Tujuh belas tahun Yao Conti hidup dalam penyamaran, bernapas hanya untuk satu tujuan: menuntut balas atas pembantaian keluarganya di Milan. Langkahnya membawanya menembus jantung kekuasaan keluarga Moretti, tempat ia bertemu Gerald Moretti—Don muda yang dingin, tajam, dan tidak pernah membiarkan siapa pun mendekatinya.
Bagi Yao, Gerald adalah kunci menuju pembunuh ayahnya. Bagi Gerald, Yao adalah teka-teki berbahaya yang memikat sekaligus mengancam wilayahnya. Di tengah benturan intrik politik lima keluarga mafia Italia hingga ancaman persekutuan gelap yang membentang ke Hong Kong, batas antara taktik dan perasaan perlahan mengabur.
Saat rahasia paling kelam tentang malam pembantaian itu akhirnya terkuak, mereka dipaksa memilih: menuntaskan dendam yang diwariskan oleh orang tua mereka, atau menyelamatkan cinta yang terlahir di atas tanah bersimbah darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yao na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 — Negosiasi di Ujung Peluru
"Enzo!" teriak Gerald, suaranya menggema di antara pepohonan gelap. "Tunjukkan dirimu, pengecut! Atau kau terlalu takut menghadapiku setelah semua yang telah kau lakukan?"
Sesosok bayangan muncul dari balik pondok kayu, Enzo berjalan mendekat dengan langkah percaya diri, meski Yao bisa melihat perban yang membalut lengannya — luka bakar dari ledakan kontainer yang ia picu sendiri malam itu di dermaga, harga kecil yang ia bayar demi memastikan tidak ada yang mengejarnya.
"Pengecut?" ulang Enzo, tersenyum dingin. "Aku menyebutnya strategi, Gerald. Sesuatu yang seharusnya kau pelajari lebih baik dari ayahmu — meski aku mengerti kenapa kau enggan mengikuti jejaknya sekarang."
"Kau tidak akan lolos dari ini," kata Yao tajam, meski senjata terarah ke seluruh tubuhnya dari berbagai penjuru. "Aliansi lima keluarga akan tahu kebenaran penuhnya — bukan hanya versi yang kau putarbalikkan."
"Akan mereka ketahui," jawab Enzo santai, "setelah kalian berdua sudah tiada, dan aku yang akan menyampaikan versi ceritanya sendiri. Kematian tragis Don muda Moretti dan kekasihnya di tangan musuh keluarga — sebuah cerita yang akan membuatku terlihat seperti pahlawan yang mencoba menyelamatkan kalian, bukannya dalang di baliknya."
Sementara Enzo terus berbicara, menikmati momen kemenangannya, Gerald secara diam-diam memberikan isyarat kecil kepada salah satu kaptennya — sebuah kode tangan yang telah mereka rencanakan sebelum berangkat, jika situasi darurat seperti ini terjadi.
Kapten itu, dengan gerakan halus yang nyaris tidak terlihat, mengaktifkan alat pemancar sinyal darurat yang telah mereka pasang sebelumnya — sinyal yang akan memanggil bala bantuan dari pasukan cadangan Moretti yang telah disiagakan di kota terdekat, berjaga-jaga jika negosiasi ini berubah menjadi pertempuran.
"Kau baru saja membuat kesalahan fatal, Enzo," kata Gerald, mencoba mengulur waktu. "Menyerang keluargaku secara langsung, bekerja sama dengan musuh lama kami. Bahkan jika kau berhasil membunuh kami malam ini, kau akan menghabiskan sisa hidupmu dikejar oleh setiap orang yang pernah menghormati nama Moretti."
"Ancaman kosong dari orang yang berada di ujung pistol," ejek Katarina Volkov, yang kini muncul dari balik bayangan, berdiri di samping Enzo dengan senyum puas. "Kau tidak dalam posisi untuk mengancam siapa pun, Signor Moretti."
Di kejauhan, samar-samar, Yao mendengar suara yang hampir tidak bisa ia bedakan dari desau angin malam — suara helikopter yang mendekat dari kejauhan.
Bala bantuan telah tiba.
Enzo, yang belum menyadari suara itu, masih asyik menikmati momen kemenangannya yang ia kira sudah pasti. "Kalian pikir kalian bisa datang ke wilayahku dan pergi begitu saja?" lanjutnya, berjalan mondar-mandir di depan mereka seperti seorang aktor yang menikmati panggungnya sendiri, tidak lagi berusaha menyembunyikan kepuasan di wajahnya. "Kesabaran, Gerald. Itu satu-satunya hal yang tidak pernah bisa dibeli ayahmu, atau ayahnya Yao. Aku punya kesabaran yang jauh lebih banyak dari yang pernah dimiliki kedua keluarga kalian gabungan."
"Kau bicara seperti orang yang sudah menang," kata Gerald, mencoba menahan senyum kecil yang mulai muncul di wajahnya saat suara helikopter semakin jelas terdengar. "Tapi kau lupa satu hal penting tentang keluargaku, Enzo — kami tidak pernah datang tanpa rencana cadangan."
Wajah Enzo berubah bingung sesaat sebelum menyadari suara yang sama yang telah didengar Yao. Kepanikan mulai muncul di matanya untuk pertama kalinya malam itu.
Kekacauan meledak dalam hitungan detik begitu helikopter Moretti muncul di atas area itu, lampu sorotnya menyilaukan seluruh pasukan Russo yang tidak siap menghadapi serangan mendadak dari udara.
"Sekarang!" teriak Gerald, memanfaatkan momen kekagetan untuk menyerang balik. Timnya yang kecil namun terlatih bergerak dengan koordinasi sempurna, memanfaatkan kekacauan untuk melumpuhkan penjaga terdekat sebelum mereka sempat bereaksi.
Yao bertarung dengan ganas, insting bertahan hidup yang diasah Sofia selama bertahun-tahun akhirnya teruji dalam pertempuran sesungguhnya. Ia melumpuhkan dua penjaga bersenjata dengan gerakan cepat yang mengejutkan bahkan dirinya sendiri, adrenalin mengalir deras dalam tubuhnya.
Di tengah kekacauan, Enzo mencoba melarikan diri lagi, memanfaatkan kegelapan hutan pinus untuk menghilang. Tapi kali ini, Gerald tidak akan membiarkannya lolos.
"Enzo!" teriaknya, mengejar melalui pepohonan gelap, meninggalkan pertempuran utama pada timnya yang kini mulai unggul berkat bala bantuan.
Yao mengikuti, meski Marco berteriak memperingatkannya untuk tetap di tempat yang lebih aman. Tapi Yao tidak bisa membiarkan Gerald menghadapi Enzo sendirian — bukan setelah semua yang telah mereka lalui bersama.
Mereka menemukan Enzo di tepi jurang kecil, terjebak antara pengejar dan jatuhan curam yang berbahaya di kegelapan malam.
"Ini berakhir, Enzo," kata Gerald, napasnya memburu, pistol terarah tegas. "Tidak ada lagi tempat untuk lari."
Enzo menatap sekelilingnya, menyadari bahwa untuk pertama kalinya dalam permainan panjangnya, ia benar-benar terpojok tanpa jalan keluar. Tapi alih-alih ketakutan, wajahnya menampilkan senyum aneh yang mengganggu — senyum seseorang yang masih menyimpan satu kartu terakhir.
"Kau pikir ini akan berakhir denganku mati atau tertangkap?" katanya, tertawa pelan yang terdengar mengerikan di tengah kesunyian hutan. "Aku sudah menyiapkan rencana cadangan, Gerald. Jika aku tidak selamat malam ini, sebuah rekaman akan otomatis terkirim ke media dan aliansi lima keluarga besok pagi — rekaman yang akan menghancurkan reputasi keluarga Moretti selamanya, dengan atau tanpa aku."
"Kau menggertak," kata Yao tajam.
"Apakah aku?" Enzo menatap langsung ke mata Yao, matanya berkilat dengan kekejaman terakhir seorang pria yang tahu ia mungkin akan kalah, tapi bertekad membawa kehancuran bersamanya. "Coba saja, Yao Conti. Lihat apakah taruhanmu sepadan dengan risikonya."
Gerald dan Yao saling bertukar pandang cepat, sebuah komunikasi tanpa kata yang telah mereka kembangkan selama minggu-minggu terakhir bekerja sama. Mereka berdua tahu bahwa mereka tidak bisa memastikan apakah ancaman Enzo itu nyata atau hanya gertakan terakhir seorang pria yang terpojok — tapi risikonya terlalu besar untuk diabaikan begitu saja.
"Kita perlu waktu untuk memverifikasi klaim ini," kata Gerald, mencoba menahan amarahnya yang membara demi berpikir jernih. "Jika kau benar-benar punya rekaman semacam itu, tunjukkan buktinya."
Enzo tertawa pahit. "Kau pikir aku akan menunjukkan kartu terakhirku semudah itu? Aku sudah cukup lama bertahan di dunia ini untuk tahu bahwa kepercayaan adalah kelemahan, bukan kekuatan."