"Zel, kita cuma nikah kontrak! Berhenti kirim kurir obat ke sekolah, aku malu sama guru-guru lain!"
Dazello Zelbarra, CEO dingin itu justru menarik Runa ke pelukannya. "Di catatanku, jam segini lambungmu mulai perih karena kamu lupa sarapan. Aku tidak peduli kamu malu, Runa. Aku hanya peduli kamu tetap hidup untuk melunasi kontrakmu padaku."
Runa Elainzica, guru honorer yang ceroboh dan pelupa, terpaksa menikahi mantan pacarnya, Dazello ‘Azel’ Zelbarra, demi menyelamatkan sekolahnya dari kebangkrutan.
Runa mengira Azel membencinya. Namun, ia tak pernah tahu bahwa di ponsel Azel terdapat aplikasi rahasia berjudul "Runa’s Manual Book". Sebuah catatan obsesif berisi ribuan detail tentang kebiasaan kecil Runa, pantangan makannya, hingga cara melindunginya saat badai datang.
Dunia mereka berbeda, tapi di buku catatan Azel, nama Runa sudah tertulis sebagai milik sahnya... selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Sepuluh menit berlalu, dan Azel merasa setiap detiknya seperti siksaan fisik. Di ruang kerjanya yang senyap, ia hanya bisa mendengar detak jam dinding yang seirama dengan denyut kemarahan di pelipisnya. Akhirnya, ia tidak tahan lagi. Kesepakatan atau tidak, melihat Runa dalam bahaya mental bukan sesuatu yang bisa ia biarkan.
"Batalkan instruksi tadi. Kita ke sana sekarang," ucap Azel dingin sambil menyambar kunci mobilnya sendiri. Ia tidak mau disopiri. Ia butuh kecepatan.
Di sekolah, suasana semakin canggung. Arlan masih asyik menebar pesona, sementara Runa merasa kepalanya mulai berdenyut hebat. GERD-nya kambuh karena stres mendadak, membuat ulu hatinya terasa seperti ditusuk-tusuk.
"Arlan, tolong pergi... Aku mohon," bisik Runa dengan suara bergetar.
"Pergi? Aku baru saja mau mengajak teman-teman gurumu makan siang mewah di hotel bintang lima. Anggap saja sebagai perayaan 'pertunangan' kita," sahut Arlan keras, sengaja agar didengar guru lain.
Tepat saat itu, deru mesin mobil yang jauh lebih gahar dari milik Arlan terdengar berhenti di depan gerbang. Bukan hanya satu, tapi tiga mobil hitam mengkilap mengawal sebuah sedan sport hitam yang sangat ikonik di majalah bisnis.
Dazello Zelbarra turun. Kali ini ia tidak memakai jas. Hanya kemeja hitam yang lengannya digulung asal, memperlihatkan aura predator yang sedang murka. Langkahnya mantap, tatapannya terkunci pada tangan Arlan yang masih merangkul bahu Runa.
Seluruh guru terdiam. Atmosfer sekolah mendadak berubah menjadi medan perang.
"A-Azel?" gumam Runa pelan. Jantungnya hampir berhenti melihat suaminya datang dengan tatapan sekejam itu.
Azel berhenti tepat tiga langkah di depan mereka. Ia tidak menatap para guru, tidak menatap Pak Haris. Matanya hanya tertuju pada Arlan.
"Lepaskan. Tanganmu. Sekarang," ucap Azel. Suaranya tidak tinggi, tapi setiap kata mengandung ancaman kematian yang nyata.
Arlan justru semakin mempererat rangkulannya, menantang. "Oh, sang donatur datang. Kenapa? Kamu cemburu melihat aku mengunjungi calon istriku?"
Azel tidak menjawab dengan kata-kata. Dengan gerakan yang sangat cepat, ia menarik tangan Arlan dari bahu Runa dan memelintirnya ke belakang hingga Arlan mengaduh kesakitan. Azel lalu menarik Runa ke belakang punggungnya, menyembunyikannya dari pandangan Arlan.
"Zel, jangan..." tangis Runa pecah, ia memegang lengan kemeja Azel.
Azel mengabaikan Runa sejenak. Ia menatap Arlan yang kini diringkus oleh dua pengawal Azel yang baru saja muncul.
"Dengarkan baik-baik, Arlan Dirgantara," Azel merendahkan suaranya tepat di depan wajah Arlan. "Aku menghargai keinginan istriku untuk merahasiakan statusnya karena dia mencintai pekerjaannya. Tapi itu bukan berarti aku memberimu ijin untuk mengarang cerita sampah di sini."
Azel menoleh ke arah Bu Ratna dan guru-guru lain yang berdiri mematung.
"Maaf atas keributan ini," ucap Azel dengan wibawa yang tak tertandingi. "Pria ini mengalami gangguan obsesi. Dia bukan calon suami Runa. Saya di sini sebagai wali sahnya yang tidak akan membiarkan ada satu pun orang asing mengganggunya."
Azel kemudian berbalik, menatap Runa yang sudah lemas. Tanpa peduli lagi pada kesepakatan rahasia atau pandangan orang, Azel mengangkat Runa ke dalam gendongannya—bridal style.
"Pak Haris, istri saya izin pulang. Dia sakit," ucap Azel singkat pada Kepala Sekolah yang hanya bisa mengangguk kaku.
Azel membawa Runa menuju mobilnya. Di dalam dekapan Azel, Runa menyembunyikan wajahnya yang merah padam dan basah oleh air mata di dada suaminya. Ia takut, malu, tapi di saat yang sama, ia merasa sangat aman.
Begitu sampai di dalam mobil yang kedap suara, Azel menutup pintu dengan keras. Ia tidak langsung menjalankan mobil. Ia hanya diam, mengatur napasnya yang masih memburu.
"Kenapa kamu diam saja saat dia mengaku begitu?" tanya Azel, suaranya parau karena menahan emosi.
"Aku... aku takut dia bongkar rahasia kita, Zel. Aku nggak mau mereka tahu..." tangis Runa kembali pecah.
Azel tiba-tiba meraih wajah Runa dengan kedua tangannya, memaksa wanita itu menatapnya. Matanya yang tajam kini tampak berkaca-kaca karena rasa cemburu dan khawatir yang bercampur aduk.
"Kamu lebih takut mereka tahu kita menikah daripada kehilangan kehormatanmu di depan mereka, Runa?" bisik Azel pedih. "Aku bisa beli sekolah ini, aku bisa bungkam semua orang, tapi aku nggak bisa diam melihat pria lain mengaku-ngaku sebagai pemilikmu."
Azel mendekatkan dahinya ke dahi Runa. "Jangan pernah lakukan itu lagi. Jangan pernah biarkan pria lain menyentuhmu hanya karena kamu takut pada rahasia kita. Mengerti?"
Runa mengangguk pelan dalam isakannya. Ia menyadari betapa besarnya ego yang dikalahkan Azel demi menghargai permintaannya selama sepuluh menit tadi, sebelum akhirnya pria itu meledak.
apa susahnya sih, pake alesan dijodohin segala 🤣