NovelToon NovelToon
Benih Rahasia Sang Dokter

Benih Rahasia Sang Dokter

Status: tamat
Genre:One Night Stand / Anak Genius / Dokter Genius / Tamat
Popularitas:1.4M
Nilai: 5
Nama Author: lala_syalala

Follow IG @Lala_Syalala13

Ashela Safira, seorang gadis yang membanting tulang demi melunasi utang ayahnya, terpaksa merelakan kesucian yang ia jaga selama ini direnggut oleh pria asing.

Merasa harga dirinya telah hancur, ia memilih melarikan diri dan menghilang setelah malam panjang itu. Namun, di tengah pelariannya, Ashela justru mendapati dirinya hamil.

Sementara itu, Elvano Gavian Narendra, seorang dokter berhati dingin, terbangun dan mendapati gadis yang bersamanya telah pergi.

Rasa sesal seketika menghantamnya saat melihat bercak merah di atas ranjang, yaitu sebuah tanda bahwa ia telah menodai seorang gadis asing yang bahkan tidak ia ketahui identitasnya.

Bagaimana kelanjutannya???
YUKKKK GAS BACAAAA!!!

IG @LALA_SYALALA13
YT @NOVELLALAAA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Yang Panjang

Elvano mulai mencium pundak Ashela yang terbuka, memberikan kecupan-kecupan kecil yang membuat Ashela memejamkan mata rapat-rapat. Seluruh tubuh Ashela terasa dialiri arus listrik yang asing namun memabukkan.

Di bawah kungkungan tubuh kekar Elvano, Ashela merasa dunianya yang kecil dan penuh beban seolah menghilang, digantikan oleh sensasi panas yang menuntut lebih.

Mereka berada di ambang batas. Elvano sudah tidak lagi peduli siapa dirinya atau siapa gadis di bawahnya.

Yang ia tahu, ia membutuhkan Ashela untuk memadamkan api yang membakar jiwanya. Dan Ashela, dalam kepasrahan dan ketidaktahuannya, mulai membalas sentuhan pria itu, menyerahkan dirinya pada badai yang sebentar lagi akan mencapai puncaknya.

Udara di dalam kamar suite nomor 1802 terasa semakin berat dan menyesakkan. Suara detak jam dinding yang elegan seolah kalah oleh deru napas yang bersahutan. Cahaya lampu kota yang menembus jendela kaca besar memberikan siluet artistik pada dua tubuh yang kini saling mengunci di atas ranjang king size tersebut. Elvano, dengan sisa kesadaran yang terkikis habis oleh pengaruh obat, tidak lagi mampu membendung insting primalnya. Baginya saat ini, Ashela adalah satu-satunya air yang bisa memadamkan api yang membakar setiap sel sarafnya.

Elvano kembali merunduk, menekan tubuh Ashela lebih dalam ke atas sprei sutra. Tangannya yang besar dan kuat mulai menanggalkan satu per satu penghalang yang tersisa.

Seragam pelayan yang sebelumnya melambangkan batasan kelas sosial antara mereka, kini tergeletak tak berdaya di lantai.

Saat kulit mereka bertemu tanpa perantara, Ashela merasakan sensasi panas yang luar biasa. Tubuh Elvano terasa seperti logam panas yang membara, sementara tubuh Ashela yang dingin memberikan reaksi yang kontras.

"Tuan... kumohon..." Ashela berbisik lirih, namun suaranya tenggelam saat Elvano kembali mengunci bibirnya.

Ciuman itu kini lebih dari sekadar sentuhan tapi itu adalah perebutan napas. Elvano mencium Ashela dengan lapar, lidahnya menelusuri setiap sudut rongga mulut gadis itu, seolah ingin mengh*sap seluruh nyawa Ashela ke dalam dirinya.

Tangan Elvano mulai menjelajahi setiap inci kulit mulus Ashela dari lekuk leher, turun ke pundak, hingga meremas lembut pinggang yang mungil. Setiap sentuhan itu meninggalkan jejak panas yang membuat Ashela menggeliat tak berdaya.

Ashela merasakan sensasi asing yang menyerang seluruh indranya. Sebagai gadis yang selama ini menutup diri dari pergaulan bebas demi menjaga kehormatan, apa yang terjadi malam ini adalah sebuah ledakan yang tak pernah ia bayangkan. G*irah yang dipicu oleh sentuhan ahli Elvano mulai mengaburkan logika Ashela. Rasa takutnya perlahan terkikis, digantikan oleh gelombang hasrat yang menuntut penyatuan.

Elvano melepaskan ciumannya, lalu turun ke bawah, menciumi setiap inci kulit perut Ashela. Napas panasnya yang memburu mengenai kulit sensitif gadis itu, menciptakan efek kejut yang membuat Ashela melengkungkan punggungnya.

Pria itu benar-benar kehilangan kontrol diri. Obat yang mengalir di darahnya memaksa otaknya untuk terus mencari kepuasan yang lebih tinggi, lebih dalam, dan lebih intens.

Saat Elvano mulai melakukan penyatuan, sebuah rintihan pedih tertahan di tenggorokan Ashela.

Air mata kecil menetes di sudut matanya saat ia merasakan kesucian yang selama ini dijaganya pecah oleh pria yang bahkan tidak ia kenal namanya dengan lengkap. Namun, rasa sakit itu hanya berlangsung sesaat, karena segera setelah itu, Elvano kembali menghujani bibirnya dengan ciuman yang memabukkan, seolah ingin meminta maaf lewat cumbuan yang tak henti.

G*mpuran g*irah pun dimulai. Elvano bergerak dengan ritme yang penuh tenaga, mencerminkan kekuatan fisiknya yang terlatih.

Setiap huj*man yang ia berikan terasa begitu dalam dan menuntut. Di bawah kungkungan tubuh kekar Elvano, Ashela merasa seolah-olah ia sedang diterjang badai di tengah samudera. Ia hanya bisa pasrah, tangannya meremas sprei dengan kuat, sementara kakinya melingkar di pinggang pria itu, mencoba mencari pegangan di tengah guncangan hasrat yang luar biasa.

"Hah... hah... Ashela..." Elvano menggeram rendah, suaranya terdengar seperti bisikan iblis yang menggoda.

Keringat bercucuran dari dahi Elvano, menetes mengenai dada Ashela, menciptakan suasana yang semakin int*m dan liar.

Ruangan itu dipenuhi oleh suara kulit yang beradu dan erangan yang tak lagi bisa disembunyikan.

Elvano tidak berhenti. Baginya, satu kali saja tidak cukup untuk memadamkan efek obat yang masih bekerja kuat di tubuhnya. Ia menggempur Ashela berkali-kali, mengubah posisi mereka untuk mencari s*nsasi yang lebih panas.

H*srat satu malam ini benar-benar menjadi ajang pelampiasan bagi Elvano, sementara bagi Ashela, ini adalah penyerahan total yang mengubah jati dirinya.

Cumbuan Elvano tidak pernah putus. Bahkan saat tubuhnya sedang bekerja keras memberikan g*mpuran, bibirnya tetap sibuk menjelajahi leher dan dada Ashela, memberikan tanda-tanda merah yang akan menjadi saksi bisu kejadian malam ini.

Ashela, yang sudah terbawa suasana, mulai mengeluarkan suara-suara kecil yang semakin memicu adrenalin Elvano. Ia tidak lagi memikirkan hutang ayahnya, tidak lagi memikirkan kemiskinannya tapi di dalam kamar ini, ia merasa menjadi wanita yang diinginkan seutuhnya oleh seorang pria yang begitu perkasa.

Puncak dari g*irah itu akhirnya tiba. Elvano meng*rang keras saat ia merasakan gelombang kepuasan yang luar biasa menghantam seluruh kesadarannya.

Ia menghujamkan dirinya sedalam mungkin, memberikan seluruh miliknya ke dalam rahim Ashela. Cairan kehidupan yang hangat mengalir deras, menandakan berakhirnya ronde pertama yang penuh perjuangan.

Elvano ambruk di atas tubuh Ashela, napasnya tersengal-sengal, sementara jantungnya masih berdetak seperti genderang perang.

Namun, jeda itu tidak berlangsung lama. Pengaruh obat itu rupanya belum sepenuhnya hilang.

Setelah beberapa saat beristirahat dan mengatur napas, Elvano kembali merasakan panas yang menjalar. Ia menatap wajah Ashela yang tampak sayu dan cantik di bawah temaram lampu.

Tanpa kata, ia kembali memulai cumbuannya. Ia membalikkan tubuh Ashela, menciumi punggung gadis itu dari tengkuk hingga ke tulang ekor, menciptakan sensasi baru yang membuat Ashela kembali berg*irah.

Malam itu seolah tidak memiliki akhir, malam yang begitu panjang. G*mpuran demi g*mpuran kembali terjadi, lebih intens dan lebih penuh g*irah dari sebelumnya.

Elvano seperti mesin yang tak kenal lelah, terus mencari kepuasan di setiap inci tubuh Ashela.

Cairan yang terus mengalir menjadi bukti nyata betapa liarnya malam itu bagi mereka berdua.

Ashela sudah kehilangan hitungan berapa kali Elvano membawanya ke puncak, ia hanya tahu bahwa tubuhnya terasa sangat lemas namun sekaligus penuh dengan perasaan yang aneh.

Di tengah-tengah pergulatan panas itu, Elvano sesekali membisikkan kata-kata yang tidak jelas, seolah ia sedang berhalusinasi.

"Jangan pergi... tetaplah di sini..." bisiknya saat ia kembali memberikan hujaman yang kuat.

Ashela hanya bisa membalas dengan pelukan yang tak kalah erat, membenamkan wajahnya di leher Elvano yang harum maskulin bercampur aroma keringat yang sensual.

.

.

Cerita Belum Selesai.....

1
Ari Sawitri
beberapa tahun yang lalu? perasaan menikah blm lama ya? 🤔🤔
Ari Sawitri
bener bingung.. kenapa Asha klu di Sukabumi pakaian pakai kerudung tp klu di JKT tdk memakai kerudung? kok ga konsisten? 🤔
Ari Sawitri
diwal bab dikatanya klu dia janda ya? kok jd kalimat nya ternyata ayah les seorang dokter. agak mengganggu sih tp ya sdh lah .. lanjut bacanya 🤨😅
aryuu
harus Googling apa obat perangsang bisa bikin lupa ingatan🤭
Ari Sawitri
waktu operasi jantung kan harusnya tahu golongan darah Leo .. kok bs kaget gt ibunya🤔🤔 aneh
aryuu: setuju sangat anehhh bu🤭
total 1 replies
Ari Sawitri
pernah baca di bab brp pas di Sukabumi asha pakai kerudung. tp ini kok pakai baju selutut ya?🤨🤨 agak bingung
Ari Sawitri
sebegitu tidak peka nya seorang elvano ke anaknya? dan tdk ada rasa curiga berlebihan dg kemiripan mereka 🤔😕
aryuu
langsung 3 tahun aja 🤭🤭🤭
orang kaya tapi ga mampu cari orang🤣🤣🤣 kasian
aryuu
obatnya bikin ilang ingatan🤭🤭 kaya alkohol gitu obat apa ya yg bisa bikin ilang ingatan sesaat
febby fadila
pasti canggung dan merasa rendah ya asha, semoga kamu bahagia sellu
febby fadila
mending beli satu lahan buat mak esih agar dia nggak kerja lagi di lahan orang
febby fadila
papanya leo jd artis dadakan ya 🤣🤣🤣
febby fadila
papa vano sdah dtang tu leo, karena papamu sdah bucin sama mama kamu 🥰🥰
febby fadila
mending mak asih ikut aja kejakarta
febby fadila
sunggu terharu aku thor, banyak inspirasi dari ceritamu thor 🥰🥰🥰🥰
febby fadila
itu untuk menguji kesetiaan kalian berdua elvano
febby fadila
owww terharu aku 😭😭😭😭
febby fadila
semoga aja nggak ada yg buat leo sakit lagi
febby fadila
alhamdullah semoga selalu bahagia 🥰🥰🥰🥰
febby fadila
aku tadi sempat tegang waktu mama zoya mengajak asha bicara kukira asha mau diancam ee taunya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!