Chu Feng, putra ketujuh yang bersembunyi di balik topeng "tak berbakat", berubah takdir saat sebuah pecahan dari Dewa Kekacauan Purba yang hancur jutaan tahun lalu memilihnya. Bersama tombak yang terus berevolusi dan pasukan binatang ilahi, ia merangkak dari murid sekte kecil menuju kenyataan bahwa dunianya hanyalah sudut kecil dari semesta yang jauh lebih luas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Warisan Sang Ibu
Butuh waktu lima hari lagi sebelum Mata Dewa Chu Feng terbuka cukup lama untuk benar-benar memeriksa pedang latihan peninggalan ibunya.
Setiap malam ia duduk di hadapan pedang itu, mengalirkan qi tipisnya ke matanya, mencoba menahan penglihatan aneh itu selagi bisa—yang awalnya hanya berlangsung sepersekian detik, kini bisa bertahan hingga dua atau tiga napas penuh sebelum akhirnya memudar dan meninggalkan kepalanya berdenyut nyeri.
Pada malam kelima, ia akhirnya berhasil menahannya cukup lama untuk melihat dengan jelas.
Di dalam bilah pedang yang tampak biasa itu, tersembunyi sebuah pola—bukan ukiran fisik, melainkan sesuatu yang lebih dalam, seolah tertanam di dalam struktur logam itu sendiri. Pola itu menyerupai gulungan awan yang saling melilit, dan di pusatnya, sebuah simbol kecil yang membuat Chu Feng menahan napas.
Simbol yang sama dengan yang terukir di dinding reruntuhan Lembah Kabut.
"Kau melihatnya juga," suara di tulang belakangnya bergumam, nada suaranya kini terdengar lebih waspada dari biasanya.
"Simbol ini—apa artinya?" tanya Chu Feng, jarinya menyusuri bilah pedang tanpa benar-benar menyentuh pola yang hanya bisa dilihat lewat Mata Dewa.
"Aku tidak yakin. Aku baru bangkit kembali setelah tertidur sekian lama, ingatanku sendiri masih terpecah-pecah seperti tubuhku. Tapi satu hal yang bisa kukatakan—pedang ini bukan buatan Kerajaan Chu. Bukan pula buatan siapa pun di Benua Timur yang pernah kutemui jejaknya."
Chu Feng terdiam, pikirannya berputar. Ibunya adalah seorang selir rendahan, seseorang yang menurut catatan istana berasal dari sebuah desa kecil di perbatasan barat kerajaan—tidak jauh dari Lembah Kabut. Ia meninggal ketika Chu Feng berusia empat tahun, karena sakit yang tidak pernah benar-benar dijelaskan siapa pun kepadanya. Ayahnya sendiri jarang membicarakannya, dan tidak ada satu pun pelayan istana yang cukup berani untuk mengungkit masa lalunya.
Chu Feng selalu menerima itu sebagai kenyataan yang sudah selesai. Sekarang, untuk pertama kalinya, ia mempertanyakannya.
"Lao Sun," panggilnya pelan, meski tahu pelayan tuanya sudah lama terlelap di kamarnya sendiri.
Ia memutuskan untuk menunggu sampai pagi.
"Ibunda Yang Mulia?" Lao Sun menghentikan gerakannya menuang teh, tangannya sedikit gemetar. "Kenapa Yang Mulia tiba-tiba menanyakan tentang beliau?"
"Aku hanya ingin tahu lebih banyak," jawab Chu Feng, mengamati reaksi pelayan tuanya lekat-lekat. "Kau mengenalnya, bukan? Sebelum aku lahir."
Lao Sun meletakkan teko tehnya perlahan, matanya menerawang jauh seolah menembus waktu.
"Hamba mengenalnya, Yang Mulia. Beliau datang ke istana ini sebagai selir termuda, dari sebuah desa kecil bernama Desa Kabut Hening—terletak tidak jauh dari perbatasan barat." Ia berhenti sejenak. "Beliau berbeda dari selir-selir lain. Tenang, tapi... ada sesuatu di matanya. Seperti seseorang yang menyimpan rahasia besar namun memilih untuk tidak pernah membaginya dengan siapa pun."
"Rahasia seperti apa?"
"Hamba tidak tahu pasti, Yang Mulia. Tapi hamba ingat satu hal—setiap kali ada badai atau langit menunjukkan tanda-tanda aneh, beliau akan berdiri di beranda semalaman, menatap ke arah barat, ke arah desa asalnya. Seolah menunggu sesuatu."
Chu Feng meletakkan cangkir tehnya, jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. "Desa Kabut Hening. Apa desa itu masih ada?"
Lao Sun menggeleng pelan. "Hamba tidak yakin, Yang Mulia. Setahu hamba, wilayah itu sudah lama ditinggalkan penduduknya. Terlalu dekat dengan reruntuhan berbahaya di Lembah Kabut."
Chu Feng menatap ke luar jendela, ke arah pegunungan barat yang samar terlihat dari paviliunnya. Potongan-potongan informasi mulai tersusun di kepalanya—ibunya yang berasal dari desa dekat Lembah Kabut, pedang misterius dengan simbol yang sama dengan reruntuhan, dan pecahan tubuh Dewa yang memilihnya di tempat yang sama.
Ini bukan kebetulan.
"Kau berpikir benar," suara di dalam dirinya menggema, seolah membaca pikirannya langsung. "Tapi berhati-hatilah, Pangeran Ketujuh. Beberapa kebenaran lebih baik ditemukan perlahan, daripada dikejar terburu-buru dan berakhir menghancurkanmu sendiri."
Dua minggu berlalu, dan Festival Penentuan semakin dekat. Seluruh istana mulai dipenuhi persiapan—panggung utama dibangun di lapangan latihan terbesar kerajaan, undangan dikirim ke kota-kota sekitar, bahkan beberapa sekte kecil di Benua Timur dikabarkan akan mengirim pengamat untuk menyaksikan calon pewaris takhta Kerajaan Chu.
Chu Feng menghabiskan waktu itu dengan dua hal: melatih qi-nya yang masih tipis namun terus berkembang perlahan, dan diam-diam menyelidiki lebih jauh tentang ibunya lewat catatan-catatan lama di perpustakaan istana yang jarang disentuh siapa pun.
Ia belum menemukan banyak. Tapi cukup untuk tahu bahwa perjalanannya baru saja dimulai jauh sebelum ia menyadarinya.
Pada suatu sore, ketika ia sedang berjalan menyusuri koridor menuju perpustakaan, sebuah keributan kecil terdengar dari arah gerbang utama istana. Chu Feng menghentikan langkahnya, penasaran.
Sebuah rombongan kereta kuda mewah baru saja tiba, dengan lambang keluarga yang tidak asing—lambang Klan Su, salah satu keluarga kultivator terpandang di wilayah tengah Benua Timur, dikenal karena hubungan dagang mereka yang luas dan beberapa anggota keluarganya yang memiliki bakat kultivasi tinggi.
Dari dalam kereta, seorang gadis muda melangkah turun, mengenakan jubah biru langit yang sederhana namun jelas berkualitas tinggi. Rambutnya diikat rapi, dan sikapnya memancarkan keanggunan yang tidak dibuat-buat—bukan keanggunan seorang bangsawan yang dipaksakan sejak kecil, melainkan sesuatu yang lebih alami.
"Siapa itu?" tanya Chu Feng pada seorang pelayan yang kebetulan lewat.
"Itu Nona Su Yue dari Klan Su, Yang Mulia," jawab pelayan itu dengan nada kagum. "Beliau datang sebagai salah satu pengamat resmi untuk Festival Penentuan, mewakili hubungan dagang antara Klan Su dan Kerajaan Chu."
Chu Feng mengamati dari kejauhan saat gadis itu disambut oleh beberapa pejabat istana, termasuk Chu Ming yang sudah bergegas menghampirinya dengan senyum ramah khasnya—tentu saja, mengingat pentingnya hubungan dagang dengan Klan Su bagi siapa pun yang berambisi menjadi pewaris takhta.
Untuk sesaat, mata Su Yue melirik ke arah lain, dan tanpa sengaja bertemu pandang dengan Chu Feng yang berdiri agak jauh dari keramaian.
Ia tidak tahu bahwa pertemuan singkat itu, sesederhana apa pun kelihatannya, akan menjadi salah satu benang yang paling erat menjalin masa depannya—baik dalam kebahagiaan, maupun dalam pengkhianatan yang akan datang jauh kemudian.
Chu Feng hanya membungkuk sopan, seperti yang seharusnya dilakukan seorang pangeran yang tidak dianggap penting, lalu melanjutkan langkahnya menuju perpustakaan.
Satu langkah pada satu waktu, pikirnya. Festival, ibuku, pecahan-pecahan yang lain. Semua akan terungkap pada waktunya.
Ia tidak menyadari bahwa waktu itu akan datang jauh lebih cepat, dan jauh lebih berat, dari yang pernah ia bayangkan.