Naya selalu diabaikan Aslan, suaminya. Hingga suatu hari Aslan pergi dinas dan tak pulang selama tiga bulan.
Naya yang khawatir memutuskan untuk menyusulnya, Namun dia justru mendapati Aslan telah menikah siri dengan wanita lain secara diam-diam.
Tanpa marah dan tanpa meminta penjelasan, Naya memilih pergi dari kehidupan suaminya.
Namun, ketika Naya benar-benar menghilang, Aslan justru mulai menyadari bahwa kehilangan istrinya adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Aslan duduk di ruang kerjanya di rumah dengan wajah yang semakin tegang. Ponsel di tangannya terus menampilkan daftar panggilan ke nomor Naya yang tidak terjawab. Ia mencoba lagi untuk yang kesekian kali, menunggu dering tersebut, namun sama saja hasilnya nihil.
“Wanita itu benar-benar mengajak perang,” umpatnya kesal, hampir menghantam meja. Ia melempar ponsel ke sofa, napasnya memburu.
Sejak Naya pergi ke Australia, setiap usahanya untuk menghubungi wanita itu selalu sia-sia. Seolah Naya memang sengaja memutus semua jalur komunikasi.
Belum hilang kesalnya, telepon dari kantor masuk. Faris menyampaikan berita yang membuat kepala Aslan semakin penat, proyek besar yang selama ini mereka tangani mengalami kegagalan di tahap akhir. Investor menarik diri, dan arus kas perusahaan langsung goyah.
Di saat yang sama, pihak bank sudah menghubungi berkali-kali. Beberapa tagihan cicilan rumah yang biasanya dikelola Naya tidak dibayar selama tiga bulan terakhir. Surat peringatan sudah dikirim, dan jika tidak segera dilunasi, rumah mewah yang mereka tempati bisa masuk proses sita.
Aslan turun ke ruang tamu dengan langkah berat. Liza dan Ranti sedang duduk di sofa, mereka masih tampak marah karena masalah kartu kemarin yang di blokir Aslan.
Begitu melihat wajah Aslan yang kusut, Liza langsung berbicara.
“Kenapa tidak kamu bayar saja tagihannya?” ujarnya, nada suaranya tinggi. “Aku tidak mau pergi dari rumah ini. Rumah ini sudah nyaman. Aku tidak mau pindah.”
Aslan berhenti di tengah ruangan, menatap Liza dengan mata yang lelah sekaligus marah. “Kalau aku tidak bayar, kita bisa kehilangan rumah ini. Bank tidak main-main.” ucap Aslan.
Liza mengangkat bahu, seolah masalah itu mudah. “Ya bayar saja. Kamu kan punya uang.” jawab Liza dengan entangnya.
Aslan tertawa pendek, tawa yang pahit. Ia duduk di sofa seberang, mengusap wajahnya kasar. “Aku tidak ada uang untuk membayar tagihan itu. Uang tabunganku sudah habis kamu pakai untuk belanja. Sebagian lagi sudah diambil Naya sebelum dia pergi. Sedangkan kondisi kantor saat ini sedang tidak stabil. Proyek gagal, arus kas macet.” jelas Aslan pada istrinya.
Keheningan sejenak mengisi ruang tamu. Liza dan Ranti saling berpandangan, wajah mereka berubah dari kesal menjadi cemas.
Aslan menatap Liza tajam. “Makanya aku peringatkan ke kamu. Jual semua tas dan perhiasan yang kamu beli. Itu bisa buat menutupi hutang bank sementara. Kalau tidak, kita semua bisa di usir dari sini.”
Liza langsung membelalak. Ia bangkit berdiri, seolah tidak percaya dengan apa yang baru ia dengar. “Tidak bisa! Aku tidak akan menjual tas dan perhiasanku!” serunya, suara nyaring penuh penolakan. “Itu milikku! Aku beli dengan susah payah!”
Ranti yang duduk di sampingnya juga terlihat kaget. “Aslan, jangan berlebihan. Barang-barang itu kan sudah dibeli. Masa harus dijual lagi?”
Aslan menatap keduanya dengan rahang mengeras. “Susah payah? Kamu belanja pakai uangku, Liza. Bukan uang hasil kerja kamu. Sekarang uang itu dibutuhkan untuk menyelamatkan atap di atas kepala kita. Kalau kamu lebih mementingkan tas daripada rumah, silakan saja. Tapi jangan salahkan aku kalau suatu hari petugas bank datang membawa surat sita.”
Liza berdiri kaku, bibir bergetar menahan marah dan panik. Ia ingin membalas, tapi kalimat Aslan tentang surat sita membuatnya terdiam. Ranti hanya bisa menghela napas panjang, menatap anaknya dengan wajah kompleks.
"Kamu hubungi Naya. Suruh dia yang membayar semua tagihannya. Enak saja, dia sudah membawa kabur uangmu terus lepas tanggung jawab begitu saja" ucap Liza berapi-api.
"Dia tidak mengangkatnya" lirih Aslan.
Di ruang tamu yang tiba-tiba terasa sesak, Aslan menyandarkan tubuhnya ke sofa. Semenjak kepergian Naya, masalah seolah datang satu persatu kedalam hidupnya.
Ia menutup mata sejenak. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa keputusan-keputusan yang ia buat selama ini mulai menagih bayaran dengan cara yang sangat mahal.
******
Naya sedang duduk sambil menatap layar ponselnya tiba-tiba terkejut mendengar suara seseorang.
“Kenapa tidak diangkat?”
Suara itu dalam, tenang, dan terdengar sangat familiar, sampai membuat jantungnya berhenti sejenak. Naya berbalik cepat, hampir menjatuhkan ponsel di tangannya. Matanya melebar ketika melihat sosok lelaki yang berdiri beberapa langkah di belakangnya.
Pria itu mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung rapi hingga siku, dasi longgar di leher, dan wajah yang sudah berubah jauh lebih dewasa dari yang ia ingat. Rambutnya sedikit lebih pendek, garis rahangnya lebih tegas, tapi matanya masih terlihat sama.
“Erlan…” lirih Naya, suara hampir tidak keluar.
Ia mengedipkan mata berkali-kali, seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Kamu… Erlan?” ulangnya sekali lagi, kali ini lebih jelas, nada suaranya campur antara kaget dan tidak yakin.
Erlan tersenyum tipis, senyum yang sama seperti dulu saat masih bersahabat dekat dengan Anaya.
Ia memasukkan kedua tangan ke saku celana, dia berjalan pelan mendekati meja kerja Naya. “Masih ingat? Aku pikir kamu sudah lupa denganku” tanyanya pelan.
Naya berdiri dari kursinya, kursi bergeser ke belakang hingga berbunyi. Jantungnya berdetak kencang. Di kepalanya, memori lama berputar cepat
“Kamu, kerja di sini juga?” tanya Naya, masih berusaha merangkai kata.
Erlan mengangguk pelan. “CEO-nya. Sudah hampir tujuh tahun.” Ia terdiam sejenak, menatap wajah Naya dengan seksama. “Aku mendengar kabar tentang kamu dan Aslan"
Naya menelan ludah. Ia tidak menyangka pertemuan pertama mereka setelah bertahun-tahun akan terjadi seperti ini, di negara yang jauh, di tengah hidupnya yang sedang berantakan dan baru mulai disusun kembali.
Tangannya masih memegang ponsel, jari-jarinya sedikit gemetar. “Aku… tidak tahu kamu CEO perusahaan ini,” ucapnya akhirnya, suara lirih. “Sama sekali tidak tahu.”
Erlan tersenyum lagi, kali ini lebih lembut. “Aku juga baru tahu kamu ada di Melbourne kemarin. Kebetulan nama kamu muncul di daftar interview.” Ia menghela napas pelan.
“Kamu baik-baik saja?”
Pertanyaan itu sederhana, tapi terasa berat. Naya terdiam. Bagaimana ia harus menjawab? Baik-baik saja setelah perceraian, setelah pergi sendirian ke negara orang?
Ia hanya mengangguk kecil, lalu tersenyum tipis, berusaha menutupi keadaannya saat ini.
“Sedang belajar bertahan hidup.”
Erlan menatapnya lama. Di matanya ada sesuatu yang tidak ia ucapkan, sesuatu yang sudah ia simpan selama bertahun-tahun. Tapi ia tidak memaksakan. Ia hanya mengangguk pelan, menghormati jarak yang masih ada di antara mereka.
“Kalau begitu… selamat datang di Horizon,” ucapnya akhirnya. “Kalau butuh apa-apa, bilang saja.”
Naya mengangguk lagi. Kata-kata macet di tenggorokan. Ia masih berdiri di situ, menatap pria yang dulu sempat menjadi teman kuliah, yang tiba-tiba muncul kembali di titik terendah sekaligus titik awal hidupnya yang baru.
Di ruangan yang sunyi, dua orang yang pernah berbagi masa lalu yang tidak sempat selesai… kini berdiri berhadapan lagi. Dengan luka yang berbeda, di negara yang sama, dan dengan banyak pertanyaan yang belum sempat dijawab.
sakit kan????