NovelToon NovelToon
Dihina Pengangguran Oleh Keluarga Suami, Aku Wanita Kaya Raya!

Dihina Pengangguran Oleh Keluarga Suami, Aku Wanita Kaya Raya!

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:2.9M
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Rumah tangga Kartika dan Deva sudah 10 tahun dan berjalan baik, walau sering mendapatkan banyak rongrongan dari keluarga Deva, entah itu orang tuanya atau adik-adiknya yang suka bergantung kepadanya.

“Kartika, mulai sekarang kebutuhan rumah tangga kita bagi dua. Karena ibu ingin membeli rumah baru untuk Gavin, setoran tiap bulannya tiga juta setengah,” kata Deva di tengah-tengah kumpulan keluarganya.

Mendengar itu Kartika menahan amarah dan kesal. Gaji Deva sebanyak 25 juta sebagian besar digunakan untuk keluarganya.

“Makanya kamu harus bekerja, jangan cuma mengandalkan uang anakku saja!” ucap Bu Hania, mertuanya.

Karena rasa cinta Kartika yang begitu besar kepada Deva, dia sampai meninggalkan rumah dan harta kekayaannya. Dia memilih menjadi ibu rumah tangga agar bisa mengurus suami, anak, dan rumah.

“Oke! Kalau begitu, maka mulai sekarang aku pun akan minta bayaran untuk semua hal yang aku kerjakan di rumah,” balas Kartika.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Bab 13

Persiapan pernikahan akhirnya dimulai. Seperti yang sudah dibicarakan sebelumnya, semuanya dibuat sesederhana mungkin.

Suatu sore, mereka kembali berkumpul membahas tempat acara. Bu Hania yang paling banyak bicara sejak tadi. Wanita itu terlihat sangat semangat mengatur ini dan itu.

“Pakai gedung serbaguna dekat rumah aja,” usulnya cepat sambil menyeruput teh. “Biar keluarga kita enggak keluar ongkos jauh.”

Kartika langsung terdiam sebentar. Ia tahu gedung yang dimaksud Bu Hania. Gedung tua di dekat lapangan kampung tempat tinggal Pak Dimas. Bangunannya sederhana, cat dindingnya bahkan sudah mulai pudar di beberapa bagian. Kalau siang terasa panas. Kalau ramai pasti sesak.

Kartika sempat membayangkan tempat lain.

Bukan gedung mewah, tetapi setidaknya tempat yang sedikit lebih nyaman untuk acara pernikahan sekali seumur hidupnya. Namun sebelum sempat bicara, Bu Hania kembali melanjutkan,

“Yang penting kan akadnya sah.”

Pak Dimas ikut mengangguk. “Iya. Enggak usah terlalu dipaksakan.”

Kartika melirik Deva sebentar. Pria itu hanya menatapnya lembut sambil tersenyum kecil. Dan lagi-lagi hati Kartika luluh.

“Iya, Bu,” jawab Kartika pelan akhirnya.

Rangga yang duduk di sebelah sampai menoleh cepat. Tatapannya seperti ingin protes. Namun, Kartika hanya menggeleng kecil memberi kode agar tidak memperpanjang suasana.

Setelah pulang dari pertemuan itu, Rangga terus mengomel panjang. “Kamu tuh terlalu nurut sama mereka!”

Kartika hanya tertawa kecil. “Kenapa sih malah kamu protes?”

“Ya, jelas kenapa!” Sepupunya itu mendengus kesal. “Nikah itu sekali seumur hidup, Kartika!”

Kartika tersenyum kecil. “Namanya juga mau jadi keluarga. Kalau dari awal aku terus membantah mereka, nanti aku di cap menantu pembangkang.”

“Tapi, jangan ngalah terus!”

Kartika menatap sepupunya pelan. “Enggak apa-apa selagi masih bisa ditolerir.”

Dan memang waktu itu Kartika benar-benar merasa tidak apa-apa. Karena baginya, selama bisa hidup bersama Deva, semua kesederhanaan itu bukan masalah besar.

Maka Kartika mengikuti semua keinginan keluarga Deva tanpa banyak bicara. Mulai dari gedung, makanan prasmanan, dekorasi pelaminan, yang Semuanya itu sederhana. Bahkan jumlah tamu juga dibatasi supaya tidak terlalu banyak biaya.

Meski acara pernikahannya sederhana seperti itu, Kartika tetap merasa sangat bahagia.

Hari pernikahan Kartika dan Deva akhirnya tiba. Sejak pagi gedung serbaguna itu sudah ramai. Kursi-kursi plastik tersusun rapi berjejer panjang. Di sudut ruangan berdiri kipas angin besar yang berputar kencang mengusir hawa panas.

Dekorasinya sederhana sekali. Bunga-bunganya tidak banyak. Pelaminnya kecil, lampunya biasa saja.

Beberapa orang bahkan sibuk kipas-kipas karena ruangan terasa gerah.

Namun, Kartika sama sekali tidak mempermasalahkan itu. Di balik veil putih sederhana, senyumnya tidak berhenti mengembang sejak tadi. Tangannya dingin karena gugup. Jantungnya berdebar sangat kencang saat duduk menunggu akad dimulai.

Lalu, pandangan Kartika bertemu dengan Deva. Pria itu mengenakan jas sederhana warna krem. Tidak terlalu mewah, tetapi terlihat tampan di mata Kartika. Sejak tadi, Deva terus menggenggam tangannya erat. Seolah ingin memastikan kalau dirinya benar-benar ada di sana bersamanya.

Setelah ikrar sakral yang diucapkan oleh Deva, seketika air mata Kartika jatuh begitu saja. Dadanya terasa penuh..Harusnya ia malu menangis di depan banyak orang. Namun, saat itu rasa harunya terlalu besar untuk ditahan.

Deva langsung menoleh padanya sambil tersenyum lega. Lalu, pria itu menggenggam tangannya lebih erat. 

Di momen itu Kartika benar-benar percaya bahwa dirinya adalah perempuan paling bahagia di dunia. Ia tidak peduli gedungnya sederhana. Tidak peduli dekorasinya biasa saja. Tidak peduli maskawinnya kecil. Karena waktu itu ia yakin cinta mereka cukup untuk membuat semuanya terasa sempurna.

Namun sekarang, setelah bertahun-tahun berlalu, Kartika mulai menyadari banyak hal yang dulu tidak sempat ia pikirkan.

Hal-hal kecil yang dulu ia abaikan karena terlalu sibuk mencintai Deva. Hal-hal yang sekarang justru terasa sangat jelas di matanya. Salah satunya tentang pernikahannya sendiri.

Semakin dipikirkan sekarang, Kartika mulai sadar satu hal yang membuat dadanya terasa nyeri. Pernikahannya dulu ternyata jauh lebih sederhana dibanding pernikahan Iriana.

Saat Iriana menikah lima tahun lalu, Bu Hania justru berubah sangat sibuk. Wanita itu mondar-mandir mengurus banyak hal dengan penuh semangat.

“Dekorasinya harus mewah, jangan yang biasa.”

“Makanannya harus komplit dan ditambah cemilan juga minuman segar.”

“Baju pengantinnya harus bagus.”

“Undangannya jangan sedikit.”

Semua harus terlihat pantas. Semua harus terlihat bagus di mata orang lain.

Dan yang paling Kartika ingat, Deva yang akhirnya banyak keluar uang membantu biaya pernikahan adiknya. Lima puluh juta dikuras dari tabungan milik bersama.

Saat itu Kartika tidak protes karena Iriana anak perempuan satu-satunya Pak Dimas. Ia bahkan ikut membantu memilih souvenir dan mengurus beberapa kebutuhan acara.

Dalam hati kecilnya sempat muncul pertanyaan, kenapa dulu pernikahannya tidak diperlakukan seperti ini? Namun, lagi-lagi ia memilih diam. Karena saat itu ia masih berpikir, mungkin memang kondisinya berbeda. 

Sampai sekarang, ketika Gavin akan menikah.

Kejadian yang sama perlahan terulang lagi.

Bedanya kali ini Bu Hania tidak bisa bebas mengatur semuanya sesuka hati. Karena keluarga Rosita ternyata berbeda. Mereka memang bukan keluarga kaya, tetapi mereka punya harga diri dan pendapat sendiri.

Calon besan Bu Hania ingin pesta yang meriah.

Mereka ingin anaknya menikah dengan layak dan membahagiakan. Walau menikah tidak di gedung, tetapi dekorasinya harus cantik. Acara harus ramai. Dan hal itu diam-diam membuat Bu Hania tidak nyaman.

Suatu malam saat mereka sedang berkumpul membahas persiapan pernikahan, wanita itu mulai menggerutu.

“Ngapain sih pesta besar-besar?” katanya sambil mengupas buah. “Yang penting kan sah.” Nada suaranya terdengar tidak suka.

Pak Dimas hanya diam mendengarkan. Sedangkan Iriana sibuk memainkan ponselnya sambil sesekali mengangguk setuju.

Kartika yang duduk di sofa hanya menyesap teh perlahan. Hangat teh itu terasa pahit di lidahnya. Karena kalimat itu, sangat familiar. Dulu, kalimat yang sama juga dipakai untuk dirinya.

"Yang penting sah. Enggak usah mewah-mewah. Kita keluarga sederhana."

Namun sekarang ia sadar, tidak semua orang mau terus mengalah seperti dirinya dulu. Keluarga Rosita tidak mau diperlakukan seadanya. Mereka ingin anaknya dihargai.

Melihat itu justru membuat hati Kartika terasa campur aduk. Antara iri, sedih, dan menertawakan kebodohannya sendiri di masa lalu.

Karena dulu, ia bahkan tidak pernah meminta apa-apa karena tidak ingin membebani Deva dan keluarganya. Justru karena itulah, semua orang merasa dirinya akan selalu menerima apa pun tanpa protes.

***

Insya Allah hari ini crazy up, ya! Aku harap jangan nimbun BAB. Untuk perhatiannya aku ucapkan terima kasih.

1
Marina Tarigan
sela.at berbahsgia semua dari aeal amburadul dan keserakahan dpt titik temi saling menghormsto saling menghargai dan mau merbah sifst yg kursng baik akhirnya damai dan sejahtrs salam semuanya
Marina Tarigan
bagus dong akhirnya kelakuan yg serakah daro orang tua dan ketulusan Anggun dan Gavin menata hidup kembali kearah lebih sempurna terjadi juga salam hangat dsri pembava setis
Marina Tarigan
semoga Anggun dam Gavin betnodoj karena dua2 nya gagal dlm permikahan satu fitinhgal mati suami satu bercetai karena kergoisan pasangan deh
Marina Tarigan
bisa sm kartika itu orang tua tapi jgn se. kali2 campuri urusan rmh tgha Deva itu saja
Marina Tarigan
memang kamu nenek lampir egois arogan keras kepala Kalau kamu tahu siapa Kartika mungkin kamu mati berdori pura2 kaya lihat nanti satu2 anakmu jauh dari rmhmu larena kesibukan mereka sadarlah
Marina Tarigan
lanjutksn ceritanya sampai selesai baikmy haji rosita bantu keluarganya dan seluruh pendapatan gavin hanya dipakai utk cicilan rumah dan keperluan rmh tgha mereka dan tdk mengeluarkan dana utk keluarga rosita karen A Gavin bukan presdir atau CEO perusahaan tdk punya gaji banyak
Marina Tarigan
Deva kan kuli keluaga mereka terus desak Deva spya stroke tak pernah tenang hidupnya oleh benalu itu semia
Marina Tarigan
hati2 deva jgn karyika tersakiti lagi oleh keluargamu Rsngga akan mengusirmu ingat itu keluargamu liri kanan beNALU singkirkan semua
Marina Tarigan
metyus kefua belah pihak kok dus2 niadap ini sm 2 meronhrong tmh thga. anak
Marina Tarigan
lakban mulut ibu kalian dgn kuat ibu kalian itu psikopat aliad gila yg menghancurkam rmj tgga anaknya sendiri
Marina Tarigan
wah inu firhaka gara2 ibu monyet ini rmh tgga iriama dan Devs hancur
Marina Tarigan
lanjut keluarga amburaful egois ti gkat tinggi mampus lo semua ibu. ansk dama2 biadap nenek yv satu keparst
Marina Tarigan
keturunan momyeyt semua
Marina Tarigan
lanjut inu durhaka kurang ajar
Marina Tarigan
minta uang lagi ya pasti banyak permintaan benalu satu keturunan
Marina Tarigan
mulai sekarang jaha rmh thhamu Deva benalu itu semua abaikan daja kalau cicilan rmh orang tuamu lanjutkan walaupun orang tuamu manusia keparat dia adalah orang tuamu yg lain uruz diri masing2
Marina Tarigan
kamu Deva anak buah Kartika dlm perusahaan tempatmu bekerja yg selalu dihima keluargamu kamu mengais rejeki di perusaan istrimu senfiri
Marina Tarigan
terkejut ni ya tdk tahu siapa istrinya yg selalu dihina dan diremehkan keluarga benalu mu itu Deva belajar dari sekarang keluargamu perlu diberi pelajaran
Marina Tarigan
kok heran ya kartika wanita kaya raya punya perusahaan sendiri rela meninggalkan semua idetitas dirinya demi cintanya pdmu Deva
Marina Tarigan
jgn keluargs benalu mu itu tahu dimana anak istrimu tinggal kalau kamu mau hidup keluargamu baik2 kembali
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!