Isabella adalah mantan pembunuh bayaran paling berbahaya dan paling di takuti di dunia gelap. Selama bertahun-tahun tangannya telah berlumuran darah.
Namun semuanya berubah saat Isabella menemukan seorang bayi perempuan di depan apartemennya. Sejak saat itu dia memutuskan pensiun demi keselamatan anaknya. Tapi sayangnya sang bos tidak menyukai itu, hingga dia membunuh anak Isabella karena menganggap jika anak itu adalah penghalang Isabella.
Melihat sang putri tewas, Isabella marah dan mulai memburu satu persatu orang yang telah membunuh putrinya. Setelah dendamnya terbayar, Isabella memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
Namun kematian ternyata bukan akhir baginya, karena setelah membuka mata kembali. Isabella mendapati dirinya berada di tubuh seorang wanita bernama Isabella Iris, seorang ratu yang di buang dari istananya sendiri.
Bagimana kisah Isabella selanjutnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nitaastri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Pertarungan Melawan Pemimpin Monster 1
Monster besar itu kembali mengeluarkan raungan keras.
"ROOOAAARRR!"
Suara tersebut begitu kuat hingga membuat pepohonan di sekitar mereka bergoyang.
Isabella menatap monster itu menyeringai, dia mulai memikirkan berapa nilai inti sihir monster itu jika di jual.
"Aku penasaran, berapa harga inti sihir monster ini? Apa kalian berdua tau?" Tanya Isabella pada Aeron dan Kael, sedangkan Kael dan Aeron yang mendengar pertanyaan Isabella hanya tercengang. Jadi yang membuat Isabella bersemangat sejak tadi adalah inti sihir para monster itu.
Aeron hanya menggelengkan kepalanya sambil menjilati tangannya dengan lembut, lalu melirik Kael.
"Menurutmu siapa yang akan memenangkan pertarungan ini?" Tanya Aeron.
"Mau bertaruh?" Tantang Kael lalu mereka berdua tertawa.
Sedangkan Isabella menatap monster yang baru saja muncul di hadapannya itu dengan tajam.
Monster itu menggeram keras, memperlihatkan taring-taring tajamnya. Tatapannya tertuju lurus kepada Isabella, seolah ingin mencabik-cabik wanita itu dalam sekali serangan.
Namun Isabella?
Dia sama sekali tidak terlihat takut, bahkan wajahnya masih terlihat tenang.
"GRRAAAHH!"
Monster itu tiba-tiba menerjang Isabella, ruangannya menggema di seluruh desa. Tanah di sekitar Isabella ikut bergetar setiap kali kaki besarnya menghantam tanah, sementara tubuh raksasanya melesat ke arah Isabella tanpa memberinya waktu untuk bersiap.
Dalam sekejap, tinju besarnya sudah mengarah tepat ke wajah Isabella. Namun Isabella langsung bergerak cepat, ia memiringkan kepalanya tepat saat tinju itu melesat di depannya.
WUSSHH!
Tinju monster itu melintas tepat di samping wajahnya, begitu dekat hingga hembusan anginnya menerpa wajah Isabella, serangan itu bahkan nyaris mengenainya. Isabella kemudian memutar tubuhnya dan melangkah ke samping, menghindari serangan itu dengan mudah.
Monster itu tampak semakin marah, Ia kembali menggeram lalu menerjang Isabella dengan kecepatan yang jauh lebih cepat.
Kali ini Isabella melompat, tubuhnya melayang tinggi di udara sebelum kedua kakinya mendarat dengan ringan di atas atap salah satu rumah warga.
Monster itu mendongakkan kepalanya, ingin kembali menyerang Isabella, tetapi Isabella sudah kembali melompat.
"Sudah cukup."
Suara Isabella terdengar dingin, dalam sekejap tubuhnya melesat turun.
Pedang di tangannya terhunus.
SRAAAK!
Dengan satu tebasan, tangan monster itu langsung terputus, seketika darah segar menyembur ke udara.
"GRRAAAUUHHH!"
Monster itu menggeram kesakitan sambil mundur beberapa langkah. Sementara Isabella hanya berdiri di hadapannya, tatapannya semakin tajam, kemudian perlahan dia mengeluarkan pedang keduanya. Kini Isabella menggenggam dua pedang sekaligus.
Sang kusir yang menyaksikan dari kejauhan bahkan tidak mampu berkata-kata, dia sangat terkejut melihat bagaimana Isabella bertarung, awalnya dia berpikir jika mereka mungkin saja akan mati dan menjadi santapan para monster itu tapi siapa sangka jika ternyata para monster itulah yang pada akhirnya menjadi buruan Isabella.
Isabella lalu merendahkan tubuhnya, menekuk lutut sambil bersiap menerjang. Dalam sekejap, tubuhnya melesat cepat hingga lenyap dari pandangan monster itu.
Dan detik berikutnya—
SRAK!
Tebasan pertama.
SRAK!
Tebasan kedua.
SRAK!
Tebasan ketiga.
Tubuh Isabella bergerak begitu cepat, meliuk dan berputar di antara serangan monster yang datang bertubi-tubi. Setiap langkahnya ringan, tetapi penuh perhitungan, seolah-olah ia sedang menari di tengah medan pertempuran.
Ia menghindari setiap serangan dengan gerakan lincah, membuat sosoknya tampak seperti bayangan yang sulit ditangkap. Bahkan sebelum monster itu sempat menyadari keberadaannya, Isabella sudah berpindah ke sisi lain.
Setiap putaran tubuhnya diikuti ayunan pedang yang tajam.
Srak!
Tebasan demi tebasan melesat tanpa ampun, menghujani tubuh monster-monster itu. Gerakan Isabella semakin cepat, semakin sulit diikuti, hingga medan pertempuran itu seolah menjadi panggung tarian baginya dan pedang di tangannya adalah senjata yang menentukan akhir dari setiap gerakan.
Monster itu terus mencoba menyerang.
Namun tidak satu pun serangannya berhasil menyentuh Isabella.
Hingga tiba-tiba monster itu membuka mulutnya lebar-lebar.
"GRRAAAAAHH!"
FWOOSH!
Api besar menyembur dari mulutnya, api itu melesat lurus ke arah Isabella, namun Isabella tidak mundur, dia menyilangkan kedua pedangnya.
KRAAAK!
Energi es langsung menyelimuti kedua pedangnya, membentuk lapisan kristal dingin yang berkilauan di sepanjang bilahnya.
BOOOOM!
Api yang di muntahkan monster itu melesat dengan cepat dan menghantam kedua pedang Isabella yang telah di selimuti energi es. Benturannya menghasilkan ledakan keras, membuat kobaran api dan percikan es berhamburan ke segala arah.
Namun di tengah dahsyatnya benturan itu, Isabella masih berdiri tegak di tempatnya. Tak ada satu pun luka yang terlihat di tubuhnya, seolah serangan barusan sama sekali tidak mampu menyentuh dan melukainya.
"Giliranmu."
Bersambung