Rara, seorang gadis yang gemar membaca kisah pria tampan, tiba-tiba terbangun di dalam novel yang baru saja dibacanya. Namun, bukan sebagai pemeran utama yang baik hati, ia justru menjadi Zelara Sabiru, istri arogan, sombong, dan kejam dari seorang bos mafia bernama Bashkar Deluca. Dalam cerita asli, Zelara selalu membenci Bashkar dan ikut keluarganya menuduh sang suami sebagai dalang di balik kematian kedua orang tuanya. Bahkan, Zelara berakhir dengan nasib tragis. Namun Rara mengetahui satu rahasia yang tidak diketahui siapa pun Bashkar tidak pernah membunuh orang tuanya. Semua tuduhan itu hanyalah fitnah. Berbekal pengetahuan tentang alur cerita, Rara memutuskan mengubah takdir Zelara. Ia meninggalkan sifat buruk sang istri, memilih untuk bertaubat, dan mulai membela Bashkar yang selama ini hidup dalam kesepian serta penuh kecurigaan. Tetapi semakin Rara berusaha mengubah akhir cerita, semakin banyak rahasia keluarga Deluca yang terbongkar. Dan yang paling membuatnya bingung… Mengapa sang mafia dingin yang seharusnya membencinya justru mulai melindunginya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Langkah kaki Zela terseret lesu di atas trotoar yang memutih oleh tumpukan salju. Hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang sama sekali tak sebanding dengan rasa beku yang menjalar meremukkan dadanya. Ia sengaja menolak saat sopir pribadi menawarkan tumpangan, memilih melangkah sendirian membelah kegelapan malam yang sepi di sepanjang jalanan kota yang lengang.
Uap napasnya membumbung tipis di udara malam. Zela merapatkan mantel bulunya, menatap kosong pada lampu-lampu jalan yang memancarkan pendar kuning temaram.
"Ternyata... dia emang udah punya orang lain yang jadi rumahnya," bisik Zela pada keheningan malam, menyunggingkan senyum pahit yang diiringi tawa kecil yang terdengar sangat sendu. "Gue aja yang kepedean, merasa bisa jadi pahlawan yang mencairkan es di hatinya."
Setetes air mata yang hangat akhirnya lolos melintasi pipinya yang pucat, membeku seketika tertiup angin malam.
"Peran gue dari awal emang gak pernah dibutuhkan di sini..." sambung Zela seraya mengusap kasar pipinya. "Kue cokelat, hiasan kamar, ciuman di pipi tadi pagi... semuanya cuma lelucon konyol di mata dia."
Sreeek!
Suara gesekan ban mobil yang mengeram tajam memecah kesunyian malam secara mendadak!
Sebuah mobil van hitam berukuran besar tanpa plat nomor berhenti mendadak tepat di samping trotoar, menghalangi jalan Zela. Sebelum Zela sempat menyadari apa yang terjadi atau melangkah mundur, pintu geser mobil itu terdorong terbuka dengan kasar!
Dua orang pria berbadan tinggi besar dengan pakaian serba hitam dan topeng kain melompat keluar!
"Siapa kalian—?!" jerit Zela panik, matanya membelalak lebar.
Belum sempat Zela berteriak lebih keras atau berlari menyelamatkan diri, salah satu pria itu dengan cekatan mencengkeram kedua tangan Zela dari belakang. Sementara pria lainnya melingkarkan lengan kokohnya di leher Zela, menyergapnya dari depan dan menyumbat hidung serta mulut Zela menggunakan kain tebal yang sudah dibasahi cairan kimia berdosis tinggi.
"Mmphhh! Mmmmph!" Zela memberontak membabi buta, melayangkan tendangan acak dengan sepatu heels-nya dan mencoba memutar tubuhnya.
Namun, cengkeraman pria-pria itu terlalu kuat bagai jepitan besi. Bau menyengat yang tajam dan menusuk dari cairan kimia itu langsung memenuhi saluran pernapasan Zela. Dalam hitungan detik, pandangannya mulai kabur dan berbayang. Kekuatan di kedua kakinya melorot drastis, dadanya terasa berat, dan kesadarannya perlahan-lahan tersedot masuk ke dalam kegelapan yang pekat.
"Bawa dia masuk! Cepat!" perintah salah satu pria dengan suara berat dan terburu-buru.
Tubuh lemas Zela yang sudah pingsan sepenuhnya diangkat dan dilemparkan ke dalam kabin belakang van hitam tersebut. Pintu geser ditutup rapat dengan suara dentuman keras dan mobil van itu langsung melaju kencang meninggalkan trotoar sepi, menghilang menembus tirai salju malam tanpa menyisakan jejak.
Kesadaran Zela perlahan-lahan kembali. Kepala bagian belakangnya terasa berat dan menderita denyutan nyeri yang amat hebat, sisa dari efek obat bius berdosis tinggi. Indra penciumannya langsung disergap oleh bau debu tebal, kayu lapuk, dan karat yang menyengat di udara.
Ketika mata bulatnya akhirnya bisa terbuka sepenuhnya, pandangannya disambut oleh kegelapan remang-remang. Zela menyadari dirinya berada di dalam sebuah gudang tua yang terisolasi. Suara tetesan air dan embusan angin dingin yang menembus celah-celah dinding kayu lapuk makin mempertegas kesendiriannya.
Zela mencoba menggerakkan lengannya, namun kedua tangannya telah terikat erat di balik sandaran kursi kayu yang didudukinya. Tali tambang kasar melilit ketat pergelangan tangan dan badannya, membuat kulit mulusnya terasa perih dan lecet.
"Sudah bangun, Nyonya Deluca?"
Sebuah suara serak dan berat memecah keheningan. Dari balik bayang-bayang pilar beton yang retak, seorang pria paruh baya melangkah keluar perlahan. Pria itu mengenakan jas hitam lusuh, wajahnya dipenuhi garis-garis kerutan keras dan bekas luka sayatan tua di pipi kirinya. Manik matanya menatap Zela dengan kilatan dendam yang sudah lama mengendap.
"Aku sudah sangat lama menunggu momen ini..." ucap pria itu seraya terkekeh pelan, tawa kering yang terdengar sangat mengerikan di dalam gudang kosong tersebut.
Zela mencoba menetralkan napasnya yang memburu, menatap pria asing itu dengan raut bingung bercampur panik. "S-siapa kamu?! Kenapa kamu culik aku?!"
Pria paruh baya itu melangkah mendekat, berhenti tepat dua langkah di depan Zela. Ia menunduk, menatap wajah pucat Zela dengan sorot mata penuh belas kasihan yang dibuat-buat.
"Kau benar-benar istri yang sangat malang, ya?" ejeknya seraya menggeleng-gelengkan kepala. "Lihat dirimu. Sudah berapa jam kau menghilang? Dan sampai detik ini, apakah suami agungmu si iblis Bashkar Deluca itu datang mencarimu? Tidak, bukan?"
Zela menelan ludah yang terasa pahit di tenggorokannya. Kata-kata pria itu seolah menusuk kembali luka yang baru saja diukir Bashkar di kantor tadi malam. Namun Zela berusaha keras mempertahankan raut wajahnya. "Apa yang kamu bicarakan? Apa mau kamu?!"
Pria itu tersenyum lebar, menyeringai hingga memperlihatkan deretan giginya yang kotor.
"Kuberitahu satu hal yang sangat menarik, Nyonya," bisik pria itu dengan nada intimidasi yang pekat. "Kau tahu kenapa suami dinginmu itu sama sekali tidak membunuhmu sejak awal pernikahan kalian? Walaupun kau terus mengganggunya?"
Zela mengerutkan keningnya, dadanya berdesir cemas. "Maksudmu apa...?"
"Karena kau tak lebih dari sekadar alat transaksi baginya!" seru pria itu seraya meledakkan tawa sinisnya.
"Alat transaksi?!" tanya Zela, otaknya memutar keras mencoba mencerna namun tetap tidak paham. "Apa yang kamu katakan?!"
Pria paruh baya itu memiringkan kepalanya, menikmati kebingungan di raut wajah Zela.
"Pernikahanmu, keberadaanmu di mansion itu... semuanya hanyalah bidak papan catur milik Bashkar," jelas pria itu dengan penekanan di setiap kata. "Demi menguasai seluruh wilayah sektor barat dan jalur penyelundupan utama, Bashkar menyetujui sebuah kesepakatan gelap. Dia setuju untuk menyerahkanmu pada seseorang."
Seringai pria itu makin melebar, makin mengerikan dan penuh kebusukan. "Kau tahu untuk apa kau akan diserahkan? Tentu saja untuk mengambil tulang rusukmu organ tubuhmu yang kebetulan sangat cocok dan langka untuk dicangkokkan pada putri kesayangannya yang sedang sekarat! Dan kau tahu siapa orang yang bertransaksi dengan suamimu itu?"
Pria itu memajukan wajahnya hingga hanya berjarak beberapa sentimeter dari Zela. "Kakakku... George."
Deg.
Dunia Zela seolah mendadak berhenti berputar.
Kesadarannya seketika nge-freeze total. Otaknya mendadak lumpuh dan kaku, tak sanggup memproses tumpukan kenyataan mengerikan yang baru saja dihantamkan ke wajahnya. Tulang rusuk? Transaksi organ? Bashkar menyetujui hal itu demi kekuasaan wilayah? Kalimat-kalimat itu membentur dinding kepalanya bagaikan dentuman meriam yang meremukkan seluruh logika dan harapan kecil yang pernah ia simpan.
Melihat Zela yang tertegun kaku bagaikan patung dengan mata membelalak kosong, pria paruh baya itu melangkah mundur dan terkekeh puas.
"Tapi tenang saja, Nyonya manis..." lanjut pria itu dengan kilatan dengki yang makin pekat di matanya. "Aku tidak akan pernah membiarkan kakakku, George, menang dan mendapatkan apa yang dia inginkan! Aku menculikmu di sini hanya untuk satu alasan: membuat kakakku itu kehilangan satu-satunya harapan untuk menyelamatkan putri kesayangannya! Kau akan mati di tanganku sebelum suamimu atau George sempat memanfaatkannya!"