NovelToon NovelToon
Anomali Sang Pewaris

Anomali Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Sci-Fi
Popularitas:171
Nilai: 5
Nama Author: Rjm10

Sebagai pewaris klan bangsawan sihir terkuat, Kaelen justru membangkitkan kekuatan Anomali berupa energi penelan magis. Dianggap sebagai aib dan dikhianati keluarganya sendiri, ia dilucuti dari gelarnya dan dibuang ke distrik kumuh tanpa hukum. Saat berjuang bertahan hidup dari kejaran pembunuh bayaran, Kaelen menemukan fakta bahwa "kutukannya" adalah satu-satunya senjata rahasia untuk melawan ancaman kuno yang mengintai kekaisaran.
Kini, Kaelen harus memilih: membiarkan kekaisaran hancur demi balas dendam, atau menggunakan kutukannya untuk merebut kembali takhtanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rjm10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ksatria di Balik Rongsokan

Udara di pelataran barak seketika membeku. Bukan karena cuaca, melainkan karena kengerian yang mencekik napas ratusan anggota geng. Bos Rexor, pria yang selama ini ditakuti sebagai monster tak terkalahkan di Distrik Bawah, kini menggantung tak berdaya di tangan seorang pemuda buangan.

Wajah Rexor berubah menjadi merah keunguan, kakinya menendang-nendang udara, mencoba mencari pijakan. Tangannya yang besar mencengkeram lengan Kaelen, namun lengan Kaelen terasa sekeras pilar baja, tak bergeming sedikit pun.

"L-lepaskan..." Rexor tercekat, napasnya terdengar seperti peluit rusak.

Kaelen tidak melepaskannya. Ia memutar kepalanya, menatap lurus ke arah para penjahat yang masih berdiri mematung di sekeliling mereka. Beberapa dari mereka mulai meraih senjata kembali, namun keraguan tergambar jelas di wajah mereka.

"Siapa pun yang mengangkat senjatanya," suara Kaelen menggema, tenang namun penuh ancaman, "akan kujadikan debu bersama bos kalian."

Tidak ada satu pun yang bergerak. Ketakutan terhadap hal yang tidak mereka pahami sebuah anomali yang bisa mematikan sihir dan mematahkan bumi jauh lebih besar daripada kesetiaan mereka pada uang Rexor.

Kaelen menoleh kembali pada Rexor, yang kini matanya mulai berputar ke atas. "Dengar baik-baik, Rexor. Aku memberimu Sektor Atas bukan untuk dijarah, tapi untuk diatur. Mulai hari ini, geng jalananmu adalah prajuritku. Mereka akan dilatih, didisiplinkan, dan tunduk pada hukum yang baru. Dan kau..."

Kaelen mengendurkan cengkeramannya sedikit, membiarkan Rexor menghirup seteguk udara kotor.

"...kau akan menjadi komandan mereka. Tapi jika kau mempertanyakan otoritasku sekali lagi, aku tidak akan mencekikmu. Aku akan menyedot jiwa dari tubuhmu. Mengerti?"

Rexor terbatuk keras, memuntahkan darah dan air liur. "M-mengerti... Tuanku."

Kaelen melepaskan cengkeramannya, membiarkan tubuh raksasa Rexor jatuh berdebum ke atas batu pualam yang hancur. Bos mafia itu merangkak mundur, terengah-engah, tak berani menatap mata Kaelen.

"Tarik pasukanmu dari pelataran ini," perintah Kaelen tanpa ampun. "Tunggu instruksiku di sayap barat."

Rexor memberi isyarat putus asa pada anak buahnya. Dalam hitungan menit, ratusan preman itu bergegas mundur, menyeret teman-teman mereka yang terluka, meninggalkan Kaelen sendirian di depan barikade barak ksatria.

Keheningan kembali menyelimuti area itu. Kaelen berjalan perlahan mendekati tumpukan gerbong kereta dan patung hancur yang menutupi pintu masuk barak. Ia tahu, dari balik celah barikade itu, puluhan pasang mata sedang mengawasinya.

"Komandan Kael," panggil Kaelen, suaranya tenang, mengabaikan kekacauan yang baru saja ia buat. "Keluarlah. Rexor sudah pergi."

Untuk beberapa saat, tidak ada jawaban. Hanya terdengar suara gesekan logam dari dalam. Lalu, secara perlahan, beberapa ksatria mulai memindahkan puing-puing dari dalam, membuka celah yang cukup untuk dilewati satu orang.

Komandan Kael melangkah keluar. Zirahnya masih penyok dari pertarungan semalam, wajahnya terlihat jauh lebih tua dan kelelahan. Tidak ada pedang besar di tangannya, hanya sepotong pipa besi yang ia gunakan sebagai tongkat tumpuan. Di belakangnya, beberapa ksatria muda mengintip, mata mereka memancarkan campuran antara rasa malu dan keputusasaan. Mereka kehilangan sihir mereka, identitas mereka, dan kini, harga diri mereka.

"Kau membela kami dari anjing-anjing jalanan itu?" Kael tersenyum masam, bersandar pada pipa besinya. "Jangan berpikir itu akan membuat kami bersujud padamu, Kaelen. Kau yang mematikan sihir kami. Kau yang menghancurkan kehormatan klan ini."

"Kehormatan yang kalian banggakan itu palsu, Komandan," balas Kaelen, melangkah mendekat. "Kalian percaya bahwa api adalah segalanya. Tapi lihatlah kalian sekarang. Bersembunyi di balik rongsokan karena tanpa sihir, kalian tidak berani menghadapi dunia nyata."

Kata-kata Kaelen menusuk tajam, membuat beberapa ksatria di belakang Kael menggeram marah.

"Kau tidak berhak menghakimi kami!" teriak seorang letnan muda, melangkah maju dengan wajah memerah. "Kami berlatih seumur hidup untuk melindungi klan ini!"

"Melindungi dari siapa?!" bentak Kaelen balik, suaranya menggelegar hingga membuat sang letnan tersentak. "Dari preman Sektor Empat? Dari kemiskinan yang kalian ciptakan sendiri di bawah sana? Klan ini tidak pernah melindungi siapa pun selain diri mereka sendiri! Dan sekarang, saat kelemahan kalian terekspos, kalian memilih mati konyol di dalam barak daripada beradaptasi?!"

Kaelen menunjuk ke arah Kael. "Kau, Komandan. Kau tahu lebih baik dari siapa pun bahwa pertempuran tidak ditentukan oleh seberapa besar api yang bisa kau buat. Ia ditentukan oleh seberapa keras kau bisa bertahan."

Kaelen merentangkan tangannya, menatap sisa-sisa pasukan elit itu.

"Paman Varian mati, tapi musuh sesungguhnya baru saja menyadari kelemahan kita," ucap Kaelen, nada suaranya berubah menjadi lebih tenang namun mendesak. "Kubah Matahari telah runtuh. Seluruh kekaisaran tahu bahwa Adiwangsa kehilangan sihirnya. Dalam hitungan hari, Klan Angin dan Klan Bumi akan mengirim pasukan mereka untuk mencabik-cabik wilayah ini. Mereka tidak akan peduli apakah kalian punya sihir atau tidak. Mereka hanya akan melihat kalian sebagai tanah jajahan."

Wajah Kael memucat. Ia tahu Kaelen benar. Politik antar-klan adalah politik predator. Kelemahan adalah undangan untuk invasi.

"Lalu apa yang kau inginkan dari kami?" tanya Kael pelan. "Kami lumpuh tanpa api."

"Aku ingin kalian berhenti menjadi penyihir, dan mulai menjadi prajurit," jawab Kaelen tegas. "Aku memiliki akses ke teknologi Sektor Bawah. Senapan uap, zirah modifikasi, bahan peledak murni. Aku ingin kau, Kael, melatih orang-orang Rexor disiplin militer kalian, dan aku ingin para preman itu mengajari kalian cara bertarung kotor tanpa sihir. Kita akan menciptakan pasukan baru. Pasukan yang tidak bergantung pada elemen, tapi pada baja dan otak."

Kaelen melangkah mendekati mantan gurunya, menatap mata pria tua itu lekat-lekat.

"Aku tidak meminta kesetiaanmu pada namaku, Komandan. Aku meminta kesetiaanmu pada bertahan hidup. Jika kalian ingin mati, kembalilah ke dalam barak dan tunggu Klan Angin membantai kalian. Tapi jika kalian ingin bertarung, ambil senjata kalian, keluar dari balik rongsokan ini, dan bantu aku melindungi rumah ini."

Kael terdiam lama. Ia menoleh ke belakang, menatap wajah pasukannya. Mereka bukan lagi ksatria api, tapi mereka masih prajurit. Kael membuang pipa besinya ke tanah dengan bunyi berdentang keras. Ia berbalik menghadap Kaelen, lalu, dengan susah payah, ia menekuk lutut kanannya dan menundukkan kepalanya.

Satu per satu, seluruh ksatria Ignis yang tersisa mengikuti langkah komandan mereka, berlutut di hadapan sang Anomali.

Di balik puing-puing kastil, era ksatria sihir Adiwangsa telah berakhir. Dan era militer baja baru saja dimulai.

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
hai outhor salam kenal . mau masuk grup ku gak saling support
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: ayo saling folow
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!