Mata Dewa: Jalan Sang Pangeran
Zhou Li, pangeran keempat Kerajaan Zhou yang lemah, tewas dicabik binatang buas di hutan terlarang—dan tubuhnya ditempati Zhou Chen, pemuda modern yang mati membaca buku di perpustakaan. Terjebak di istana asing, dikepung delapan saudara haus takhta, tanpa kekuatan atau sekutu, ia hanya ingin hidup tenang. Semua berubah saat Mata Dewa Analisis terbangun dalam dirinya, mampu menembus kelemahan, potensi, dan takdir tersembunyi, berdampingan dengan Kitab Langit Tanpa Akhir yang menyempurnakan setiap ilmu yang ia kuasai.
Dari mereka yang dianggap sampah dunia, ia membangun Pasukan Mata Langit—loyal hingga mati—dan perlahan menyeret Kerajaan Zhou keluar dari bayang-bayang, hingga tersingkap kebenaran: dunia ini hanyalah lapisan terendah dari semesta yang jauh lebih luas. Ia tak pernah mengejar takhta, tapi dunia akan bertekuk lutut di hadapan namanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 — Jejak Penyelundupan
Rencana untuk menyelidiki Pejabat Zhang membutuhkan kehati-hatian yang jauh lebih besar dibandingkan penyelidikan sebelumnya. Sebagai kepala pengawasan jalur dagang selatan, Zhang memiliki wewenang resmi untuk memeriksa hampir semua barang yang keluar-masuk kerajaan—posisi yang sempurna untuk menyembunyikan penyelundupan di balik prosedur yang tampak sah di permukaan.
"Kita tidak bisa langsung mendekatinya," kata Zhou Ming, saat mereka berdua merencanakan langkah selanjutnya di kediamannya yang temaram. "Zhang sudah bertahun-tahun berpengalaman dalam permainan ini. Kalau dia merasa diawasi, dia akan langsung menghentikan operasinya untuk sementara, dan kita kehilangan kesempatan untuk mendapatkan bukti baru."
Zhou Chen mengangguk setuju, pikirannya berputar mencari cara terbaik untuk mendekati masalah ini tanpa menimbulkan kecurigaan. "Bagaimana kalau kita mendekatinya melalui jalur yang tidak langsung? Aku memiliki wewenang resmi dari Ayahanda untuk mengelola dana pengembangan jalur dagang. Aku bisa meminta laporan rutin dari semua kepala pengawasan jalur dagang, termasuk Zhang, sebagai bagian dari tugas normal—tanpa terlihat mencurigai siapa pun secara khusus."
Zhou Ming menatapnya dengan penuh minat. "Itu ide bagus. Laporan resmi tidak akan menimbulkan kecurigaan, tapi bisa memberi kita akses ke data yang biasanya sulit didapatkan tanpa alasan jelas."
Rencana itu dijalankan dalam beberapa hari berikutnya. Zhou Chen, dengan wewenang barunya, mengirimkan permintaan resmi kepada seluruh kepala pengawasan jalur dagang di Kerajaan Zhou, meminta laporan rinci tentang volume perdagangan, jenis barang, dan catatan pajak selama enam bulan terakhir—permintaan yang terdengar wajar sebagai bagian dari evaluasi menyeluruh terhadap infrastruktur perdagangan kerajaan.
Ketika laporan dari Pejabat Zhang akhirnya sampai, Zhou Chen segera memeriksanya dengan seksama, kali ini dibantu langsung oleh Mata Dewa yang ia arahkan pada setiap detail dokumen tersebut.
Analisis Dokumen — Laporan Zhang Terdapat pola tidak wajar pada catatan pengiriman barang tekstil ke wilayah barat Volume yang dilaporkan tidak sesuai dengan catatan pajak yang dibayarkan Selisih sekitar 15% kemungkinan digunakan untuk menyembunyikan barang tambahan yang tidak tercatat Pola serupa terlihat konsisten setiap dua bulan sekali, bertepatan dengan jadwal pengiriman besar ke wilayah barat
Zhou Chen menatap analisis itu dengan seksama. Pola yang konsisten setiap dua bulan menunjukkan bahwa ini bukan kesalahan administratif biasa, melainkan sistem penyelundupan yang terorganisir dengan rapi—kemungkinan besar menggunakan kedok pengiriman tekstil untuk menyembunyikan barang terlarang yang sesungguhnya.
Ia segera membagikan temuan ini kepada Zhou Ming malam itu juga.
"Ini konsisten dengan dugaan kita," kata Zhou Ming setelah membaca analisis Zhou Chen dengan cermat. "Tapi kita masih butuh bukti fisik—sesuatu yang lebih konkret daripada sekadar analisis angka di atas kertas. Kalau kita membawa ini ke hadapan Ayahanda tanpa bukti nyata, Zhang bisa dengan mudah membantahnya sebagai kesalahan pencatatan biasa."
Bukti fisik yang dibutuhkan itu, pada akhirnya, datang dari sumber yang tidak terduga.
Paman Guo, pandai besi tua yang telah bergabung dengan kelompok Zhou Chen sejak awal, ternyata memiliki koneksi lama dengan beberapa pandai besi lain di distrik selatan—koneksi yang terbentuk dari puluhan tahun bekerja di bidang yang sama sebelum akhirnya ia dipindahkan ke bagian perdagangan istana.
"Yang Mulia," katanya suatu sore, mendekati Zhou Chen dengan wajah serius, "hamba mendengar sesuatu yang mungkin berguna dari salah satu rekan lama hamba. Katanya, gudang milik Pejabat Zhang di distrik selatan sering menerima pengiriman malam hari—sesuatu yang tidak biasa untuk gudang tekstil resmi."
Zhou Chen menatapnya dengan penuh perhatian. "Pengiriman malam hari? Apakah rekanmu tahu apa isi pengiriman itu?"
"Tidak sepenuhnya, Yang Mulia. Tapi katanya, peti-peti yang dibongkar pada malam hari selalu dijaga lebih ketat dibanding peti tekstil biasa, dan hanya orang-orang tertentu yang boleh mendekat."
Informasi ini, meski masih belum sepenuhnya pasti, memberikan Zhou Chen sebuah petunjuk konkret untuk diselidiki lebih lanjut. Ia segera mendiskusikannya dengan Zhao Kai, yang insting militernya kini mulai terasah kembali sepenuhnya.
"Kalau memang ada pengiriman rahasia di malam hari," kata Zhao Kai setelah mendengar laporan itu, "kita bisa mencoba mengamati gudang tersebut secara diam-diam. Tapi kita harus sangat berhati-hati—kalau ketahuan, ini bisa dianggap sebagai tindakan mencurigai pejabat resmi tanpa alasan yang sah, dan itu bisa menjadi senjata politik bagi lawan kita."
Malam pengamatan pertama dilakukan seminggu kemudian, bertepatan dengan perkiraan jadwal pengiriman berikutnya berdasarkan pola dua bulanan yang telah dianalisis Zhou Chen sebelumnya. Zhao Kai dan Yue Er, dengan kemampuan pengamatan tajam yang telah mereka asah selama berminggu-minggu latihan, ditugaskan untuk mengawasi gudang Zhang dari kejauhan, tersembunyi di balik bayang-bayang bangunan sekitar.
Zhou Chen sendiri menunggu di kediaman Zhou Ming, keduanya bersiap menerima laporan begitu pengamatan selesai.
Menjelang tengah malam, Yue Er kembali dengan laporan yang mengonfirmasi kecurigaan mereka.
"Ada tiga gerobak yang datang sekitar jam sepuluh malam," lapornya, napasnya masih sedikit terengah dari perjalanan kembali yang tergesa-gesa. "Peti-peti yang dibongkar memang berbeda dari peti tekstil biasa—lebih kecil, lebih berat, dan dijaga oleh empat orang bersenjata yang tidak terlihat seperti penjaga gudang biasa."
"Apakah kalian bisa melihat isi peti-peti itu?" tanya Zhou Ming.
Yue Er menggeleng. "Tidak, Yang Mulia. Mereka membongkarnya langsung ke dalam ruangan tertutup di bagian belakang gudang. Tapi Zhao Kai berhasil mengenali salah satu penjaga—wajahnya sama dengan salah satu anggota kelompok Gagak Hitam yang sempat kita lihat sebelumnya."
Zhou Chen dan Zhou Ming saling bertukar pandang, menyadari bahwa potongan-potongan teka-teki ini semakin jelas menunjuk pada satu kesimpulan yang sama: gudang Zhang bukan sekadar tempat penyimpanan tekstil biasa, melainkan pusat operasi penyelundupan yang terhubung langsung dengan kelompok bayaran yang telah menyerang jalur dagang Zhou Chen sebelumnya.
"Kita hampir mendapatkan bukti yang cukup," kata Zhou Ming, menatap catatan-catatan yang telah mereka kumpulkan selama berminggu-minggu terakhir. "Tapi kita masih butuh satu hal lagi—bukti langsung tentang apa isi peti-peti itu sebenarnya. Tanpa itu, semua ini masih bisa dianggap sebagai spekulasi belaka."
Zhou Chen mengangguk, meski dalam hati ia menyadari bahwa langkah selanjutnya akan jauh lebih berisiko dibandingkan sekadar pengamatan dari kejauhan. Untuk mendapatkan bukti langsung, seseorang harus benar-benar mendekati gudang itu, mungkin bahkan menyusup ke dalamnya—tindakan yang, jika ketahuan, bisa berujung fatal bagi siapa pun yang terlibat.
"Aku akan memikirkan cara yang lebih aman untuk mendapatkan bukti itu," katanya akhirnya. "Tapi untuk sekarang, mari kita simpan dulu semua yang telah kita kumpulkan. Kita perlu waktu untuk menyusun rencana yang benar-benar matang sebelum bergerak lebih jauh."
Malam itu, saat ia berjalan pulang menuju kediamannya, Zhou Chen tidak bisa menghilangkan perasaan bahwa mereka sedang berada di ambang sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar mengungkap satu kasus penyelundupan. Setiap potongan bukti yang mereka temukan seolah membuka lapisan baru dari konspirasi yang jauh lebih dalam dan lebih berbahaya—sebuah jaringan yang, jika benar-benar terhubung dengan keluarga Permaisuri, bisa mengguncang fondasi Kerajaan Zhou itu sendiri.
Aku harus berhati-hati, pikirnya, menatap bintang-bintang yang mulai memudar seiring fajar mendekat. Bukan hanya demi keselamatanku sendiri, tapi juga demi semua orang yang telah mempercayaiku sejauh ini—Ah Fu, Xiao Hei, Yue Er, Zhao Kai, Paman Guo, Zhou Feng, dan kini, Zhou Ming. Satu kesalahan langkah bisa membahayakan mereka semua.
Ia belum tahu, bahwa langkah selanjutnya dalam penyelidikan ini akan membawanya berhadapan langsung dengan bahaya yang jauh lebih nyata daripada sekadar dokumen dan laporan tersembunyi—sebuah konfrontasi yang akan menguji sejauh mana kekuatan yang telah ia bangun selama ini benar-benar siap menghadapi ancaman sesungguhnya.
Bersambung ke Bab 15 — Penyusupan ke Gudang Zhang