NovelToon NovelToon
Surat Dari Balik Sekat

Surat Dari Balik Sekat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyelamat / Action
Popularitas:331
Nilai: 5
Nama Author: MF015

Novel ini mengisahkan Ahmad Zaki, seorang pemuda berusia 20 tahun yang merupakan anak dari pedagang kain. Ia berniat untuk belajar dan memperdalam ilmu di pondok pesantren yang berada di pedesaan.

Baru beberapa hari di pondok pesantren, ia telah menanam benih-benih cinta. Cinta yang tulus kepada seorang santriwati berusia 18 tahun, Nafisah Zahra.

Namun, cinta keduanya terhalang oleh perjodohan dan agresi militer.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Perpisahan yang Tertunda

Tiga minggu berlalu sejak kepergian ayah Darto, dan keadaan di Karangtengah perlahan menemukan ritmenya sendiri. Kabar dari kota mengatakan gencatan senjata sedang dirundingkan lebih serius, meski belum ada kepastian kapan rombongan pengungsian bisa kembali ke Sumberwungu.

Darto semakin sering menghilang di sore hari, kadang bersama beberapa pemuda dusun, berlatih baris-berbaris sederhana dan cara memegang senjata rakitan di bawah bimbingan seorang mantan prajurit yang kebetulan menetap di Karangtengah. Zaki tidak menghalanginya, meski hatinya selalu diliputi kekhawatiran setiap kali sahabatnya pulang dengan wajah penuh debu dan keringat.

"Kang," kata Darto suatu sore, duduk di samping Zaki sambil membersihkan sebilah parang yang baru diasah, "saya sudah bicara dengan Pak Karto kemarin, waktu kamu antar surat."

"Bicara apa?"

"Beliau bilang, kalau saya serius mau bergabung, saya bisa mulai latihan resmi minggu depan di markas selatan." Darto menatap parangnya yang berkilat ditimpa cahaya senja. "Artinya, saya akan pindah dari sini, Kang. Tidak lagi tinggal bersama rombongan pengungsian."

Zaki merasakan dadanya berat mendengar kabar itu. Meski ia sudah menduga hari ini akan datang, mendengarnya langsung tetap terasa seperti pukulan.

"Kapan?" tanyanya pelan.

"Minggu depan, setelah Jumat."

Mereka berdua terdiam, membiarkan kata-kata itu mengendap di antara mereka. Persahabatan yang terjalin sejak hari pertama Zaki menginjakkan kaki di Al-Hikmah, yang diuji lewat tawa, kejahilan, dan sekarang duka, akan segera menghadapi babak baru yang memisahkan mereka secara fisik.

"Saya akan merindukanmu, Darto," kata Zaki akhirnya, suaranya serak.

"Saya juga, Kang." Darto menepuk bahunya, tersenyum meski matanya berkaca-kaca. "Tapi kamu tahu, kan, perpisahan ini bukan akhir. Setelah semua ini selesai, insyaallah kita akan bertemu lagi, dengan cerita masing-masing yang bisa kita bagikan."

"Kamu harus janji akan hati-hati."

"Saya janji." Darto mengangkat kelingkingnya, seperti kebiasaan anak-anak, dan Zaki, meski merasa sedikit konyol, membalasnya dengan kelingkingnya sendiri. "Dan kamu juga harus janji, jaga diri baik-baik, dan jaga Nafisah dari kejauhan, sampai waktu yang tepat tiba."

Zaki tersenyum kecil mendengar nama itu disebut. "Saya janji."

Kabar kepergian Darto sampai juga ke telinga para santriwati lewat jalur resmi, karena keputusan bergabung dengan laskar bukan lagi rahasia yang perlu disembunyikan. Kiai Wahid sendiri memberikan restunya dengan doa panjang, meski wajahnya menyimpan kekhawatiran seorang guru yang harus melepas muridnya ke medan yang penuh bahaya.

Malam sebelum kepergian Darto, seluruh santri berkumpul untuk mendoakannya bersama, sebuah tradisi kecil yang tumbuh spontan di tengah keadaan pengungsian yang serba terbatas. Nafisah dan beberapa santriwati lain juga hadir, berdiri di sisi yang agak terpisah, tapi cukup dekat untuk ikut serta dalam doa bersama itu.

Setelah doa selesai dan sebagian besar santri mulai membubarkan diri, Zaki melihat Nafisah mendekat ke arah Darto dengan langkah yang hati-hati, membawa sebuah bungkusan kecil.

"Kang Darto," katanya, suaranya lembut, "ini sedikit bekal dari kami semua. Semoga bermanfaat di perjalanan."

Darto menerima bungkusan itu dengan hormat. "Terima kasih, Mbak Nafisah. Dan terima kasih juga sudah menjaga Kang Zaki selama ini, meski dengan cara yang... rumit."

Nafisah tersenyum kecil, wajahnya sedikit memerah. "Kang Zaki yang menjaga dirinya sendiri, Kang Darto. Saya hanya kebetulan ada di dekatnya."

"Kalau begitu," kata Darto, matanya berbinar jahil meski suasana hatinya masih berat, "tolong terus 'kebetulan' ada di dekatnya, ya, Mbak. Karena saya tidak akan ada lagi untuk mengingatkannya makan atau menjaga dia dari kecerobohan."

Mereka bertiga tertawa kecil, tawa yang menyembuhkan sedikit dari kepedihan perpisahan yang akan datang esok hari.

Pagi keberangkatan Darto datang dengan cepat, terlalu cepat menurut Zaki. Mereka berdiri di ujung dusun, tempat jalan setapak menuju markas selatan bercabang dari jalan utama.

"Kang Zaki," kata Darto, merangkul sahabatnya erat. "Terima kasih untuk semuanya. Untuk persahabatan ini, untuk selalu ada, dan untuk mengajarkan saya bahwa kadang, hal-hal kecil seperti sepotong dodol atau sebaris puisi bisa berarti begitu banyak."

"Terima kasih juga, Darto," jawab Zaki, suaranya bergetar menahan haru. "Untuk selalu membuatku tertawa di saat-saat tersulit, dan untuk mengajarkanku arti keberanian yang sesungguhnya."

Mereka berpelukan lama, dua sahabat yang telah melewati begitu banyak hal bersama dalam waktu yang singkat namun terasa seperti bertahun-tahun.

"Jaga diri, Kang," kata Darto akhirnya, melepaskan pelukan dan mengangkat buntalan kecilnya ke bahu.

"Kamu juga. Dan pulanglah dengan selamat."

Darto mengangguk, tersenyum lebar sekali lagi, senyum khasnya yang selalu bisa mencairkan suasana seberat apa pun, lalu berbalik dan berjalan menyusuri jalan setapak menuju markas selatan, punggungnya tegap meski Zaki tahu, di balik ketegapan itu, ada kesedihan dan kerinduan yang sama besarnya dengan yang ia rasakan sendiri.

Zaki berdiri di sana lama, menatap punggung sahabatnya yang semakin mengecil dan akhirnya hilang di balik tikungan, ditemani perasaan kehilangan yang baru, sebuah kekosongan yang akan ia rasakan setiap hari selanjutnya, sampai suatu waktu nanti, entah kapan, mereka bisa dipertemukan kembali.

Ia menoleh ke arah lumbung yang kini terasa lebih sepi, lalu berjalan pulang sendirian, membawa doa dalam setiap langkahnya untuk keselamatan sahabat terbaiknya, dan untuk kekuatan menghadapi hari-hari yang akan datang, tanpa kehadiran orang yang selama ini selalu menemani setiap langkahnya di pondok maupun di pengungsian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!