NovelToon NovelToon
Pedagang Antar Dimensi: Dari Pecundang Jadi Penguasa

Pedagang Antar Dimensi: Dari Pecundang Jadi Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:TimeTravel / Bepergian untuk menjadi kaya / Hari Kiamat
Popularitas:20
Nilai: 5
Nama Author: Putra

Setiap malam, Arka terbangun di dunia yang penuh zombie.

Setiap pagi, ia kembali ke dunia nyata dengan emas dan kristal yang bisa dijual miliaran.

Mantan pacarnya membuangnya karena ia "gila dan miskin."

Sekarang? Ia memiliki 128 properti, tubuh sempurna, dan kekuatan yang membuat jenderal berlutut.

Tapi ini baru permulaan. Karena dunia di luar Bumi jauh lebih berbahaya — dan Arka baru saja menjadi target nomor satu seluruh alam semesta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Orang yang paling cepat memahami harga di dua dunia akan berdiri paling tinggi.

Kalimat itu terus berputar di kepala Arka ketika mobil Hendry Wibisana berhenti di depan Galeri Permata.

Pagi itu, toko belum dibuka untuk pelanggan umum. Tirai depan masih setengah turun, lampu etalase menyala lembut, dan pegawai perempuan yang kemarin sempat meremehkan Arka kini berdiri lebih tegak begitu melihatnya masuk.

"Selamat pagi, Pak Arka. Pak Hendry sudah menunggu di dalam."

Kemarin, ia masih dipanggil Mas dengan senyum tipis yang penuh jarak.

Hari ini, satu Biru Semesta sudah cukup membuat nada orang berubah.

Arka hanya mengangguk. Jaketnya masih sama. Sepatunya masih sepatu murah yang solnya mulai aus. Tetapi ketika ia berjalan melewati etalase giok dan berlian, tidak ada lagi mata yang berani menilainya dari pakaian.

Hendry menunggu di ruang privat lantai dua. Di atas meja sudah ada lampu pemeriksa permata, timbangan presisi, sarung tangan putih, dan dua cangkir teh panas.

"Pak Arka," Hendry berdiri. "Saya harus jujur. Semalaman saya hampir tidak tidur."

"Karena Biru Semesta?"

"Karena kalau benda itu asli, saya sedang duduk di depan salah satu transaksi terbesar yang pernah lewat di Galeri Permata."

Arka duduk, lalu meletakkan kotak kecil di atas meja. Kotak itu ia beli di toko aksesori dekat kost agar tidak terlihat mencurigakan. Namun ketika tutupnya dibuka, cahaya biru langsung memenuhi ruangan seperti air laut yang terkena matahari.

Hendry tidak langsung menyentuhnya.

Pria tua itu menahan napas.

Beberapa detik kemudian, ia memakai sarung tangan dan mengangkat kalung itu dengan hati-hati. Lampu pemeriksa permata menyala. Batu biru itu memantulkan cahaya bersih, dalam, tanpa noda yang terlihat oleh mata biasa.

"Gila," bisik Hendry. Lalu ia cepat mengoreksi diri, "Maaf. Saya jarang kehilangan bahasa seperti ini."

"Nilainya?"

"Untuk pasar lokal, terlalu besar. Untuk kolektor biasa, terlalu mahal. Ini harus masuk jaringan tertutup. Singapura, Dubai, atau kolektor keluarga lama. Kalau dipaksa cepat, Rp 180 Miliar bersih masih mungkin. Kalau sabar, dua ratus lebih."

Arka menatap batu itu.

Dua hari makanan.

Rp 180 Miliar bersih.

Selisih itu begitu tidak masuk akal sampai hampir terasa lucu.

"Saya butuh sebagian cepat," kata Arka. "Bukan semuanya tunai. Saya ingin properti. Banyak. Bersih secara dokumen."

Hendry menatapnya lebih lama. "Anda tidak mau menikmati dulu? Mobil? Jam? Liburan?"

"Properti dulu. Benda yang bisa disewakan, dijaminkan, dan tidak mudah hilang."

Senyum Hendry muncul perlahan. Bukan senyum pedagang kecil yang baru mendapat untung. Ini senyum orang tua yang melihat anak muda memahami permainan lebih cepat dari seharusnya.

"Kalau begitu, saya kenalkan seseorang. Keponakan saya. Namanya Steven Wibisana. Dia bermain di pasar properti yang orang biasa tidak lihat. Unit sitaan bank, rumah pemilik yang butuh uang cepat, apartemen investor yang salah hitung cicilan."

"Bisa dipercaya?"

"Bisa diawasi," jawab Hendry.

Arka menyukai jawaban itu.

Satu jam kemudian, sebuah Porsche Cayenne hitam berhenti di depan Galeri Permata. Pengemudinya pria berusia sekitar tiga puluh lima tahun, tubuh agak berisi, kemeja linen mahal, dan jam tangan yang tidak berteriak tetapi jelas bukan barang murah.

Begitu melihat Arka, mata pria itu menilai dari kepala sampai kaki.

Itu hanya berlangsung setengah detik.

Lalu Steven Wibisana melihat Hendry berdiri di samping Arka, wajahnya serius.

Penilaiannya berubah.

"Pak Arka? Steven Wibisana." Ia mengulurkan tangan. "Om Hendry bilang Bapak mencari properti dalam jumlah agak... tidak biasa."

"Seratus lebih unit," kata Arka.

Tangan Steven yang masih menggantung di udara berhenti sebentar.

"Seratus?"

"Kalau harganya masuk akal."

Steven menoleh pada Hendry.

Hendry hanya berkata, "Anggap dananya ada. Jangan buang waktunya."

Sejak kalimat itu keluar, Steven tidak lagi tersenyum santai. Ia membuka tablet, memanggil beberapa daftar, dan membawa Arka masuk ke Cayenne.

Perjalanan dimulai dari Depok.

Unit pertama adalah rumah kontrakan dua lantai dekat akses kampus. Catnya kusam, pagar berkarat, tetapi lokasinya ramai. Steven menjelaskan angka sewanya, status sertifikat, dan alasan pemilik menjual cepat. Agen properti yang menunggu di depan rumah awalnya tampak lesu melihat Arka turun dengan pakaian biasa.

"Ini unit investasi, Pak. Mungkin Bapak mau lihat yang lebih kecil dulu?"

Steven langsung menyela, "Beliau lihat satu blok, bukan satu unit."

Agen itu membeku.

Arka berjalan melewati halaman, memeriksa dinding, akses jalan, dan posisi drainase. Soal bangunan, pengetahuannya terbatas. Namun ia tahu satu hal: mahasiswa selalu butuh tempat tinggal. Jika UNUSA terus tumbuh, rumah seperti ini tidak akan kosong.

"Ambil kalau dokumennya bersih," katanya.

Agen itu menelan ludah. "Satu blok, Pak?"

"Berapa unit?"

"Dua belas."

"Tulis dua belas."

Steven menyeringai kecil sambil mengetik di tabletnya. "Baik, Bos."

Panggilan itu keluar begitu saja. Arka tidak mengoreksi.

Dari Depok, mereka bergerak ke Jakarta Selatan. Apartemen kecil dekat akses MRT. Ruko tua dengan penyewa tetap. Rumah cluster yang pemiliknya terlilit utang bisnis. Setiap lokasi hanya dilihat seperlunya. Arka tidak datang untuk jatuh cinta pada lantai marmer atau lampu gantung. Ia datang untuk mengubah uang asing dari dunia mati menjadi aset yang diakui negara.

Di lokasi ketiga, seorang sales perempuan masih mencoba memainkan nada meremehkan.

"Maaf, Pak, untuk pembelian portofolio seperti ini biasanya kami perlu bukti dana. Banyak calon pembeli hanya tanya-tanya."

Steven hendak menjawab, tetapi Arka lebih dulu meletakkan ponselnya di meja.

Layar menampilkan surat konfirmasi escrow dari rekening perusahaan rekan Hendry, dana awal Rp 50 Miliar sudah ditempatkan untuk pembelian properti.

Sales itu terdiam.

Nada suaranya berubah dalam satu tarikan napas.

"Baik, Pak Arka. Kami akan prioritaskan berkas Bapak. Mau kopi atau teh?"

"Dokumen dulu," kata Arka.

Steven tertawa pelan di sampingnya. "Bos ini tidak bisa digoda fasilitas kecil."

"Fasilitas kecil membuat orang lupa harga besar."

Steven berhenti tertawa. Ia memandang Arka seperti baru menemukan sesuatu yang menarik.

Menjelang sore, angka di tablet Steven sudah tidak terlihat seperti daftar belanja. Itu terlihat seperti peta kekuasaan kecil.

Dua belas rumah kontrakan di Depok.

Tiga puluh enam unit apartemen studio di Jakarta Selatan.

Dua puluh ruko kecil dengan penyewa aktif.

Empat puluh delapan rumah cluster dari portofolio bank.

Sebelas unit campuran di PIK dan sekitarnya.

Dan satu properti yang Steven simpan untuk terakhir.

"Villa WD8 Bukit Menteng," katanya ketika Cayenne memasuki kawasan privat dengan pohon besar dan jalan bersih. "Luas bangunan sekitar tiga ratus tiga puluh lima meter persegi. Lima kamar, kolam renang, garasi luas. Pemilik lama pindah ke luar negeri dan butuh penyelesaian cepat. Harga Rp 50 Miliar."

Gerbang hitam terbuka.

Untuk sesaat, Arka tidak bicara.

Kemewahan itu tidak membuatnya silau. Ia justru teringat kamar kost-nya yang sempit, kipas angin tua, dan suara motor dari gang kecil. Jarak antara dua tempat itu terasa seperti satu hidup penuh.

Itu jarak antara orang yang ditertawakan dan orang yang ditunggu keputusannya.

Sales villa, pria muda berjas rapi, menyambut mereka dengan wajah profesional. Namun ketika melihat Arka, ekspresinya sempat turun setipis kertas.

Steven melihatnya.

"Jangan salah lihat," katanya ringan. "Beliau yang membeli."

Pria berjas itu langsung membungkuk sedikit. "Selamat sore, Pak Arka. Silakan, saya tunjukkan unitnya."

Arka berjalan melewati ruang tamu luas, kaca tinggi, dapur bersih, dan kolam renang yang memantulkan langit sore. Semuanya terlalu rapi, terlalu jauh dari hidupnya kemarin. Tetapi anehnya, ia tidak merasa kecil di dalam rumah itu.

Ia justru merasa rumah itu terlambat datang.

Di kamar utama, Steven berdiri di dekat jendela. "Kalau Bos ambil villa ini dan portofolio tadi, totalnya seratus dua puluh delapan properti. Ada SHM, ada beberapa HGB untuk apartemen dan ruko, semua bisa dicek notaris dan PPAT. Dengan diskon paket dan pembayaran cepat, saya bisa tekan total ke kisaran Rp 170 Miliar."

"Biru Semesta cukup?"

"Dengan struktur Om Hendry, cukup. Bahkan masih sisa. Tapi dana tidak boleh masuk kasar. Kita pakai escrow, AJB bertahap, dan sebagian lewat pengalihan portofolio perusahaan properti kecil. Bersih, tapi perlu tiga hari kerja."

Arka menatap kolam renang di bawah.

Tiga hari.

Di Planet Biru, tiga hari bisa berarti tiga siklus hidup dan mati. Di dunia ini, tiga hari bisa mengubah status seseorang dari penghuni kost menjadi pemilik seratus dua puluh delapan properti.

"Jalankan," kata Arka.

Steven menghela napas, lalu tertawa pendek. "Bos benar-benar tidak tawar?"

"Kalau dokumen kotor, saya batal. Kalau dokumen bersih, saya tidak membuang waktu untuk gaya."

"Saya mulai paham kenapa Om Hendry menelepon saya dengan suara seperti orang menemukan tambang emas."

"Dia tidak menemukan tambang emas," kata Arka. "Dia menemukan pintunya."

Steven tidak mengerti sepenuhnya, tetapi cukup pintar untuk tidak bertanya.

Tiga hari berikutnya bergerak cepat.

Arka duduk di ruang notaris dengan pakaian yang tetap sederhana, menandatangani berkas demi berkas. AJB. Kuasa pengecekan sertifikat. Perjanjian escrow. Daftar SHM dan HGB. Setiap halaman membuat para agen yang semula meremehkannya semakin hati-hati menaruh pulpen di depan tangannya.

Seorang staf notaris sempat berbisik pada rekannya, terlalu pelan untuk dianggap sopan tapi cukup jelas terdengar.

"Masih muda banget. Ini anak siapa?"

Arka mendengar.

Ia tidak menoleh.

Steven menoleh dan tersenyum. "Anak masa depan. Kerja saja, Mbak."

Ruangan langsung hening.

Pada hari ketiga, tumpukan map biru dan merah tersusun di meja Villa WD8. Kunci rumah, kartu akses apartemen, daftar penyewa ruko, salinan AJB, tanda terima escrow, dan jadwal balik nama sertifikat.

Seratus dua puluh delapan properti.

Angka itu turun dari tablet menjadi dokumen, tanda tangan, stempel, dan kunci logam dingin di telapak tangan Arka.

Hendry datang sore itu, membawa kotak kosong Biru Semesta yang sudah tidak berisi apa-apa.

"Pembeli kolektor sudah konfirmasi," katanya. "Dana bersih sesuai struktur. Pak Arka sekarang resmi punya aset properti yang bahkan beberapa pengusaha umur lima puluh tahun belum tentu punya."

Steven bersandar di sofa, tampak lelah namun puas. "Dan masih ada sisa dana. Kalau Bos mau, besok kita bisa lihat mobil. Orang dengan Villa WD8 agak lucu kalau masih naik ojek online."

Arka memegang satu kunci Villa WD8.

Logam kecil itu terasa berbeda dari emas batangan. Emas adalah kejutan. Kunci ini adalah wilayah.

Ia berjalan ke jendela besar. Di luar, lampu Bukit Menteng mulai menyala satu per satu. Jakarta bergerak di kejauhan, bising, mahal, dan penuh orang yang menilai manusia dari alamat, mobil, dan saldo.

Kemarin, alamat Arka adalah kamar kost sempit di Depok.

Hari ini, alamatnya bisa membuat sales villa menundukkan kepala.

Namun di layar ponselnya, tidak ada pesan dari Viona. Tidak ada satu pun orang kampus yang tahu.

Bagus.

Biarkan mereka tetap mengira ia pria yang sama.

Arka memasukkan kunci itu ke saku.

"Seratus dua puluh delapan properti," katanya pelan. "Di Jakarta, itu cukup untuk membuat seseorang dipanggil pengusaha muda."

Steven mengangkat alis. "Cukup?"

Arka menatap pantulan dirinya di kaca. Tubuhnya masih besar. Bajunya masih biasa. Tapi di belakang pantulan itu, Villa WD8 berdiri seperti jawaban yang belum dibacakan.

"Tapi ini baru awal."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!