NovelToon NovelToon
System Penyesalan Seorang Ibu.

System Penyesalan Seorang Ibu.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Reinkarnasi
Popularitas:361
Nilai: 5
Nama Author: james 9870

Dendam membuat Clara menukar bayinya dengan bayi sahabat yang mengkhianatinya. Ia membesarkan anak musuhnya dalam penderitaan, sementara sang musuh membesarkan darah daging Clara dalam kebohongan.
Belasan tahun kemudian, ego dan intrik kotor mereka memicu kutukan berdarah. Tanpa sadar, kedua ibu ini justru merancang neraka yang menghancurkan nyawa anak Dan diri mereka sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon james 9870, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Jaring Takdir di Atas Tanah Musuh

Bulan kesembilan tiba bersamaan dengan puncak musim badai. Hujan badai yang turun malam itu adalah yang terburuk dalam lima tahun terakhir. Angin kencang menerjang pohon-pohon hingga tumbang, sementara kilat dan guntur bertarung di langit tanpa henti, menciptakan simfoni alam yang mengerikan seolah semesta sedang memperingatkan sesuatu.

Clara merasakan kontraksi pertamanya saat ia sedang menyeduh air hangat di kamarnya. Rasa sakitnya datang tiba-tiba, merobek perutnya hingga ke pinggang. Gelas di tangannya jatuh, pecah berantakan di lantai. Air ketubannya pecah, bercampur dengan darah yang mengalir di paha kakinya.

Ia tidak punya siapa-siapa untuk dihubungi. Ia menggigit bibirnya sampai berdarah menahan sakit, membalut dirinya dengan mantel tebalnya yang usang, dan meraih tas lusuh yang hanya berisi beberapa potong baju bayi kasar. Clara menyeret tubuhnya keluar dari kamar kos, menembus hujan badai di tengah malam buta. Tidak ada taksi yang mau berhenti untuk wanita yang basah kuyup dan tampak seperti gembel.

Beruntung, sebuah mobil bak terbuka pengangkut sayur yang melintas merasa kasihan padanya. Supir tua itu membawa Clara ke rumah sakit bersalin yang disebutkan Clara. Rumah sakit itu cukup besar, namun memiliki perbedaan kelas yang sangat mencolok antara bangsal umum dan paviliun VIP.

Di tengah deru badai dan rasa sakit yang menyiksa ulu hatinya, Clara dengan kesadaran penuh menyebutkan nama rumah sakit bersalin itu secara spesifik kepada sang supir sayur. Ini bukan keputusan impulsif yang lahir dari kepanikan. Selama sembilan bulan kehamilannya, Clara telah menyelidiki dengan cermat setiap gerak-gerik Vera. Melalui lingkaran sosial lama yang perlahan ia intip dari jauh, ia tahu 100% bahwa tempat ini adalah milik keluarga besar Daniel. Sebagai mantan tunangan Daniel selama lima tahun, Clara paham betul bahwa Vera—yang selalu terobsesi dengan gengsi kelas atas—pasti akan memilih melahirkan di paviliun VVIP rumah sakit utama milik suaminya sendiri demi privasi dan keamanan mutlak. Langkah kaki Clara malam itu di atas mobil bak terbuka adalah hasil kalkulasi dingin yang presisi; ia sengaja mendatangi sarang musuhnya untuk menjerat mereka dalam mahakarya balas dendamnya.

Clara didorong masuk melalui pintu darurat oleh perawat jaga. Tubuhnya menggigil kedinginan, bibirnya membiru, dan rasa sakit dari kontraksi membuatnya setengah sadar. Ia ditempatkan di bangsal kelas tiga. Ruangan itu besar, pengap, berbau disinfektan murah, dan berisi信 enam tempat tidur yang hanya dipisahkan oleh tirai tipis. Suara erangan pasien lain bergabung dengan derik roda ranjang yang berkarat.

Tidak ada yang memegang tangannya saat rasa sakit memuncak. Tidak ada kata-kata menenangkan dari seorang suami. Hanya dokter jaga yang terlihat kelelahan dan perawat magang yang memintanya mengejan. Di tengah kesunyian kasih sayang itu, Clara menjerit, mempertaruhkan nyawanya sendiri di atas seprai kasar, memperjuangkan kehidupan yang segera akan ia serahkan pada orang lain.

Sementara itu, ironi takdir sedang bekerja dengan sangat kejam di lantai atas rumah sakit yang sama.

Vera telah dijadwalkan untuk melahirkan secara sesar malam itu. Ia tiba beberapa jam lebih awal menggunakan mobil mewah, dikawal oleh Daniel dan asisten pribadi mereka. Vera menempati Paviliun VVIP yang ukurannya sebesar apartemen. Ruangan itu dilengkapi dengan tempat tidur otomatis, sofa kulit, televisi layar datar, dan cahaya lampu yang temaram dan hangat. Bau bunga mawar segar memenuhi ruangan, bukan bau obat-obatan.

Daniel tidak pernah melepaskan genggaman tangannya dari tangan Vera. Ia mengecup dahi istrinya berulang kali, membisikkan kata-kata cinta dan keyakinan. Dokter spesialis kandungan terbaik di kota itu menangani persalinannya, diiringi oleh tim perawat khusus yang siaga penuh. Bagi Vera, persalinan ini adalah sebuah perayaan agung, sebuah karpet merah menuju kebahagiaan yang paripurna.

Dua dunia yang sangat kontras itu berlangsung di bawah atap yang sama.

Tepat pada pukul dua dini hari, diiringi sambaran petir yang membelah langit malam, suara tangisan bayi memecah keheningan bangsal kelas tiga. Clara tergolek lemas, matanya setengah tertutup, napasnya tersengal-sengal. Dokter meletakkan bayi perempuan yang kemerahan itu ke dada Clara untuk inisiasi menyusui dini.

Kulit bayi itu menempel pada kulit Clara yang dingin. Rasa hangat perlahan menjalar ke dada Clara, menembus langsung ke jantungnya. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah, membasahi wajah bayi mungilnya.

"Maya..." bisik Clara, suaranya parau dan bergetar hebat. Jari telunjuknya yang kasar mengelus pipi selembut beludru itu. "Anakku. Darah dagingku ."

Ia memeluk bayi itu erat-erat, mencoba merekam setiap aroma, setiap tarikan napas, dan setiap detail wajahnya ke dalam memorinya. Karena Clara tahu, ini adalah pertama dan terakhir kalinya ia memeluk Maya sebagai seorang ibu.

Di lantai atas, hanya berselang lima belas menit kemudian, tangisan bayi juga menggema di ruang operasi VVIP. Vera menangis haru saat Daniel memeluknya erat, meneteskan air mata bahagia melihat bayi perempuan yang sehat dan cantik itu dibersihkan oleh perawat. Mereka menyambut bayi itu dengan ribuan harapan, menamainya Elena, pewaris dari semua kemewahan yang telah mereka bangun di atas penderitaan Clara.

Sesuai prosedur rumah sakit yang sudah diantisipasi Clara, setelah proses skin-to-skin, bayi-bayi dari seluruh lantai akan dibawa ke ruang observasi neonatal terpusat di lantai dua untuk dimandikan, ditimbang, dan diobservasi suhu tubuhnya sebelum dikembalikan ke kamar ibu masing-masing.

Dua jam setelah persalinannya, meskipun tubuhnya terasa seperti baru saja digilas truk dan jahitannya terasa sangat nyeri, Clara memaksakan diri untuk bangkit. Ia mengabaikan larangan perawat. Ia mencabut paksa selang infusnya hingga punggung tangannya berdarah. Ia harus pergi sekarang. Waktunya hanya sedikit.

Clara menyeret kakinya keluar dari bangsal umum. Ia berpegangan pada dinding koridor rumah sakit yang dingin dan sepi, berjalan tertatih-tatih menuju ruang observasi bayi di lantai dua hampir pingsan berkali kali.

Sesampainya di sana, Clara berdiri di balik dinding kaca besar yang membatasi lorong luar dengan ruang perawatan bayi. Ruangan di dalam benderang oleh lampu neon. Deretan boks bayi transparan berjejer rapi.

Napas Clara tertahan di tenggorokan. Matanya yang merah dan sayu menyapu seluruh ruangan, hingga tatapannya terkunci pada dua boks bayi yang terletak di barisan tengah.

Kedua bayi itu diletakkan berdekatan, hanya dipisahkan oleh jarak kurang dari setengah meter.

Di boks pertama, bayi mungilnya Maya tertidur pulas dalam balutan kain bedong rumah sakit yang sudah memudar warnanya.

Di boks kedua, bayi perempuan milik Vera tertidur dengan bedong rumah sakit yang sama, namun di pergelangan tangannya terdapat gelang identitas bertanda merah khusus untuk pasien VIP.

Kedua bayi itu lahir pada malam yang sama. Memiliki berat dan panjang yang nyaris serupa. Rambut mereka sama-sama tipis dan kulit mereka kemerahan. Jika gelang identitas itu dilepas, tidak ada seorang pun yang bisa membedakan mereka selain Tuhan.

Tangan Clara menempel pada dinding kaca, gemetar hebat. Dadanya bergemuruh. Rencana yang selama ini dimatangkannya lewat investigasi sunyi terhadap kehamilan Vera kini terhampar di depan mata, menuntut untuk dieksekusi tepat di jantung pertahanan musuhnya.

Namun, bagaimana caranya?

Di dalam ruangan itu, ada dua orang perawat yang sedang berjaga. Mereka mencatat di papan klip, memeriksa suhu bayi-bayi itu secara berkala. Lorong rumah sakit juga sesekali dilewati oleh petugas keamanan atau perawat yang sedang patroli. Pengawasan ini terlalu ketat. Tidak mungkin Clara bisa masuk, membuka boks, menukar bayi, dan mengganti gelang identitas mereka tanpa ketahuan.

Clara menelan ludah yang terasa kering. Keringat dingin membasahi daster rumah sakitnya. Keputusasaan mulai merayapi lehernya, mencekiknya kuat-kuat.

Apakah rencananya akan gagal sebelum dimulai? Apakah semesta benar-benar memihak pada Vera? Apakah ia harus menerima takdir bahwa Maya akan pulang bersamanya ke neraka kemiskinan dan membiarkan anak Vera hidup di istana?

"Tuhan, jika kau tidak pernah memberiku keadilan..." bisik Clara menatap dinding kaca dengan air mata membanjiri pipinya, suaranya dipenuhi amarah dan luka. "...jangan salahkan aku jika aku memaksamu ."

Clara berdiri di sana, kakinya bergetar menahan sakit pascapersalinan, otaknya berputar liar mencari cara, namun jalan buntu membentang di hadapannya. Ia terus menatap Maya, menunggu sebuah keajaiban atau kehancuran yang bisa memberinya celah, tak menyadari bahwa di luar sana, badai sedang mencapai puncaknya, bersiap mengirimkan mukjizat tergelap untuk menyempurnakan tragedinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!