"Apa?! Kak Rania kabur?!"
Surat di tangan Gladis bergetar hebat. Matanya membelalak tak percaya saat membaca tulisan tangan kakaknya untuk ketiga kalinya.
Maaf, Ayah, Ibu. Aku tidak bisa menikah dengan pria yang bahkan tidak aku cintai. Aku memilih hidupku sendiri. Jangan mencariku.
Tubuh Gladis mendadak lemas.
Malam itu seharusnya menjadi malam terakhir persiapan pernikahan kakaknya dengan seorang CEO ternama. Semua undangan telah disebar. Hotel mewah telah dipesan. Para relasi bisnis penting dijadwalkan hadir.
Namun sang calon pengantin justru menghilang.
"Ayah... bagaimana ini?" suara Gladis bergetar.
Di ruang keluarga yang megah namun terasa mencekam, wajah kedua orang tuanya tampak pucat.
Ayahnya terduduk lemah sambil memegangi dada.
"Kita tidak boleh membatalkan pernikahan ini."
"Tapi Kak Rania sudah pergi!"
"Kau tidak mengerti, Gladis!" bentak ibunya tiba-tiba.
Gadis itu terdiam.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia melihat ketakutan pada orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moon28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
menunggu
Keesokan harinya...
Pagi di rumah keluarga Wijaya berjalan seperti biasa.
Gladis sudah bangun sejak sebelum azan Subuh.
Setelah shalat tahajud dan Subuh, ia menyiapkan sarapan, bekal anak-anak, lalu membantu Rian mengenakan seragam.
Di sisi lain, Arsen tampak lebih sibuk dari biasanya.
Pagi itu ada rapat penting dengan jajaran direksi dan beberapa investor.
"Pak, jadwal Bapak padat sekali hari ini," lapor Dimas sambil melihat tablet di tangannya.
Arsen mengangguk singkat.
"Aku tahu."
"Jam delapan rapat direksi."
"Jam sepuluh presentasi."
"Jam sebelas bertemu investor."
"Iya."
Gladis yang sedang menuangkan teh ikut mendengarkan.
"Mas, jangan lupa sarapan dulu."
Arsen menatap meja makan.
"Aku makan di mobil."
Gladis menghela napas pelan.
"Kalau begitu minimal minum susu."
Arsen akhirnya mengambil gelas yang disodorkan Gladis.
"Terima kasih."
Tak lama kemudian...
Arsen berangkat bersama Dimas.
Rumah kembali tenang setelah anak-anak juga berangkat sekolah.
Sekitar pukul sembilan pagi...
Gladis sedang membereskan ruang kerja Arsen yang tadi pagi digunakan sebentar sebelum berangkat.
Ia hendak merapikan meja.
Namun matanya tertuju pada sebuah map hitam yang tergeletak di sudut meja.
Map itu cukup tebal.
Di bagian depannya tertulis dengan huruf besar.
RAHASIA – RAPAT INVESTOR
Gladis mengernyit.
"Mas kok sampai tertinggal..."
Ia teringat wajah Arsen yang sejak pagi begitu terburu-buru.
Pelan-pelan ia membuka map itu sekadar memastikan.
Di dalamnya terdapat banyak dokumen asli dengan tanda tangan.
"Astaghfirullah..."
"Ini pasti penting sekali."
Tanpa berpikir panjang, Gladis segera mengambil ponselnya.
Ia menelepon Arsen.
"Tidak aktif..."
Ia mencoba lagi.
Tetap tidak tersambung.
Mungkin karena sedang rapat.
Gladis lalu menghubungi Dimas.
Beberapa kali nada sambung berbunyi.
Namun tidak diangkat.
"Ya Allah..."
"Bagaimana ini?"
Ia mencoba mengirim pesan.
"Mas, map rapat investor tertinggal di rumah."
Pesan terkirim.
Namun belum dibaca.
Gladis menggigit bibir bawahnya.
"Kalau menunggu balasan bisa terlambat."
Akhirnya ia mengambil keputusan.
"Aku antar saja."
Satu jam kemudian...
Mobil Gladis memasuki halaman gedung perusahaan Wijaya Group.
Gedung pencakar langit itu tampak megah.
Puluhan karyawan lalu-lalang keluar masuk.
Gladis turun sambil membawa map hitam itu erat di dadanya.
Baru beberapa langkah menuju pintu utama...
Dua petugas keamanan langsung menghampiri dengan sopan.
"Selamat pagi, Bu."
"Pagi."
"Ada yang bisa kami bantu?"
"Saya ingin bertemu Pak Arsen."
"Sudah ada janji?"
Gladis tersenyum ramah.
"Saya istrinya."
Kedua satpam saling berpandangan.
Salah satunya terlihat sedikit bingung.
"Maaf, Bu."
"Aturan perusahaan..."
"Semua tamu harus memiliki janji."
Gladis masih tersenyum.
"Tolong sampaikan saja."
"Ini ada berkas penting yang tertinggal."
Petugas itu mengangguk.
"Baik."
Ia segera menghubungi resepsionis.
Beberapa menit kemudian...
Seorang resepsionis cantik datang menghampiri.
"Selamat pagi."
"Saya membawa berkas Pak Arsen."
Resepsionis itu tersenyum profesional.
"Maaf, Bu."
"Saat ini Bapak sedang rapat."
"Beliau tidak bisa diganggu."
"Kalau begitu..."
"Bisa tolong berikan map ini?"
Wanita itu tampak ragu.
"Maaf."
"Dokumen pribadi hanya boleh diterima langsung oleh sekretaris beliau."
"Kalau sekretarisnya?"
"Sedang mendampingi rapat."
Gladis terdiam.
"Lalu saya bagaimana?"
"Kalau Ibu berkenan..."
"Ibu bisa menunggu."
Gladis mengangguk pelan.
"Baik."
Ia duduk di sofa ruang tunggu.
Map hitam itu tetap berada di pangkuannya.
Jam menunjukkan pukul 09.40.
"Sebentar lagi mungkin selesai."
Pikirnya.
Sepuluh menit.
Dua puluh menit.
Satu jam.
Rapat belum juga selesai.
Resepsionis beberapa kali menawarkan air putih.
Gladis selalu menjawab dengan senyum.
"Terima kasih."
Sementara itu...
Di ruang rapat lantai tiga puluh.
Arsen sedang memimpin presentasi.
Investor dari luar negeri tampak memperhatikan layar.
Dimas tiba-tiba membuka map.
Lalu wajahnya berubah.
"Pak..."
Arsen melirik sekilas.
"Apa?"
"Map investor..."
"Kenapa?"
"Tidak ada."
Arsen mengernyit.
"Tidak mungkin."
"Kemungkinan..."
"Tertinggal."
Arsen langsung terdiam.
Namun rapat tidak mungkin dihentikan.
Ia tetap melanjutkan presentasi menggunakan salinan digital yang belum lengkap.
Di ruang tunggu...
Pukul sebelas siang.
Perut Gladis mulai terasa lapar.
Sejak pagi ia belum sempat makan.
Namun ia tidak berani meninggalkan tempat.
Takut sewaktu-waktu Arsen keluar.
Ia hanya meminum air putih.
Beberapa karyawan mulai memperhatikannya.
"Siapa ya?"
"Tamu?"
"Sudah dari tadi."
"Aku lihat dari pagi."
"Kasihan."
Gladis pura-pura tidak mendengar.
Ia hanya memeluk map itu semakin erat.
Menjelang pukul dua belas.
Resepsionis kembali menghampiri.
"Maaf, Bu."
"Rapat pertama sudah selesai."
"Wah, syukurlah."
"Tapi..."
"Pak Arsen langsung masuk rapat berikutnya."
Senyum Gladis perlahan memudar.
"Oh..."
"Tidak bisa ditemui?"
"Belum bisa."
"Baik."
Ia kembali duduk.
Diam.
Perutnya mulai berbunyi pelan.
Namun yang lebih terasa...
Adalah rasa malu.
Beberapa orang mulai memandangnya dengan penasaran.
Ada yang mengira ia tamu.
Ada yang mengira pelamar kerja.
Bahkan ada yang berbisik-bisik.
Gladis hanya menundukkan kepala.
"Semoga Mas cepat selesai..."
Di dalam ruang rapat lain...
Dimas akhirnya sempat membuka ponselnya.
Puluhan notifikasi muncul.
Termasuk pesan dari Gladis.
Matanya langsung membelalak.
"Astaghfirullah!"
"Pak!"
Arsen menoleh.
"Ada apa?"
"Dari Nyonya!"
"Apa?"
"Mapnya ada di Nyonya!"
Arsen langsung berdiri.
"Apa?"
"Beliau mengantar ke kantor."
"Sejak kapan?"
Dimas melihat waktu pesan.
"Waduh..."
"Dari jam sembilan."
Arsen langsung mengambil ponselnya.
Belasan panggilan tak terjawab dari Gladis muncul di layar.
Wajah Arsen langsung berubah.
"Kenapa tidak bilang dari tadi?"
Dimas menelan ludah.
"HP saya tadi disita panitia rapat."
Arsen sudah tidak mendengarkan lagi.
Ia segera keluar dari ruang rapat.
Para direktur saling berpandangan heran.
Belum pernah mereka melihat CEO mereka meninggalkan rapat di tengah jalan.
Sementara itu...
Gladis masih duduk di sofa.
Jam menunjukkan pukul dua belas lewat tiga puluh.
Kakinya mulai pegal.
Perutnya semakin lapar.
Namun ia tetap tersenyum ketika resepsionis lewat.
"Tidak apa-apa."
"Saya tunggu saja."
Padahal...
Di balik senyumnya...
Matanya mulai berkaca-kaca.
Bukan karena dimarahi.
Bukan karena diperlakukan kasar.
Melainkan karena ia merasa...
Mungkin dirinya memang belum pantas berada di dunia Arsen.
Ia adalah mahasiswi sederhana.
Sedangkan suaminya seorang CEO.
Di kantor sebesar ini...
Bahkan untuk bertemu suaminya sendiri...
Ia harus menunggu berjam-jam.
Ia menatap map hitam di tangannya.
Lalu berbisik lirih.
"Maaf ya, Mas..."
"Aku cuma takut berkas penting ini terlambat."
Air mata perlahan menggenang di pelupuk matanya.
Namun segera diusap sebelum jatuh.
Ia tidak ingin menangis di depan banyak orang.
Tepat saat itu...
Suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari arah lift.
"Gladis!"
Suara berat itu menggema di lobi.
Gladis spontan menoleh.
Arsen.
Pria itu berjalan cepat, hampir berlari, sesuatu yang sangat jarang ia lakukan.
Dasi yang biasa rapi kini sedikit miring.
Napasnya tampak sedikit memburu.
Begitu sampai di hadapan Gladis, tatapan Arsen langsung jatuh pada wajah istrinya yang tampak pucat.
"Kenapa kamu menunggu selama ini?" tanyanya dengan nada penuh penyesalan.
Gladis buru-buru berdiri dan menyodorkan map itu.
"Maaf, Mas... aku hanya ingin mengantarkan ini."
Arsen menerima map tersebut, tetapi tatapannya tidak lepas dari wajah Gladis.
"Kamu sudah makan?"
Gladis terdiam beberapa saat.
Lalu tersenyum kecil, meski senyum itu terlihat rapuh.
"Belum... tidak apa-apa."
Jawaban sederhana itu justru membuat dada Arsen terasa sesak.
Ia baru menyadari...
Istrinya telah datang sejak pagi, menunggu berjam-jam hanya untuk menyerahkan berkas yang ia tinggalkan.
Dan selama itu...
Ia bahkan tidak mengetahui bahwa Gladis berada di gedung yang sama.
drama pengganti 99 % nanti balik lagi nak lihat yg ini balik lagi kah atau tidak