NovelToon NovelToon
SANG PENGUKIR JIWA

SANG PENGUKIR JIWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:475
Nilai: 5
Nama Author: Bajing33

Ji Ming, murid luar Sekte Puncak Elang Hitam yang dianggap sampah karena "Meridian Kosong" — kondisi langka yang membuatnya tak bisa merasakan qi seperti kultivator normal — ditugaskan menjaga Makam Terlarang di pinggiran sekte: tempat relik-relik Perang Boneka Jiwa, bencana ratusan tahun lalu yang nyaris menghancurkan seluruh dunia kultivasi, disegel selamanya.
Saat Hari Peringatan Perang Boneka, segel melemah. Ji Ming menemukan ruang tersembunyi berisi fragmen kesadaran terakhir seorang Grandmaster Pengukir Jiwa — bukan reinkarnasi, hanya sisa tekad yang nyaris punah, cukup untuk mewariskan Manual Sang Pengukir Pertama sebelum lenyap selamanya. Meridian Kosong yang selama ini dihina ternyata justru syarat paling langka untuk jalur ini: kekuatan dari jiwa, bukan qi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bajing33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Kisah di Balik Hujan

Hari ketiga perjalanan menuju rumah Old Bo, langit yang sejak pagi sudah kelabu akhirnya pecah menjadi hujan deras yang memaksa rombongan kecil itu berteduh di sebuah gua dangkal di lereng bukit, jauh dari jalan setapak utama.

Api unggun kecil menyala di mulut gua, cukup untuk menghangatkan tanpa terlihat dari kejauhan. Xiao Mu duduk diam di dekat api, sementara Xiao Yu bertengger di bahu Ji Ming, sayap kayunya yang basah perlahan mengering.

"Kita mungkin tertahan di sini sampai besok," Su Mei berkata, memeras ujung jubahnya yang basah kuyup. "Hujan pegunungan selatan bisa berlangsung berjam-jam tanpa henti."

Ji Ming mengangguk, merapatkan diri ke dinding gua yang setidaknya melindungi dari angin. Di sampingnya, Yun Xia duduk menatap hujan yang jatuh di luar, wajahnya lebih tenang dari biasanya, seolah suara hujan membawanya ke tempat lain dalam pikirannya.

"Kau bilang, di Sungai Tenang, kau punya alasan pribadi menolongku," Ji Ming akhirnya berkata, hati-hati, tidak ingin memaksa. "Kau tidak harus cerita sekarang kalau belum siap."

Yun Xia terdiam cukup lama hingga Ji Ming mengira ia tidak akan menjawab. Tapi kemudian, suaranya keluar pelan, hampir tertelan suara hujan.

"Ayahku bukan kultivator hebat. Ia hanya pandai besi biasa di sebuah desa kecil, jauh dari sini." Yun Xia menatap api, matanya menerawang jauh. "Tapi ia punya satu keahlian yang membuatnya berbeda—ia bisa memperbaiki mekanisme rumit, termasuk, tanpa ia sadari sepenuhnya, potongan-potongan boneka kayu tua yang kadang dibawa pengembara aneh untuk diperbaiki."

Ji Ming merasakan sesuatu yang dingin merayap di dadanya, mulai menduga arah cerita ini.

"Setelah pemusnahan besar, saat aliansi sekte memburu siapa pun yang punya hubungan sekecil apa pun dengan seni pengukiran jiwa, seseorang melaporkan ayahku—entah karena dendam pribadi atau sekadar salah paham, aku tak pernah tahu pasti. Mereka datang tanpa penyelidikan, tanpa kesempatan membela diri. Ayahku hanya pandai besi yang kebetulan pernah memperbaiki mainan aneh milik orang lain." Suara Yun Xia mulai bergetar, meski ia berusaha menjaga nadanya tetap datar. "Aku waktu itu sepuluh tahun. Aku melihat semuanya dari balik pintu gudang tempat ibuku menyembunyikanku."

"Yun Xia..." Ji Ming tak tahu harus berkata apa.

"Aku tidak menceritakan ini untuk dikasihani," Yun Xia berkata cepat, menyeka matanya yang mulai berkaca-kaca dengan punggung tangan. "Aku menceritakannya karena saat aku melihatmu di jurang itu—buronan sektemu sendiri, dituduh tanpa kesempatan membela diri, hanya karena menyentuh sesuatu yang orang lain takuti tanpa benar-benar memahaminya—aku melihat bayangan ayahku. Aku tidak bisa menolongnya dulu. Tapi aku bisa menolongmu sekarang."

Su Mei, yang sejak tadi diam mendengarkan, menghela napas panjang. "Aku ikut bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada orang-orang seperti ayahmu, Nak. Ketakutan yang kami tinggalkan setelah kegagalan generasi kami menyebar jauh melampaui siapa yang sebenarnya bersalah."

"Kau tidak bertanggung jawab atas kebodohan orang lain yang terlalu takut untuk berpikir jernih," Yun Xia berkata tegas, menatap Su Mei langsung. "Kalian yang tak bersalah adalah korban yang sama seperti ayahku. Yang membuatku marah bukan seni pengukiran jiwa itu sendiri—tapi betapa mudahnya dunia ini menghukum orang berdasarkan ketakutan, bukan kebenaran."

Ji Ming menatap Xiao Mu yang, seolah mengerti beban percakapan itu, bergerak mendekat dan menyandarkan tubuh kayu kecilnya ke lengan Yun Xia—gestur sederhana namun penuh makna, penghiburan dari sosok yang sendiri lahir dari sisa-sisa tragedi yang sama.

"Itulah kenapa aku ingin membangun sesuatu yang benar," Ji Ming berkata pelan, mengingat kembali kata-kata Su Mei tentang Guru Chen beberapa hari lalu. "Bukan untuk membalas dendam pada dunia yang menghinaku. Tapi untuk membuktikan bahwa seni ini, dan orang-orang seperti ayahmu, seperti Guru Chen, tak seharusnya dihukum karena ketakutan orang lain."

Yun Xia menatapnya, dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, senyumnya terlihat benar-benar lega, seolah beban yang ia pikul sendirian selama bertahun-tahun sedikit lebih ringan setelah akhirnya diucapkan.

"Terima kasih," katanya sederhana, "sudah mendengarkan."

Hujan mulai mereda menjelang tengah malam, meninggalkan udara pegunungan yang segar dan langit yang perlahan menampakkan bintang-bintang di sela-sela awan yang menipis. Ji Ming berjaga giliran pertama sementara yang lain beristirahat, duduk di mulut gua menatap kegelapan hutan pegunungan yang basah berkilau ditimpa cahaya bulan.

Ia hampir tak memperhatikan gerakan kecil di kejauhan—seekor burung gagak hitam bertengger di dahan pohon mati tak jauh dari gua, matanya yang berkilau aneh menatap lurus ke arahnya, seolah tahu persis di mana harus mencari.

Xiao Yu, yang sedang beristirahat di dekat Ji Ming, tiba-tiba terbangun, cahaya matanya menyala waspada, dan sebelum Ji Ming sempat bereaksi lebih jauh, burung gagak itu sudah terbang menjauh ke dalam kegelapan malam, meninggalkan hanya suara kepakan sayap yang perlahan menghilang.

"Xiao Mu," Ji Ming berbisik, membangunkan boneka kayu yang tertidur di dekat api, "aku baru saja melihat burung yang sama seperti kemarin. Ia mengawasi kita."

Ketika Su Mei terbangun dan diberi tahu tentang kejadian itu, wajahnya berubah serius, tangannya reflek menyentuh gelang pusaka yang kini selalu ia kenakan.

"Gagak biasa tak akan bertahan sejauh ini mengikuti kita di tengah hujan deras," katanya pelan, menatap ke arah kegelapan tempat burung itu menghilang. "Seseorang, atau sesuatu, tahu ke mana kita menuju—dan mereka cukup sabar untuk hanya mengawasi, bukan menyerang. Itu jauh lebih mengkhawatirkan daripada kejaran biasa."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!