NovelToon NovelToon
Sistem Penguasa Sekolah

Sistem Penguasa Sekolah

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Notdrick

"Woy sampah rendahan."

"Sampah? Sampah? Sampah seperti ku masih bisa di daur ulang, tapi sampah seperti mu pantasnya dihancurkan."

Juna Adiwiyata hanya siswa beasiswa yang datang dengan tangan kosong ke Akademi Arcapolis—sekolah elite tempat nama keluarga menentukan siapa yang berhak menunduk dan siapa yang berhak menginjak.

Di sana, tidak ada yang peduli seberapa keras kau belajar. Yang ada hanya empat faksi, empat Raja, dan satu aturan tak tertulis: yang lemah akan diinjak sampai lupa cara berdiri.

Juna pernah jadi bagian dari yang lemah itu. Dihina, dipukuli, diseret ke gudang gelap sampai tubuhnya nyaris tak bernyawa—sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dari titik matinya sendiri dan mengubah segalanya.

Bukan sistem yang memberi kekuatan cuma-cuma. Sistem yang mengukur kekuasaan.

"Aku bangkit bersama orang-orang terbuang, dan akan menghancurkan mereka yang membuang"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Panel biru itu muncul begitu saja di tengah perjalanan Juna menuju kelas, membuat langkahnya terhenti sejenak di tengah koridor yang mulai ramai.

[Level Naik! Level 1 → 2]

[Fitur Baru Terbuka: Toko Kekuasaan]

Juna menggeser panel itu dengan gerakan jarinya di udara, dan sebuah daftar panjang muncul di hadapannya—barang-barang aneh dengan harga yang tertera dalam satuan mata uang yang belum pernah ia dengar sebelumnya, Poin Kekuasaan.

[Segel Kepatuhan Kecil — 50 PK — Memaksa target mematuhi satu perintah sederhana selama satu jam]

[Mata Elang — 30 PK — Melihat status dasar target dari jarak pandang]

[Jubah Bayangan — 200 PK — Tidak terdeteksi selama sepuluh menit]

'Menarik,' batin Juna, menatap deretan barang itu dengan mata berbinar. 'Tapi aku belum punya cukup Poin Kekuasaan untuk apa pun ini.'

Ia menutup panel itu dan melanjutkan langkahnya, mengubah arah menuju perpustakaan seperti yang sudah ia rencanakan sejak semalam. Begitu pintu kaca perpustakaan terbuka, matanya langsung menyapu ruangan, mencari sosok yang sedang ia cari.

Di sudut paling belakang, seorang pemuda berblazer hijau duduk sendirian, kepalanya tertunduk dalam-dalam menghadap buku yang terbuka namun tidak benar-benar ia baca. Juna mengenali seragam itu—yang sama dengan yang ia lihat kemarin, orang yang terjebak di dalam tong sampah.

Juna melangkah mendekat, menarik kursi di seberang meja itu dan duduk tanpa diundang.

Pemuda itu mendongak kaget, dan begitu matanya bertemu dengan Juna, wajahnya seketika pucat pasi.

"K-kamu—" suaranya tercekat, buku di tangannya nyaris terjatuh.

"Kevin Aditama, kan?" ucap Juna tenang, menyandarkan punggungnya ke kursi.

Kevin mengangguk cepat, matanya bergerak gelisah ke arah pintu keluar seolah sedang menghitung kemungkinan untuk kabur.

"Aku nggak akan mukul kamu," Juna berkata sebelum Kevin sempat bergerak, "jadi nggak usah lihat-lihat pintu kayak gitu."

Kevin menelan ludah, tubuhnya masih kaku. "Soal kemarin... aku... aku minta maaf. Beneran. aku panik, terus—"

"Terus kamu kabur ninggalin aku sendirian menghadapi tiga orang berjaket hitam," potong Juna, nadanya datar namun tajam, membuat Kevin semakin menunduk.

"Maaf," suara Kevin nyaris berbisik, tangannya gemetar di atas meja. "Aku tahu itu salah. Aku cuma... aku takut. Aku selalu takut sama mereka. Setiap kali mereka deketin aku, badanku kayak nggak bisa gerak sama sekali."

Juna mengamatinya dalam diam sejenak, memperhatikan bagaimana bahu Kevin merosot, bagaimana jarinya terus meremas ujung lengan bajunya sendiri—setiap gestur kecil yang menunjukkan seberapa dalam ketakutan itu sudah mengakar.

'Orang seperti ini,' batin Juna, 'kalau dibiarkan, dia akan terus jadi korban seumur hidupnya. Tapi kalau diarahkan dengan benar, ketakutannya bisa jadi alat yang berguna.'

"Aku nggak butuh permintaan maafmu," Juna akhirnya berkata, membuat Kevin mendongak kaget. "Aku butuh sesuatu yang lain."

"A-apa itu?"

"Kamu anak Akademik. Kamu dengar banyak hal yang nggak aku dengar—siapa yang deketin siapa, siapa yang lagi cari masalah sama siapa, informasi kecil yang orang lain anggap nggak penting." Juna mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. "Mulai sekarang, setiap kali kamu dengar sesuatu yang menarik, kamu kabari aku."

Kevin terdiam, matanya bergantian menatap Juna dan buku di depannya, seolah sedang menimbang pilihan yang sebenarnya tidak pernah benar-benar ia miliki.

"Kalau aku nolak?"

"Kamu nggak akan nolak," Juna menjawab tanpa ragu, suaranya tenang namun penuh keyakinan yang aneh. "Karena kamu tahu, lain kali kamu butuh seseorang buat nolongin kamu, aku satu-satunya orang yang mungkin mau melakukannya. Bahkan setelah kamu tinggalin aku kemarin."

Kevin menunduk lama, dadanya naik turun menahan sesuatu yang tidak ia ucapkan. Akhirnya, dengan suara yang nyaris tak terdengar, ia mengangguk pelan.

"Oke," bisiknya. "Aku... aku akan kasih tahu kalau ada sesuatu."

Juna tersenyum tipis, bangkit dari kursinya. "Bagus. Sampai ketemu lagi, Kevin."

Ia berjalan keluar perpustakaan dengan langkah tenang, meninggalkan Kevin yang masih duduk kaku di kursinya, menatap punggung Juna yang menghilang di balik pintu kaca dengan perasaan campur aduk antara lega dan takut yang baru.

1
NayiRiyyy
"Alur yang mungkin Anda kenal"🤭
ND: iya kak🤣
total 1 replies
Riyyyyyyy
ada lolinya gak thor?
Riyyyyyyy: asiiik😍 ingat pepatah, banyak loli banyak rezeki🤭
total 2 replies
ND
Bukan novel BL yahh /Hey/
ND: bukannn
total 2 replies
Feri
novel baru lagi,bisa tamat gak ini/Sly/
Feri: ku tunggu ya/Sly//Sly/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!