Selama 18 tahun, Bai Chen hidup sebagai anak selir yang tidak dianggap di faksi kecil Benua Barat. Ia disiksa, dihina, dan jalur Dao-nya dihancurkan oleh klannya sendiri tanpa ampun, membuatnya dianggap sebagai sampah abadi.
Tepat di hari ulang tahunnya yang ke-18, saat ia terbaring sekarat di ruang bawah tanah yang dingin, sebuah suara mekanik dingin berdering di kepalanya:
[Sistem Penguasa Dao Diaktifkan. Memperbaiki jalur Dao yang hancur. Sinkronisasi dimulai...]
Dalam sekejap, hambatan tubuhnya musnah. Dari titik terendah sebagai manusia fana, ia melompat langsung ke Ranah Void Dao!
Menggabungkan logika sains modern dan kekuatan sistem absolut, Bai Chen menembus batasan dunia kultivasi yang kolot. Ia membumihanguskan para musuh yang merendahkannya, mengguncang 5 Klan Kuno di Benua Tengah, hingga berdiri di puncak pertempuran kosmik yang membelah dunia demi menjadi Kaisar Surgawi mutlak yang tak tertandingi!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon OhMyZy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gemerincing Lonceng Kuil Lingyin dan Sambutan Suci Benua Selatan
Udara pegunungan di Benua Selatan berhembus sejuk, membawa serta aroma harum kayu cendana, dupa murni, dan kelembapan kabut tipis yang menyelimuti puncak-puncak batu granit raksasa. Di lereng-lereng curam tersebut, kompleks Kuil Agung Lingyin berdiri megah dengan arsitektur khas beratap lengkung emas dan dinding berwarna merah bata menyala. Suara dentang lonceng perunggu kuil bergemerincing merdu setiap kali ditiup angin, menciptakan suasana damai dan sakral yang mampu menenangkan batin siapa saja yang mendengarnya.
Berbeda dengan Benua Utara yang dipenuhi dengan hiruk-pikuk industri alkemi dan aroma obat-obatan, Benua Selatan adalah pusat dari tradisi spiritual, meditasi mental, dan disiplin bela diri batin di bawah panji agung Sekte Buddha.
Bai Chen berjalan tenang menapaki ribuan anak tangga batu granit yang mengarah langsung ke pelataran utama kuil. Mengenakan jubah putih bersih tanpa atribut berlebihan, kehadirannya tampak begitu kontras di tengah kerumunan para biksu muda berjubah kuning yang lalu-lalang membawa tasbih dan kitab suci.
Sepanjang perjalanan menaiki tangga, Bai Chen dapat merasakan fluktuasi energi spiritual yang mengalir lembut dari dalam bumi. Energi di Benua Selatan tidak bersifat agresif seperti Qi pedang atau panas seperti elemen api alkemi; energi di sini bersifat murni, stabil, dan berfokus pada ketenangan jiwa.
Namun, ketenangan luar biasa yang menyelimuti tempat itu seketika mulai menipis saat Bai Chen semakin mendekati area pelataran utama kuil. Semakin dekat ia melangkah, getaran frekuensi suara berdengung bernada tinggi terasa semakin tajam menusuk gendang telinga.
Saat ia tiba di pelataran luas berlapis batu pualam putih, pemandangan mencolok langsung menyambut pandangannya.
Ratusan biksu senior, pengurus kuil, dan para tetua bela diri tampak berkumpul dalam lingkaran besar dengan wajah tegang dan diliputi kepanikan mendalam. Di pusat lingkaran tersebut, berdiri megah sebuah patung Buddha raksasa setinggi tiga puluh meter yang diukir dari batu giok putih murni. Patung itu biasanya memancarkan cahaya keemasan yang menenangkan, namun hari ini, bagian dadanya diselimuti oleh kepulan kabut hitam pekat yang berdenyut-denyut beringas, mengeluarkan gelombang energi destruktif yang meretakkan lantai pualam di sekelilingnya.
Di hadapan patung tersebut, Master Kongkong—Ketua Sekte Buddha yang berada di ranah Void Dao—tengah bersila bersama belasan biksu tingkat tinggi lainnya. Mereka mati-matian menyalurkan Qi putih suci untuk menahan laju penyebaran kutukan hitam tersebut.
Bum!
Ledakan gelombang kejut energi hitam kembali memantulkan cahaya putih, menghantam para biksu senior hingga terpental mundur secara bersamaan. Master Kongkong jatuh terduduk di atas lantai batu, memuntahkan darah segar dari mulutnya, sementara wajahnya tampak sangat pucat pasi kehabisan tenaga.
"Ketua Sekte!" seru para biksu junior histeris, bergegas maju membimbing pimpinan mereka berdiri.
Master Kongkong menggelengkan kepalanya lemah, menatap patung Buddha raksasa dengan sorot mata penuh keputusasaan. "Kutukan itu... telah meresap terlalu dalam ke inti frekuensi spiritual patung penyeimbang... Teknik pemurnian sepuluh ribu Buddha kita sama sekali tidak berdampak padanya... Jika ini terus berlanjut, seluruh energi spiritual di Benua Selatan akan runtuh dalam hitungan hari!"
Di tepi kerumunan, Bai Chen berdiri dengan tangan bersidekap di dada, mengamati fenomena aneh tersebut dengan ekspresi yang sangat santai.
Bagi orang-orang di dunia kultivasi ini, kabut hitam tersebut dianggap sebagai kutukan roh jahat atau murka dari alam semesta. Tapi bagi sudut pandang seorang insinyur modern, anomali itu sangatlah sederhana: itu adalah sisa gelombang frekuensi negatif dari sebuah meteorit purba luar angkasa yang menembus perisai dimensi dunia ini ratusan ribu tahun lalu, tertanam di dalam inti batu giok patung, dan mengalami resonansi elektromagnetik liar yang tidak bisa dipadamkan dengan tenaga spiritual biasa.
[Ding! Misi Sampingan Terdeteksi: Membersihkan Anomali Energi Hitam di Patung Buddha Raksasa.]
[Hadiah Misi: 20.000 Poin Sistem + Peningkatan Kapasitas Inti Meridian Spiritual.]
Suara mekanik sistem berkelebat di kepala Bai Chen, memberikan lampu hijau atas analisis yang ia buat.
Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Bai Chen melangkah maju menerobos kerumunan biksu yang sedang panik. Kehadirannya yang tiba-tiba langsung menarik perhatian para pengurus kuil.
"Hei, anak muda! Siapa kau? Tempat ini berbahaya, jangan mendekat!" seru salah seorang biksu senior berbadan tegap, mencoba merentangkan tangan untuk menghalangi langkah Bai Chen.
Namun, sebelum tangan biksu itu menyentuhnya, Bai Chen melayangkan pandangan sekilas yang memancarkan kilat keemasan tipis dari pupil matanya. Tekanan spasial dari ranah Void Dao yang terkontrol sempurna membuat sang biksu membeku seketika di tempatnya, tidak mampu menggerakkan satu otot pun di tubuhnya.
Bai Chen terus melangkah dengan tenang melewati barisan biksu yang terpaku kaget, hingga ia berdiri tepat di tengah lingkaran, berhadapan langsung dengan Master Kongkong yang sedang terduduk lemah.
Master Kongkong mendongakkan kepalanya, menatap pemuda berpakaian putih di hadapannya dengan alis berkerut penuh kebingungan. Sebagai seorang kultivator ranah Void Dao, ia bisa merasakan bahwa pemuda di depannya ini tidak memancarkan aura Qi yang biasa, melainkan sebuah eksistensi ketenangan mutlak yang melampaui logika fana.
"Anak muda..." suara Master Kongkong terdengar serak dan parau. "Siapa kau? Dan untuk apa kau mendekati patung suci yang sedang terkutuk ini? Tempat ini sangat berbahaya bagi orang luar."
"Ketua Sekte Kongkong, perkenalkan, aku adalah seorang pengembara," ucap Bai Chen dengan suara tenang yang bergema jelas ke seluruh pelataran kuil. "Kutukan energi hitam yang membuat kalian kewalahan ini bukanlah makhluk halus, bukan pula murka dewa. Ini murni masalah interferensi gelombang frekuensi negatif."
Mendengar istilah asing seperti "interferensi gelombang frekuensi", Master Kongkong dan para biksu senior tertegun bingung. Mereka saling berpandangan, tidak memahami sepatah kata pun dari apa yang diucapkan oleh pemuda tersebut.
"Interferensi... gelombang frekuensi?" gumam Master Kongkong kebingungan. "Apa maksudmu, anak muda? Energi hitam itu adalah sisa kutukan iblis purba yang merusak jiwa!"
"Itu hanya persepsi bodoh orang yang tidak memahami fisika dasar," jawab Bai Chen tanpa ragu sedikit pun. "Kalian menggunakan Qi putih yang bersifat positif untuk melawan energi hitam tersebut secara langsung. Akibatnya, terjadi benturan polaritas yang justru memperkuat amplitudo getaran patung. Semakin keras kalian mencoba membersihkannya dengan tenaga spiritual mentah, semakin besar pula energi hitam itu merusak sistem resonansi patung."
Penjelasan yang sangat logis dan tajam itu membuat Master Kongkong terperanjat hebat. Meskipun ia tidak mengerti istilah ilmiahnya, ia bisa merasakan ada kebenaran mutlak di balik nada suara pemuda tersebut—terutama karena kegagalan beruntun yang dialami oleh para biksu selama ini persis seperti yang digambarkan oleh Bai Chen.
"Lalu... jika metode pemurnian kami salah, apa ada cara lain untuk mengatasinya?" tanya Master Kongkong dengan nada memohon, menatap Bai Chen seolah-olah melihat satu-satunya harapan terakhir di dunia.
Bai Chen tersenyum tipis. Ia melangkah maju mendekati patung Buddha raksasa yang masih berdenyut mengeluarkan kabut hitam pekat.
"Tentu saja ada," jawab Bai Chen. "Kalian tidak butuh sepuluh ribu biksu untuk bertarung melawan energi ini. Kalian hanya butuh satu frekuensi netral untuk meredam resonansinya.