NovelToon NovelToon
Pembalasan CEO Gemuk

Pembalasan CEO Gemuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Time Travel
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: NinLugas

Alya mengira kehidupannya sempurna—menjadi CEO sukses dengan suami penyayang di sisinya. Namun, semua itu hancur dalam semalam ketika suaminya sendiri menghabisi nyawanya secara sadis. Tragisnya, sebelum nafas terakhir berhembus, Alya harus menyaksikan kenyataan pahit, pria yang paling ia cintai berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.

Namun, takdir belum selesai.
Bukannya terbangun di alam baka, Alya justru terbangun lima tahun lalu—sebelum ia diangkat menjadi CEO, dan sebelum kata 'sah' terucap di pelaminan. Berbekal ingatan masa depan dan rasa sakit yang membakar, Alya bersumpah tidak akan menjadi korban untuk kedua kalinya.

Permainan baru saja dimulai, dan kali ini... Alya yang memegang kendali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Siska Mulai Menyerang

Perjamuan makan malam kolektor seni di Grand Hyatt kemarin meninggalkan bekas luka yang amat dalam bagi harga diri Siska. Rasa cemburu yang membakar saat menyaksikan Rendy mengecup kening Alya di depan umum membuat akal sehatnya kian terkikis. Siska menyadari satu hal yang teramat pahit: secara status hukum, hak milik, dan citra publik, Alya masih memegang posisi yang tak tergoyahkan sebagai istri sah Rendy.

Jika ia terus menggunakan cara-cara kasar seperti pingsan atau pura-pura pusing di lorong kantor, ia hanya akan terlihat bagaikan wanita murahan yang mengemis perhatian.

Maka, Siska memutuskan untuk mengubah strateginya.

Ia tidak akan menyerang Alya secara langsung dengan makian atau labrakan. Sebaliknya, ia akan melancarkan serangan bergerilya yang lebih halus dan beracun. Siska mulai merancang taktik untuk merusak persepsi Rendy terhadap Alya, memanipulasi ego pria itu, serta membangun citra bahwa dirinya adalah satu-satunya wanita yang benar-benar memahami, menghargai, dan melayani Rendy dengan tulus.

Langkah pertama Siska dimulai dengan komunikasi yang intens dan terselubung.

Pukul satu dini hari, saat suasana kota Jakarta sudah sunyi, Siska mulai rutin mengirimkan pesan singkat ke nomor pribadi Rendy. Pesan-pesan itu dirancang dengan sangat hati-hati—tidak terlalu vulgar, namun penuh dengan perhatian manja dan pancingan emosional.

“Rend... kamu pasti capek banget ya hari ini? Aku perhatiin waktu rapat tadi, muka kamu kelihatan lelah banget. Alya kok tega ya biarin kamu kerja keras sendirian sementara dia sibuk cari muka di depan komisaris?”

“Rend, kalau kamu butuh teman cerita atau sekadar ngopi santai tanpa ada tekanan pekerjaan, aku selalu ada buat kamu ya... Kamu itu pria yang hebat, cuma sayangnya ada orang yang nggak bisa menghargai kamu apa adanya.”

Di saat yang sama, Siska selalu menciptakan alasan-alasan profesional yang terkesan 'mendesak' untuk mengatur pertemuan empat mata dengan Rendy. Mulai dari urusan revisi berkas vendor, penandatanganan dokumen rekapitulasi harian, hingga diskusi strategi komunikasi publik perusahaan.

Sore itu di sebuah kedai kopi bernuansa privat tak jauh dari kantor pusat, Siska duduk berhadapan dengan Rendy. Siska sengaja memesankan minuman kopi dengan sedikit gula—minuman favorit Rendy—sebelum pria itu sempat memesannya sendiri.

"Ini buat kamu, Rend," ujar Siska seraya menggeser cangkir kopi beraroma vanila itu dengan senyuman yang teramat manis dan lembut.

Rendy tersentak pelan, lalu tersenyum puas. "Kamu masih ingat kopi kesukaanku, Ka?"

Siska mendesah pelan, menatap mata Rendy dengan tatapan penuh rasa iba yang dibuat-buat. "Tentu saja aku ingat, Rend. Aku kan wanita yang selalu perhatiin hal-hal kecil tentang kamu. Beda sama Alya... Aku dengar dari sekretaris depan, Alya malam ini ada acara makan malam lagi ya sama kolega asing? Dia bahkan nggak sempat masak atau sekadar nyiapin makan malam buat kamu?"

Rendy diam sejenak, meremas jemarinya di atas meja. Rasa gengsi dan ego prianya yang tinggi seketika tersenggol oleh kalimat Siska.

"Alya memang belakangan ini sibuk sekali di kantor," kata Rendy dengan nada agak ketus dan gusar. "Dia makin berambisi menguasai seluruh operasional perusahaan. Terkadang kalau aku ajak bicara soal urusan rumah tangga, dia jawabnya kaku banget, seolah-olah aku ini cuma bawahannya di kantor."

Siska menyunggingkan senyum tipis di balik cangkir minumannya. Pancingannya berhasil mengenai sasaran.

"Kasihan kamu, Rend..." bisik Siska seraya mengulurkan tangannya di atas meja dan mengusap pelan punggung tangan Rendy. "Pria sehebat, setampan, dan seberwibawa kamu harusnya diperlakukan seperti raja di rumah. Bukan malah dianggap sebagai bawahan oleh istri sendiri. Alya itu terlalu dingin dan ambisius, Rend. Dia lupa kalau tugas utama seorang istri itu melayani dan membahagiakan suaminya, bukan cuma ngejar harta dan jabatan."

Rendy menatap Siska dengan pandangan yang kian melunak. Manipulasi Siska meresap dengan sangat mulus ke dalam pikirannya yang dangkal. Rendy mulai membandingkan sikap Alya yang mandiri, tegas, dan berwibawa dengan sikap Siska yang penurut, manja, dan selalu memujinya tinggi-tinggi.

"Kamu memang paling mengerti aku, Siska..." gumam Rendy, membalas genggaman tangan Siska di atas meja.

"Aku akan selalu ada buat kamu, Rend," jawab Siska dengan nada berbisik yang menggoda. "Kapan pun kamu merasa kesepian karena Alya terlalu sibuk dengan dunianya sendiri... datanglah ke aku."

Tanpa Siska dan Rendy sadari, seluruh pergerakan, pesan singkat, dan skenario yang dirancang Siska telah terpantau secara sempurna oleh Alya.

Di dalam ruang kerjanya yang megah, Alya duduk di balik meja kaca seraya memandangi layar tablet pribadinya. Tim keamanan independen dan peretas kepercayaan Kai yang disiapkan untuk mengawasi pergerakan Rendy memberikan laporan harian secara real-time—termasuk tangkapan layar pesan-pesan manis dari Siska dan rekaman foto pertemuan mereka di kedai kopi.

Sekretaris pribadi Alya, Maya, yang berdiri di samping meja tampak geram saat membaca laporan tersebut.

"Ibu Alya..." ujar Maya dengan nada kesal yang tak tertahankan. "Wanita bernama Siska itu benar-benar tidak tahu diri! Dia secara terang-terangan menghasut Pak Rendy dan berusaha merusak citra Ibu sebagai seorang istri di belakang Ibu! Kenapa Ibu tidak langsung memanggil HRD dan memecat Siska hari ini juga? Kita punya cukup alasan hukum untuk mendepaknya karena pelanggaran etika!"

Alya perlahan menyandarkan punggungnya di kursi eksekutifnya. Wajahnya yang cantik dan anggun sama sekali tidak memancarkan rasa marah, cemburu, ataupun kekecewaan.

Bibir indah Alya justru menyunggingkan senyum dingin yang penuh kalkulasi.

"Memecatnya sekarang terlalu mudah dan terlalu cepat, Maya," tutur Alya dengan suara yang amat tenang dan jernih. "Kalau aku memecat Siska sekarang, Rendy akan menganggap Siska sebagai korban yang teraniaya. Rendy justru akan merasa bersalah dan makin protektif pada Siska."

Alya menegakkan tubuhnya, menatap lurus ke arah jendela kaca yang menampilkan pemandangan pencakar langit Jakarta.

"Biarkan Siska merasa strateginya berhasil," sambung Alya, matanya berkilat oleh kecerdasan seorang dalang. "Biarkan Siska merasa dia selangkah lebih maju dariku. Biarkan dia semakin percaya diri bahwa dia bisa memanipulasi Rendy dan merebut posisi di perusahaan ini."

Maya mengernyitkan dahi, mulai memahami arah pemikiran atasannya. "Maksud Ibu...?"

"Semakin Siska merasa berada di atas angin dan menang," bisik Alya pelan namun amat tajam, "semakin banyak kesalahan fatal dan kecerobohan yang akan dia lakukan tanpa dia sadari. Siska adalah wanita yang serakah dan impulsif. Saat dia merasa memegang kendali penuh atas Rendy, dia pasti akan berani melangkah lebih jauh—seperti memalsukan dokumen keuangan lagi atau mencoba mengambil alih aset yang bukan haknya."

Alya terkekeh halus—sebuah tawa elegan yang menakutkan.

"Dan saat momen itu tiba," tegas Alya, "kita tidak cuma memecatnya. Kita akan memastikannya masuk ke dalam kurungan penjara bersama Rendy, tanpa ada celah sedikit pun untuk mereka menyelamatkan diri."

Malam harinya, Alya melangkah masuk ke dalam rumah. Ia menemukan Rendy sedang duduk di sofa ruang tengah seraya memainkan ponselnya dengan senyum-senyum sendiri—jelas sedang bertukar pesan dengan Siska.

Mendengar langkah kaki Alya, Rendy refleks mematikan layar ponselnya dan meletakkannya dengan posisi terbalik di atas meja. Raut wajah Rendy mendadak berubah menjadi kaku dan agak dingin.

Alya melangkah mendekat dengan sangat santai, meletakkan tas tangannya di atas meja konsol.

"Kamu baru pulang, Al?" tanya Rendy dengan nada suara yang sengaja dibuat agak datar dan memprotes. "Jam berapa ini? Kamu ini makin hari makin sibuk saja dengan urusan proyek luar. Kamu ingat tidak kalau kamu punya suami di rumah?"

Rendy mencoba menerapkan pancingan yang diajarkan Siska tadi sore—mencoba membuat Alya merasa bersalah dan bersikap defensif.

Namun, rekayasa emosi Rendy tidak mempan sedikit pun pada Alya.

Alya berjalan mendekati Rendy, lalu duduk di tepi sofa dengan keanggunan yang sempurna. Ia tidak marah, tidak membela diri, dan tidak menunjukkan kepanikan.

"Maaf ya, Rendy, kalau pekerjaan kantor membuatku pulang agak terlambat," ujar Alya dengan senyuman manis yang teramat tenang dan lembut. "Proyek perluasan lini bisnis baru kita sedang memasuki tahap krusial. Aku melakukan semua ini kan juga demi kemajuan perusahaan dan masa depan kita berdua."

Alya mengulurkan tangannya, mengusap bahu Rendy secara perlahan dengan gerakan penuh ketenangan.

"Aku tahu kamu mungkin merasa kesepian atau kurang perhatian belakangan ini," sambung Alya dengan nada suara yang teramat halus namun menyimpan ironi yang dalam. "Tapi aku percaya kamu adalah pria yang bijaksana, Rendy. Kamu pasti tahu bagaimana menjaga kehormatan dirimu dan rumah tangga kita di luar sana, kan?"

Rendy menelan ludah kasar. Tatapan mata Alya yang begitu jernih, tenang, dan tidak menunjukkan kelemahan sedikit pun membuat kalimat-kalimat celaan yang sudah disiapkan Rendy di dalam kepalanya seketika menguap begitu saja. Rendy justru merasa kerdil dan canggung di hadapan istrinya sendiri.

"I-iya... tentu saja, Al," jawab Rendy terbata-bata, mengalihkan pandangannya dari mata Alya. "Aku cuma... cuma mengingatkan kamu saja."

"Terima kasih sudah mengingatkanku, Suamiku," balas Alya seraya tersenyum tipis, lalu berdiri dari sofa. "Aku mandi dulu ya. Kamu jangan tidur terlalu malam."

Alya melangkah menuju kamar utama dengan langkah yang begitu ringan.

Di balik punggung Rendy yang masih terdiam kaku di sofa, Alya menyunggingkan senyuman pembalasan yang amat dingin. Ia tahu, permainan psikologis ini baru saja dimulai. Siska sedang menggali lubang kuburnya sendiri, Rendy sedang berjalan menuju jeratannya, dan Alya hanya perlu menyaksikan seluruh skenario itu terurai dengan sempurna sesuai dengan rencana yang telah ia susun bersama Kai Aditya.

1
Ayu Ara12
next
Ayu Ara12
next dong kak cerita
NinLugas: ok kk d tnggu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!