Sejak kecil, Kirana Lin dibuang ke desa karena terlahir bisu. Meski tak mampu berbicara, ia memiliki kecerdasan luar biasa dan segudang prestasi.
Dua puluh tahun kemudian, Kirana kembali ke keluarga Lin untuk menggantikan putri angkat mereka menikah dengan Kendra Wu, penguasa keluarga Wu yang lumpuh akibat kecelakaan.
Semua orang mengira Kirana akan menderita di tangan Kendra. Namun, gadis bisu itu justru berhasil membuat sang penguasa jatuh cinta dan membantunya merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.
Yuk simak kisahnya! Yang tidak suka langsung skip!👊👊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kiriman
Pagi itu, ruang tamu mansion keluarga Lin dipenuhi suara tawa beberapa gadis. Empat orang gadis tampak duduk santai di sofa, salah satunya adalah Shania yang sejak tadi ikut berbincang bersama ketiga temannya.
“Katanya kakakmu baru pulang dari desa, Shan?” tanya salah satu gadis bernama Rosa, sambil memainkan cangkir teh di tangannya.
“Iya,” jawab Shania dengan senyum kecil yang sulit ditebak.
Aura ikut terkekeh pelan. “Kalau begitu, dia pasti sangat udik, ya? Jangan-jangan dia bahkan tidak tahu tata krama seorang nona dari keluarga terpandang.”
Gadis di sebelahnya bernama Sonia, ikut tertawa kecil. “Benar, mungkin dia perlu diajari table manner dulu supaya tidak membuat keluarga Lin malu.”
“Bukan cuma table manner,” sahut Rosa sambil menyeringai. “Cara berpakaian, cara berbicara, cara membawa diri semuanya mungkin harus diajari dari awal sperti bayi.”
Mereka kembali tertawa, seolah sedang membicarakan seseorang yang sama sekali tidak ada di tempat itu.
“Apalagi dia bisu, kan?” ujar Sonia sinis. “Aku penasaran seperti apa wajahnya.”
Aura menopang dagunya sambil berkata santai, “Apa selain bisu, dia juga pasti sangat jelek—”
Ucapan gadis itu langsung terhenti.
Suara langkah kaki terdengar dari arah tangga mansion. Keempat gadis tersebut spontan menoleh, dan dalam sekejap seluruh percakapan mereka lenyap begitu saja.
Seorang gadis sedang menuruni tangga dengan langkah tenang. Rambut hitamnya tergerai rapi, wajahnya terlihat begitu alami tanpa polesan make-up berlebihan, tetapi justru kecantikan lembutnya membuat keempat gadis itu terpaku.
Bahkan bentuk wajah dan postur tubuh benar-benar sangat idaman.
Kirana hanya mengenakan pakaian sederhana berwarna terang yang tidak berlebihan. Tidak ada perhiasan mencolok ataupun riasan tebal di wajahnya, tetapi kulitnya terlihat bersih dan wajahnya memiliki kesan anggun yang membuatnya sama sekali tidak tampak seperti seseorang yang baru menghabiskan dua puluh tahun di desa terpencil.
“Dia ....” Aura berbisik tanpa sadar. “Itu Kirana?”
Sonia sampai lupa meletakkan cangkirnya. “Serius? Itu kakakmu, Shania?”
Shania tidak menjawab.
Tangannya yang berada di atas pangkuan mengepal kuat hingga kukunya hampir menekan kulit.
Sejak kecil, Shania tidak pernah tahu bahwa Kirana memiliki wajah yang jauh lebih cantik darinya, orang tua angkatnya hanya berkata jika dialah yang paling cantik, tetapi melihat kakaknya berdiri di hadapan teman-temannya dengan kecantikan alami seperti itu tetap membuat rasa iri yang selama ini ia sembunyikan kembali muncul.
Tapi hanya beberapa detik kemudian Shania kembali memasang senyum manis. Ia segera berdiri dari sofa dan menghampiri teman-temannya.
“Teman-teman, perkenalkan, ini kakakku, Kirana,” ujar Shania dengan suara lembut.
Ia kemudian menoleh kepada Kirana dan tersenyum seolah mereka adalah saudara yang sangat dekat.
Kirana berhenti beberapa langkah dari mereka. Tatapannya menyapu satu per satu wajah para gadis tersebut, kemudian berhenti pada Shania yang masih tersenyum.
Shania sengaja memasang ekspresi sedikit canggung. “Maaf kalau dia tidak bisa bicara,” katanya kepada teman-temannya, lalu tertawa kecil untuk mencairkan suasana. “Kalian maklum saja, kakakku memang bisu.”
Suasana ruang tamu kembali hening.
Ketiga teman Shania saling berpandangan, seolah baru teringat bahwa beberapa menit lalu mereka baru saja membicarakan Kirana di belakangnya. Sementara itu, Kirana hanya mengangkat alis sedikit dan menatap Shania tanpa ekspresi.
Ia tidak perlu berbicara untuk mengetahui bahwa adiknya sengaja mempermalukannya di depan teman-temannya.
Ketiga teman Shania yang sejak tadi duduk di ruang tamu akhirnya berdiri setelah melihat Kirana hendak pergi.
Sonia melipat kedua tangannya di depan dada sambil memperhatikan Kirana dari ujung rambut hingga ujung kaki. “Jadi, ini kakakmu yang selama ini tinggal di desa?” tanyanya dengan nada meremehkan.
Aura terkekeh kecil. “Aku kira penampilannya akan jauh lebih buruk.”
Tatapannya kemudian berubah dingin ketika melihat wajah Kirana yang justru jauh lebih menarik daripada yang ia bayangkan.
Rosa ikut maju beberapa langkah. “Cantik memang, tapi jangan berpikir kecantikanmu bisa membuatmu mengambil semuanya dari Shania.” Ia sengaja berdiri cukup dekat, seolah ingin menunjukkan bahwa dirinya sama sekali tidak takut kepada Kirana.
Kirana hanya menatap mereka tanpa ekspresi. Ia sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan ketiga gadis tersebut, dan baginya meladeni mereka hanya akan membuang waktu.
Sonia mengangkat dagu. “Dengar baik-baik, Kirana. Jangan pernah berpikir untuk bersikap licik dan merebut posisi Shania sebagai nona muda keluarga Lin.”
Aura langsung menyahut, “Kau baru kembali setelah dua puluh tahun di desa, jadi tahu diri sedikit.”
“Jangan karena kau tiba-tiba mendapat perhatian dari keluarga Lin, lalu merasa bisa menggantikan Shania,” tambah Rosa dengan nada tajam. “Shania sudah berada di keluarga ini sejak kecil, sedangkan kau hanya—”
Kirana mengangkat satu tangan, menghentikan ucapan Rosa sebelum gadis itu menyelesaikan kalimatnya. Wajahnya tetap tenang, tetapi tatapannya menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak tertarik mendengar hinaan mereka.
Tanpa mengatakan apa pun, Kirana berbalik dan berjalan meninggalkan ruang tamu. Langkahnya santai, seolah tiga gadis yang sejak tadi berusaha menjatuhkan harga dirinya tidak lebih dari suara cicak bertelur yang tidak perlu ia pedulikan.
“Dia mengabaikan kita?” Sonia membelalak tidak percaya.
“Hei!” serunya sambil mengejar beberapa langkah. “Apa kau dengar apa yang kami katakan?”
Kirana terus berjalan tanpa menoleh. Aura langsung ikut maju dan berkata dengan suara lebih keras, “Jangan pura-pura tidak dengar! Kalau kau tidak suka dengan aturan di rumah ini, lebih baik kau pergi saja!”
Langkah Kirana akhirnya berhenti. Namun, ia tidak berbalik karena takut atau terintimidasi, melainkan hanya karena merasa terganggu.
Rosa yang sudah kehilangan kesabaran maju dengan wajah kesal. “Dasar tidak tahu diri!”
Tangannya terangkat hendak menampar Kirana. Namun, sebelum telapak tangan itu mendekati wajahnya, Kirana bergerak cepat dan menangkap pergelangan tangan Rosa.
Tatapan Kirana seketika berubah tajam. Tidak ada kemarahan berlebihan di wajahnya, tetapi justru ketenangan itulah yang membuat Rosa mendadak merasa gugup.
“Lepaskan, sialan!” teriak Rosa sambil berusaha menarik tangannya.
Kirana tidak langsung melepaskannya. Ia hanya menatap Rosa beberapa detik, kemudian menyentakkan tangan gadis itu hingga Rosa kehilangan keseimbangan dan mundur beberapa langkah.
“Kau berani menyentuh Rosa?” Sonia langsung membentak.
Aura juga hendak maju, tetapi suara langkah kaki dari arah pintu utama tiba-tiba terdengar. Beberapa pelayan keluarga Lin masuk secara berurutan sambil membawa kotak-kotak besar yang dibungkus rapi.
“Permisi,” ujar salah seorang pelayan sambil menundukkan kepala. “Kami membawa kiriman hadiah.”
Keempat gadis yang berada di ruang tamu langsung terdiam. Bahkan Kirana yang sebelumnya hendak pergi ikut menoleh ketika melihat jumlah barang yang dibawa para pelayan.
Satu per satu kotak diletakkan di atas meja. Ada beberapa kotak perhiasan, tas bermerek, pakaian elegan, serta berbagai hadiah mahal lainnya yang semuanya dikemas dengan sangat mewah.
Mata Sonia langsung membesar. “Sebanyak itu?”
Aura menatap kotak-kotak tersebut dengan tidak percaya. “Siapa yang mengirimnya?”
Baru saja salah satu pelayan itu menjawab tapi tiba-tiba Shani langsung memotong ucapannya.
“Pasti ini dari Kak Julian untukku,” ujarnya penuh percaya diri.
sat set tnpa drama
keren pojok nya
wuih jous gandos
aaahhh mboh lah mumet AQ sweeter
otornya lho bikin penasaran Mulu 🤣🤣🤣
🤭🤭🤭🤭