NovelToon NovelToon
Serenada Putih Abu-Abu: Seteru Dan Rindu Jenawa

Serenada Putih Abu-Abu: Seteru Dan Rindu Jenawa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Idola sekolah / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: prasfa

Di bawah teriknya matahari dan riuhnya masa remaja, dua insan dengan dunia yang bertolak belakang dipertemukan oleh takdir. Jenawa Adraw, seorang pemuda dengan sorot mata tajam dan nyali yang tak pernah padam, adalah sosok sentral dalam persaudaraan keras di sekolahnya. Ia hidup dalam putaran kesetiakawanan, peluh, dan perseteruan abadi antargeng SMA yang tak kunjung usai. Di seberang dunianya, berdirilah Sinaca Tina, seorang gadis dengan tutur kata yang santun, pesona yang anggun, namun memiliki pendirian sekeras karang yang tak gentar oleh gertakan siapa pun.
Kisah ini mengalun layaknya sebuah gita cinta yang syahdu namun dipenuhi riak gelombang. Hubungan Jenawa dan Sinaca tumbuh di antara letupan amarah sisa tawuran dan manisnya janji yang terucap di beranda rumah. Asmara mereka diuji dengan keras—bukan hanya oleh pedasnya cemoohan teman-teman sebaya atau ancaman dari kubu sekolah seberang, melainkan pula oleh ego darah muda yang sering kali memicu pertengkaran hebat di antara merek

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Debat Kecil di Bawah Lembayung Senja

Jalan utama yang membentang menuju perumahan Sinaca sore itu terasa lengang. Deru mesin sepeda motor dan kepulan debu sisa pertikaian telah sirna, digantikan oleh sapuan angin sejuk yang membawa aroma daun kering. Jenawa dan Sinaca berjalan bersisian menyusuri trotoar, diiringi oleh bayang-bayang mereka yang memanjang ke arah timur akibat siraman cahaya matahari senja.

Sesekali, Jenawa melirik ke arah punggung tangannya yang masih memegang saputangan putih milik Sinaca. Ada kebanggaan ganjil yang menyusup di dadanya. Namun, keheningan yang terbentang di antara mereka sejak meninggalkan gerbang sekolah mulai terasa menyiksa. Biasanya, gadis itu akan melontarkan satu atau dua kalimat tajam. Keterdiaman Sinaca sore ini mengisyaratkan sebuah badai kecil yang tengah tertahan.

"Kau tampak lebih banyak diam, Sinaca," Jenawa membuka percakapan, mencoba memecah kebekuan. "Apakah jalanan yang terlalu sunyi ini membuatmu tidak nyaman?"

Sinaca menghentikan langkahnya sejenak. Ia memutar tubuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata Jenawa. Gurat ketegasan yang biasa menghiasi wajahnya kini berpadu dengan sebersit kekecewaan.

"Saya... maksud saya, aku tidak merasa tidak nyaman dengan jalanan ini, Jenawa," ucap Sinaca. Penggunaan kata ganti 'aku' yang baru disepakatinya terdengar sedikit canggung, namun ia dengan cepat menguasai diri. "Aku hanya sedang berpikir keras. Kau berkata bahwa kau tidak menoleransi perkelahian tanpa sebab. Namun nyatanya, kau baru saja kembali dari sebuah arena adu fisik dengan seragam yang kusut dan tangan yang terluka. Bukankah itu sebuah kontradiksi?"

Jenawa menghela napas pelan. Ia sudah menduga perdebatan ini akan terjadi. "Aku sudah menjelaskan alasannya di sekolah tadi. Agam dan komplotan Pelita berniat memblokir jalur ini. Jalur yang akan kau lewati. Aku tidak bisa membiarkan..."

"Dan kau menjadikan keselamatan diriku sebagai dalih untuk membenarkan tindakan kekerasanmu?" potong Sinaca cepat, nadanya meninggi satu oktaf. Napas gadis itu sedikit memburu, menunjukkan emosi yang jarang ia perlihatkan. "Dengarkan aku, Jenawa. Aku mengapresiasi niat baikmu untuk melindungiku, sungguh. Namun, aku tidak pernah meminta apalagi membenarkan namaku dipakai sebagai pemantik sebuah perseteruan antargeng. Jika penyelesaian masalahmu selalu bermuara pada kepalan tangan, lantas apa bedanya dirimu dengan mereka yang kau sebut perusuh itu?"

Kata-kata Sinaca menghantam ego Jenawa layaknya pukulan telak yang jauh lebih menyakitkan daripada tinju Agam. Rahang pemuda itu mengeras. Darah mudanya yang masih dipenuhi sisa adrenalin terasa kembali mendidih, bukan karena amarah, melainkan karena rasa tidak terima dituduh menyamakan dirinya dengan Agam yang licik.

"Kau menyamakanku dengan Agam?" desis Jenawa, melangkah satu tindak mendekati Sinaca. Tatapannya menajam. "Asal kau tahu, Sinaca, aku turun ke jalanan sore ini untuk mencegah perkelahian yang lebih besar! Jika aku membiarkan Agam memblokir jalan ini, esok hari seluruh anak SMA Bangsa akan turun tangan, dan jalanan ini akan berubah menjadi medan perang yang sesungguhnya. Aku menghentikannya dari akar sebelum menjalar!"

"Dengan cara memukul orang lain hingga terjatuh?" balas Sinaca tak kalah sengit, matanya tak berkedip menantang tatapan intimidasi Jenawa. "Kekerasan tidak akan pernah memadamkan kekerasan, Jenawa. Ia hanya akan menunda balas dendam ke esok hari. Dan yang paling membuatku kecewa adalah... kau berjanji untuk berubah, namun kau masih menggunakan cara lama yang usang."

Suasana di trotoar itu seketika menegang. Dua insan dengan pendirian sekeras batu karang itu saling beradu pandang di bawah naungan langit jingga. Jenawa mengepalkan tangannya di dalam saku celana, berusaha keras meredam gejolak emosinya. Ia menyadari bahwa di hadapannya bukanlah musuh yang harus ia taklukkan, melainkan gadis yang entah sejak kapan telah menguasai rongga pikirannya.

Perlahan, Jenawa melonggarkan kepalan tangannya. Ia menunduk menatap saputangan putih yang masih berada di genggamannya, lalu kembali menatap Sinaca dengan sorot yang jauh lebih lunak. Ketegangan di bahunya mengendur.

"Kau benar," ucap Jenawa akhirnya, suaranya parau dan merendah. Pengakuan itu meluncur begitu saja, meruntuhkan seluruh dinding keangkuhan sang panglima jalanan. "Aku memang keras kepala, dan mungkin caraku masih jauh dari kata beradab. Di dunia tempatku dibesarkan, hanya kepalan tangan yang didengar oleh orang-orang seperti Agam. Namun, dituduh menjadikanmu sebagai dalih murahan... itu melukaiku, Sinaca. Aku murni hanya tidak ingin melihatmu berjalan dalam ketakutan."

Mendengar nada suara Jenawa yang bergetar oleh kejujuran, pertahanan Sinaca seketika runtuh. Amarah yang sempat memercik di dadanya perlahan padam, digantikan oleh rasa bersalah yang menyelinap halus. Gadis itu menundukkan pandangannya ke ujung sepatu, merapatkan pelukan pada buku-bukunya.

"Maafkan aku," lirih Sinaca, suaranya nyaris berbisik. "Aku tidak bermaksud menuduh niat baikmu. Aku... aku hanya tidak terbiasa melihat seseorang yang kukenal harus terluka hanya demi memastikan aku bisa pulang dengan aman. Ada kekhawatiran yang tidak bisa kujelaskan setiap kali melihatmu berjalan ke arah marabahaya."

Kalimat terakhir itu membuat jantung Jenawa berdegup kencang. Kekhawatiran. Kata itu terasa lebih manis daripada ribuan puji-pujian dari kawan-kawannya. Sebuah senyum tipis, sangat tipis, kembali terbit di bibir pemuda itu.

Jenawa mengangkat saputangan putih itu di depan wajah mereka berdua. "Luka gores ini bukan apa-apa, Sinaca. Dan saputangan darimu ini sudah lebih dari cukup untuk mengobati kekhawatiranmu."

Sinaca kembali mengangkat wajahnya, rona merah yang samar kini menghiasi kedua pipinya, entah karena pantulan sinar senja atau karena rasa malu. Ia berdeham pelan, mencoba mengembalikan ketenangannya.

"Cucilah saputangan itu hingga bersih sebelum kau mengembalikannya kepadaku," ucap Sinaca dengan nada yang berusaha ia buat tegas kembali, meski matanya memancarkan kelembutan yang kentara.

"Akan kucuci, kusetrika, dan kuberi sedikit pewangi sebelum kuserahkan kembali ke tanganmu," kekeh Jenawa, kembali berjalan mendampingi gadis itu.

Langkah mereka kembali seirama. Perdebatan kecil barusan layaknya badai singkat di musim panas; datang dengan cepat, namun meninggalkan udara yang jauh lebih jernih setelahnya. Di sisa perjalanan menuju rumah bercat putih gading itu, tak ada lagi ketegangan. Hanya ada dua hati yang tanpa sadar mulai saling menautkan rindu, belajar memahami kerasnya dunia yang berbeda, di bawah kepungan lembayung senja.

1
Purnamanisa
badboy nih... seru keknya 😁😁
Nita
pertama...
semangat Thor nulisnya...💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!