Bagi publik, Arka Dirgantara adalah pengusaha sukses berselimut gosip miring, mulai dari disfungsi ereksi hingga rumor menyukai sesama jenis. Tak ada yang tahu rahasia terbesarnya, ditinggal kabur mantan istri di malam pengantin membuatnya trauma dan masih perjaka.
Terdesak ancaman dicoret dari warisan dan runtuhnya investasi, Arka nekat mengajak Naya Kirana, gadis ceria yang butuh uang pengobatan ibunya, untuk menjalani pernikahan kontrak satu tahun. Aturannya tegas, pura-pura mesra di depan media, tapi dilarang saling sentuh di rumah.
Namun, hidup seatap dengan Naya yang blak-blakan perlahan meruntuhkan dinding kaku Arka. Ketika sang mantan istri kembali untuk membongkar rahasia kelamnya, akankah sandiwara konyol ini hancur, atau justru berubah jadi cinta sejati yang menyembuhkan trauma masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Makhluk Apa Itu?
Jam dinding kamar menunjukkan pukul satu dini hari. Keheningan malam menyelimuti kamar utama apartemen itu, dipadu dengan hembusan pendingin ruangan yang menusuk tulang.
Di seberang benteng putih buatan Naya, napas perempuan itu sudah terdengar teratur dan halus. Naya sudah lelap dalam tidur nyenyaknya, seolah tidak punya beban pikiran sedikit pun.
Sementara Arka? Pria itu masih telentang memandangi langit-langit kamar dengan mata terbuka lebar.
Kehadiran Naya di atas kasurnya menciptakan atmosfer yang sangat aneh. Ada perasaan canggung yang tak kasatmata, namun di saat bersamaan, detak dadanya berdesir lebih cepat dari biasanya.
Arka bergeming sejenak, menatap benteng bantal di sampingnya sebelum akhirnya mengibaskan selimut dengan pelan.
Dengan gerakan perlahan, ia memutar tubuh dan menurunkan kedua kakinya ke lantai yang dingin. Lalu berdiri dan berjalan melangkah menuju sofa di sudut kamar usai menyambar tablet yang tergeletak di atas meja kaca, menekannya hingga layar menyala, lalu mendudukkan diri di atas sofa yang empuk.
Ia memijat pangkal hidungnya pelan, berusaha mengusir rasa kantuk yang janggal sekaligus desakan aneh di dalam dadanya.
Ia membuka beberapa dokumen pekerjaan, laporan keuangan harian hingga berkas proyek baru. Berharap deretan angka dan istilah bisnis bisa mengalihkan pikirannya.
Namun, fokusnya hancur berantakan. Matanya terus-terusan bergeser melirik ke arah tempat tidur.
Dari posisinya di sofa, ia bisa melihat siluet Naya yang meringkuk nyaman di balik selimut tebal. Bantal guling yang dijadikan pembatas di tengah kasur kini terasa konyol.
Ia lalu menghela napas panjang, mengusap wajahnya kasar lalu mematikan layar tablet. Suasana kamar kembali gelap, hanya disinari pendar samar lampu tidur di pojok ruangan.
Tiba-tiba, suara gesekan kain kembali terdengar. Naya bergerak dalam tidurnya, membalikkan badan ke arah sofa hingga guling pembatas itu terdorong sedikit.
Dalam remang malam, Arka bisa melihat wajah lelap Naya yang tampak begitu polos, sangat berbeda dengan tingkah kekanak-kanakan dan ocehan sengitnya jika sedang terbangun.
“Dasar penjahat tidur,” gumam Arka pelan dengan helaan napas halus.
“Bisa-bisanya dia tidur nyenyak, sementara aku di sini hampir gila.”
Arka menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa, memiringkan posisi duduknya sambil terus memperhatikan helaan napas Naya.
Rasa asing yang hangat lambat laun menyusup di antara rasa canggung yang menyiksanya sejak tadi. Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Arka menyerah pada rasa kantuknya bukan karena lelah bekerja, melainkan karena terbuai oleh irama napas seseorang di ruang yang sama.
*
*
Sinar matahari pagi menyusup tipis melalui celah gorden, menggantikan cahaya samar lampu tidur yang kini padam.
Naya mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali, menyesuaikan diri dengan cahaya terang yang mulai memenuhi ruangan.
Ia mengeliat pelan, menghirup udara pagi yang segar, sebelum akhirnya kesadarannya terkumpul sepenuhnya.
Pandangannya kemudian tertuju pada area kasur di sebelahnya. Bantal guling pembatas yang ia susun semalam masih ada di sana, tetapi sosok Arka sudah tidak terlihat.
Ia menyipitkan mata, mengamati sekeliling kamar utama yang luas itu. Hingga akhirnya, tatapannya terhenti pada sosok pria yang terbaring meringkuk di atas sofa sudut ruangan. Pria itu masih terlelap anggun dengan sebelah tangan menggantung di tepi sofa dan tablet yang tergeletak pasrah di atas lantai.
Naya lalu menyibak selimut, menggelengkan kepala heran.
“Kok malah tidur di sofa? Kan sudah dikasih pembatas?” batinnya geli.
Ia lalu bangkit dan melangkah perlahan menuju sofa. NIatnya sederhana, membangunkan pria itu sekaligus bertanya ingin dibuatkan sarapan apa pagi ini sebagai bentuk tanggung jawabnya.
Namun, tepat beberapa langkah sebelum mencapai sofa, ujung jari kakinya tak sengaja menyangkut pada lipatan karpet tebal yang sedikit terangkat.
“Aduh—!”
Naya kehilangan keseimbangan secara mendadak. Tubuhnya terdorong ke depan, tanpa sempat mencari pegangan.
BRUK!
Dan tanpa mampu dihindari tubuhnya pun mendarat tepat di atas dada bidang Arka. Siku tangannya refleks menahan beban tubuh di kiri dan kanan bahu pria itu, sementara dadanya menempel rapat pada tubuh Arka.
Hantaman mendadak itu membuat Arka terperanjat hebat dari tidurnya. Napasnya tersengal kaget, matanya langsung terbuka lebar secara refleks.
Dan untuk beberapa detik yang mendebarkan, waktu seolah berhenti berputar di dalam kamar itu.
Jarak di antara wajah mereka begitu dekat, hingga Arka bisa merasakan hembusan napas Naya yang hangat menerpa kulit pipinya. Aroma manis sampo buah yang tercium dari rambut Naya yang terurai makin mengacaukan fokusnya yang baru saja terkumpul dari mimpi.
Mata Arka yang semula membelalak kaget perlahan terkunci pada manik mata Naya yang terbuka lebar karena panik. Dada pria itu naik-turun tidak beraturan, bukan hanya karena hantaman mendadak di atas tubuhnya, tetapi juga akibat degupan kencang yang menghantam rongga dadanya tanpa ampun.
“K-kamu...” suara Arka terdengar serak khas orang baru bangun tidur, bercampur dengan nada tidak percaya. “Apa yang sedang kamu lakukan?”
Naya membeku, tangannya yang menahan beban tubuh di kiri dan kanan bahu Arka mendadak terasa gemetar. Posisi mereka benar-benar intim dan memalukan dengan tubuhnya menindih Arka sepenuhnya, dengan posisi wajah yang hanya berjarak beberapa sentimeter saja.
“S-saya... itu...” Naya melebarkan matanya, tergagap parah. Pipinya seketika merona merah padam hingga ke ujung telinga.
“Karpetnya! Tadi karpetnya terlipat, saya tersandung, dan tid—”
“Tersandung lalu memutuskan untuk jatuh tepat di atasku?” potong Arka dengan alis terangkat sebelah. Meski suaranya terdengar datar, Naya bisa melihat ada pendar geli yang sangat tipis di manik mata hitam milik pria itu.
“Bukan sengaja ya, Pak Arka! Saya cuma mau membangunkan Pak Arka dan mau bertanya mau dibuatkan sarapan apa!” pekik Naya tertahan, berniat membela diri sekaligus hendak secepatnya bangkit berdiri.
Namun, gerakan panik Naya justru
membuat posisinya makin tidak seimbang. Siku tangannya tergelincir di atas bahan empuk sofa, membuat tubuhnya kembali merosot turun.
Refleks, kedua tangan Arka melingkar di pinggang Naya untuk menahannya agar tidak jatuh terguling ke lantai.
Usaha Arka berhasil, namun dampaknya justru membuat tubuh Naya semakin terdorong rapat mengikis habis jarak di antara mereka. Kini, hidung Naya bahkan hampir bersentuhan dengan ujung hidung Arka.
Suasana di antara mereka seketika mengencang. Sentuhan jemari Arka yang kokoh di pinggangnya mengirimkan sengatan halus yang membuat Naya menahan napas sepenuhnya.
“Kalau mau bangunin,” bisik Arka pelan, suaranya yang dalam terasa begitu dekat hingga menggetarkan dada Naya, “tidak perlu pakai atraksi sirkus begini, Naya.”
Pipi Naya terasa makin membara, seolah-olah seluruh darah di tubuhnya mendadak berkumpul di wajahnya. Dalam jarak serapat ini, tatapan tajam dan bisikan Arka benar-benar melumpuhkan akalnya.
“Saya tidak berniat atraksi, ya!” sembur Naya gagap, berusaha keras mengembalikan kewibawaannya meski suaranya terdengar mencicit.
“Lagian siapa juga yang suruh Pak Arka tidur di sofa kayak begini? Makanya karpetnya sampai kegeser! Lepasin tidak? Nanti kalau ada yang liat gimana!”
Ia mulai menggeliat, berniat mendorong dada Arka agar bisa segera berdiri. Namun, alih-alih melepaskan, remasan jemari Arka di pinggangnya justru terasa sedikit memadat. Pria itu menatapnya datar, seolah menikmati kepanikan yang terpancar jelas dari mata Naya.
“Memangnya siapa yang mau melihat? Ini kamar pribadi saya,” sahut Arka santai, suaranya masih berat khas bangun tidur.
“Dan kamu yang jatuh duluan, kenapa malah menyalahkan karpet?”
“Ya kan memang gara-gara kar—”
Naya mendadak menghentikan kalimatnya. Kalimat pembelaan diri yang sudah berada di ujung lidahnya menguap begitu saja.
Di tengah usahanya yang terus menggeliat dan bergerak untuk lepas dari kuncian tangan Arka, ia merasakan sesuatu yang aneh.
Tepat di bawah perut dan paha bagian atasnya, pada area yang menempel rapat dengan tubuh Arka, sesuatu yang tadinya pasif perlahan-lahan mengeras dan terdorong naik.
Ada gerakan samar namun amat jelas yang mengusik gaun tidurnya. Tubuhnya seketika kaku seperti patung. Mata cantiknya membelalak sempurna, menatap Arka dengan campuran antara kaget, bingung, dan panik yang luar biasa.
Ia reflek menghentikan seluruh gerakannya. Suasana kamar yang tadinya dipenuhi ketegangan canggung mendadak berubah menjadi hening yang mencekam.
“P-Pak Arka...” cicit Naya pelan, suaranya bergetar hebat. Matanya bergerak ragu-ragu turun ke arah bawah tubuh mereka, lalu kembali menatap mata Arka dengan raut kepolosannya yang tak tertolong.
“I-itu... di bawah... ada yang gerak-gerak. Makhluk apa itu?”
Pertanyaan polos tanpa filter yang keluar dari bibir Naya itu seketika membuat ekspresi tenang dan godaan jahil di wajah Arka hancur berkeping-keping.
Arka membeku, napasnya tertahan di tenggorokan, dan untuk pertama kalinya dalam hidup seorang Arka, warna merah padam menjalar cepat dari leher hingga membakar kedua ujung telinganya.
–tbc–
lanjut
buat arka jatuh cinta ke naya ya kak... dan naya makin jaga jarak dan sadar diri dgn pernikahan kontraknya
lanjut kak