Berani kamu menolak saya?" pertanyaan Lucas dengan suara beratnya.
Yuk baca cerita Lily.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 Menanyakan Sesuatu
Pagi harinya begitu bangun Lily cuci muka dan langsung berlari menuruni tangga bahkan masih pakai piyamanya, tidak sabar mau makan karena bangun terlambat.
"Lily," panggil Lucas yang duduk di ruang tengah melihat istrinya yang berlari masih pakai baju tidur.
Lily berjalan pelan menghampiri Lucas yang duduk di hadapan beberapa bodyguard, sepertinya sedang diskusi.
"Iya Kak," kata Lily berdiri menunduk di dekat bodyguard.
Lucas berdiri dari duduknya lalu memakaikan jaket pada Lily untuk menutupi piyama pendek yang Lily pakai.
"Kenapa lari-larian, bajunya juga belum diganti?" tanya Lucas.
"Ganti baju dulu, jangan keluar kamar dengan pakaian seperti ini," ucap Lucas yang diangguki Lily.
Lucas tahu kenapa Lily berlari pasti dia sudah lapar karena bangun kesiangan, Lucas sengaja tidak membangunkannya karena sekarang juga hari Minggu.
Setelah mengganti bajunya Lily kembali menghampiri Lucas, "apa sudah boleh makan?" tanya Lily berdiri mengelus perutnya.
"Ya boleh Sayang, pergilah," senyum tertahan Lucas melihat Lily yang tidak langsung ke ruang makan setelah ganti baju, malah izin dulu padanya.
Lucas melanjutkan pembicaraannya dengan bodyguard sementara Lily sudah berlari ke ruang makan.
"Selamat pagi Nyonya," sapa para pelayan yang berbaris di ruang makan.
"Pagi," kata Lily tersenyum dan tidak sabar menunggu pelayan selesai mengisi piringnya.
"Lily lapar banget," kata Lily langsung melahap nasi goreng spesial itu dengan semangat sampai belum beberapa menit sudah habis.
"Nyonya ingin tambah?" tanya Alena yang sedari tadi memperhatikan Lily.
"Tentu saja," kata Lily langsung menyodorkan piringnya yang sudah kosong agar diisi lagi.
Beberapa saat kemudian Lucas datang dan duduk di sebelah Lily, "Kak Lucas belum sarapan? Aku pikir udah karena sudah bangun sejak tadi," kata Lily menatap Lucas.
"Belum, aku menunggu istriku tapi dia malah makan duluan," kata Lucas.
"Mmmmh, tapi kan Lily udah izin makan sama Kak Lucas," kata Lily yang benar-benar tidak tahu Lucas belum sarapan.
"Ya sudah, ayo makan lagi," kata Lucas mencubit pipi Lily yang doyan makan itu.
"Isikan dulu piringku," ucap Lucas yang untuk kesekian kalinya menolak dilayani Alena dan meminta Lily yang melakukannya.
Lily mengisi piring Lucas dengan makanan lalu kembali lanjut makan dan mencicipi semua makanan di atas meja.
"Makanlah dengan tenang, kamu boleh menghabiskan semuanya," senyum lebar Lucas mengelus kepala Lily yang sangat doyan makan, setiap mereka makan Lucas selalu gemas melihatnya.
"Beneran?" tanya Lily saking senang sampai matanya berbinar.
"Ahhhk, ini benar-benar enak," kata Lily bersandar di sandaran kursi sambil mengelus perutnya yang sudah buncit karena kekenyangan.
Lucas menatap dengan geli pada Lily yang benar-benar hampir menghabiskan semua hidangan.
"Ayam gorengnya masih tinggal sepotong, habiskan lah Kak," kata Lily melirik sepotong ayam dalam piring.
Lucas yang memang masih makan mengambil sepotong ayam yang tertinggal itu dan memotongnya di dalam piring menjadi beberapa bagian.
"Enak," kata Lily, sekenyang apa pun masih membuka mulut saat disuapi hingga Lucas geleng kepala dibuatnya.
......
Sekitar jam 1 siang Lily mengetuk pintu ruang kerja Lucas, sejak pagi Lucas sama sekali tidak keluar dari ruang kerjanya.
"Apa?" tanya Lucas spontan tertawa begitu melihat Lily, gadis itu ke mana pun pasti ada makanan di tangannya.
"Nggak ada, cuma lihatin Kak Lucas, karena tidak keluar sejak pagi," kata Lily menggigit apel yang dipegangnya.
"Aku bekerja," kata Lucas kembali mengetik di laptopnya.
"Kak boleh Lily bertanya?" tanya Lily dengan serius.
"Nanti ya, untuk 20 menit ke depan aku harus fokus, jika ingin bertanya tunggu dulu," ucap Lucas yang sedang meng-upload data perusahaan.
"Baiklah," kata Lily duduk di sofa dalam ruangan Lucas dan mengeluarkan ponsel dari saku roknya.
Lily berbaring telentang menikmati apelnya sambil main ponsel.
Tok
Tok
"Masuk," ucap Lucas.
"Tuan ini kopinya," kata Alena dengan sopan menaruh secangkir kopi di meja Lucas, walaupun sempat kaget karena ada Lily yang berbaring di atas sofa dalam ruangan Lucas.
Sejak dulunya jika Lucas sedang bekerja dia tidak suka ada orang lain dalam ruangannya karena itu merusak konsentrasi.
Lily menatap Alena sekilas lalu kembali menggigit apel di tangannya dengan berbagai pikiran di otaknya.
......
Lucas yang sudah selesai meng-input data menghampiri Lily yang berbaring di sofa sedang melamun tapi masih mengunyah apel.
"Lily, kamu ingin bertanya apa?" ucap Lucas membawa secangkir kopinya dan duduk di dekat kepala Lily.
Lily langsung duduk dan meletakkan ponselnya di atas meja lalu menatap Lucas.
"Alena itu Kak Lucas beli di pelelangan juga? Kenapa dia jadi pelayan? Sudah berapa lama? Kenapa orang tuanya tega menjualnya? Kenapa sampai dijual?" pertanyaan beruntun Lily yang benar-benar penasaran.
Kapasitas otak Lily tidak cukup untuk memikirkan alasan logis, bagaimana Alena bisa dijual.
Lucas meminum beberapa teguk kopi lalu bersandar ke sandaran sofa tanpa menjawab pertanyaan Lily.
"Jawab Kak," rengek Lily yang benar-benar penasaran.
"Jadi kamu ke ruanganku dan menunggu lama hanya untuk menanyakan pertanyaan itu?" ucap Lucas menatap sebelah tangan Lily yang kini memegang tangannya.
"Tidak Kak, hanya saja ketika Alena lewat Lily kepikiran," ucap Lily menggigit apelnya lagi.
"Lily, kamu makan apel tidak dikupas?" tanya Lucas menghela napas panjang ketika mendapati Lily makan apel dalam bentuk utuh bahkan sama sekali tidak dipotong.
"Jangan bilang tidak dicuci, aku akan menghukummu?" kata Lucas yang tidak kebayang betapa banyak pestisida yang menempel di kulit apel.
"Lap pakai baju," pengakuan Lily.
"Pelayan!" teriak Lucas.
"Iya Tuan," kata beberapa pelayan termasuk Alena menghadap Lucas sambil menunduk.
"Kenapa kalian biarkan Lily..."
"Kak, mereka nggak salah apa-apa, Lily sendiri yang ambil apel di kulkas, Lily suka makan apel begini bukan dipotong," pengakuan Lily karena Lucas malah memarahi pelayan.
"Lily diam," ucap Lucas.
"Tapi mereka nggak salah Kak," kata Lily yang tidak ingin ada yang kena hukum karenanya, rumornya Lucas sangat kejam dalam menghukum seseorang.
"Apa kalian mencuci apel sebelum dimasukkan ke dalam kulkas?" tanya singkat Lucas yang diangguki pelayan.
"Keluar," ucap Lucas yang hanya cemas Lily keracunan jika apel itu belum dicuci.
"Sudah jangan memakannya lagi, aku akan menyuruh pelayan memotongnya untukmu," ucap Lucas mengambil sisa apel di tangan Lily lalu membuangnya.
Sedari awal Lucas melihat Lily memegang dan makan apel, tapi Lucas tidak expect kalau apelnya tidak dikupas karena tadi sudah habis sebelah jadi Lucas hanya melihat bagian warna putihnya yang dipegang Lily.
"Mmmmh," Lily menatap dengan iba seperempat apel yang masih tersisa tapi sudah dibuang Lucas ke tong sampah.
"Kak katakan, apa benar kau membeli Alena?" tanya Lily.