NovelToon NovelToon
Saving My Ex-Husband

Saving My Ex-Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mafia / Penyelamat
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hyacinthus Rainwood

IG: @hyacinthschia

Brooklyn dan Liam menikah karena perjodohan demi menyelamatkan keluarga Liam, meski hati pria itu tetap milik Helena. Selama beberapa tahun Brooklyn setia menjaga rumah tangga dengan cinta sendirian, hingga kembalinya Helena memicu perceraian di hari ulang tahunnya.

Brooklyn menghilang dan berubah menjadi agen rahasia, sementara Liam baru menyadari ketulusan Brooklyn serta kebohongan Helena setelah semuanya terlambat. Saat Liam diburu mafia, ia tak menyangka bahwa sosok yang ditugaskan melindunginya adalah mantan istrinya sendiri. Kini, di tengah bahaya yang mengintai, keduanya terpaksa berhadapan kembali dengan masa lalu yang belum selesai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyacinthus Rainwood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Angan-Angan yang Tak Kunjung Nyata

Dua hari telah berlalu sejak insiden penamparan yang begitu memalukan itu, dan Liam menghabiskan hampir seluruh waktunya berusaha memperbaiki hubungan bisnis dengan Gerald Ashford yang sempat terguncang akibat kelakuan Helena. Percakapan telepon panjang, permintaan maaf resmi secara tertulis, hingga pertemuan langsung dengan Gerald di kantornya sendiri telah Liam lakukan demi memastikan kerja sama penting tersebut tidak sampai batal begitu saja.

Meski Gerald akhirnya bersedia melanjutkan kerja sama tersebut setelah mendengar penjelasan panjang lebar dan jaminan pribadi dari Liam bahwa kejadian semacam itu tidak akan pernah terulang lagi, hubungan profesional mereka jelas mengalami sedikit keretakan yang membutuhkan waktu untuk sepenuhnya pulih. Claire sendiri, meski masih tetap bekerja sebagai sekretaris pribadi Liam sesuai kesepakatan kerja sama dengan ayahnya, kini bersikap jauh lebih formal dan menjaga jarak, kehilangan keramahan yang dulu selalu ia tunjukkan sebelum insiden penamparan tersebut.

Sore itu, ketika Liam baru saja pulang dari pertemuan penting lainnya dengan tim legal untuk memastikan seluruh dokumen kerja sama dengan Ashford Capital Group tetap berjalan sesuai rencana, ia berharap bisa segera beristirahat setelah hari yang begitu melelahkan dan penuh tekanan.

Namun begitu ia melangkah masuk ke penthouse, Helena sudah menyambutnya dengan senyum lebar, mengenakan gaun malam yang begitu elegan, rambutnya ditata rapi seolah bersiap untuk sebuah acara istimewa.

"Liam, kau sudah pulang!" sambut Helena riang, melingkarkan lengannya di sekitar leher Liam dengan penuh kehangatan. "Aku sudah memesan meja di restoran favorit kita malam ini. Mari kita makan malam bersama dan melupakan semua kejadian tidak menyenangkan beberapa hari terakhir."

Liam menghela napas panjang, melepaskan diri dari pelukan Helena dengan lembut namun tegas. "Helena, aku tidak bisa malam ini. Aku masih harus menyiapkan presentasi untuk pertemuan lanjutan dengan Gerald Ashford besok pagi. Hubungan kerja sama kami masih perlu banyak perbaikan setelah kejadian kemarin."

Senyum Helena perlahan memudar mendengar penolakan itu, digantikan oleh ekspresi kecewa yang mulai bercampur dengan sedikit kekesalan. "Kau selalu saja sibuk dengan urusan bisnis, Liam. Apakah pekerjaan itu lebih penting dibandingkan meluangkan waktu bersamaku?"

"Ini bukan tentang mana yang lebih penting, Helena," jelas Liam, mencoba menjaga kesabarannya meski rasa lelah sudah begitu menguasai tubuh dan pikirannya. "Kesepakatan bisnis dengan Ashford Capital Group ini sangat krusial bagi masa depan perusahaan. Dan terus terang, aku masih harus memastikan kepercayaan mereka sepenuhnya pulih setelah insiden yang kau sebabkan kemarin."

Kata-kata itu membuat Helena tersinggung, wajahnya berubah menjadi kesal mendengar Liam kembali mengungkit kesalahannya. "Jadi sekarang semua ini salahku? Kau sudah berhasil menyelesaikan masalah dengan Gerald Ashford, bukan? Kenapa kau masih terus mempermasalahkannya?"

"Karena masalah semacam ini tidak selesai hanya dengan satu kali permintaan maaf, Helena," jawab Liam, suaranya mulai terdengar lelah dengan perdebatan yang terus berulang ini. "Kepercayaan bisnis membutuhkan waktu untuk dibangun kembali. Aku harus terus menunjukkan komitmen dan profesionalisme agar kerja sama ini benar-benar aman."

Helena berdiri diam sejenak, menatap Liam dengan tatapan yang sulit ditebak sebelum akhirnya melangkah mendekat dengan ekspresi yang berubah menjadi lebih memohon. "Liam, aku sudah menyiapkan malam ini dengan begitu spesial. Aku hanya ingin kita menghabiskan waktu berkualitas bersama, seperti pasangan yang saling mencintai seharusnya."

"Aku menghargai usahamu, Helena," ucap Liam, mencoba melunakkan nada bicaranya meski tetap teguh dengan keputusannya. "Tapi malam ini benar-benar bukan waktu yang tepat. Mungkin kita bisa menjadwalkan makan malam ini di lain waktu, setelah semua urusan bisnis ini benar-benar selesai."

"Di lain waktu?" Helena tertawa pahit, kekesalannya mulai tidak bisa ia sembunyikan lagi. "Kau selalu mengatakan hal yang sama setiap kali aku mencoba mengajakmu menghabiskan waktu bersama, Liam! Selalu ada alasan bisnis, selalu ada pertemuan penting yang lebih diutamakan dibandingkan aku!"

"Helena, ini bukan masalah prioritas semata—"

"Kalau begitu apa?!" potong Helena, suaranya mulai meninggi dipenuhi frustrasi yang telah lama terpendam. "Kau tahu apa yang kupikirkan sekarang, Liam? Aku mulai berpikir bahwa kau sebenarnya tidak benar-benar mencintaiku seperti yang selalu kau katakan!"

Tuduhan itu membuat Liam terdiam, sedikit terkejut dengan kesimpulan yang begitu tiba-tiba dilontarkan Helena. "Kenapa kau berpikir seperti itu? Aku sudah mengorbankan segalanya untuk bisa bersamamu, Helena. Pernikahanku, reputasiku, bahkan hampir kehilangan kerja sama bisnis penting demi melindungimu dari konsekuensi tindakanmu sendiri!"

"Tapi kau tidak pernah benar-benar meluangkan waktu untukku!" balas Helena, air mata mulai menggenang di matanya, meski kali ini terlihat lebih tulus dibandingkan air mata yang biasa ia tunjukkan sebagai taktik. "Kau selalu sibuk dengan pekerjaan, selalu mengutamakan bisnis dibandingkan hubungan kita. Jika kau benar-benar mencintaiku, kau seharusnya bisa menyisihkan waktu barang satu malam saja untuk kita berdua!"

Liam menghela napas panjang, kepalanya terasa berdenyut hebat menghadapi tuduhan yang begitu rumit untuk ia jawab dengan tepat. "Helena, mencintai seseorang tidak selalu berarti mengabaikan tanggung jawab lain dalam hidup. Aku memiliki kewajiban terhadap perusahaan, terhadap karyawan yang bergantung pada kesuksesan bisnis ini. Aku tidak bisa hanya berfokus pada hubungan kita tanpa memikirkan hal-hal lain yang sama pentingnya."

"Jadi bisnis lebih penting dibandingkan aku," simpul Helena dengan nada kecewa yang begitu dalam, lebih merupakan pernyataan dibandingkan pertanyaan.

"Bukan begitu maksudku," bantah Liam, meski ia mulai kesulitan menemukan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan perasaannya yang semakin hari semakin rumit dan membingungkan bahkan bagi dirinya sendiri.

Helena menatap Liam untuk waktu yang cukup lama, mencari jawaban yang lebih meyakinkan di balik mata pria yang telah lama ia cintai itu. Namun yang ia temukan hanyalah keletihan dan kebingungan yang begitu jelas terlihat, jauh dari keyakinan penuh cinta yang biasa ia harapkan.

"Baiklah," ucap Helena akhirnya, suaranya terdengar pasrah, melepaskan gaun malamnya yang begitu ia persiapkan dengan penuh harap untuk malam yang seharusnya istimewa itu. "Kalau begitu selesaikan saja urusan bisnismu, Liam. Aku akan makan malam sendirian."

Ia berbalik dan berjalan menjauh menuju kamar tidur mereka, meninggalkan Liam yang berdiri sendirian di ruang tamu penthouse yang kini terasa begitu sunyi dan hampa. Liam duduk di sofa, kepalanya bersandar pada kedua tangannya yang menopang dahinya yang terasa begitu berat oleh berbagai pikiran dan tekanan yang terus bertumpuk sejak Helena kembali ke dalam hidupnya.

Ia teringat pada bayangan yang selama ini selalu ia idamkan ketika membayangkan kembalinya Helena—sebuah kehidupan yang penuh kebahagiaan, ketenangan, dan cinta yang telah lama tertunda. Namun kenyataan yang ia hadapi sekarang begitu jauh berbeda dari angan-angan tersebut. Setiap hari dipenuhi pertengkaran, tuntutan yang terus bertambah, dan kekacauan yang tidak pernah ia bayangkan akan menyertai hubungan yang selama ini ia yakini sebagai cinta sejatinya.

"Ketenangan yang kubayangkan," gumamnya pelan pada dirinya sendiri, menatap langit-langit ruang tamu dengan pikiran yang begitu kacau, "ternyata hanya sebatas angan-angan yang jauh dari kenyataan."

Malam itu, Liam duduk sendirian cukup lama di ruang tamu yang sunyi, tidak segera menyusul Helena ke kamar tidur mereka, pikirannya dipenuhi kebingungan yang semakin sulit ia pahami sendiri.

Sebuah pertanyaan yang begitu jujur dan menakutkan mulai terbentuk dengan jelas dalam benaknya—apakah ia benar-benar mencintai Helena seperti yang selama ini ia yakini, ataukah ia hanya terjebak dalam romantisasi masa lalu yang telah lama kehilangan relevansinya dengan kenyataan yang sesungguhnya jauh lebih kompleks dan melelahkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!