Dulu ia Kaisar Pil Jiwa Bintang. Penguasa Sembilan Benua.
Tetapi, satu tusukan dari murid kesayangannya, membuat ia mati. Sekarang, Murid itu naik tahta menjadi Dewa Alkemis yang disembah seluruh benua.
500 tahun kemudian, Lin Xuan terbangun.
Bukan di singgasana. Tapi di tubuh seorang sampah. Tubuh dari Tuan Muda Keluarga Lin yang meridiannya hancur, menjadi bahan tertawaan se-Kota Awan Merah. Tunangannya menghina, pamannya meracuni dan semua orang menunggu ia mati.
Mereka salah besar.
Karena di dalam jiwanya, Kuali Naga Hitam yang berkarat ikut bangkit. Di kepalanya, ingatan 500 tahun teknik alkimia bertarung yang bisa membakar langit tidak hilang.
Lin Xuan tidak mau sekadar bangkit. Ia mau berburu 18 Api Surgawi. Mengubah tubuh cacatnya menjadi kuali hidup.
Mengubah bahan sampah menjadi pil dewa. Dan naik lagi ke Benua Ke-9 untuk satu hal:
Menagih darah dengan darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Memasuki Lautan Pasir
Dua minggu berlalu sejak kekacauan di Ibukota Langit Angin.
Nama Lin Xuan kini menjadi bisikan di antara para Ketua sekte. Kehancuran Keluarga Ouyang dan kekalahan utusan Asosiasi Pusat telah menjadi legenda baru.
Namun, sang tokoh utama sudah lama meninggalkan Ibukota.
Di atas gurun merah yang membentang tanpa akhir, seekor Elang Besi Sayap Awan Tingkat 3 menembus udara panas. Burung raksasa itu dibeli Lin Xuan dengan sebagian harta Keluarga Ouyang.
"Tuan Muda, suhunya semakin parah. Elang ini mulai tak tahan. Bulu besinya bahkan sudah memerah," lapor Xiao Ya.
Lin Xuan membuka mata dari meditasinya. Kilatan emas berputar di pupilnya.
Ia menatap gurun di bawah. Bukit pasir merah membentang sejauh mata memandang. Sesekali api menyembur dari balik pasir dan meninggalkan bau belerang.
Inilah Lautan Pasir. Wilayah tanpa hukum yang menjadi perbatasan Benua Bawah dan Benua Tengah.
Qi di tempat ini liar dan dipenuhi hawa api. Kultivator biasa tanpa perlindungan tak akan mampu bertahan lama.
Bagi Lin Xuan, tempat ini justru seperti tanah kelahirannya.
Api Teratai Bumi Terdalam di dalam Dantiannya berdenyut pelan. Ia bahkan menyerap hawa api di sekitarnya untuk memperkuat dirinya.
"Turun di sini."
Lin Xuan berdiri.
"Elang ini tak akan mampu mencapai pusat Lautan Pasir. Biarkan ia kembali."
Ia meraih Xiao Ya lalu melompat dari ketinggian seratus meter.
Wush!
Angin panas menerpa mereka.
Sebelum menyentuh tubuh Xiao Ya, Domain Penekan Naga Sejati menyebar dalam radius dua meter. Hawa panas langsung terhalang. Udara di sekitar mereka berubah sejuk.
Mereka mendarat dengan ringan di atas bukit pasir merah.
Elang Besi itu menjerit lega lalu berbalik menuju Ibukota.
Lin Xuan menatap gurun luas di hadapannya.
"Mulai sekarang, kita berjalan kaki."
Lin Xuan mengeluarkan potongan peta kulit kuno dari Perbendaharaan Terlarang. Separuh permukaannya telah hangus. Namun saat ia mengalirkan sedikit Qi, garis-garis emas muncul dan menyingkap jalur tersembunyi.
"Menurut peta ini, Reruntuhan Lautan Pasir berada tiga ratus li ke utara," gumam Lin Xuan sambil mencocokkan peta dengan bukit-bukit di sekitarnya.
Ia lalu menoleh pada Xiao Ya. Aura gadis itu kini telah mencapai Kondensasi Qi Tingkat 4. Berkat Pil Sembilan Cincin dan bimbingannya, kultivasinya meningkat pesat.
"Xiao Ya, keluarkan belatimu."
"Baik, Tuan Muda."
Xiao Ya segera menghunus Belati Ganda Bulan-Matahari. Belati di tangan kiri diselimuti hawa es. Belati di tangan kanan memancarkan bara api.
Lin Xuan menarik kembali Domain Penekan Naga Sejati.
Seketika hawa panas yang mengerikan menerjang tubuh Xiao Ya. Keringat membasahi dahinya dan napasnya menjadi berat. Namun ia tidak mengeluh. Ia segera mengalirkan Qi untuk melindungi tubuhnya.
"Mulai sekarang, aku tidak akan melindungimu dari panas ini," kata Lin Xuan dingin. "Jika ingin bertahan di Benua Tengah, kau harus mampu bertarung dalam keadaan apa pun."
Ia menunjuk ke depan.
"Dan ujian pertamamu sudah datang."
Gemerisik!
Pasir merah di kejauhan bergejolak. Tiga gundukan pasir melesat mendekat dan mengepung mereka.
Bam!
Tiga sosok raksasa menerobos keluar dari dalam pasir.
Tiga Kalajengking Api Pasir muncul dengan tubuh sebesar kereta. Cangkang hitam kemerahan mereka memancarkan hawa panas seperti lava. Dari ujung ekor, bisa pekat menetes dan melelehkan batu yang terkena.
Lin Xuan melirik ketiga monster itu.
"Hadapi mereka sendiri."
"Tiga Binatang Buas Tingkat 2 Puncak. Kekuatannya setara kultivator Kondensasi Qi Tingkat 6," ujar Lin Xuan tenang. "Xiao Ya, bunuh mereka semua. Jika nyawamu benar-benar terancam, aku baru akan turun tangan."
Wajah Xiao Ya memucat. Namun ia tetap menggenggam kedua belatinya erat.
"Xiao Ya mengerti!"
Salah satu kalajengking meraung lalu menerjang. Capit besarnya menebas pinggang Xiao Ya.
Xiao Ya segera menggunakan Langkah Bunga Kabut. Tubuhnya bergeser seperti bayangan dan lolos dari tebasan itu.
Begitu berada di sisi monster, ia menusukkan Belati Matahari ke persendian kakinya.
Trak!
Belati itu hanya meninggalkan goresan dangkal. Cangkang kalajengking terlalu kuat. Pantulan tenaganya membuat tangan Xiao Ya mati rasa.
"Bodoh!" tegur Lin Xuan dari atas bukit. "Ia memiliki tubuh Api dan Tanah. Jangan lawan kekuatannya dengan api. Gunakan Yin untuk membekukannya lalu hancurkan dengan Yang!"
Xiao Ya segera memahami maksudnya.
Dua kalajengking lainnya ikut menyerang. Bisa panas menyembur dari ekor mereka dan langsung melelehkan pasir di bawah kaki Xiao Ya.
Ia berguling menghindar lalu bangkit. Qi dalam tubuhnya mengalir ke Belati Bulan.
"Seni Belati Dingin: Bulan Sabit Beku!"
Xiao Ya menerjang. Belati Bulan menebas capit dan cangkang kalajengking.
Hawa dingin membekukan cangkang panas itu. Lapisan es menjalar dan membuatnya retak.
"Sekarang!"
Xiao Ya memutar tubuhnya lalu menebaskan Belati Matahari tepat ke lapisan es.
Prang!
Cangkang kalajengking pecah.
Cangkang yang sebelumnya tak tertembus itu kini pecah seperti kaca. Belati Matahari menembus celahnya dan menghancurkan organ dalam kalajengking.
Monster itu menjerit lalu roboh. Cairan hijau mengalir dari lukanya.
"Bagus. Lanjutkan."
Lin Xuan mengangguk puas. Xiao Ya ternyata memiliki naluri bertarung yang tajam.
Lima belas menit kemudian, dua kalajengking terakhir menyusul. Cangkang mereka hancur oleh perpaduan serangan Yin dan Yang.
Xiao Ya jatuh terduduk dengan napas terengah-engah. Pakaiannya robek dan lengan kirinya melepuh terkena bisa.
"Tuan Muda... Xiao Ya berhasil."
Lin Xuan menghampiri dan melemparkan Pil Pemulihan Qi kepadanya.
"Untuk pertarungan pertama, cukup bagus. Tapi jangan lengah. Darah mereka sudah memanggil sang raja."
Begitu kata-kata itu terucap, gurun berguncang.
Retakan sepanjang seratus meter membelah tanah.
Dari dalamnya muncul seekor kalajengking raksasa. Ukurannya tiga kali lebih besar dari sebelumnya. Tubuhnya dilapisi kristal merah dan mahkota api berkobar di dahinya.
"Kalajengking Raja Kristal Api. Binatang Buas Tingkat 3 Puncak."
Tatapan Lin Xuan tetap tenang.
"Kekuatannya setara Setengah Langkah Pembentukan Fondasi. Mundurlah, Xiao Ya."
Kalajengking itu meraung. Ekor besarnya menghantam tanah dan menyemburkan pilar bisa api selebar tiga meter.
Lin Xuan bahkan tidak berkedip.
Ia mengangkat tangan kanannya.
Fondasi Singgasana Kaisar bergetar. Qi yang padat mengalir ke seluruh lengannya.
Kali ini ia tidak menggunakan Api Surgawi atau teknik apa pun.
Hanya kekuatan tubuhnya.
Lin Xuan mengepalkan tangan lalu melayangkannya ke depan.
Booom!
Tinju itu menghantam pilar api secara langsung.
Blaarrr!
Tekanan dahsyat meledak dari tinju Lin Xuan. Pilar bisa api terbelah dan melesat melewati kedua sisinya tanpa menyentuh jubahnya.
Gelombang tinju terus menghantam ke depan.
Boom!
Hantaman tak kasatmata menghantam cangkang Kalajengking Raja. Cangkang Tingkat 3 Puncak itu retak lalu hancur. Tubuh raksasa tersebut terlempar puluhan meter sebelum jatuh mati di balik bukit pasir.
Satu pukulan sudah cukup untuk membunuh monster yang kekuatannya setara Pemimpin keluarga Ouyang.
Xiao Ya menelan ludah. Setiap kali melihat Lin Xuan bertarung, ia semakin sadar betapa jauhnya jarak kekuatan mereka.
Lin Xuan berjalan ke mayat monster itu. Dengan Kekuatan Jiwa, ia membelah dadanya dan mengambil kristal merah seukuran kepalan tangan.
"Inti Binatang Api Tingkat 3 Puncak. Lumayan untuk mengisi formasi nanti."
Ia menyimpannya lalu menatap jurang tempat monster itu muncul.
Di dasar retakan, ujung pilar batu hitam menyembul dari pasir. Permukaannya dipenuhi ukiran rune kuno.
Kuali Naga Hitam di dalam Lautan Jiwa Lin Xuan kembali bergetar. Kali ini getarannya dipenuhi rasa lapar.
"Kita sudah sampai."
Senyum tipis muncul di wajah Lin Xuan.
"Reruntuhan Lautan Pasir ada di bawah."
Ia meraih bahu Xiao Ya lalu melompat ke dalam jurang.
Ratusan meter di bawah tanah, mereka mendarat di sebuah lorong kuno. Dindingnya terbuat dari obsidian yang mampu menahan panas. Udara di sana kering dan dipenuhi aroma zaman kuno.
Namun Lin Xuan berhenti.
Di ujung lorong berdiri gerbang perunggu raksasa yang telah hancur. Dari baliknya terdengar dentingan senjata dan ledakan teknik spiritual.
"Ada yang sudah masuk?" bisik Xiao Ya.
Lin Xuan menyipitkan matanya.
Ia mengenali aura api suci yang memenuhi lorong.
"Teknik Sekte Api Suci."
Ia terkekeh pelan.
"Rupanya mereka tidak pulang ke Benua Tengah. Mereka datang lebih dulu untuk mencari harta yang sama."
Lin Xuan memutar cincin di jarinya.
"Bagus. Mereka sudah membuka jalan untuk kita."
Ia melangkah maju bersama Xiao Ya.
"Ikuti aku. Mari kita lihat siapa yang berhak menjadi penguasa api di tempat ini."