NovelToon NovelToon
Dewa Alkemis Sembilan Benua

Dewa Alkemis Sembilan Benua

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

Dulu ia Kaisar Pil Jiwa Bintang. Penguasa Sembilan Benua.

Tetapi, satu tusukan dari murid kesayangannya, membuat ia mati. Sekarang, Murid itu naik tahta menjadi Dewa Alkemis yang disembah seluruh benua.

500 tahun kemudian, Lin Xuan terbangun.

Bukan di singgasana. Tapi di tubuh seorang sampah. Tubuh dari Tuan Muda Keluarga Lin yang meridiannya hancur, menjadi bahan tertawaan se-Kota Awan Merah. Tunangannya menghina, pamannya meracuni dan semua orang menunggu ia mati.

Mereka salah besar.

Karena di dalam jiwanya, Kuali Naga Hitam yang berkarat ikut bangkit. Di kepalanya, ingatan 500 tahun teknik alkimia bertarung yang bisa membakar langit tidak hilang.

Lin Xuan tidak mau sekadar bangkit. Ia mau berburu 18 Api Surgawi. Mengubah tubuh cacatnya menjadi kuali hidup.

Mengubah bahan sampah menjadi pil dewa. Dan naik lagi ke Benua Ke-9 untuk satu hal:

Menagih darah dengan darah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: Menara Kuali Raksasa

Kapal Terbang Roh perlahan turun menembus lautan awan. Tak lama kemudian, kapal itu merapat di Pelabuhan Udara Kekaisaran Langit Angin.

Begitu turun dari geladak, Lin Xuan dan Xiao Ya langsung disambut ramainya Ibukota.

Jalan-jalan lebar dipenuhi kereta spiritual yang ditarik binatang buas yang jinak. Bangunan marmer dan kayu gaharu berdiri menjulang di sepanjang jalan. Formasi pelindung berkilau samar menyelimuti setiap sudut kota.

Qi di sini juga jauh lebih pekat daripada di Kota Awan Merah.

Inilah pusat kejayaan Benua Bawah.

"Tuan Muda, besar sekali!"

Xiao Ya menunjuk ke sebuah kereta.

"Lihat! Kereta itu ditarik serigala berkepala dua!"

Lin Xuan hanya tersenyum.

Dibandingkan Benua Kesembilan yang pernah ia tempati di kehidupan sebelumnya, kota ini tidak ada apa-apanya. Namun untuk dirinya saat ini, Ibukota Kekaisaran Langit Angin adalah pijakan yang sempurna.

Kuali Naga Hitam di dalam lautan jiwanya kembali berdenyut.

Lin Xuan telah menemukan keberadaan serpihan kedua.

Arah yang ditunjukkannya menuju sebuah bangunan berkubah emas di pusat kota.

Rumah Lelang Kekaisaran.

"Jadi serpihannya sudah menjadi barang lelang."

Lin Xuan mempercepat langkahnya.

Lelang utama akan digelar tiga hari lagi. Untuk memasuki ruang kehormatan dan menawar pusaka, seseorang harus memiliki setidaknya satu juta Batu Roh atau menjadi Alkemis tingkat dua.

Lin Xuan hanya memiliki sekitar seratus ribu Batu Roh dari harta Keluarga Zhao.

Jelas tidak cukup.

Maka ia memilih jalan kedua. Menjadi seorang Alkemis.

Tujuannya adalah bangunan tertinggi di Ibukota.

Menara Kuali Raksasa.

Bangunan tiga puluh tingkat itu merupakan markas Asosiasi Alkemis Benua Bawah. Bentuknya menyerupai tungku perunggu raksasa. Hawa panas dari dalamnya membuat siapa pun yang mendekat merasakan tekanan yang tak biasa.

Lin Xuan menatap menara itu.

"Kalau begitu, mari kita lihat seberapa hebat para alkemis di sini."

Begitu Lin Xuan dan Xiao Ya memasuki aula Asosiasi Alkemis, aroma obat memenuhi udara.

Ratusan alkemis berjubah berjalan hilir mudik. Di antara mereka, banyak kultivator datang membawa bahan obat dan memohon dibuatkan pil.

Lin Xuan berjalan menuju tempat pendaftaran ujian.

Namun sebuah suara penuh kebencian terdengar dari samping.

"Itu dia! Paman Liu, dia yang memukulku di kapal!"

Lin Xuan menoleh.

Wang Teng berdiri tak jauh dari sana. Wajahnya masih dibalut perban dan beberapa giginya belum tumbuh kembali. Ia menunjuk Lin Xuan dengan tangan gemetar.

Di sampingnya berdiri seorang pria paruh baya berjubah abu-abu. Sebuah lencana kuali perak bergaris emas tersemat di dadanya.

Alkemis tingkat dua.

Dialah Master Liu. Paman Wang Teng sekaligus salah satu penilai ujian Asosiasi.

Master Liu menatap Lin Xuan dari atas ke bawah. Melihat pakaian sederhana dan usianya yang masih muda, tatapannya segera dipenuhi kesombongan.

"Jadi kau yang melukai keponakanku?"

Ia melangkah maju dan menghalangi jalan Lin Xuan.

Beberapa penjaga dan alkemis di sekitar mulai berhenti untuk menyaksikan keributan.

"Paman, bunuh dia!"

Wang Teng segera menyela.

"Anak itu memiliki tubuh yang aneh. Mungkin dia menggunakan artefak pelindung."

Lin Xuan menatapnya datar.

"Anjing yang baru dipukul sudah berani menggonggong lagi."

Ia mengalihkan pandangan kepada Master Liu.

"Kau pamannya? Kalau begitu, ikat dia dengan baik. Jangan sampai menggigit orang lain."

Kerumunan langsung terdiam.

Berani sekali pemuda tanpa lencana alkemis menghina Alkemis tingkat dua di tempatnya sendiri.

Wajah Master Liu memerah.

"Sombong!"

Tekanan kultivasinya perlahan menyebar.

"Ini Asosiasi Alkemis. Berani menghina seorang alkemis berarti kau menantang martabat Asosiasi!"

Lin Xuan tetap tenang.

"Martabat?" Ia tersenyum tipis.

"Jangan sembarang memakai nama Asosiasi untuk menutupi kebodohanmu."

Master Liu tidak menyerang dengan tangan.

Sebagai seorang alkemis, tubuhnya mungkin tidak kuat. Namun kekuatan jiwanya jauh melampaui kultivator biasa.

Ia menyipitkan mata lalu mengerahkan kekuatan jiwanya.

Wush!

Tekanan jiwa yang tak kasatmata menerjang Lin Xuan.

Bagi kultivator biasa, serangan seperti ini cukup untuk mengguncang lautan kesadaran dan membuat mereka berlutut.

Master Liu tersenyum dingin. Namun senyumnya segera membeku.

Tekanan jiwanya lenyap begitu menyentuh Lin Xuan. Tidak meninggalkan sedikit pun pengaruh.

Lin Xuan bahkan tidak berkedip.

"Kau suka bermain dengan jiwa?" Suara Lin Xuan terdengar pelan.

Namun bagi Master Liu, suara itu seperti petir.

Di kehidupan sebelumnya, jiwa Lin Xuan telah mencapai ranah Kaisar. Meski tubuhnya telah bereinkarnasi, kekuatan jiwanya tetap jauh melampaui batas seorang Alkemis tingkat dua.

Ia hanya melepaskan sedikit kekuatan jiwanya.

Kekuatan itu berubah menjadi jarum tak kasatmata dan menembus Lautan Jiwa Master Liu.

"Aaaaargh!"

Master Liu menjerit.

Ia mencengkeram kepalanya dengan kedua tangan. Wajahnya pucat. Darah mengalir dari hidung dan telinganya.

Tubuhnya jatuh ke lantai marmer lalu menggeliat kesakitan.

Tidak ada satu pun serangan yang terlihat. Namun Master Liu telah kalah telak.

"P-Paman Liu!" Wang Teng mundur dengan wajah pucat.

"Apa yang terjadi?!"

Ia tidak mengerti bagaimana pamannya yang begitu kuat bisa tumbang hanya dalam sekejap.

Kerumunan mundur dengan wajah pucat.

Tak seorang pun tahu apa yang terjadi. Mereka hanya melihat Master Liu menyerang lalu tiba-tiba jatuh dengan darah mengalir dari hidung dan telinganya.

Benturan jiwa tadi terlalu halus untuk dilihat. Bahkan sebagian besar orang di aula tidak menyadarinya.

"Sepertinya pamanmu terlalu memaksakan diri sampai mengalami penyimpangan Qi."

Lin Xuan melangkahi tubuh Master Liu lalu berjalan menuju meja pendaftaran.

Sampai pelayanan di sana menelan ludah. "T-Tuan, ada yang bisa saya bantu?"

"Aku ingin mengikuti ujian alkemis."

"Baik. Untuk ujian Alkemis tingkat satu, formulirnya ada di..."

"Tingkat dua." Lin Xuan memotongnya.

"Aku tidak punya waktu untuk mengulang dari awal. Uji aku untuk lencana tingkat dua."

Aula kembali sunyi.

Melompati tingkat ujian bukan perkara mudah. Hanya orang yang benar-benar yakin dengan kemampuannya yang berani melakukannya.

"Apa yang terjadi di sini?" Suara tua terdengar dari tangga.

Seorang pria berambut putih turun dengan jubah alkemis putih. Tiga garis emas menghiasi lencana kuali perak di dadanya.

"Penatua Mu!"

Pelayan dan para penjaga segera membungkuk.

Penatua Mu adalah salah satu dari lima penguji utama di cabang ini.

Tatapannya menyapu Master Liu yang terkapar sebelum berhenti pada Lin Xuan.

Ia segera merasakan sisa kekuatan jiwa yang masih mengambang di udara.

Tipis. Namun sangat tajam.

Penatua Mu menyipitkan mata.

Jangan-jangan bocah ini yang melukai Liu dengan kekuatan jiwa?

Tatapannya berubah serius. Di usia enam belas tahun?

"Kau ingin langsung mengikuti ujian tingkat dua?" Penatua Mu menatap Lin Xuan dengan tenang.

"Benar."

"Peraturan Asosiasi mengizinkannya. Namun jika kau gagal, kau tidak boleh mengikuti ujian di cabang mana pun selama tiga tahun."

Lin Xuan tidak berubah sedikit pun. "Waktuku berharga. Mari mulai."

Penatua Mu mengelus janggutnya lalu tersenyum tipis.

"Menarik. Kalau begitu, aku sendiri yang akan mengujimu."

Ia berbalik.

"Ikut aku ke Ruang Api Bumi."

Lin Xuan meminta Xiao Ya menunggu di aula sebelum mengikuti Penatua Mu ke ruang ujian bawah tanah.

Di sana berdiri puluhan tungku perunggu. Api Bumi menyala di bawahnya dan terhubung langsung dengan urat magma di bawah kota.

"Ujian tingkat dua."

Penatua Mu menunjuk meja batu yang dipenuhi bahan obat.

"Racik Pil Tulang Besi. Waktumu dua jam. Pil harus mencapai Tiga Cincin untuk dinyatakan lulus."

Lin Xuan melirik bahan di atas meja. Tulang Harimau Batu dan Cairan Bunga Es. Bahan-bahan itu terlihat biasa saja di matanya.

Ia berjalan menuju tungku perunggu.

Api Bumi seperti ini bahkan tidak cukup untuk menghangatkan air.

Tanpa memilah bahan satu per satu, Lin Xuan langsung mengumpulkan semuanya.

Ia melemparkan Tulang Harimau Batu dan Cairan Bunga Es ke dalam tungku secara bersamaan.

Penatua Mu langsung berubah pucat.

"Apa yang kau lakukan?!" Ia maju selangkah.

"Yin dan Yang tidak boleh dilebur bersamaan tanpa penuntun. Tungkunya akan..."

Api di dalam tungku tiba-tiba bergetar hebat.

Sebelum Penatua Mu selesai bicara, Lin Xuan menempelkan telapak tangannya pada tungku.

Api Teratai Bumi Terdalam mengalir masuk dan bersembunyi di balik Api Bumi.

Dalam tiga tarikan napas, benturan Yin dan Yang di dalam tungku langsung mereda. Api Surgawi menekan keduanya dengan mudah.

Tulang Harimau Batu perlahan meleleh lalu menyatu dengan Cairan Bunga Es.

Aroma pil yang kuat segera memenuhi ruangan.

Tap!

Lin Xuan mengetuk tutup tungku.

Sebuah pil putih keabu-abuan melayang keluar dan jatuh ke telapak tangannya.

Hanya dua menit.

Lin Xuan sengaja menahan sebagian kemurnian pil agar hasilnya tidak terlalu mencolok. Setelah itu ia menyerahkannya kepada Penatua Mu.

Penatua Mu menerima pil itu dengan tangan gemetar.

Ia memeriksanya dengan kaca pembesar spiritual.

"Enam Cincin..."

Matanya membelalak.

"Pil Tulang Besi Enam Cincin? Dalam waktu kurang dari dua menit?"

Ia sampai mundur beberapa langkah.

Kualitas Enam Cincin sudah mendekati batas seorang Alkemis tingkat tiga. Namun pemuda di hadapannya meraciknya seolah hanya sedang memasak air.

"Jadi aku lulus?" Lin Xuan terdengar bosan.

"L-Lulus!" Penatua Mu segera membungkuk.

"Tentu saja lulus!"

Ia mengeluarkan sebuah lencana perak dengan dua garis emas lalu menyerahkannya dengan kedua tangan.

"Tuan Muda, siapa guru Anda? Teknik peleburan tadi jelas bukan teknik dari Benua Bawah."

Lin Xuan menyematkan lencana itu di dadanya.

"Guru tidak suka namanya disebut." Ia tersenyum tipis. "Panggil saja beliau Senior Xuan."

Nama itu kembali memiliki makna.

"Kalau begitu aku pergi. Masih ada lelang yang harus kuhadiri."

Lin Xuan berbalik dan meninggalkan ruang ujian.

Penatua Mu hanya bisa berdiri terpaku.

Di lobi, lencana Alkemis tingkat dua sudah terpasang di dada Lin Xuan.

Dengan lencana itu, pintu kehormatan Rumah Lelang Kekaisaran akan terbuka untuknya.

Dan serpihan Kuali Naga Hitam sudah semakin dekat.

1
Arinto Ario Triharyanto
mantap Thor
Aman Wijaya
gaaas pooolll njeduk Thor lanjut terus 💪💪💪💪
Aman Wijaya
jooooz kotos kotos pooolll Thor 💪💪💪
Aman Wijaya
ini baru mantab Lin Xuan lanjutkan aksimu terus bikin dunia berguncang
Aman Wijaya
top top markotop lanjut terus Thor
Aman Wijaya
jooooz pooolll Lin Xuan lanjutkan aksimu
Arinto Ario Triharyanto
mantap nih👍
Rinaldi Sigar
lnjut
Aman Wijaya
mantab pooolll Lin Xuan lanjutkan aksimu
Aman Wijaya
babat semuanya Lin Xuan biar keluarga Zhao lenyap semua
Aman Wijaya
mantab Lin Xuan habisi aja tuh Lin Hao biar ayahnya stres
Aman Wijaya
api teratai bumi udah ada di tangan Lin Xuan
Aman Wijaya
jooooz kotos kotos lanjut terus Thor
Aman Wijaya
gaaas pooolll Thor 💪💪💪 terus
Aman Wijaya
lanjut terus
Aman Wijaya
mantull Thor lanjut terus semangat semangat semangat
Celestial Quill: Terimakasih
total 1 replies
Saifuloh Oting
Thor,,yg membuat cerita ini begitu epic,.... mantap Thor...
Celestial Quill: Terimakasih, gas terus💪💪
total 1 replies
Aman Wijaya
semangat Lin Xuan
Green Boy
Jos ceritanya
Celestial Quill: Terimakasih
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bantai keluarga ouyang sampai ke akar akarnya panjang tubuh mereka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!