NovelToon NovelToon
DILUAR DIPUJA DIDALAM DIHINA Istri Pengganti Ceo Brayen

DILUAR DIPUJA DIDALAM DIHINA Istri Pengganti Ceo Brayen

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:940
Nilai: 5
Nama Author: Aurelia Sadewa

Mengisahkan seorang gadis cantik yang berprofesi menjadi model, namun memiliki kita kelam semenjak ibunya meninggal dan ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita licik dan memiliki seorang anak yang bernama Lalita. Isyana selalu di bully di hina dan di perlakuan seperti anak pelayan. Hingga pada suatu hari Isyana di jodohkan oleh ibu tirinya dengan seorang CEO dingin dan kejam bernama Brayen Lucian Alkantara...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ngidam Tengah Malam

Sudah dua minggu sejak aku dinyatakan hamil bayi kembar.

Sejak hari itu, hidupku berubah 180 derajat. Mas Brayen yang biasanya adalah CEO super sibuk yang rapat dari pagi sampai malam, kini berubah menjadi suami siaga paling siaga di dunia.

Aku benar-benar dilarang bekerja berat. Mesin jahitku disembunyikan Mas Brayen di gudang. Laptop untuk menulis desain juga diambil. Kata Mas Brayen, tugasku sekarang hanya tiga: makan, istirahat, dan bahagia. Semua pekerjaan resort dan butik di-handle oleh asisten Mas Brayen.

Awalnya aku protes, tapi melihat wajah panik Mas Brayen setiap aku batuk sedikit saja, akhirnya aku menurut.

Malam ini, jam menunjukkan pukul 01.23 dini hari. Di luar vila Bali hujan deras. Kami belum kembali ke Jakarta karena dokter menyarankan aku tidak boleh naik pesawat dulu di trimester pertama kehamilan kembar yang rawan ini.

Aku terbangun. Bukan karena mimpi buruk, tapi karena perutku berbunyi dan mulutku terasa asam. Aku ngidam.

Aku menoleh ke samping. Mas Brayen tidur di sampingku, memelukku dari belakang dengan sangat erat tapi hati-hati, tangannya tetap menjaga perutku yang mulai sedikit membuncit. Walaupun tidur, wajah gantengnya itu masih terlihat khawatir, seolah dalam tidur pun dia menjaga kami bertiga.

Aku tidak tega membangunkannya. Tapi ngidam ini tidak bisa ditahan. Tiba-tiba aku sangat ingin makan sesuatu yang aneh.

Aku menggoyang-goyangkan pelan lengan kekar Mas Brayen.

"Mas... Mas Brayen..." bisikku pelan.

Mas Brayen yang tidurnya super waspada sejak aku hamil, langsung terbangun dengan mata terbuka lebar!

"Sayang? Kenapa? Mual lagi? Perut sakit? Pusing? Mau ke dokter?" dia langsung panik, duduk tegak, tangannya langsung menyalakan lampu tidur dan mengecek keningku.

Aku menggeleng pelan, agak malu.

"Mas... aku... aku laper..."

Mas Brayen menghela napas lega. "Ya ampun, Sayang. Mas kira kenapa. Mau makan apa? Nasi goreng yang Mas masak tadi sore masih ada, Mas hangatkan ya?"

Aku menggeleng lagi. Air mataku tiba-tiba mengalir. Efek hormon hamil kembar ini membuatku sangat sensitif dan cengeng.

"Bukan... aku gak mau nasi goreng... aku mau... aku mau rujak mangga serut yang pedas banget... sama... sama es krim coklat... dimakan barengan..."

Mas Brayen membeku.

Jam 1 dini hari, hujan deras di Bali, dan istrinya minta rujak mangga serut pedas dicampur es krim coklat.

Kalau pria lain mungkin akan mengeluh atau menyuruh asisten beli besok pagi. Tapi tidak dengan Mas Brayen.

Dia menatapku yang sudah mulai terisak karena malu sudah merepotkan, lalu dia tersenyum. Senyum paling tulus.

"Rujak mangga serut pedas sama es krim coklat ya? Oke. Tunggu lima menit, Sayang. Mas buatin."

Aku terkejut. "Mas mau bikin sendiri? Hujan loh Mas di luar... pesen ojek aja..."

"Enggak," potong Mas Brayen tegas sambil bangkit dari ranjang, memakai kaos oblongnya. "Kalau ojek online, mangganya tidak fresh. Mas mau petik sendiri di kebun belakang vila. Kemarin Mas lihat ada pohon mangga muda. Dan es krimnya ada di kulkas. Mas yang racik."

Ya Allah. CEO Alkantara Group memetik mangga tengah malam hujan-hujan demi ngidam istrinya.

Aku menunggu di kamar sambil mengelus perutku.

"Anak-anak... Papa kalian hebat banget ya... demi kalian dan Mama, Papa rela hujan-hujanan..."

Lima belas menit kemudian, Mas Brayen kembali. Rambutnya basah kuyup karena hujan, kaosnya juga sedikit basah, tapi di tangannya ada piring.

Di piring itu ada rujak mangga serut yang masih segar, bumbunya merah menyala terlihat sangat pedas, dan di atasnya ada dua scoop es krim coklat yang mulai meleleh. Kombinasi yang sangat aneh, tapi entah kenapa air liurku langsung menetes melihatnya.

"Maaf lama, Sayang. Mangga nya licin, Mas hampir jatuh tadi," kata Mas Brayen sambil terengah, tapi dia tetap tersenyum.

Dia duduk di sampingku di ranjang, menyuapiku dengan sendok.

"Sini, My Diamond, buka mulutnya... aaa..."

Aku membuka mulutku. Satu suapan rujak pedas asam manis dingin dari es krim masuk ke mulutku.

Rasanya... aneh, pedas, asam, manis, dingin jadi satu. Tapi... enak banget! Sesuai dengan yang aku inginkan!

Aku langsung menangis lagi, tapi kali ini karena bahagia.

"Enak, Mas! Enak banget! Persis seperti yang aku mau!" kataku sambil mengunyah dengan mata berbinar.

Mas Brayen yang melihat aku makan dengan lahap dan bahagia itu, wajahnya langsung lega. Dia tertawa kecil.

"Pelan-pelan, Sayang. Jangan sampai keselek. Ada dua jagoan di dalam perut yang ikut makan juga," ujarnya sambil mengusap perutku yang mulai buncit itu dengan lembut.

Dia terus menyuapiku sampai piring itu habis. Satu suapan untukku, satu usapan untuk perutku.

Setelah habis, aku bersandar kenyang di dada Mas Brayen. Perutku hangat.

"Mas... makasih ya... maaf ngerepotin tengah malam..."

Mas Brayen mengecup keningku lama.

"Jangan pernah bilang merepotkan, Sayang. Ini adalah tugas paling membahagiakan dalam hidup Mas. Dulu Mas pikir membahagiakan kamu dengan memberikan butik, resort, dan gaun mahal adalah segalanya. Ternyata, membahagiakan kamu dengan memetik mangga tengah malam hujan-hujan dan melihat kamu makan rujak es krim dengan lahap seperti ini jauh lebih membahagiakan."

Dia lalu meletakkan tangannya di perutku, berbicara kepada calon anak kembarnya.

"Hai, jagoan Papa... kalian jangan nakalin Mama ya di dalam perut. Kalau kalian nakal bikin Mama mual terus, nanti kalau sudah lahir, Papa jitak pelan-pelan pantat kalian. Tapi kalau kalian jaga Mama, jadi anak baik, nanti Papa belikan kalian seratus toko mainan."

Aku yang mendengar itu tertawa ngakak sampai perutku guncang.

"Mas! Jangan gitu dong! Anaknya masih di perut sudah diancam!"

Mas Brayen ikut tertawa. Tawa kami berdua memenuhi vila di tengah hujan deras jam 2 pagi.

Malam itu, aku tidur lagi dalam pelukan Mas Brayen dengan perut kenyang dan hati yang penuh. Aku tidak butuh berlian atau gaun emerald lagi. Cukup Mas Brayen yang mau hujan-hujanan memetik mangga untuk rujak anehku, itu sudah lebih dari cukup.

Karena bagiku, itulah definisi dicintai dengan tulus.

---BERSAMBUNG---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!