Raya tidak pernah menyangka dua bulan meninggalkan rumah akan mengubah seluruh hidupnya.
Pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan bersama atasannya, Kansa Alvaro Alistair, membuat Raya harus meninggalkan suami dan adiknya di rumah. Ia sama sekali tidak curiga, hingga kepulangannya disambut pemandangan yang menghancurkan hati.
Rumahnya dipenuhi tamu. Pernikahan sedang berlangsung.
Rara, adik yang selama ini ia percaya, telah mengandung anak Zevan, suaminya.
Lebih menyakitkan, Zevan tidak merasa bersalah. Ia justru menyalahkan Raya karena belum siap memiliki anak, sementara keluarga mereka membenarkan pengkhianatan itu.
Kini, setiap hari Raya harus melihat suaminya bermesraan bersamaan adiknya sendiri di depan matanya.
Akankah Raya terus bertahan demi pernikahan yang telah mengkhianatinya, atau pergi dan membuat Zevan menyesal karena telah kehilangannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Raya: Pak CEO Ternyata Sudah Punya Anak.
“Ini... Ada nasi di sudut bibir mu.”
Raya berkedip. “Oh...”
“Pantas dari tadi rasanya seperti ada yang mengganjal.”
Kansa terkekeh kecil. Dan membuang nasi yang ia ambil dari sudut bibir Raya.
“Saya kira kamu memang sengaja menyimpan nasi di situ, agar saya membantumu membersihkannya.”
Raya menatapnya dengan mata sedikit membesar.
“Pak Kansa!”
Tawa Kansa semakin terdengar.
“Saya cuma bercanda.”
Raya menggeleng kecil sambil kembali menundukkan wajah.
“Saya jadi malu begini.”
Kansa tersenyum.
Namun, ketika pandangannya kembali tertuju pada Raya, senyum itu perlahan berubah menjadi tatapan yang lebih lembut.
‘Cantik.’
Kansa segera mengalihkan pandangan.
‘Tapi sayang, dia sudah menjadi milik orang lain.’
Tangannya kembali meraih sendok, tetapi pikirannya sempat berhenti pada satu kemungkinan yang selama ini tidak pernah ia berani bayangkan.
‘Seandainya dulu aku lebih cepat menyadari perasaanku dan lebih dahulu melamarnya... mungkin aku yang akan menjadi pria paling beruntung.’
Kansa tersentak oleh pikirannya sendiri. Ia segera menepis bayangan tersebut.
‘Sudahlah, Kansa. Jangan berpikir macam-macam.’
Kansa kembali menyantap makanannya, berusaha mengembalikan perhatiannya pada sarapan yang ada di hadapannya.
Namun, sudut bibirnya masih menyisakan senyum tipis.
. . .
Tidak terasa, makanan di hadapan mereka sudah hampir habis. Raya meletakkan sendok setelah menyelesaikan suapan terakhir, lalu mengambil gelas dan meneguk air putih untuk menghilangkan rasa pedas yang masih tertinggal di lidahnya.
Ia mengusap sudut bibir dengan tisu sebelum berdiri.
“Pak, saya tidak punya uang cash, saya transfer ke Bapak saja ya,” ujar Raya sambil meraih tasnya.
Kansa yang baru saja meletakkan gelas segera menggeleng.
“Tidak perlu.”
Raya menghentikan gerakannya. “Kenapa, Pak?”
“Lagian, saya yang mengajak kamu makan.” Kansa mengambil dompetnya, lalu berdiri. “Sebagai gantinya, bantu saya memilihkan barang yang disukai anak perempuan.”
Kening Raya langsung berkerut. “Untuk siapa, Pak?”
“Anak saya.”
Raya terdiam. ‘Anak? Sejak kapan Pak Kansa punya anak? Setiap aku di rumah beliau, aku nggak pernah melihat anak kecil di rumahnya.’
Kansa memasukkan kembali dompetnya ke saku.
“Dia masuk rumah sakit karena demam.”
Raya menatapnya beberapa saat.
‘Anak? Pak Kansa ternyata sudah menikah.’
Ada sedikit rasa malu yang menyelinap ketika ia mengingat sikapnya selama perjalanan tadi. Ia terlalu banyak memperhatikan atasannya, bahkan sempat memikirkan seperti apa perempuan yang akan menjadi pasangan Kansa.
Raya segera mengalihkan pandangan.
‘Seharusnya aku nggak boleh terlalu dekat dengan Pak Kansa. Aku harus menjaga batas.’
Ia mengangguk kecil. “Baik, Pak. Saya akan bantu memilihkan.”
“Terima kasih.”
Setelah membayar makanan, Kansa mengajak Raya meninggalkan warung. Mereka berjalan menuju mobil yang terparkir di halaman depan.
Sesampainya di sana, Kansa kembali membukakan pintu untuk Raya.
“Silakan.”
Raya segera masuk ke dalam mobil.
Beberapa saat kemudian, pintu mobil tertutup. Kansa memasang sabuk pengaman, begitu pula Raya. Mesin kendaraan dinyalakan, lalu mobil perlahan meninggalkan pelataran warung makan.
Raya kembali menatap ke luar jendela. Masih tak menyangka jika atasannya sudah menikah dan memiliki seorang anak.
‘Aku harus menjaga jarak dengan Pak Kansa. Biar aku nggak mengganggu rumah tangganya.”
. . .
Perjalanan kembali berlangsung dalam keheningan.
“Raya.”
Raya menoleh. “Iya, Pak?”
Kansa tetap mengarahkan pandangan ke jalan.
“Kira-kira, apa yang disukai anak perempuan?”
Raya terdiam sejenak. Ia kembali menatap ke luar jendela sambil memikirkan jawabannya.
“Menurut saya, yang disukai anak perempuan itu banyak, Pak,” jawabnya kemudian. “Bisa boneka, baju, aksesori, jepit rambut, gelang, atau mungkin barang-barang kecil yang lucu.”
Kansa mengangguk kecil. “Kalau begitu, bisa kamu pilihkan?”
Raya kembali terdiam. ‘Ternyata ini alasan Pak Kansa mengajakku.’
Ia menoleh sekilas kepada Kansa, lalu menggaruk ujung jarinya sendiri.
“Saya agak ragu dengan pilihan saya, Pak. Takutnya putri Bapak nggak suka.”
“Putri saya tidak pilih-pilih, Raya,” jawab Kansa santai.
Raya mengangguk kecil. “Kalau begitu, saya coba bantu pilihkan.”
“Terima kasih.”
Percakapan kembali terhenti.
.
.
Beberapa menit kemudian, laju mobil mulai melambat.
Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah toko.
“Ayo.”
Raya mengangguk.
Ia membuka pintu dan turun dari mobil. Kansa menyusul dari sisi lain, lalu mereka berjalan berdampingan menuju pintu masuk toko.
Baru beberapa langkah, Raya merasakan ponsel di dalam tasnya bergetar.
Getarannya cukup jelas. Namun, ia tidak menghentikan langkah. Tangannya bahkan tidak berniat meraih tas tersebut.
‘Paling juga Mas Zevan atau Rara.’
Raya mengembuskan napas pelan.
‘Aku nggak mau berurusan dengan mereka sekarang.’
Ia terus berjalan mengikuti Kansa hingga akhirnya mereka masuk ke dalam toko.
Setibanya di dalam toko, Raya dan Kansa langsung disambut oleh beberapa karyawan dengan ramah. Setelah membalas sapaan mereka, Raya mengedarkan pandangan untuk mencari area perlengkapan anak perempuan.
Tidak lama kemudian, langkahnya berhenti di sebuah rak yang dipenuhi berbagai barang. Ada boneka, tas kecil, aksesori, jepit rambut, hingga buku cerita dengan sampul warna-warni.
Raya berjalan perlahan sambil memperhatikan satu per satu barang tersebut.
Tangannya sempat menyentuh sebuah boneka Hello Kitty, kemudian beralih pada beberapa buku dongeng yang tersusun rapi.
“Pak,” panggil Raya sambil mengangkat boneka tersebut. “Sepertinya putri Bapak akan suka boneka Hello Kitty.”
Ia kemudian meletakkannya kembali dan mengambil sebuah buku dongeng.
“Atau buku dongeng ini. Biasanya anak perempuan suka dibacakan cerita sebelum tidur.”
Kansa yang berdiri di sampingnya menggeleng pelan.
“Saya tak bisa membacakan dongeng, Raya.”
Gerakan tangan Raya terhenti. Ia menatap buku yang masih berada di tangannya.
“Oh...”
Untuk sesaat, ia tidak tahu harus berkata apa.
Kemudian pandangannya beralih ke rak aksesori. Matanya menangkap sebuah kalung dengan liontin berbentuk sederhana.
Raya mengambilnya. “Kalau begitu, bagaimana dengan ini?”
Kansa mendekat sedikit. “Kalung?”
Raya mengangguk.
“Ini namanya liontin.” Ia membuka bagian kecil pada liontin tersebut. “Biasanya bisa digunakan untuk menyimpan foto orang yang kita sayangi.”
Kansa memperhatikan liontin itu. “Bisa menyimpan foto?”
“Iya.” Raya tersenyum kecil. “Kelihatannya sederhana, tetapi kalau di dalamnya ada foto orang yang kita sayang, pasti jadi lebih berarti.”
Kansa tidak banyak berpikir.
“Bagus. Saya beli.”
Raya mengangkat wajah. “Benarkah?”
“Beli dua.”
Raya tersenyum.
Ia mengembalikan liontin tersebut kepada karyawan yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari mereka.
“Kalau begitu, yang ini dua, ya, Mbak.”
“Baik, kak.”
Raya kembali mengedarkan pandangan. Kali ini matanya berhenti pada rak buku dongeng.
Ia mengambil beberapa buku dengan sampul berbeda dan menumpuknya di lengannya.
“Saya juga ingin membeli beberapa buku dongeng, Pak.”
Kansa menatap tumpukan buku tersebut.
“Untuk siapa, Raya?”
Langkah tangan Raya berhenti. Ia terdiam sesaat sebelum menjawab.
“U-untuk anaknya sahabat saya.”
Raya segera mengalihkan pandangan ke rak lain. Jemarinya berpura-pura sibuk merapikan buku yang sebenarnya sudah tersusun rapi.
‘Aku nggak mungkin bilang kalau buku-buku ini karena aku tertarik saja, siapa tahu berguna.’
Ia menelan ludah.
Raya kemudian mengambil satu buku lagi dan menyerahkannya kepada karyawan toko.
“Yang ini juga, Mbak.”
“Baik, kak.”