Apa yang akan terjadi jika Dua dunia di pertemukan dalam sebuah keputusan penting?, dan ini terjadi pada Dua manusia yang di pertemukan secara tidak sengaja, LANGIT Wanita dengan semua kendali penuh dan kekuasaannya, sedangkan BUMI laki-laki sederhana dengan semua kelebihannya.
Yuk ikuti ceritanya, di jamin seru, menggemaskan dan juga menegangkan.
Salam Author Sinho, jangan lupa Bahagia ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Bumi melanjutkan ceritanya. Jemarinya yang kokoh kini perlahan mengepal di atas permukaan meja ruang makan yang mengkilat, membuat buku-buku jarinya memutih.
"Pernah suatu hari, uang belanja bulanan yang disimpan Bu Nanik di bawah lemari hilang. Jumlahnya tidak seberapa untuk ukuran orang seperti kamu, Langit. Tapi bagi kami saat itu, itu uang untuk bertahan hidup satu bulan."
Langit terdiam, menyimak perubahan intonasi suara Bumi yang semula santai menjadi begitu dalam dan sarat luka lama.
"Tedi yang mengambilnya untuk main judi online dan beli rokok. Tapi saat Ibu menangis bingung, Tedi dengan ringannya menunjuk aku. Dia bilang dia lihat aku mengendap-endap di kamar Ibu," Bumi terkekeh, sebuah kekehan hambar yang terasa menyakitkan.
"Ayah angkat ku pak Subahri tidak pakai tanya. Dia mengambil sabuk kulitnya. Malam itu, aku dihajar habis-habisan tanpa diberi kesempatan untuk membela diri. Punggungku robek, sakitnya bukan main, tapi yang lebih sakit adalah melihat Ibu angkatku diam saja, seolah membenarkan kalau anak pungut seperti aku memang pantas dituduh baji-ngan."
Langit mengerjapkan mata. Di dunia bisnisnya yang kejam, dia biasa melihat pengkhianatan korporat, tetapi mendengar kepedihan fisik dan mental yang dialami Bumi sejak usia remaja ini, ada sesuatu yang mencubit dadanya.
"Lalu kamu diam saja?" tanya Langit pelan.
"Awalnya iya. Tapi malam itu, saat pak Subahri mau melayangkan pukulan kesekian belas kalinya, aku menangkap sabuk itu." Bumi mendongak, menatap langsung ke manik mata Langit. Senyum pahit terukir di bibirnya.
"Aku sentak sampai dia terjatuh. Lalu aku berlari pergi begitu saja."
Bumi melepaskan kepalan tangannya, mengusap permukaan meja seolah sedang menghapus bayangan masa lalu yang kelam.
"Setelah aku pergi dari rumah itu, Aku hidup luntang-lantung di jalanan. Tidur di emperan toko, makan dari sisa-sisa warung tenda kalau ada yang kasihan. Sebatang kara, sekurus tulang, dan sekotor sampah."
"Sampai ketemu pemilik bengkel?" tebak Langit, mulai terbawa alur.
Bumi mengangguk.
"Dia salah satu teman pak Subahri, kasian melihatku kehujanan di depan bengkelnya dan menawariku kopi hitam, bukan uang. Dari situ aku mulai bantu-bantu. Cuci motor, pegang kunci pas, sampai akhirnya dia mengizinkanku tidur di ruko bawah. Setelah itu aku hidup berpindah-pindah, kerja apa saja yang penting halal, sampai akhirnya aku bisa membiayai sekolahku sendiri ke SMK Otomotif. Cuma itu modal hidup yang aku punya, Langit. Ijazah SMK dan tangan yang penuh oli."
Langit memperhatikan garis rahang Bumi. Seiring bertambahnya usia, gizi yang membaik, dan bentukan hidup yang keras.
Bumi tumbuh menjadi pria yang harus Langit akui, sangat tampan. Wajahnya memiliki perpaduan antara ketegasan rahang, hidung mancung, dan tatapan mata yang dingin namun memikat.
Ditambah tubuh tegap berkat kerja fisik bertahun-tahun dan tato yang menghiasi kulitnya, Bumi memiliki daya tarik maskulin yang berbahaya. Jenis ketampanan yang membuat para wanita rela menoleh dua kali di jalanan.
"Jangan menatapku seperti itu, nanti kamu jatuh cinta," celetuk Bumi tiba-tiba, memecah keheningan dengan nada datar andalannya.
Langit mendengus, mencoba menyembunyikan rona tipis di pipinya. "Jangan terlalu percaya diri, Bumi. Aku hanya sedang menilai aset investasiku."
"Investasi ya?" Bumi menopang dagunya dengan satu tangan.
"Tapi investasimu ini dulu jadi rebutan, tahu. Waktu usiaku masuk dua puluh, bengkel tempatku kerja selalu ramai. Bukan karena motor mereka rusak, tapi karena anak-anak perempuan pelanggan motor sengaja merusak karburator atau memutus kabel busi sendiri biar bisa ke bengkel dan bertemu aku."
Langit menaikkan satu alisnya, setengah geli setengah tidak percaya. "Oh ya? Sampai segitunya?"
"Serius. Malah ada bapak-bapak yang datang bawa sertifikat tanah sawah, katanya mau dijadikan mas kawin kalau aku mau sama anaknya yang baru lulus SMA," kata Bumi tanpa ekspresi, seolah menceritakan harga sembako yang naik.
"Tapi aku tolak. Lagian, seleraku kan tinggi."
"Tinggi seperti apa?"
"Ya seperti CEO galak yang duduk di depanku ini, yang menyewa jasa ketampananku demi urusan bisnis dengan syarat harus segera nikah," balas Bumi tenang.
Mendengar itu, sudut bibir Langit tak tahan untuk tidak berkedut membentuk senyuman.
Sifat Bumi yang dingin, blak-blakan, namun disisipi komedi satir yang konyol entah bagaimana selalu berhasil mencairkan ketegangannya.
Di balik penampilan berandalan dan tato di tubuh tegapnya, Langit menyadari satu hal_
Bumi bukan sekadar pria tampan dari jalanan.
Dia adalah seorang penyintas yang tangguh. Dia ditempa oleh penderitaan, namun tidak menjadi lemah atau jahat. Dia justru tumbuh menjadi mandiri dan tak tergoyahkan.
"Kamu bilang kamu terampil dalam segala hal karena hidup di jalanan," kata Langit, melipat kedua tangannya di atas meja. "Termasuk bertahan hidup di dunia digital modern?"
Bumi tidak menjawab dengan kata-kata.
Matanya melirik ke arah ponsel pintar milik Langit yang tergeletak di samping cangkir kopi. Ponsel itu adalah edisi terbatas, dengan enkripsi keamanan tingkat tinggi yang biasa digunakan oleh para petinggi korporat.
"Boleh aku pinjam ponselmu?" tanya Bumi.
"Untuk apa? Kamu mau memamerkan keahlian 'penyintas' jalanan mu di ponsel dengan sistem keamanan berlapis?"
tantang Langit ragu, namun menyodorkan ponselnya yang dalam keadaan terkunci layar.
Bumi mengambil ponsel itu dengan gerakan santai. Jemarinya yang bertato bergerak dengan ritme yang konstan, tidak terburu-buru.
Dia tidak meretas sistem keamanan dalam artian kriminal, melainkan melakukan sesuatu yang tak terduga.
Bumi mengetuk beberapa kombinasi tombol fisik, memasukkan kode dial tertentu yang jarang diketahui orang awam, lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya selama tiga detik sebelum meletakkannya kembali di depan Langit.
Layar ponsel Langit tiba-tiba menyala, menampilkan sebuah dokumen tersembunyi berformat cache yang merekam aktivitas latar belakang aplikasi pihak ketiga.
Di sana, tertera sebuah log aktivitas mencurigakan—sebuah aplikasi pelacak lokasi yang tertanam secara rahasia di dalam folder sistem yang menyamar sebagai aplikasi pembaruan cuaca.
Langit terbelalak. "Ini_, apa ini?"
"Ada yang memasang spyware di ponselmu, Langit.
Kemungkinan besar orang dalam atau seseorang yang pernah memegang ponselmu selama lima menit dalam keadaan tidak terkunci," kata Bumi, suaranya kembali dingin dan analitis.
"Aplikasi ini mengirimkan koordinat GPS-mu setiap dua jam ke server lokal di daerah Jakarta Selatan. Aku memotong jalur sinkronisasinya tadi dan mengalihkan IP-nya ke server hantu, jadi sekarang mereka mengira kamu sedang berada di tengah-tengah TPU Jeruk Purut."
Langit menatap layar ponselnya, lalu menatap Bumi dengan pandangan takjub yang tidak bisa disembunyikan. Mulutnya sedikit terbuka. "Bagaimana kamu bisa tahu cara ini? Ini sistem operasi kustom khusus korporasi!"
"Waktu aku hidup luntang-lantung, aku pernah ikut numpang tidur di sebuah jembatan penyeberangan bersama seorang mantan dosen IT yang frustrasi karena dipecat dan jadi gelandangan,"
Jawab Bumi santai, sambil mengambil sepotong buah apel dari piring buah di tengah meja lalu menggigitnya dengan renyah.
"Dia tidak punya uang, tapi dia punya tumpukan buku teks tua dan laptop rongsokan yang dicolok ke tiang listrik jalanan.
Dia mengajariku dasar-dasar jaringan komputer sebagai bayaran karena aku selalu membagi jatah nasi bungkusku untuknya, menyelamatkan hidup orang lain terkadang memberimu keahlian magis."
Langit menggeleng-gelengkan kepala, benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja dia saksikan.
Pria di hadapannya ini penuh dengan kejutan.
Di satu sisi dia adalah montir bertato yang terkesan liar, di sisi lain dia memiliki ketajaman insting dan pengetahuan tak terduga yang bahkan mengalahkan tim IT pribadinya.
"Kamu benar-benar sesuatu, Bumi," bisik Langit, senyum tulus akhirnya mengembang di wajah cantiknya. Rasa hormatnya pada pria muda ini melonjak drastis.
Bumi menelan kunyahan apelnya, lalu menatap Langit dengan tatapan datar yang menyebalkan.
"Jadi, karena aku sudah menyelamatkanmu dari mata-mata, apa ada bonus untuk suami kontrakmu ini?"
"Bonus apa?" tanya Langit waswas namun penasaran.
"Ganti menu sarapan besok. Jangan roti gandum lagi. Rasanya seperti makan kardus pembungkus onderdil motor," kata Bumi polos.
Langit tertawa lepas, tawa pertama yang paling lepas yang dia rasakan setelah berbulan-bulan didera stres pekerjaan. "Baik, besok kita makan nasi uduk pinggir jalan. Puas?"
Bumi tersenyum tipis, kepalan tangan yang tadi sarat akan kepedihan masa lalu kini telah rileks sepenuhnya.