Di sungai ia mendorong pacarnya, lalu ikut tenggelam. Ketika membuka mata, usianya lima belas: 1 April 2005, tiga bulan sebelum ujian, dengan ingatan penuh akan semua yang akan terjadi. Di laci rumah tua ia menemukan kotak kayu ukiran berisi tanah sakti—satu tegukannya menyembuhkan luka dan mengubah takdir. Ia membangun keluarga dari nol: gerobak es campur, bakso, juara satu se-kota, kuliah, dan cinta yang dulu ia tolak. Setelah hidup pertama berakhir pada usia seratus tahun, ia terbangun lagi—dan sadar semuanya hanya penglihatan. Ibu kritis, bisnis hilang, dan ia harus mulai dari nol sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21 - Spanduk di Gerbang Sekolah
Seorang pemuda berseragam rapi berdiri di depan gerobak es campur, menatap Intan seperti orang yang sedang menghitung barang dagangan paling mahal di lapak itu.
"Namaku Reza. Kali ini aku akan masuk SMA Nusantara 1. Aku ingin bertanya juga: kamu ikut ke SMA Nusantara 1, bukan?"
Intan terkejut. "Kamu yakin bisa masuk SMA Nusantara 1?"
Reza mengangguk dengan wajah serius. "Aku yakin."
"Meskipun nilai ujianku tidak setinggi nilai kamu, bukan berarti jelek. Untuk masuk SMA Nusantara 1, tidak ada masalah. Lalu kamu sendiri? Kamu mau ke SMA Nusantara 1?"
Reza jadi canggung setelah bertanya begitu terang. Intan pun mengangguk tanpa banyak berpikir. "Kalau kamu bisa masuk, aku juga bisa. Dengan begitu kita menjadi alumni, mungkin bahkan teman sekelas. Namaku Intan Larasati. Tolong beri saya sarannya."
Reza senang sekali melihat jawaban yang tulus itu. Deretan gigi putihnya yang mungil tampak rapi ketika ia tersenyum lebar, lalu ia mengangguk dengan wajah serius. "Tolong beri saya sarannya juga, Intan!"
"Eh, omong-omong. Karena kita nanti sekolah bersama, bolehkah kubobertanya sudah berapa lama kau membuka lapak di sini?" Reza menunjuk gerobak itu sekilas. "Aku sering melihat lapakmu setiap kali datang ke Plaza Cendrawasih akhir-akhir ini. Kau bekerja sambil belajar untuk mencari uang, ya?"
Wajahnya penuh rasa ingin tahu. Selama beberapa hari terakhir ia selalu melihat gerobak es campur itu dari kejauhan, tetapi jarang sekali berani mendekat.
Ditambah sikap Bapak yang sejak tadi melayani pelanggan sambil berjaga, ia berhasil menebak bahwa pemilik lapak itu adalah Intan, bukan Bapak.
Intan menjawab dengan jujur. "Ini program kerja sambil belajar untuk mengurangi beban orang tua."
Reza tampak kagum, bahkan sudah bersiap masuk ke perdebatan. "Orang tuaku selalu menyuruhku meniru orang yang berprestasi. Kalau kau sehebat begini, aku pulang nanti kuceritakan. Menurutmu, mereka juga mau mendukungku membuka lapak?"
"Pfft!"
Bapak yang sedang menyeruput teh menyemburkan minumannya seketika, lalu menatap Reza dengan mata terbelalak.
Intan menatapnya seperti menatap orang yang sedang mengigau, sebelum menurunkan pandangan dari atas ke bawah pada Reza. "Sarananku, sebaiknya kau jangan bermimpi. Kalau kamu membuka lapak sambil memakai pakaian bermerek terkenal, ujungnya tidak akan cukup dalam sehari."
Reza jadi kurang yakin, tetapi ia tidak membalas. Yang diucapkannya itu tidak lain hanya candaan. Kalau orang tuanya tahu ia bermaksud membuka lapak, mereka pasti mengira ia gila dan langsung membawanya ke rumah sakit untuk diperiksa.
Intan kembali melayani pelanggan, dan Reza berdiri di sana beberapa saat. Ketika Bapak kembali sibuk di bagian belakang gerobak, ia membantu Intan sebentar dengan tangan yang masih canggung, lalu berpamitan pulang.
Sebelum pulang, Reza menoleh sekali ke arah gerobak, lalu memberi anggukan kecil yang tidak perlu dijawab.
Sosok itu berbalik dan menghilang di antara para pengunjung plaza, sementara Intan sudah kembali menata gelas-gelas di laci gerobak.
Antrean di depan gerobak bergerak lagi. Bapak menghampiri pelanggan berikutnya, sementara Intan mengeringkan gelas yang baru dicucinya di atas kain penyeka.
Reza mungkin hanya salah satu nama yang kadang terdengar di kelas sebelah. Intan tidak ingat pernah mentegur sapa lebih jauh dengan anak itu. Ia hanya menyimpan kejadian yang tidak biasa itu di sudut kepalanya, lalu mengembalikan seluruh perhatiannya ke gelas-gelas di tangannya.
Keesokan hari, petang itu, Bapak dan Ibu baru saja membereskan ruang tamu ketika telepon rumah berdering.
Ibu yang lebih dulu menyentuhnya langsung menutupnya dengan senyum yang tak bisa disembunyikan.
"Bu Retno Wulan menelepon. Kemarin dia hanya mengabari soal angka, sedangkan sore ini dia membawa kabar yang lain."
Bapak yang sedang menyusun kursi berhenti. "Habar yang lain?"
"Dia bilang soal ujian Intan berbeda dari soal ujian kota-kota lain, sehingga nilainya tidak bisa dibandingkan dengan peringkat provinsi."
"Lalu kalau dihitung di provinsi?"
"Kalau ikut diperingkatkan di provinsi," kata Ibu, "Intan akan jadi nomor satu di provinsi. Bu Retno juga bilang, waktu mendengar kabar itu dia sampai hampir menjatuhkan cat di tangannya."
Bapak menarik napas panjang, menatap Ibu dengan mata yang sama sekali tidak menyangka, lalu mengangguk pelan-pelan.
Pasangan itu saling berpandangan, tersenyum, tertawa, bahkan saling berpeluk erat. Hanya mereka yang tahu seberapa berat beberapa tahun terakhir ini bagi keluarga mereka. Sekarang anak yang selama ini membuat mereka hanya bisa menunduk, akhirnya memberi alasan untuk menegakkan punggung.
Ibu berdeham kecil menahan senyum yang ingin meledak, lalu langsung bergerak ke arah dapur seperti orang yang tiba-tiba memiliki banyak pekerjaan.
Bapak bergegas berdiri, hampir menabrak kursi yang belum selesai ia susun. "Aku mau memasak," katanya. "Nanti aku antar makanan ke dua anak, sekaligus memberitahukan kabar ini ke Dimas."
"Iya, aku yang masak," jawab Ibu. "Kamu mandi dulu, nanti aku yang cuci pakaian sewaktu kamu keluar."
Ibu merasa Bapak sudah bekerja sangat keras dalam bulan-bulan terakhir ini. Jarang ia pulang lebih awal seperti hari ini, jadi tugas memasak itu diambil alih oleh Ibu. Bapak tidak keberatan, hanya menerima keadaan.
Keesokan pagi Bapak datang ke SMA Nusantara 4. Di gerbang sekolah ia melihat murid-murid berseragam masuk dan keluar. Sebagian baru pulang dari makan di luar, sebagian lagi baru hendak keluar untuk makan. Suasana terlihat ramai, jadi ia memanggil Dimas dari dekat kios penjaga.
Tak lama kemudian, Dimas muncul. Dimas masih mengenakan seragam sekolah, rambutnya disisir ke belakang, dan tasnya sudah tersampir di satu bahu.
"Pak, kenapa Bapak datang lebih pagi hari ini?"
Dimas menerima termos bekal itu, lalu menyerahkan kembali termos yang sudah bersih dan kosong.
Bapak tidak berhenti tersenyum sejak melihat Dimas. "Ibumu pulang cepat hari ini, jadi ia yang masak, makanya Bapak bisa datang cepat. Lagipula, kabar juara satu adikmu sudah yayar ke mana-mana. Kemarin kamu sudah dengar."
Lalu ia mengulanginya lebih lambat, seperti ingin memastikan Dimas benar-benar percaya.
"Adikmu juara satu se-kota, nilai empat ratus empat puluh satu, dan ia diterima di SMA Nusantara 1. Ini kemenangan besar untuk keluarga kita."
"Kuceritakan ini juga supaya kamu lebih tenang. Terus bekerja keras, tahun depan gapai nilai yang bagus di ujian masuk perguruan tinggi, lalu masuk universitas yang baik. Begitu Bapak dan Ibu sudah puas!"
Bapak tidak menuntut banyak; ia hanya meminta Dimas menjalani satu ujian demi satu ujian.
Wajah Dimas berubah cerah, senyumnya melebar. "Hebat! Aku tahu dia pasti bisa, dan dia tidak mengecewakan kami!"
"Siap, Pak. Aku akan bekerja keras. Aku sudah memakai metode belajar Intan selama beberapa bulan terakhir. Nilainya jauh lebih baik dari sebelumnya, dan aku tidak akan mengecewakan Bapak saat giliranku tiba."
Mendengar jaminan itu, Bapak semakin senang.
Sesudah berpamitan dengan Dimas, ia bergegas menuju Plaza Cendrawasih untuk mengantar makanan bagi Intan, lalu membantu di gerobak sampai menjelang pukul sembilan malam.
Intan baru mengetahui dari Bapak bahwa namanya kini disebut-sebut di seluruh sekolah. Tak mungkin ia mengaku tidak gembira, tetapi rasa itu hanya bertahan sesaat.
Bagi Intan, mencari uang adalah urusan yang jauh lebih besar sekarang. Pujian di depan gerbang sekolah tidak akan mengubah satu rupiah pun dari yang harus ia kerjakan besok pagi.
Hari-hari berjalan sibuk. Tanpa terasa, awal Agustus telah lewat.
Sekolah mengabari Intan untuk mengambil rapor, sertifikat, dan ijazah, sekaligus mengikuti foto kelulusan. Ia terpaksa menunda pekerjaannya dan tiba di sekolah sekitar pukul tujuh pagi.
Begitu sampai di gerbang, ia nyaris tersentak. Di depan pintu terentang sebuah spanduk raksasa, huruf kuning di atas kain merah, dengan tulisan yang terbaca jelas.
"Selamat kepada Intan Larasati, murid sekolah kami, yang meraih nilai empat ratus empat puluh satu dalam ujian masuk sekolah menengah atas dan menduduki peringkat pertama se-kota."
Melihat spanduk itu, Intan merasa ada yang mengganjal di dadanya. Sekolah ini tidak pernah kebetulan sebesar ini untuk sekadar urusan rapor dan ijazah.
Ia buru-buru masuk, menaruh sepedanya di carport, lalu berlari kembali ke kelas secepat orang yang baru saja memenangkan lari jarak lima puluh meter.
Karena sedang liburan, kelas satu dan dua kosong. Hanya siswa kelas tiga yang kembali, sebab mereka harus mengambil rapor dan ijazah sekalian menjalani foto kelulusan.
Beberapa anak sudah berdesakan di depan papan pengumuman, saling menunjuk daftar urutan foto sambil merapikan rambut dan kerah seragam mereka.
Begitu Intan melangkah masuk, kelas yang tadinya ramai itu hening beberapa detik, lalu meletus menjadi tepuk tangan yang hangat.
Anak-anak laki-laki bersorak serempak. "Juara satu kami datang! Juara satu datang!"
"Hah? Kenapa juara satu tampil lebih gelap dan lebih kurus setelah sebulan tidak kelihatan?"
Seorang murid laki-laki berpenampilan sembarangan melontarkan guyonan itu.
Intan mengangkat alis sambil tersenyum. "Terima kasih sudah khawatir. Kau ini makan terus dan enak selama sebulan ini, sampai bertambah gendut."
Orang itu langsung merengek seperti anak kecil yang kesakitan.
Sudah tiga tahun mereka satu kelas, dan selama itu belum pernah ada dua orang yang benar-benar beranjak semenjak. Karena itu sindiran Intan terasa lebih tajam daripada sindiran anak-anak lain.
Pada usia seperti ini, anak laki-laki paling sensitif soal penampilan, apalagi citra yang harus ia pertahankan di mata teman-teman perempuan.
Ketika Intan berkata begitu, hati si bocah remuk. Beberapa teman perempuan di sebelahnya memekik geli dan menyindir, membuat ia makin tenggelam ke dalam bangkunya.
Kelas hari itu tetap berbeda dari biasanya: riuh, tetapi tertib, dan hangat. Semua orang di sana tahu untuk siapa sorak-sorai itu diberikan.
Di luar gerbang, spanduk itu masih berkibar di angin pagi, sementara di dalam kelas rapor dan ijazah masih menunggu untuk dibagikan.
Dan angka empat ratus empat puluh satu untuk pertama kalinya terasa seperti milik mereka sekeluarga, bukan Milik nilai semata.