32 wanita menyerah. Vivi adalah calon istri nomor 33.
Menikah dengan duda beranak lima seharusnya menjadi solusi bagi dirinya yang divonis tak bisa punya anak sejak muda.
Namun tidak ada yang memberitahunya bahwa lima anak Pak Baskara telah bersekutu untuk mengusir setiap wanita yang mencoba menggantikan posisi ibu mereka. Akankah Vivi bertahan, atau menjadi nama berikutnya dalam daftar kegagalan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Sedangkan Lili, Lili masih belum benar-benar mengerti. Ia beberapa kali berjalan ke kamar tamu tempat Bu Mega menginap. Lalu bertanya, "Nenek mana?" Dan setiap kali pertanyaan itu muncul, hati Vivi kembali terasa remuk.
Namun yang paling membuatnya khawatir adalah Baskara.bSejak pagi lelaki itu hampir tidak menangis. Ia mengurus semua keperluan. Menerima tamu. Mengatur pemakaman. Menjawab telepon. Mengurus yayasan. Terlalu sibuk. Seolah jika ia berhenti bergerak sedetik saja, kesedihan itu akan mengejarnya.
Malam harinya, setelah rumah mulai sepi dan anak-anak tertidur karena kelelahan menangis, Vivi menemukan Baskara sendirian di ruang kerja. Ruangan yang dulu sering dipakai Bu Mega saat berkunjung. Lelaki itu duduk dalam gelap. Tidak menyalakan lampu. Tidak melakukan apa-apa.bHanya duduk.
Vivi masuk perlahan. "Mas." Tidak ada jawaban. "Mas."
Kali ini Baskara mengangkat wajah. Dan untuk pertama kalinya hari itu, Vivi melihat kesedihan yang selama ini ditahannya. "Aku sudah tidak punya Ibu."bKalimat itu keluar begitu pelan. Namun menghancurkan hati Vivi. Karena saat itu Baskara tidak terlihat seperti seorang ayah. Tidak terlihat seperti pemimpin perusahaan. Tidak terlihat seperti lelaki yang kuat. Ia hanya seorang anak yang baru kehilangan ibunya.
Vivi berjalan mendekat. Lalu memeluknya. Tidak mengatakan apa-apa. Karena tidak ada kata-kata yang cukup. Baskara akhirnya menangis. Diam-diam. Di bahu istrinya. Tangisan yang selama ini ditahannya sejak pagi. Dan malam itu, di rumah yang terasa begitu kosong tanpa Bu Mega, keluarga kecil mereka belajar satu hal yang sangat menyakitkan. Bahwa cinta tidak pernah benar-benar hilang saat seseorang pergi. Justru karena cinta itu begitu besar, kehilangan terasa begitu berat. Namun mereka juga tahu satu hal lain. Bu Mega telah pergi dengan tenang. Di pagi Jumat. Setelah melihat putranya bahagia. Setelah melihat cucu-cucunya tumbuh.nSetelah melihat Vivi menjadi bagian dari keluarga yang dulu sangat ia khawatirkan. Dan mungkin itu adalah perpisahan terbaik yang bisa diminta seorang ibu. Karena ia meninggalkan dunia dengan hati yang telah selesai mencintai dan memastikan orang-orang yang dicintainya akan baik-baik saja.
***
Hari pertama. Hari kedua. Hari ketiga. Sampai hari ketujuh. Rumah Baskara tidak pernah benar-benar sepi. Pagi hari sudah ada tamu. Siang hari lebih banyak lagi. Malam hari pun masih ada yang datang. Mereka datang untuk mendoakan Bu Mega. Mengenang jasa-jasanya. Menceritakan kebaikan-kebaikan yang mungkin bahkan tidak diketahui keluarga.
Ada mantan guru yang pernah dibantu biaya kuliahnya. Ada pegawai yayasan yang pernah diselamatkan dari kesulitan ekonomi. Ada murid-murid lama yang kini sudah menjadi orang sukses.Dan setiap kali mendengar cerita itu, Vivi semakin memahami mengapa begitu banyak orang menangis saat Bu Mega wafat. Perempuan itu rupanya telah menyentuh kehidupan begitu banyak orang.
Di tengah ramainya rumah, Vivi hampir tidak punya waktu untuk duduk. Ia mengatur konsumsi. Menyambut tamu. Menyiapkan minuman. Mengawasi anak-anak. Memastikan semua kebutuhan keluarga terpenuhi.
Untunglah kedua orang tuanya datang membantu. Ibunya mengambil alih dapur. Ayahnya membantu menerima tamu laki-laki bersama Baskara..Rumah yang biasanya terasa besar itu kini hampir tidak pernah kosong. Suatu siang, ketika Vivi sedang menyusun gelas di dapur, ibunya menghampiri. "Istirahat sebentar."
"Nanti saja, Bu."
"Dari pagi kamu belum duduk."
Vivi tersenyum lelah. "Kalau aku duduk, siapa yang mengurus semua ini?"
Ibunya memandang putrinya cukup lama.nLalu mengusap kepala Vivi seperti saat masih kecil. "Kamu sudah jadi istri yang baik."
Mata Vivi langsung terasa hangat.nKarena pujian seperti itu jarang keluar dari ibunya. "Aku hanya melakukan yang seharusnya."
"Tetap saja." Ibunya tersenyum. "Bu Mega pasti tenang melihatmu."
Kalimat itu hampir membuat Vivi menangis. Karena justru sekarang ia sangat merindukan mertuanya.Sosok yang dulu memaksanya menerima perjodohan ini. Sosok yang dulu membuatnya kesal. Namun juga sosok yang pertama kali percaya bahwa ia mampu menjadi bagian dari keluarga Baskara.
Sore harinya, Vivi menemukan Sean duduk sendirian di teras. Kebiasaan itu kembali muncul setelah pemakaman. "Sean, Kenapa di sini?"
Sean menatap halaman depan. "Aku masih berharap Nenek tiba-tiba datang."
Hati Vivi terasa nyeri. Anak itu memang sudah mulai tersenyum lagi. Sudah kembali belajar. Sudah kembali membantu adik-adiknya. Namun kehilangan tidak selesai dalam sehari. "Aku juga kangen Nenek." kata Vivi pelan.
Sean menoleh. "Tante juga? Padahal Tante baru kenal beliau."
Vivi tersenyum tipis. "Kadang seseorang tidak perlu hadir lama untuk menjadi penting."
Sean terdiam. Lalu perlahan menyandarkan kepalanya ke bahu Vivi. Dan untuk pertama kalinya sejak Bu Mega meninggal, ia membiarkan dirinya bersandar pada seseorang.
Malam itu, ketika tamu terakhir pulang, rumah akhirnya sedikit lebih lengang. Anak-anak sudah tidur. Orang tua Vivi juga sedang beristirahat di kamar tamu. Sedangkan Baskara duduk di ruang makan sendirian..Lelaki itu tampak jauh lebih kurus dibanding seminggu lalu. Kesedihan ternyata menguras tenaga dengan cara yang berbeda. Vivi meletakkan secangkir teh hangat di depannya. "Minum."
"Terima kasih."bBeberapa saat mereka hanya diam. Lalu Baskara berkata pelan, "Aku hampir tidak sempat berterima kasih pada orang tuamu."
"Untuk apa?"
"Karena membantu selama ini."
Vivi menoleh ke arah dapur.nTempat ibunya masih membereskan beberapa peralatan. Dan ke arah ruang tamu.nTempat ayahnya tadi menemani tamu-tamu lelaki.n"Mereka menganggap ini juga rumahku."
Baskara mengangguk. Lalu menatap istrinya. Tatapan yang penuh rasa syukur. "Dan itu membuat mereka menganggap ini rumah mereka juga."
Vivi tersenyum. Untuk pertama kalinya sejak Bu Mega pergi, ia melihat sedikit ketenangan di wajah suaminya. Memang belum sembuh. Belum benar-benar pulih. Namun perlahan mereka mulai belajar hidup dengan kehilangan itu. Karena rumah ini masih berduka. Masih menyimpan banyak kesedihan. Masih sering teringat suara Bu Mega. Tetapi di tengah semua itu, keluarga kecil mereka tetap bergerak maju. Saling menopang. Saling menjaga. Persis seperti yang diinginkan Bu Mega sebelum beliau pergi. Keluarga yang utuh. Keluarga yang tidak sempurna. Tetapi saling mencintai.
***
Pagi itu untuk pertama kalinya setelah berhari-hari suasana rumah terasa sedikit lebih ringan. Aroma bubur ayam memenuhi dapur. Ibu Vivi sudah sibuk sejak Subuh. Meskipun Vivi berkali-kali melarang, perempuan itu tetap bersikeras membantu. "Kalian lagi banyak pikiran." katanya. "Biarkan Ibu masak."
Hasilnya? Tentu saja luar biasa. Saka sudah menambah mangkuk kedua. Sean makan diam-diam namun jelas menikmati. Yuan bahkan meminta resepnya meski belum tentu dipraktekkan. Ella sibuk menambahkan kerupuk. Sedangkan Lili makan sambil duduk di pangkuan nenek dadakannya.
"Enak."nkata Sean. "Enak sekali."
Ibu Vivi tersenyum senang. "Kalau begitu nanti Nenek buat lagi."nUcapan itu keluar begitu alami hingga semua orang terdiam sesaat.
"Nenek." Biasanya kata itu langsung mengingatkan mereka pada Bu Mega. Dan biasanya setelah itu suasana akan berubah muram. Namun kali ini berbeda. Karena yang mengucapkannya adalah ibu Vivi. Dan entah kenapa, rasanya hangat.
Tiba-tiba Saka meletakkan sendoknya.Anak itu menatap ibu Vivi dengan serius. Serius sekali sampai semua orang memperhatikannya. "Boleh tanya?" ia menatap ibunya Vivi dengan serius. "Bolehkah Anda jadi nenek saya?"
demi keluarga mantan mertua dia malah mengkhianati amanah ibu sendiri,,
bloon banget
baskara sebagai suami tidak menjalankan amanah dgn baik