Rin-pertemuannya dengan Al adalah kebetulan. Tapi Al bisa memberikan rasa manis dan asem di hari-harinya.
Al-kaku dan dingin. Tapi dinginnya bisa meleleh. Pertemuannya dengan Rin seperti roti. hangat di luar empuk di dalam.
Kisah semanis roti buatan Rin, penuh proses, harus dibentuk dengan bahan takaran yang pas. Baru bisa dinikmati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4
Al baru pulang dari bukit yang bahkan dia rahasiakan dari teman-temannya. Al bersenandung pelan sambil memainkan kunci motor di tangannya.
"Bang, aneh nggak?" bisik Jonas.
"nggak! Apanya?" tanya Bima.
"Tuh!" Jonas menunjuk dengan dagunya ke arah Al yang baru datang. Bima memperhatikan dengan seksama. Nggak ada, dia nggak menemukan keanehan apapun pada Al.
"Lebih sumringah nggak sih?" tanya Jonas.
"Nggak ah, biasa aja," jawab Bima cuek kembali melanjutkan memainkan gitar di teras. Al melewati mereka.
"Woi... Siapa nih yang londriannya ada bonusan?" tanya Arza. Al cuek masuk ke kamar.
"Ada yang kecuci duitnya?" tanya Jonas cepat.
"Nggak! Tapi sesuatu yang bikin kaget," ucap Arza.
"Apa sih? Jangan bikin penasaran!" Bima menghentikan gitarnya dan membawa masuk. Di ruang tamu ada kantong berisi laundry-an mereka semua. Arza sedang memegang sebuah kantong berwarna biru sambil tersenyum melihat ke dalamnya.
"Ada apaan?" Jonas bertanya sambil melongokkan kepalanya bersamaan dengan Bima. Arza, Jonas dan Bima saling tatap tapi semua menggeleng. Lalu senyum ketiganya merekah.
"Udah ngaku aja bang," ucap Jonas pada Bima si paling tua diantara grup band mereka.
"Nggak, ngapain juga gua nyimpan ginian!" ucap Bima.
"Ngaku lo! Cewek mana yang lo pacarin lagi?" tanya Arza pada Jonas yang seumuran.
"Yaaah nggak! Kenapa jadi gue! Nggak hobi gue nyimpen pritilan cewek gitu!" ucap Jonas.
"Terus? Kalo bukan kita bertiga berarti...." Arza tersenyum jahil.
Arza dan Jonas berlari ke kamar Al tanpa mengetuk pintu keduanya masuk.
"Bang..." panggil Jonas.
"Hmm..." Al hanya bersuara dikit. Irit seperti biasa.
"Kenalin dong!" pinta Jonas.
"Apa?" Al memutar kursinya dan menatap dua temannya yang cengengesan. Keduanya segera diam saat melihat tatapan Al yang dingin.
"Eh... Anu... Udah liat kantong londrian?" tanya Arza.
"Kayak gak ada kerjaan aja, sana keluar!" usir Al sambil berbalik lagi menghadap ke meja kerjanya.
"Bang... Serius! Ada sesuatu disana!" ucap Arza.
"Ck! Keluar!" Al berbalik dengan kedua tangannya mendekap dadanya.
"Iya bang, iyaaaa... Serem banget sih! Gak semanis di kantong londri hahahaha!" keduanya ketawa-tawa keluar kamar Al.
Al tak peduli dan melanjutkan mengetik. Ngikutin kemauan Jonas dan Arza sama aja menghabiskan seluruh tenaganya.
"Hai bro!" kali ini Bima masuk. Dia menepuk bahu Al sambil tersenyum.
"Apa?" tanya Al.
"Who is she?" tanya Bima. Al mengangkat kedua alisnya.
"Siapa?"
"Cek kantong londri! Lo pasti kehilangan sesuatu!" ucap Bima. Dia lalu pergi keluar.
Al beranjak keluar kamar dan mendekati kantong loundry yang ada di atas meja ruang tengah. Al melongokkan kepalanya dan memeriksa di kantong biru.
Di dalam kantong baju ada sebuah gelang ungu! Al lupa mengeluarkan gelang itu dari saku jaketnya dan sekarang jaket itu dicuci dan dikembalikan tukang loundry.
Al membuka kantong dan meraih gelang ungu itu. Dia lupa harus mengembalikan itu ke Rin. Al yakin itu milik Rin.
Al mengantongi gelang itu dan masuk ke kamarnya. Kali ini dikunci supaya ketiga temannya tak lagi masuk terutama Jonas dan Arza. Si biang rusuh. Pantas mereka senyum-senyum. Salah sangka semua. Al pasrah kalau nanti makan malam jadi bulan-bulanan ketiga orang itu.
Al nggak tahu kalau Jonas dan Arza menempelkan telinganya di pintu kamar Al. Menunggu apakah Al akan menelepon seseorang tentang gelang itu. Tapi kamar Al sunyi. Keduanya dengan kecewa berbalik.
"Kenapa muka kalian begitu?" tanya Bima.
"Nggak penasaran bang siapa pemilik gelang itu?" tanya Jonas, menyeruput kopi milik Bima.
"Kopi gue!" Bima menjitak kepala Jonas.
"Dikit doang!" Jonas mengusap kepalanya.
"Misterius banget, siapa kira-kira ya? Apa dia balikan sama Vivian?" tanya Arza. Jonas dan Bima menatap Arza.
"Apa iya?" tanya Bima. "kalian tanya aja kalo penasaran!" lanjutnya dan kembali memetik gitar.
"Berani?" tanya Jonas saat Arza menatapnya. Arza menggeleng pelan.
Diluar sibuk menebak-nebak, Al di dalam kamar juga menebak-nebak. Apa Rin sedang mencari-cari gelang itu? Tapi kemarin Rin biasa aja, nggak nyari-nyari sesuatu.
Al menyimpan gelang itu ke laci meja kerjanya. Lusa akan dia kembalikan ke Rin sekalian beli cookies-nya. Al nggak nyangka kalau Rin bisa membuat cookies seenak itu. Benar-benar keturunan bu Tanti. Pemilik Roemah Roti yang sudah jadi langganannya sejak dulu.
Al beranjak ke dapur membuat kopi, sementara ketiga temannya sedang asik bermain gitar sambil nunggu pesanan makanan datang.
"Udah pesan makanan?" tanya Al, meletakkan kopinya di meja bergabung bersama tiga temannya.
"Udah, kayak biasa. Bentar lagi juga datang!" ucap Arza.
Tak lama pesanan mereka datang. Ayam lagi. Sama seperti dua minggu belakangan ini. Bosan sebenarnya tapi Al butuh tenaga.
"kok nggak semangat bang? Mau disuapin?" goda Jonas. Al hanya melirik dan menyudahi makanannya yang masih setengah.
"mau? Abisin aja!" Al menyodorkan sisa makanannya yang langsung jadi rebutan Jonas dan Arza.
"Al...." panggil Bima. Al berbalik.
"Ngopi di belakang!" Bima membawa gelas kopinya diikuti Al. Kalau Bima sudah mengajak ke belakang tandanya ada obrolan serius.
"Vivian ada di sini?" tanya Bima langsung.
"Kalau masih bahas dia, mending aku ke kamar!" ucap Al.
"Jadi kalau bukan Vivian siapa?"
"Soal gelang itu?"
Bima mengangguk.
"Aku ketemu di suatu tempat. Tapi kenal pemiliknya"
"Belum dibalikin atau mau disimpan?" tanya Bima. Seketika mata Al kembali dingin.
"Canda doang! Mau disimpen atau dibalikin. Mau dipelet atau didiemin, mau dikenalin atau nggak. Itu kan urusan lo," jawab Bima tapi sambil nyengir.
"Besok dibalikin!" jawab Al. Bima kehabisan kata-kata.
"Gimana kerjaan?" tanya Bima.
"Lancar, pagi ngantor. Sore cek sana sini,"
"Serius gak mau lanjutin band kita?" tanya Bima.
"Lanjut aja, tapi nggak kayak dulu. Kalau ada undangan ngisi acara, terima aja," ucap Al.
"oke, paling ngikutin jadwal Jonas sama Arza," ucap Bima.
Keduanya lanjut ngobrol soal kerjaan. Bima dan Al sudah bekerja di kantor masing-masing. Anak perusahaan kecil. Bima bergerak di bidang percetakan sedangkan Al dibidang alat musik. Hanya Jonas dan Arza yang masih kuliah. Mereka berempat dari dulu memutuskan tinggal bersama di rumah milik Al.
Tak lama Jonas dan Arza bergabung. Sudah dipastikan setelahnya tak akan ada lagi pembicaraan serius. Jonas dan Arza adalah duo usil yang nggak mau diam.
Al hanya memperhatikan bagaimana Jonas dan Arza berdebat tentang banyak hal. Al hanya melirik dan merasa capek sendiri. Bagaimana mungkin tenaga mereka nggak ada habisnya.
Al bangkit, ninggalin keributan Jonas dan Arza. Seperti biasa Bima jadi penengah.
Biarin.
Di kamarnya, Al buka laci meja lagi. Gelang ungu itu masih di sana, berkilau ketimpa cahaya lampu.Sudah hampir dua minggu di sakunya. Sekarang malah jadi satu-satunya benda manis di laci meja kerjanya. Tinggal gimana balikinnya tanpa harus ngomong panjang lebar.
Lanjut gak gaes?
kisah Al dan Rin tak melulu soal cinta, ada sedih, bahagia, lucu dan kadang sedikit kaku🤭
kisahnya nggak berat kok