Kehidupan kampus Sheyra selalu berjalan lancar dan tenang sebelum ia bertemu pria menyebalkan bernama Alvaro. Alvaro adalah seorang duda anak 1 yang tinggal berdua dengan anaknya. Di mata Sheyra, Alvaro merupakan pria berhati dingin, egois, dan jahat. Namun pandangan itu seketika runtuh ketika Sheyra melihat sisi lain Alvaro ketika bersama anaknya.
Takdir seolah membawa mereka untuk terus bertemu dan bertemu. Hingga akhirnya membuat cinta tumbuh di antara keduanya. Namun jatuh cinta tidaklah mudah. Masalah demi masalah selalu datang untuk menguji kekuatan cinta mereka.
Mulai dari Alvaro yang minder dengan statusnya, Sheyra sang pencemburu buta, seseorang dari masa lalu, restu keluarga hingga trauma berat Alvaro atas kematian istrinya.
Akankah keduanya bisa mengatasi permasalahan tersebut demi mempertahankan cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzZura02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4 - Rupa Malaikat, Berhati Iblis
Di pagi hari yang cerah, Sheyra terbangun dari tidur lelapnya karena mendengar handphonenya yang berdering beberapa kali. Sebagai pertanda bahwa ada pesan yang masuk dari aplikasi WhatsAppnya. Sheyra tidak langsung bangkit dari tempat tidurnya. Ia menguap beberapa kali sembari melakukan peregangan di atas tempat tidur.
Setelah itu meraih handphoneyang terletak di atas meja dekat tempat tidurnya. Ia menyalakan layar handphonenya untuk melihat siapa pengirim pesan sepagi ini. Setelah membaca nama si pengirim, ia segera terduduk di atas tempat tidur sambil mengucek matanya beberapa kali untuk memastikan apakah ia sedang tidak salah membaca. Tertulis nama Alvaro di sana. Sheyra menyipitkan matanya. Dengan senyum sinis ia berkata dalam hati, ‘Akhirnya dibalas juga pesan gue.’
...Hari ini...
Gak bisa
Kasih tau bagian gue ntar gue kerjain
Alvaro mengirimkan dua bubble pesan yang isinya membuat Sheyra tidak senang. Ia menunggu balasan pesan Alvaro dari kemarin tidak untuk membaca jawaban seperti ini. Ia mengepalkan tangannya sambil memukul udara berharap udara itu adalah Alvaro. Menyebalkan. Benar-benar menghancurkan moodnya di pagi hari yang cerah ini. Bagi Sheyra, sosok Alvaro benar-benar egois, dingin dan seenaknya sendiri.
Sheyra melihat jam yang masih menunjukkan pukul 05.00 pagi. Masih ada waktu sekitar 5 jam untuk pergi kuliah di jam 10.00 , dengan waktu yang cukup lama itu lah Sheyra memutuskan untuk melanjutkan tidurnya. Gadis itu masih merasa mengantuk.
***
Waktu menunjukkan pukul 12.00 siang yang merupakan jam istirahat sebelum melanjutkan kembali mata kuliah selanjutnya di jam 13.30. Sheyra segera menutup bukunya setelah dosen yang mengajar hari ini keluar dari ruang kelas. Ia juga memasukkan alat tulis dan laptopnya ke dalam tas.
Keisha dan Anne menyapa Sheyra di tempat duduknya, “Ke kantin yuk Shey.” ajaknya.
“Kayaknya hari ini gue libur ke kantin dulu deh. Mau ngerjain tugas ini.” kata Sheyra sembari mengambil buku di dalam tasnya lalu mengangkat buku tersebut dan menunjukkannya pada Keisha dan Anne.
“Tumben rajin amat. Padahal kan matkulnya masih lusa.” Keisha merasa heran karena ini pertama kalinya Sheyra terlihat sangat rajin.
Sheyra tertawa kecil sambil terlihat gugup, “Hahaha kan kita udah semester 6. Wajar kalau mau jadi lebih rajin.” ujarnya beralasan.
”Oke deh. Kalo gitu mau nitip sesuatu?” Anne menawarkan diri.
Sheyra tersenyum sambil mengangguk cepat, “Mau! Nitip roti bakar, batagor sama es teh ya.”
“Oke siap!”
Anne dan Keisha pergi meninggalkan Sheyra sendirian di tempat duduknya. Sheyra melihat punggung teman-temannya yang semakin menjauh. Mengerjakan tugas sebenarnya hanyalah alasan Sheyra agak tetap bisa di kelas tanpa dicurigai oleh teman-temannya.
Tujuan Sheyra tetap berada di kelas adalah Alvaro. Entah mengapa cowok itu benar-benar mengusik pikirannya lagi dan lagi. Ia ingin mengamati cowok itu lagi. Memperhatikan gerak-geriknya. Banyak hal yang membuat Sheyra penasaran tapi ia menahan diri.
Sheyra melirik ke arah Alvaro yang duduk jauh di depannya. Seperti biasa ketika jam istirahat, Alvaro langsung bersiap untuk tidur. Cowok itu menidurkan kepalanya di atas bangku dan menenggelamkan wajahnya di tangan sambil memejamkan mata.
Baru sekitar 10 menitan Alvaro memejamkan mata, seorang pria bertubuh kurus, rambut ikal dengan tinggi sekitar 176 cm menghampirinya.
“Al” panggil Doni sambil menepuk pelan punggung Alvaro.
Mendengar namanya dipanggil, Alvaro mengangkat kepalanya dengan enggan. “Hmm?” tanyanya tak ingin basa-basi.
“Ke kantin yuk.” ajak Doni ramah. Sepertinya Doni masih belum menyerah untuk bisa berteman dengan Alvaro. Kegigihannya patut diacungi jempol.
“Ngantuk.” jawab Alvaro singkat dan langsung menenggelamkan wajahnya di tangan untuk melanjutkan tidurnya.
Mengetahui ajakannya di tolak, Doni terlihat kecewa dengan sikap Alvaro. Ia pun berjalan menghampiri temannya yang lain.
“Sudah gue bilang kan Don, gak usah ngajakin itu orang. Dia kan cuman peduli sama dirinya sendiri.” celetuk Edo.
Alvaro sebenarnya belum benar-benar tertidur sehingga ia dapat mendengar perkataan orang lain tentang dirinya. Ia menghela nafas sejenak. Tapi dia memilih untuk diam berpura-pura tidur tanpa ingin membela diri karena yang dikatakan orang lain tentangnya adalah hal yang benar. Ia tidak ingin mengambil pusing hal tersebut dan tidak ingin terlalu memikirkannya. Baginya lebih baik ia segera tidur sejenak sebelum mata kuliah selanjutnya dimulai.
Sheyra yang melihat Doni dan Alvaro dari kejauhan hanya bisa menatap Alvaro dengan kesal. Di matanya, cowok itu benar-benar menyebalkan. Cowok itu selalu bersikap seolah tidak butuh siapa-siapa. Dia tidak pernah terlihat berinteraksi dengan teman-teman sekelas. Tidak mengikuti organisasi apapun. Saat jam perkuliahan habis, ia akan terburu-buru untuk pulang. Dan saat jam istirahat, dia akan memilih tidur. Benar-benar seperti pria yang hidup seorang diri. Apa dia pikir ia sedang hidup di hutan?
Sekitar 20 menit kemudian Keisha dan Anne masuk ke dalam kelas sambil menenteng makanan di dalam plastik kresek. Keduanya langsung mengambil tempat duduk di depan Sheyra. Sheyra menatap keduanya dengan tatapan yang heran, “Lah kalian gak makan di kantin?”
“Kita makan di sini aja bareng lo. Gak seru kalo cuman berdua aja. Lagian di kantin lagi rame banget. Gerah dan sumpek.” terang Keisha.
Anne mengangguk tanda setuju, ia ikut menambahkan, “Betul lebih enak makan di sini. Gak gerah hahaha.”
“Yaudah deh.” kata Sheyra paham. Ia langsung menutup bukunya. “Pesenan gue ada?” tanyanya.
“Ada dong.” jawab Keisha.
Mereka bertiga mulai menikmati makanannya masing-masing. Keisha membeli camilan cimol dan basreng chili oil. Sedangkan Anne membeli donat.
“Itu cowok gak pernah laper apa ya. Perasaan tiap istirahat tidur mulu. Gak kelihatan pernah makan.” Anne melihat ke arah Alvaro. Ia berbicara sambil mengunyah donat di dalam mulutnya.
Sheyra mengangkat bahunya pertanda tidak tahu. Keisha menyahut, “Aneh.”
Sheyra dan Anne mengangguk setuju.
***
“Alvaro!” teriak Sheyra sambil berlari mengejar Alvaro di lorong kampus. Mendengar namanya dipanggil tidak membuat cowok itu menghentikan langkahnya. Ia justru mempercepat langkahnya menuju parkiran untuk segera pulang ke rumah.
Alvaro tidak ingin peduli. Ia tidak ingin repot dengan meladeni orang lain yang menurutnya tidak penting. Baginya kuliah adalah tempat mencari ilmu. Ia tidak perlu menambah interaksi yang dirasa tidak perlu. Yang terpenting adalah ia harus segera menyelesaikan perkuliahan dan lulus dari tempat ini.
Sambil ngos-ngosan, akhirnya Sheyra berhasil menyusul Alvaro. Ia berlari kecil untuk mengimbangi langkah pria 180 cm itu. “Ikut kerja kelompok yuk.” ajak Sheyra untuk kesekian kalinya.
Alvaro menghela nafas kasar, “Gak.” jawabnya singkat.
“Kenapa? Kenapa lo gak mau kerja kelompok?” tanya Sheyra tidak habis pikir.
“Sibuk.” jawab Alvaro sambil tetap enggan melihat gadis di sebelahnya.
“Anak-anak yang lain pada nanyain kapan lo ikutan kerja kelompok.”
“Terus?”
Sheyra berdecak frustrasi. Ia langsung berdiri menghadang Alvaro agar cowok itu menghentikan langkahnya. Dan benar saja, Alvaro langsung berhenti. Ia mengerutkan dahinya menatap Sheyra dengan tatapan tidak suka.
Tanpa sadar Sheyra menatap wajah tampan Alvaro. Mata mereka bertemu. Hal tersebut sukses membuat Sheyra mencengkeram ujung bajunya karena gugup. Untuk beberapa saat Sheyra terpesona dengan sosok dingin di depannya. “Ternyata bulu mata Alvaro panjang ya.. alisnya juga tebal. Benar benar tampan.” ucap Sheyra dalam hati. Setelah sadar dengan apa yang sedang ia pikirkan, dengan segera Sheyra langsung menggelengkan kepalanya untuk menyadarkan dirinya. Bagaimanapun juga ia harus meyakinkan diri agar tidak tertipu dengan cowok dengan rupa malaikat tapi berhati iblis ini.
“Minggir.” ucap Alvaro penuh penekanan sehingga membuat Sheyra langsung menyingkir seketika dari depan cowok itu.
Sheyra melihat punggung Alvaro yang semakin menjauh. Ia menjadi semakin kesal lalu meneriaki Alvaro “Kalo gitu nama lo gak bakal kita tulis!” ancamnya sambil tidak memedulikan pandangan orang di sekitarnya yang mulai melihat ke arahnya dengan penasaran.
“Terserah.” jawab Alvaro tanpa ragu.
^^^Bersambung…^^^