Setelah kejadian Raka menyelamatkan warga desa Ciherang dari para korporat di kota, Raka Ardian mencoba peruntungan ke kota mencari kerjaan sambil menyelidiki perusahaan yang mengambil tanah warga Ciherang.
Berbagai kejadian suka dan duka dia hadapi.
Mampukan Raka bertahan di kota yang sering kali mengabaikan rasa kemanusiaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Djafar S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 TITIPAN DI BALIK GERBANG
Malam telah merayap sepenuhnya di kawasan perumahan elit Dago Atas, menyisakan keheningan malam yang pekat dan hanya dipecahkan oleh desir angin pegunungan yang dingin menusuk kulit, menggoyang pelan dahan-dahan pohon pinus tinggi di luar jendela.
Di dalam ruang baca pribadi Tuan Wiratman yang luas dan megah, secangkir teh herbal hangat mengepulkan uap tipis beraroma rempah di atas permukaan meja kerja kayu mahoni yang mengkilap. Setelah perbincangan panjang, alot, dan mendalam mengenai strategi matang untuk merobohkan kekaisaran bisnis hitam Prabu Baskara secara hukum, Tuan Wiratman menarik napas dalam-dalam, menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi, lalu menatap tajam ke arah Raka Ardian dengan sorot mata yang menyiratkan kekhawatiran mendalam seorang paman sekaligus pelindung keluarga.
"Raka," suara Tuan Wiratman memecah keheningan ruangan dengan nada yang sangat serius dan berbobot. "Mulai hari ini dan seterusnya, langkah pergerakan kita dalam melawan Prabu Baskara akan resmi memasuki fase yang jauh lebih berbahaya dan mematikan. Orang licik seperti Baskara tidak akan pernah tinggal diam begitu ia menyadari bahwa rahasia busuk dan jaringan kotornya mulai tersingkap ke permukaan."
Raka mendengarkan setiap kalimat pengusaha senior itu dengan seksama, sikap tenangnya mencerminkan kematangan mental yang ditempa keras selama bertahun-tahun di Hutan Mandalagiri. "Saya sangat memahami hal itu, Tuan Wiratman. Prabu Baskara pasti akan mengerahkan segala cara kotor yang ia miliki, termasuk menggunakan kembali preman jalanan seperti Geng Serigala Hitam, untuk mencoba menutup mulut kita dan melenyapkan segala bukti."
"Benar sekali," timpal Ibu Sinta yang duduk anggun di sisi suaminya, dengan ekspresi wajah yang jelas menyuratkan kecemasan luar biasa. "Dan justru karena alasan itulah, ada satu hal lagi yang sangat mengkhawatirkan isi kepala dan hati kami, Raka. Masalahnya bukan lagi sekadar urusan dokumen perusahaan atau sengketa tanah di desamu, melainkan keselamatan keponakan tercinta kami."
Raka menautkan alisnya, menatap penuh tanya. "Keponakan?"
Ibu Sinta mengangguk perlahan, jemarinya saling meremas satu sama lain di atas pangkuannya. "Namanya Nadia. Dia adalah putri semata wayang dari mendiang kakak laki-lakiku yang telah tiada. Selama beberapa tahun terakhir ini, Nadia memilih hidup mandiri di sebuah rumah warisan keluarga yang asri di kawasan Ciumbuleuit, sambil mendedikasikan seluruh waktunya untuk merintis sebuah galeri seni lukis kecil miliknya.
Namun... masalah besar mulai muncul beberapa minggu sebelum suamiku jatuh sakit akibat racun keparat itu. Nadia mendadak didatangi oleh beberapa orang preman suruhan Prabu Baskara."
"Mereka datang dengan cara memaksa, mengintimidasi Nadia agar mau menandatangani surat pelepasan hak atas sebidang tanah luas milik keluarga kami yang kebetulan berlokasi strategis di jalur utama perluasan proyek resor wisata impian Prabu Baskara," tambah Tuan Wiratman dengan rahang yang mengeras penuh amarah tertahan. "Nadia adalah gadis yang teguh pendirian; ia menolak mentah-mentah ancaman mereka.
Sejak penolakan itu, kami sering menerima laporan dari penjaga lingkungan bahwa ada orang-orang asing mencurigakan yang mengawasi rumah dan galeri seninya secara diam-diam. Kami sangat ketakutan jika suatu saat Prabu Baskara nekat menculik atau menjadikan Nadia sebagai sandera untuk menekan kami."
Tuan Wiratman bangkit berdiri dari kursi kerjanya, melangkah pelan mendekati Raka, lalu menepuk pundak pemuda desa itu dengan genggaman yang erat, menyiratkan kepercayaan mutlak seorang pria tua.
"Raka, kau adalah pemuda berilmu tinggi yang memegang teguh kehormatan, kejujuran, dan keadilan. Aku ingin memohon pertolongan secara pribadi, bukan sebagai pengusaha besar kepada pekerja, melainkan sebagai seorang paman yang putus asa: tinggallah di rumah pendopo kecil yang berada tepat di halaman belakang kediaman Nadia di Ciumbuleuit. Lindungi dia dari segala bentuk ancaman anak buah Prabu Baskara, dan jadilah penjaga ketenangan jiwanya di tengah kota besar yang kejam ini."
Raka terdiam sejenak, memproses setiap kata yang baru saja didengarnya. Tugas baru ini jelas akan memperluas medan tanggung jawabnya secara drastis. Ini bukan lagi sekadar misi pribadi untuk menyelamatkan tanah leluhurnya di Ciherang, melainkan sebuah amanat kemanusiaan untuk melindungi seorang gadis tak bersalah dari cengkeraman penjahat berdarah dingin.
Namun, di dalam lubuk hati terdalam seorang pengembara dan tabib sejati, panggilan jiwa untuk melindungi sesama tidak pernah bisa ditolak.
"Baiklah, Tuan Wiratman, Bu Sinta," jawab Raka dengan suara mantap, tegas, dan penuh wibawa. "Mulai besok pagi, saya akan pindah ke sana. Selama saya masih bernapas dan berdiri di atas tanah ini, saya bersumpah tidak akan membiarkan satu orang pun suruhan Prabu Baskara menyentuh atau melukai Nadia."
Keesokan paginya, di bawah langit Kota Bandung yang cerah namun menyimpan bara ketegangan yang tersembunyi di balik dinamika kotanya, Raka melangkah meninggalkan kamar gudang lamanya di belakang warung nasi liwet Bu Darmi—tentunya setelah berpamitan secara baik-baik dan menyampaikan rasa terima kasih yang teramat dalam kepada wanita paruh baya yang telah menyelamatkan masa-masa sulit awalnya di kota. Dengan membawa ransel kecil berisi pakaian dan seperangkat jarum akupunktur peraknya, Raka menaiki angkutan kota menuju kawasan Ciumbuleuit, melangkah pasti menuju sebuah rumah berarsitektur klasik kolonial yang dikelilingi rimbunnya pohon kamboja, tempat di mana babak baru dalam hidupnya dan pertemuan pertamanya dengan Nadia akan segera dimulai.