NovelToon NovelToon
OTAK SUPER SANG DOKTER IDIOT

OTAK SUPER SANG DOKTER IDIOT

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Cherlly

Di balik tatapan kosong dan cemoohan sebagai "dokter idiot" yang selalu diremehkan di rumah sakit elit, Arka Prasetya sebenarnya menyimpan kejeniusan otak super serta sertifikasi bedah internasional yang tidak diketahui siapa pun. Ketika hidupnya terus diinjak-injak oleh para dokter senior yang arogan dan terjebak dalam perjodohan tak terduga dengan Clara, seorang pewaris konglomerat yang angkuh, Arka perlahan mulai menunjukkan taringnya lewat operasi-operasi mustahil yang akan memberikan tamparan telak bagi siapa saja yang berani merendahkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13

Suasana di ruang Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Medika Sentosa malam itu tampak sangat sibuk dan kacau.

Beberapa perawat berlari kesana-kemari mendorong tempat tidur pasien yang baru saja datang akibat kecelakaan beruntun di jalan raya.

Di dalam ruang kerja dokter jaga IGD yang bersekat kaca transparan, Dr. Dimas dan Dr. Budi sedang berdiri berdampingan sambil merokok secara sembunyi-sembunyi.

Wajah Dr. Dimas tampak dipenuhi oleh amarah yang belum sepenuhnya reda sejak kejadian di lobi sore tadi.

"Aku benar-benar tidak bisa tidur tenang kalau memikirkan si bodoh Arka itu," ucap Dr. Dimas dengan nada suara mendesis penuh kebencian.

Dr. Budi menghembuskan asap rokoknya ke udara sambil mendengus sinis.

"Makanya sudah kubilang dari dulu, singkirkan saja anak itu secara permanen dari rumah sakit ini," balas Dr. Budi menyetujui.

"Kalau dibiarkan terus, lama-lama dia bisa menjadi duri dalam daging bagi posisi kita berdua."

Dr. Dimas menyeringai licik, matanya menatap tajam ke arah koridor IGD melalui celah jendela kaca.

"Tenang saja, aku sudah menyiapkan sebuah jebakan mematikan untuk malam ini," bisik Dr. Dimas dengan suara penuh rencana jahat.

"Jebakan seperti apa yang kamu maksud?" tanya Dr. Budi penasaran.

"Sebentar lagi, ambulans dari wilayah pinggiran kota akan mengirim seorang pasien kritis dengan pendarahan hebat di kepala," jawab Dr. Dimas menjelaskan.

"Kita akan sengaja meninggalkan pasien itu tanpa penanganan medis selama beberapa menit di ruang observasi belakang."

Dr. Budi mengerutkan keningnya, masih belum sepenuhnya mengerti arah rencana rekan sesama dokter korupnya itu.

"Lalu apa hubungannya dengan si idiot Arka?" tanya Dr. Budi bingung.

"Kita akan menyuruh Arka masuk ke ruang observasi untuk membersihkan lantai yang dipenuhi ceceran darah pasien itu," lanjut Dr. Dimas tersenyum lebar.

"Setelah itu, kita panggil seluruh staf senior dan direktur ke sana dengan alasan Arka nekat melakukan malpraktik mencoba menyelamatkan pasien tanpa izin."

Dr. Budi langsung tergelak pelan mendengar rencana licik yang sangat keji tersebut.

"Ide yang luar biasa cerdik!" puji Dr. Budi bertepuk tangan kecil.

"Dengan begitu, si bodoh itu bukan cuma dipecat dengan tidak hormat, tapi dia juga bisa dipenjara karena melakukan tindakan medis ilegal."

"Tepat sekali," ujar Dr. Dimas penuh rasa percaya diri.

"Mari kita lihat bagaimana si tukang pel itu bisa lolos dari lubang jarum kali ini."

Tanpa mereka berdua sadari, di balik pintu ruang kerja yang tidak tertutup rapat, seseorang sedang mendengarkan seluruh percakapan busuk itu.

Orang itu adalah Siska, perawat yang baru saja keluar dari ruang obat untuk mengambil cairan infus tambahan.

Siska menutup mulutnya dengan kedua tangan saking terkejutnya mendengar rencana jahat Dr. Dimas dan Dr. Budi.

"Ya Tuhan... mereka benar-benar dokter biadab yang tidak punya hati nurani," gumam Siska dengan dada bergemuruh menahan amarah.

Siska tahu betul ia harus segera memperingatkan Arka sebelum rencana busuk itu benar-benar dijalankan.

Ia melangkah cepat menyusuri koridor IGD yang padat untuk mencari keberadaan Arka di sekitar area rumah sakit.

Tidak jauh dari tempat Siska berlari, Arka sedang mendorong troli pembersihnya dengan langkah santai di dekat pintu masuk IGD.

[Sistem Mendeteksi Percakapan Rencana Sabotase Medis Tingkat Tinggi]

[Peluang Jebakan Terdeteksi: 100 Persen]

[Peringatan: Target Pasien Kritis Akan Segera Tiba Dalam Waktu Tiga Menit]

Suara notifikasi bernada datar berderik pelan di dalam kesadaran kepala Arka.

Arka menghentikan dorongan trolinya sebentar lalu tersenyum tipis sangat misterius.

"Rencana murahan dari dokter-dokter yang tidak kompeten," batin Arka dingin.

Tiba-tiba, suara sirine ambulans luar berderu kencang memasuki pelataran pintu darurat IGD.

Wiung... wiung... wiung...

Pintu belakang ambulans terbuka lebar dengan tergesa-gesa.

Dua orang paramedis menurunkan seorang pasien pria paruh baya yang mengalami luka parah di bagian kepala akibat benturan keras.

"Cepat! Pasien kehilangan banyak darah! Tekanan darahnya drop drastis!" teriak paramedis kepada petugas IGD yang bertugas.

Dr. Dimas dan Dr. Budi langsung keluar dari ruang kerja mereka dengan mengenakan jas putih seolah-olah bersiap siaga.

Namun, alih-alih langsung memberikan tindakan medis darurat, Dr. Dimas justru memberikan instruksi palsu kepada perawat yang ada di dekatnya.

"Bawa pasien itu ke ruang observasi nomor empat di ujung lorong belakang!" perintah Dr. Dimas dengan suara keras.

"Tapi Dok, kondisi pasien sangat kritis! Kenapa tidak langsung ditangani di ruang bedah utama?" protes seorang perawat IGD yang kebingungan.

"Jangan membantah perintah atasan! Ruang bedah utama sedang dibersihkan!" bentak Dr. Dimas dengan nada galak.

Perawat itu terdiam ketakutan lalu mendorong brankar pasien menuju arah ruang observasi belakang sesuai perintah.

Dr. Dimas melirik sekilas ke arah Arka yang berdiri tidak jauh dari tempat troli pembersih berada.

Ia memberikan sebuah isyarat mata kepada salah satu staf junior untuk memanggil Arka.

"Hei, kamu petugas kebersihan! Cepat bawa peralatan pelmu ke ruang observasi nomor empat sekarang juga!" perintah staf junior itu dengan nada tinggi kepada Arka.

"Ada genangan darah segar di lantai ruangan itu!" lanjutnya memberikan alasan palsu.

Arka mengerjap-nerjap lambat, memasang ekspresi wajah bodoh dan linglung andalannya.

"Baik... saya segera ke sana bawa ember," jawab Arka polos.

Dr. Dimas yang mendengarkan jawaban Arka dari jarak jauh tersenyum lebar penuh kemenangan di balik punggungnya.

"Masuklah ke perangkap itu, Arka," batin Dr. Dimas tertawa puas.

Arka mendorong trolinya berjalan masuk ke dalam ruang observasi nomor empat yang remang-remang.

Di dalam ruangan tersebut, pasien paruh baya itu tergeletak di atas brankar dengan napas yang sudah hampir putus total.

Tidak ada satu pun dokter atau perawat yang berjaga di dalam ruangan itu karena sengaja dikosongkan oleh Dr. Dimas.

Srekk... srekk...

Arka meletakkan ember air pelnya di lantai sudut ruangan.

Ia melangkah pelan mendekati brankar tempat pasien kritis tersebut berbaring tidak berdaya.

Di saat yang bersamaan, Siska berlari tergesa-gesa menerobos masuk ke dalam ruang observasi nomor empat.

"Arka! Jangan disentuh pasien itu!" seru Siska dengan napas terengah-engah panik.

Arka menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Siska dengan tenang.

"Ada apa, Siska? Kenapa kamu panik begitu?" tanya Arka santai.

Siska langsung menghampiri Arka lalu mencengkeram lengan baju pemuda itu dengan erat.

"Kamu terjebak, Arka! Dr. Dimas sengaja menjebakmu!" lapor Siska dengan suara bergetar ketakutan.

"Mereka sengaja meninggalkan pasien ini di sini agar kamu difitnah melakukan malpraktik ilegal!"

Arka menatap Siska yang begitu mengkhawatirkan keselamatannya dengan tatapan mata yang melembut seketika.

"Terima kasih sudah mengingatkanku, Siska," ucap Arka dengan nada suara yang sangat tenang dan berwibawa.

Siska tertegun sejenak mendengarkan perubahan nada suara Arka yang tidak lagi terdengar bodoh.

"Tapi... tapi kita harus segera keluar dari sini sebelum Dr. Dimas datang membawa saksi!" ajak Siska panik sambil menarik tangan Arka.

Arka menggelengkan kepalanya perlahan menolak ajakan tersebut.

"Keluar? Lalu bagaimana dengan nyawa pasien di atas brankar ini?" tanya Arka balik dengan tatapan tajam.

Siska menoleh ke arah pasien tua yang napasnya sudah mulai mendengkur berat di ambang kematian.

"Tapi... kamu kan bukan dokter resmi di sini... kalau kamu menanganinya, mereka pasti akan memecat dan memenjarakanmu!" bela Siska khawatir setengah mati.

Arka tersenyum tipis sambil melepaskan genggaman tangan Siska di lengannya dengan lembut.

"Biarkan mereka datang," jawab Arka dengan suara dingin yang memancarkan keyakinan mutlak.

"Malam ini, di ruangan kecil ini, kedok kebusukan mereka akan kubongkar di depan mata kepala mereka sendiri."

Sebelum Siska sempat mengucapkan bantahan lagi, pintu ruang observasi terbuka dengan dibanting keras dari luar.

Bruk!

Dr. Dimas dan Dr. Budi melangkah masuk ke dalam ruangan didampingi oleh direktur rumah sakit dan beberapa staf keamanan senior.

Wajah Dr. Dimas tampak berseri-seri penuh kemenangan palsu begitu melihat Arka berdiri tepat di samping brankar pasien.

"Nah, semuanya lihat sendiri kan?!" seru Dr. Dimas dengan suara melengking keras menuding ke arah Arka.

"Petugas kebersihan rendahan ini nekat melakukan tindakan medis ilegal terhadap pasien kritis!" lanjut Dr. Dimas pura-pura terkejut.

Direktur rumah sakit melotot marah melihat pemandangan tersebut.

"Arka! Apa yang sedang kamu lakukan di dekat pasien kritis itu?!" bentak direktur dengan suara menggelegar.

Siska melangkah maju untuk pasang badan melindungi Arka.

"Tunggu dulu, Pak Direktur! Ini semua adalah jebakan yang sengaja dibuat oleh Dr. Dimas!" bela Siska tegas.

"Diam kamu, Siska!" potong Dr. Dimas cepat sebelum Siska sempat menjelaskan lebih jauh.

"Jangan karena kamu dekat dengan pesuruh ini, lalu kamu berani menutup-nutupi pelanggaran beratnya!"

Dr. Budi ikut menimpali dengan nada suara menghakimi yang tidak kalah tajam.

"Pasien ini berada dalam kondisi sangat kritis, dan seorang petugas kebersihan bodoh berani menyentuhnya!" maki Dr. Budi.

"Ini adalah pelanggaran kode etik paling fatal sepanjang sejarah Rumah Sakit Medika Sentosa!"

Direktur rumah sakit mengepalkan tangannya kuat-kuat karena menahan amarah yang meluap-luap.

Ia menatap tajam ke arah Arka yang berdiri tanpa rasa takut sedikit pun di tempatnya.

"Arka, apa pembelaanmu atas tuduhan serius ini?" tanya direktur dengan suara dingin membekukan.

Arka perlahan-lahan mengangkat wajahnya, menatap lurus ke arah direktur dan Dr. Dimas secara bergantian.

Ia sama sekali tidak memasang ekspresi bodoh atau linglung lagi seperti biasanya.

Tatapan matanya sangat tajam, jernih, dan memancarkan aura dominasi mutlak yang membuat siapa pun yang melihatnya merasa ciut seketika.

"Pembelaan?" ucap Arka dengan nada suara datar namun sangat berwibawa.

"Buat apa aku membela diri di hadapan sekelompok dokter bodoh yang bahkan tidak bisa membedakan mana pasien hidup dan mana pasien yang sengaja kalian bunuh secara perlahan?"

Mendengar kalimat provokatif yang dilontarkan oleh Arka, seluruh isi ruangan seketika terperanjat kaget luar biasa.

Dr. Dimas mendelik lebar, tidak percaya seorang tukang pel rendahan berani berbicara sekasar itu kepadanya.

1
nadymaddy
hebat🥰
Shinta geol
karya yang bagus dan masuk ke dalam alur
Shinta geol
salut sama sikap thor yang tenang menguasai keadaan,saya kasih vote lah biar rame😍
Shinta geol
kasihan si arka selalu dekerjain para dokter lain nya😭
setiawan
motivasi hidup,saya kasih bintang 5
Jangkar pion
🥰😍🤩
Anton barly
saya suka karakter Thor🤗
gofur
karya yg menarik
yani
😶‍🌫️
fitri
motivasi untuk org normal biar tambah wawasan
fitri
hebat nya orang idiot tpi otak melebihi orang normal👍
Angel
sangat berkesan untuk orang nornal biar tambah semangat dalam bekerja💪
Angel
walaupun banyak yang hina tpi dia tidak runtuh sama sekali👍👍👍
Anton barly
orang idiot aja masih punya musuh,apalagi dia normal
Anton barly
orang pintar walaupun udiot masih aja punya musuh
fitri
sikap thor yang tenang menghadapi masalah👍
pricilia
jangan meremehkan orang yang memiliki kekurangan,belum tentu orang kekurangan itu di bawah batas kita,saya sadar orang normal belum tentu baik😒
clara
sangat bagus
clara
saya suka alur crita nya saya kasih vote 1 deh biar bisa lanjut baca nya😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!